Underage Marriage

Underage Marriage
Part 49


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Semua orang berlari ke arah satu ruangan yaitu ruangan persalinan. Tak terkecuali Rara, wanita itu yang semula ingin pergi ke pertandingan untuk menyaksikan Gabriel final dengan tuan rumah pun harus mengurungkan niatnya untuk datang.


Setelah mendengar teriakan Arsen yang memanggil seluruh penghuni rumah membuat semua orang yang tinggal di rumah itu langsung panik seketika melihat air ketuban Nisa yang sudah keluar begitu banyak.


Di sini Rara, dia duduk di depan ruangan persalinan. Di sampingnya ada Bagas dan Arsen di depan pintu persalinan tengah mondar mandir tidak jelas. Gabriel yang notabenya belum pulang dari sekolah karena setelah usai latihan ia langsung pergi ke SMA 1 Jakarta, pun dia belum diberi tau berita ini sebab sengaja agar konsentrasi Gabriel bertanding tidak terganggu.


"Kak Rara Bunda nggak kenapa-napa, kan?" Tanya Bagas sambil memeluk Rara.


"InsyAllah nggak kenapa-napa kok."


Rara mengusap kepala Bagas yang menangis histeris. Perlahan tangisan Bagas mulai meredup dan yang didengar hanyalah isakkan kecil.


"Gimana kalau misalnya Bunda kenapa-napa?"


"Bagas doa aja sama Allah. Semoga Allah melancarkan persalinan Bunda. Nanti Bagas juga bakalan punya adik."


Bagas mengangkat wajahnya dan memandang  wajah Rara penuh dengan harapan. Ia tersenyum kecil lalu seraya menatap ke arah ayahnya yang sedang menelepon seseorang.


Terlihat Arsen mematikan teleponnya lalu memandang ke arah Bagas dan Rara. Ia berjalan mendekat dan duduk di samping anaknya Bagas.


"Gabriel nelpon nanyain kenapa kita belum datang juga. Kamu pergi ke sana sama Bagas biar bunda Papa yang jagain."


"Tapi Pa?...."


"Rara, Gabriel butuh kamu. Kamu pergi ke sana dan biar Bagas yang nemanin kamu. Proses persalinannya pun baru pembukaan satu. Mungkin nanti malam atau tengah malam nanti baru lahiran."


Rara tidak ada pilihan lain lagi selain mengangguk. Ia meraih tas selempangnya lalu meletakkannya di pundak.


"Bagas jangan nangis. Bunda tidak kenapa-napa. Kamu temanin Kak Rara nonton Abang," ujar Arsen seraya memberikan kecupan singkat di puncak kepala sang anak sebelum Bagas dan Rara berpamitan.


Bagas maupun Rara pergi menuju lobi dan masuk ke dalam mobil sedan yang terparkir di parkiran. Setelah itu barulah keduanya keluar dari pekarangan rumah sakit.


Rara menatap pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia menghembuskan napas. Tidak lama lagi pertandingan akan dimulai. Ia berdoa di dalam hati semoga saja ia datang tepat waktu.


Hari ini Gabriel akan menyelasikan pertandingan Basket setelah babak per babak telah ia lalui dengan berbagai usaha. Tidak mudah mencapai Final seperti ini. Penuh dengan drama dam perkelahian hingga akhirnya tim Gabriel dapat masuk Final dan melawan tuan rumah.


Rara memencet klakson cukup nyaring pasalnya jalanan sore di Jakarta akan terkena macet. Ia cukup frustrasi hingga telepon Gabriel tak sempat ia angkat saking gelisahnya dia dengan jalanan Jakarta.


"Kak Rara kita sempat nggak ya lihat abang tanding?"


"Nggak tau Gas. Semoga aja sempat."


Derttt


Lagi-lagi ponsel Rara berdering. Ia menghela napas dan meraih ponselnya.  Baru saja hendak menggeser layar hijau dan secara tiba-tiba handpohennya menampilkan layar gelap.


"Kenapa Kak?" Tanya Bagas yang melihat sang Kakak melotot ke arah ponsel yang kehabisan baterai itu.


"Kamu bawa hp nggak Gas? Kaka mau hubungi Abang dulu. Mungkin Abang nungguin kita di sana."


Mendengar permintaan dari Rara, Bagas cepat merogoh kantong celananya. Sedikit meringis, Bagas menatap Rara dengan cengiran di wajahnya lalu menggeleng pelan.


Rara menghela napas dan meletakkan telapak tangannya ke kepala untuk mengurangi rasa frustasinya.


"Nggak ada Kak he he he. Kak kita tunggu aja macetnya habis tu pakai jalan pintas aja."


"Yaudah kalau gitu jalannya. Nggak ada pilihan lain."


