Underage Marriage

Underage Marriage
Part 39


__ADS_3

Sepulang sekolah Gabriel dan Rara memutuskan untuk ke rumah sakit memastikan apakah Rara hamil atau tidak. Berita ini belum disampaikan pada Nisa dan Arsen sebab takutnya jika belum terbukti bisa saja menyakiti mereka bila hasil menunjukkan negatif.


Keduanya keluar dari dalam mobil. Tampaklah wajah Rara yang pucat dan agak kekuning-kuningan. Ia terlihat seperti orang tak bertenaga sebab hampir seharian ini ia muntah-muntah.


Gabriel menuntun Rara berjalan memasuki rumah sakit. Pakaian sudah diganti agar orang tak salah mengira ketika ke ruangan cek kandungan dengan mereka teteap menggunakan seragam sekolah.


"Kamu masih kuat atau perlu aku gendong?" Tawar Gabriel. Ia semakin khawatir dengan Rara yang semakin pucat.


"Nggak. Aku bisa kok. Gabriel tenang aja, asalkan Gabriel masih kuat Rara tetap kuat."


Gabriel mengangguk. Dirinya cukup senang dengan tingkah Rara tidak terlalu menyusahkan. Sebenarnya tak apa juga jika Rara meminta bantuannya dan melayani perempuan itu setiap saat. Namun Gabriel tetaplah manusia yang memiliki kesibukan sendiri.


Terpilihnya ia sebagai kapten Basket di pertandingan nanti menuntut Gabriel untuk selalu disiplin dan datang tepat waktu. Seperti sore ini, Gabriel akan ke rumah sakit lalu mengantar Rara pulang dan barulah ia akan pergi ke lapangan untuk latihan.


Keduanya melangkah menuju ruangan cek kandungan. Setibanya di sana, Gabriel dan Rara mendaftarkan diri lalu duduk di salah satu bangku kosong menunggu pasien yang sedang diperiksa di dalam.


"Kita lama nggak lagi?" Tanya Rara pada Gabriel pasalnya ia tidak sabar menunggu hasil yang akan ditamparkan di depan matanya.


"Tidak. Tidak lama lagi kita setalah ibu ini," tunjuk Gabriel pada wanita di atas 30 tahunan bersama suaminya.


Rara menghela dan menyadarkan  kepalanya di dada bidang Gabriel mencari kenyamanan di sana. Melihat wajah penuh kelelahan Rara, membuat Gabriel iba. Tangannya terangkat lalu mengusap rambut selembut sutra itu.


Agar Rara lebih tenang dan nyaman bersamanya, Gabriel pun mengecup puncak kepala Rara terus menerus.


Cukup lama Gabriel membuat ketenangan Rara hingga mereka tidak menyadari saat ini adalah giliran mereka untuk diperiksa.


"Rara Andira," Panggil sang suster.


Rara yang hampir terlelap itu pun lekas membuka kedua kelopak matanya. Jika suara itu tak mengusiknya bisa saja Rara nyaris tertidur. Ia mengusap kedua belah matanya lalu berdiri dibantu oleh Gabriel.


"Maaf Anda siapanya?" Tanya sang suster pada Gabriel.


Gabriel hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari sang suster tersebut. Ia yakin suster itu sedang kebingungan karena mereka masih sangat muda.


"Saya suaminya Dok."


Dan pada saat itu pula lah seorang laki-laki beranting dan topi di kepalanya mendadak berhenti berjalan. Ia menatap Gabriel dan Rara dengan keheranan. Orang tersebut mendengar semua yang diucapkan oleh Gabriel bersama sang suster.


Tiba-tiba bibirnya menyeringai sembari menatap Gabriel dan Rara. Tanpa perlu pikir panjang pun orang itu sudah paham.


Niatnya adalah ia ingin mengambil barang yang tertinggal di dekat tempat tunggu. Namun tak disangka-sangka ia malah mendapatkan berita hangat di sore ini.


Ia mengambil ponsel di jaketnya lalu memfoto Gabriel yang sedang berdiri sambil berinteraksi dengan seorang suster di depan ruangan khusus ibu hamil. Lalu ia pun juga memfoto pas Rara sedang berbaring untuk diperiksa.


Ketika merasa sudah lengkap foto yang ia dapatkan, laki-laki itu pergi dari sana dengan menyeringai. Topinya ia tekan ke bawah agar dapat menutup kedua matanya. Senyumnya merekah seraya berjalan ke area parkiran.


Barang yang ia hendak ambil pun kini telah berada di tangannya.


Sedangkan di dalam ruangan, Rara bergerak gelisah sembari menatap cemas ke mata Gabriel. Ia berusaha tenang saat sang dokter menyibakkan bajunya sebatas dada lalu memberikan gel di perutnya.


Kemudian alat untuk USG menyentuh permukaan perutnya. Ada rasa geli dirasa Rara ketika alat itu bergerak. Sedangkan dokter serta Gabriel menatap ke layar monitor.


Gabriel tersenyum penuh kebahagiaan dan tak luput pula jika dokter tersebut juga ikut tersenyum. Ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi pun lantas memberanikan diri menatap ke arah layar tersebut.


Seketika di detik itu mata Rara langsung berkaca-kaca melihat sebuah gumpalan kecil membentuk janin di sana. Kini ia tidak bisa menahan perasaannya lagi, Rara menangis haru melihat calon anaknya.


"Rara itu anak kita," seru Gabriel yang juga ikut menangis.


"Iya. Itu anak Gabriel dan Rara."


"Lucu ya?" Gabriel menatap Rara setelah sekian lama matanya terus fokus pada layar monitor yang memperhatikan sebuah janin.


"Selamat Pak, istri Anda hamil."


"Makasih Dok."


Gabriel menggenggam tangan Rara setelah di layar monitor tidak terdapat lagi gambar anaknya. Air matanya berhenti menetes dan dijadikan senyum penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Rara bakal jadi mama muda dong Gabriel."


"Iya. Aku juga akan jadi papa muda."


Dokter yang melihat interaksi manis Rara dan Gabriel pun menyunggingkan senyum. "Maaf Pak Gabriel. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepada Bapak. Ini menyangkut tentang hal-hal untuk kesehatan ibu Rara."


Gabriel mengangguk dan duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan sang dokter. Beberapa hal mengenai kehamilan Rara disampaikan oleh dokter tersebut. Gabriel mengangguk ketika sang dokter memberi pertanyaan padanya.


Setelah usai, Rara dan Gabriel meninggalkan ruangan pemeriksaan kandungan tersebut. Wajah keduanya berseri dan Rara sedari tadi terus menempel dengan Gabriel tidak ingin lepas dari pria itu.


"Gabriel bagaimana kalau misalnya papa dan Bunda marah sama kita?" Tanya Rara sedikit sedih, ia masih mengingat peringatan Nisa agar mereka tidak boleh untuk berhubungan sebelum lulus.


"Tenang aja, papa dan bunda tidak akan marah sama kita. Lagian tinggal rayu bunda agar bunda luluh. Jika bunda tidak mempersalahkan lagi  maka semua masalah ini pun selesai."


Rara menarik napas dalam. Setidaknya tidak akan ada masalah selama kehamilannya ini. Ia berharap agar segera lulus SMA dan fokus ke kehamilannya sebelum masuk kuliah.


________


Pagi seperti biasanya, Rara dan Gabriel pergi berangkat sekolah. Nisa dan Arsen telah mengetahui kehamilan Rara. Mereka sebenarnya tidak mempersalahkan, namun Selvi ibunya Rara sempat menentang karena ia menganggap Rara masih kecil untuk menjadi seorang ibu.


Sebagai menantu yang baik, Gabriel berusaha memberikan penjelasan dan membujuk Selvi agar menerima kehamilan Rara ini. Selvi pun pada akhirnya menyerah dan menerima kehamilan Rara.


"Sudah aku katakan bukan kamu nggak usah pergi sekolah."


"Rara nggak papa Gabriel. Rara kuat kok, lagian Rara mau ketemu Gabriel. Di rumah nggak enak, di rumah nggak ada Gabriel."


Gabriel menghela napas dan menyerah. Jika Rara sudah merengek sampai kapan pun ia tidak bisa menghentikan perempuan itu. Kemauannya harus dituruti dan jika tidak maka Gabriel harus siap didiamkan, apalagi Rara sekarang sedang hamil, hormonnya semakin meningkat.