Akhirnya Rara dan Bagas pun sepakat untuk menunggu macet dan memilih jalan pintas setelah terbebas dari kemacetan tersebut.


_______


Gabriel terus menatap jam tangan dengan gelisah. Sesekali ia keluar ruangan khusus sekedar untuk menatap ke bangku penonton mencari keluarganya yang akan menonton finalnya.

__ADS_1


"Kenapa lo mondar mandir?" Tanya Deko dan menepuk pundak Gabriel.


Sedikit berbalik Gabriel menatap Deko dengan helaan gusar. Ia mengintip ke arah bangku penonton sekali lagi. Raut tak bersemangatanya begitu jelas saat menatap orang tua dari teman-temannya sudah datang.


"Lo cari Rara sama keluarga lo?"


"Hm...."


Deko menepuk-nepuk pundak Gabriel, "Gue yakin mereka pasti datang. Mungkin lagi macet. Coba lo telepon aja."


"Gue tadi sudah telepon ke bokap. Katanya dia nggak bisa datang tapi Rara dia bakalan datang."


"Kalau gitu cobak lo telepon Rara sudah sampai mana dia?"


Tidak ada pilihan lain lagi selain menelepon Rara. Gabriel mengambil ponselnya lalu mencari kontak Rara di pencarian.


"Gimana diangkat nggak?" Deko bertanya dengan penasaran.


"Masuk tapi nggak diangkat."


"Coba lagi aja kalau kali ini diangkat."


Gabriel kembali menghubungi Rara. Sama seperti tadi panggilan tersebut nyambung. Namun baru saja terdengar suara dari seberang sana dengan durasi hanya satu detik tiba-tiba panggilan langsung terputus.


"Gimana?"


"Panggilan terputus. Deko lo punya teman nggak?"


"Ada sih. Kayak lo contohnya, lo kan teman gue."


Gabriel pun menatap penuh dengan kekesalan di wajahnya setelah mendengar ucapan Deko yang tidak memiliki faedah tersebut.


"Maksud gue teman yang bisa cari tau keberadaan Rara."


"Oh gitu. Coba dong ngomong tu yang jelas." Deko mencoba berpikir siapa saja temannya yang bisa ia minta bantuan untuk melacak keberadaan Rara. "Ada sih  si Aldi. Tapi katanya dia mau ke sini liat gue. Dia sih bisa nelayan keberadaan Rara sekarang ada di mana."


"Oke lah kalau gitu. Gue hubungi dia semoga aja tu anak mau."


Laki-laki bernama Deko tersebut mulai menghubungi temannya yang bernama Aldi tersebut. Gabriel menatap Deko yang sedang serius berbicara dengan temannya tersebut.


Menghela napas dan kemudian Deko memutuskan sambungan teleponnya dengan Aldi. Ia menatap Gabriel dengan tatapan mata yang sulit untuk diterjemahkan pria itu apa maksudnya.


"Gimana mau nggak dia?"


"Mau sih. Katanya dia minta foto Rara."


"Ini nanti fotonya gue kirim ke WA lo terus nanti lo kirim ke dia." Gabriel membuat aplikasi WhatsApp nya lalu mengirimkan foto Rara ke WA Deko.


"Gue sudah teruskan ke dia. Dia juga sudah lihat."


Dada dan perasaan Gabriel mulai merasakan ketenangan. Sekiranya ia telah dapat bernapas dengan lega. Mungkin menunggu beberapa menit lagi Rara akan sampai.


Gabriel dan Deko masuk ke dalam ruangan untuk persiapan karena beberapa menit lagi pertandingan akan di mulai.


Saat masuk ke dalam ruangan tersebut Gabriel sama sekali tidak adanya melihat kehadiran Revan. Penasaran akan itu Gabriel lantas menghampiri pelatihnya. Tentu Gabriel merasakan kenehan karena Revan termasuk pemain inti tapi belum datang.


"Ke mana Revan?"


"Oh Revan. Cilla tadi mengatakan Revan sedang sakit jadi nggak bisa ikut lomba. Kita harus ulang strategi lagi."


Gabriel mengernyit karena tidak biasanya laki-laki tersebut sakit. Ia jadi curiga jika Revan hanya berpura-pura sakit agar lepas dari tanggung jawab pertandingan ini. Tapi Gabriel tidak pula merasa jika alasan tersebut kuat karena Revan bukanlah laki-laki yang seperti anak kecil.


Ia memejamkan mata dan menarik napas berusaha yakin dengan apa yang diucapkan Cilla.


Cilla. Gabriel tersenyum kecut ketika mengingat nama itu. Rara telah mengatakan kepadanya bahwa dia telah mengatakan perasaan dirinya sebelumnya dengan perempuan itu. Cilla.