Gabriel membukakan pintu untuk Rara dan Rara pun keluar dari dalam mobil tersebut. Gabriel menjaga Rara begitu apik lebih dari menjaga barang berharga.


"Nggak usah dipegangi, Rara bisa kok jalan sendiri."


Gabriel melepaskan Rara dan Rara berjalan normal seperti biasanya. Kepalanya tidak terlalu pusing lagi setelah memakan obat pemberian dari dokter.


Saat keduanya berjalan di koridor entah perasaannya saja atau bukan, Rara merasa dirinya dan Gabriel diperhatikan semua orang.


Gabriel pun menatap sekitar dan benar saja orang-orang seperti sedang memperhatikan dirinya dan Rara. Gabriel tidak peduli dengan masalah itu. Dirinya memang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.


Ia dan Rara terus melanjutkan perjalanan hingga mereka tak sengaja melihat segerombolan orang-orang sedang mengerumuni sesuatu.


"Ada apaan ya?" Tanya Rara?


"Nggak tau. Mending kita ke kelas aja."


"Ishhh.... tapi Gabriel, Rara itu penasaran ada apaan. Mungkin ada pengumuman, emang kamu mau ketinggalan pengumuman?"


Gabriel menarik napas panjang lalu mengiyakan permintaan Rara. Ketika mereka berjalan menghampiri gerombolan orang ramai itu dan tanpa disangka-sangka orang-orang menyingkir memberikan mereka jalan untuk berdiri paling depan.


Rara merasa lega dengan orang yang pengertian. Tapi dia merasakan ada yang tidak beres. Rara berusaha membuang pikiran negatifnya dan terus melangkah maju.


Seketika Gabriel dan Rara langsung membeku melihat apa yang di depannya. Rara mengeluarkan air mata yang begitu deras tidak sanggup menyaksikan apa yang sekarang ia lihat.


"Ga-Gabriel. Hiks."


Gabriel tidak menanggapi perkataan Rara sebab ia sama syok nya dengan perempuan itu. Di mading alias majalah dinding begitu banyak tertempel fotonya yang bersama Rara sedang memeriksakan kandungan.


Ada satu notes yang mengganggu Gabriel. Ia meraih note tersebut dan membacanya.


"Ternyata Gabriel adalah suami dari Rara. Mereka menikah karena Rara yang hamil di luar nikah." Begitulah isi dari kertas tersebut.


Gabriel mencengkeram kuat kertas itu dan menyobeknya dengan perasaan penuh emosi, tidak hanya notes itu yang ia sobek namun semua foto yang tertempel di sana turut disobeknya. Ia menatap ke samping tepatnya pada Rara yang menangis apalagi setelah mendengar ucapan-ucapan menyakitkan dari banyak orang yang menyaksikan itu.


Bukan sekedar para siswa saja yang ikut melihat hal itu tapi para guru juga banyak ikut menonton ini. Tampak wajah para guru-guru seakan tidak percaya dengan keduanya.


Rara yang tak sanggup berlama-lama lagi di sini lantas pergi dengan berlari menuju kelasanya. Ia tidak bisa dijadikan pusat perhatian semacam ini.


"SIAPA YANG TELAH BERANI MELAKUKAN INI!!!" Teriak Gabriel penuh penekanan mematikan di setiap katanya. "APA KALIAN CARI MATI HAH?!!!"

__ADS_1


Orang-orang yang berada di sana tidak ada yang berbicara. Mereka pun tidak tau siapa yang melakukan itu. Mereka datang foto-foto tersebut memang sudah ada di sana.


"JAWAB!!! ATAU KALIAN SEMUA GUE BUNUH!!"


Gabriel berteriak kesetanan seperti raja setan telah menguasai dirinya. Semua orang hanya menatap Gabriel termasuk guru-guru di dana yang seperti enggan melerai kejadian ini.


"Heh lo!!! Kalau sudah ketahuan ya jangan bentak-bentak kami, apalagi pakai ngancam-ngancam kami!!!"


"Benar itu!! Jangan lo orang yang terpepuler dan banyak menyumbangkan medali jadi lo sok bisa ngancam-ngancam kami. Kami semua pun tidak tau siapa yang melakukan ini!!"


"Ternyata selama ini yang kita kira dia adalah orang baik ternyata sampah!!! Hamilin anak orang, nggak malu apa?!!"