__ADS_1


Dan mulai dari situ Cilla jarang memberi kabar ke mereka baik kepada ke orang tuanya. Ia merasakan jika Cilla perlahan menjauhinya.


"Semoga Cilla dapat melihat kebenarannya ya Allah."


_______


Kini Rara dan Bagas sudah mulai terlepas dari kemacetan. Ia dan adiknya Gabriel tersebut memilih jalan pintas yang mana jalan tersebut cukup sunyi dan di pinggirnya ada hutan.


"Ngeri banget sih Kak jalan sini. Kata Abang jalan sini itu angker jadi nggak ada yang mau jalan sini."


"Hsyutt ngomong apa sih kamu. Semoga ajalah nggak terjadi apa-apa. Palingan bentar lagi kita sampai," ucap Rara meyakinkan Bagas di sampingnya yang tengah ketakutan.


Bagas berusaha buat percaya ucapan Rara.  Jalan di sini terasa mencengkam hingga Bagas bisa merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada di belakang mereka satu mobil yang juga lewat sini.


Mobil tersebut mendahului Rara dan Rara yang melihat itu tersenyum. Ia memanfaatkan mobil tersebut dengan mengikutinya dari belakang. Cara ini dilakukan supaya mereka tidak diabayang-bayangi oleh ketakutan.


Mobil terus malaju cukup kencang. Sepertinya mobil yang ada di depan Rara merasa ketakutan karena jika mobil itu melaju maka ia juga kan melajukan mobilnya. Jika mobil itu pelan maka Rara juga menekankannya. 


Mungkin mobil di depan mereka mengira jika dia dan Bagas berniat jahat kepada mereka hingga mobil tersebut melaju dengan kecepatan tinggi dan Rara kehilangan jejaka dan ia pun sendiri di jalan sini.


"Kak kita harus gimana? Pasti abang sudah duel."


"Nggak papalah kita telat dek."


Rara dan Bagas berusaha untuk optimis bahwa tidak akan terjadi apa-apa di perjalanan. Namun Rara bisa melihat dengan jelas di kaca spion jika ada dua mobil di belakangnya melaju dengan kencang. Rara senang melihat keberadaan mereka, tapi duagannya salah mobil itu mendahului mobilnya lalu mencegatnya di jalan.


"Kak mereka siapa Kak?  Kok mereka pakai topeng semua? Ya ampun Kak, mereka bawa pistol sama golok. Hiks, hiks, hiks."


Bagas menangis dan Rara memeluk anak laki-laki itu dengan begitu erat. Rara juga sangat ketakutan melihat mereka. Di kondisinya sedang mengandung seperti ini kemungkinan kecil ia bisa mengalahkan mereka semua yang miliki senjata.


"Kaka nggak tau Dek. Kita berdoa saja semoga kita dapat dilindungi sama Allah."


"Woi buka kacanya!!!" Bentak salah satu dari mereka sembari menggedor kaca mobil Rara.


"Kak nggak usah takut. Kita tabrak aja mereka.'


"Tapi Gas mungkin kita berhasil nara mereka tapi kita nggak akan mungkin nabrak mobil mereka yang ngalangin jalan kita, yang ada nanti kita yang celaka. Mau putar balik juga nggak bisa."


Rara benar-benar merasakan putus asa yang luar biasa. Kala menyentuh ponselnya untuk menghubungi seseorang, Rara baru menyadari jika ponselnya tengah mati.


"Ya Allah selamatkan kami."


"Kalian tidak dengar!!! Buka kacanya." Rara tidak memenuhi permintaan mereka terapi ia terus menangis. "Baik kalau lo nggak mau buka biar kami pecahkan kaca mobil lo."


"Huaaaa Kakak!!!"


Tarrr


Kaca mobil Rara dipecahkan dan mereka dengan mudahnya membuka pintu mobil tersebut dan menyeret Rara dan Bagas keluar dari dalam. Tangan Rara langsung diikat oleh mereka dan pistol berada di kening keningnya dan golok di lehernya. Bila mana Rara bergerak sedikit saja maka golok tersebut akan menyayat leher perempuan itu.


Mulut Rara diberi lakban hingga Rara tidak bisa berteriak. Setiap teriakkannya hanya terdengar seperti dengungan. Salah satu dari mereka membuka topengnya dan Rara yang melihat dia langsung tidak percaya.


"Revan."


Anak buah Revan pun memukul tengkuk Rara hingga wanita itu tidak sadarkan diri.


"Bawa masuk dia ke dalam mobil."


"Baik bos."


Revan dan anak buahnya telah masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Mereka seolah melupakan Bagas yang ternyata telah melarikan diri tanpa mereka sadari.


_____


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote.


__ADS_2