"Benar!!! Dan Rara tidak boleh lagi sekolah di sini. Kami tidak sudi di sekolah ini ada siswa yang hamil dan telah bersuami!! Kalian semua setuju, kan?!!!"


"SETUJU!!!"


Jawaban kompak itu membungkam mulut Gabriel. Semua orang berdemo agar Rara dikeluarkan. Gabriel tidak bisa mengelak lagi dari kasus ini. Seketika Gabriel merasa sedih jika Rara tidak bisa bersekolah lagi.


Kepala sekolah bernama Utsman datang menghampirinya. Ia menatap Gabriel penuh kata maaf. Gabriel yang mengerti pun menghela dan pasrah.


"Maaf kamu harus ikut saya ke ruang kepala sekolah."


Gabriel mengikuti Pak Utsman dari belakang. Semantara orang-orang di belakangnya terus menghina.


Jauh dari sudut ruangan Cilla menatap kejadian tersebut penuh dengan air mata. Ia menangis mendengar demo anak-anak. Dan seketika Cilla langsung terbayang jika dirinya ketahuan juga sedang mengandung.


Ia tidak siap dikeluarkan dari sekolah ini apalagi jika sampai Dive ayahnya mengetahui. Saat larut dengan pemikirannya, sebuah tangan besar dan putih melingkar di pundaknya. Tanpa melihat Cilla sudah tau siapa pemilik tangan tersebut.


"Kamu sudah lihat Bukan Cil?"


Cilla diam dan tak menanggapi ucapan Revan. Matanya masih fokus pada kerumunan orang-orang yang menggosipi yang tidak-tidak Rara dan Gabriel.


Rara tau kronologi mengapa Rara dan Gabriel menikah, bukan karena Rara hamil melainkan ayahnya Rara ingin melihat anaknya menikah dengan orang yang dicintainya.


"Rara dan Gabriel yang sudah menikah saja bisa dibully, lalu bagaimana dengan kita yang bukan suami istri."


"Maka dari itu kita tidak ada pilihan lain untuk menggugurkan kandungan kamu."


Ucapan Revan tersebut langsung menuai tatapan peringatan dari Cilla. Ia sensitif dengan kata-kata itu. Bagaimana pun mendesaknya suatu keadaan, Cilla tidak akan pernah menggugurkan anaknya.


"kamu tega ingin membunuh anak mu sendiri."


"Kalau begitu aku harus bagaimana? Aku juga nggak tau Cilla."


"Kita harus benar-benar menyimpan rahasia ini dan setelah lulus kita akan menikah."


"Terserah." Revan pergi begitu saja dari sana. Perihal menikahi Cilla ia pun masih pusing. Tapi Revan cukup sakit hati dengan berita kehamilan Rara.


________


Di dalam ruangan kepala sekolah, Gabriel menatap membunuh pada kepala sekolahnya itu.


"Kenapa Bapak harus mengeluarkan Rara dari sekolah ini? Bukannya Bapak sudah mengetahui jika kami menikah bukan karena itu tapi karena dijodohkan dan bahkan Bapak hadir di acara pernikahan kami!"


Pak Utsman menarik napas dan tersenyum sedikit ramah kepada Gabriel. Tentu Gabriel tidak akan termakan dengan senyuman itu.


"Saya tidak bisa mempertahankan Rara di sekolah ini. Sesuai peraturan dari pemerintah orang yang bersuami dan sedang hamil tidak diperkenankan untuk bersekolah apalagi ini semua terjadi dengan masih di bawah umur. Saya masih bisa mempertahankan Rara asalkan rahasia ini tidak menyebar. Tetapi rahasia ini sudah diketahui banyak orang jadi saya tidak bisa berbuat banyak."


Gabriel berdiri dari hadapan pak Utsman berniat keluar dari ruangan tersebut saat dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


"Tapi Rara masih dapat menerima ijazah." Gabriel menatap pak Utsman. "Karena sebentar lagi kalian akan ujian akhir maka Rara akan tetap bisa mengikuti ujian tersebut. Rara harus mengambil paket C dan homeschooling."


"Terima kasih. Jika itu masih bisa dilakukan saya setuju."


Gabriel pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan bercampur aduk.


________

__ADS_1


TBC


__ADS_2