Underage Marriage

Underage Marriage
Part 24


__ADS_3

Selama pelajaran berlangsung Rara sama sekali tidak fokus hingga sampai-sampai ia ditegur dan dipukul menggunakan kayu panjangnya pak Joko guru bahasa Indonesia. Bagi Rara pelajaran tersebut tidak penting sebab tanpa diajari sampai tingkat SMA pun ia sudah bisa bahasa Indonesia dari kecil, terkadang hal tersebut menjadi tanda tanya sendiri bagi Rara.


Ia tidak tau dengan pemerintah kenapa harus dipelajari lagi. Apalagi pelajaran yang sedang dijelaskan di depan tentang Cerpen. Rara tidak suka dengan mengkhayal, hidup itu nyata bukan khayalan. Ia benci hidup penuh dengan kebohongan, khayalan.


Reza mendengus melihat Rara yang sedari tadi membenamkan kepalanya di meja dengan dilindungi oleh buku Cetak bahasa Indonesia agar tidak dapat dilihat oleh pak Joko jika ia sedang memejamkan mata dan melamun, bukan tidur.


Lagi pula Rara sedang kelelahan dengan beban hidupnya yang harus ia pikul. Ia tidak habis pikir kenapa Revan bisa tau dia sekolah di sini. Namun bukan itu yang sedang dipikirkan Rara, tapi bagaimana jika Gabriel bertemu dengan Revan?


Akhh semuanya kacau karena cowok itu. Padahal ia sudah menata baik-baik masa depannya dengan Gabriel sampai memiliki anak di suatu hari, dan bahagia dengan kehidupan kecilnya. Namun harapan tersebut sirna ketika orang di masa lalu kembali lagi.


"Pelajaran kita cukupkan sampai di sini saja. Silakan kalian keluar main. Assalamualaikum!" Kata pak Joko kepada seluruh siswa yang ia ajari di kelas itu.


Mendengar ucapan Pak Joko tersebut cepat Rara mengangkat kepalanya dan menghembuskan napas lega saat melihat guru tersebut telah keluar dari kelasnya.


"Alhamdulillah ya Allah tu guru udah keluar. Ngantuk gue dengar penjelasannya." Rara merapikan bukunya dan menghadap pada Reza dan Adhan. 


Ia mengangkat satu alisnya saat mendapati kedua sahabatnya itu sedang memperhatikan dirinya seksama, ada apa dengan mereka? Ada yang aneh dengan diri nya? Rara mencoba meraba seluruh badannya mencari keanehan itu namun sama sekali tidak ada apa-apa.


Reza yang gemas dengan kelakuan Rara pun menyentil kening Rara hingga mendengarkan desahan kesakitan dari perempuan tersebut. Ia menatap nyalang sang pelaku.


"Masih nggak nyadar aja lo. Jelasin ke kita kenapa lo tadi masuk kelas seperti habis nangis? Bukannya lo tadi datang lebih awal dari pada gue, tapi kenapa lo paling telat masuknya?"


Rara mengalihkan perhatiannya ke Adhan, "Lo juga minta dijelasin?" Tuding Rara menebak jika Adhan juga penasaran seperti Reza.


"Yaiyalah Rara Andira. Gue itu lebih penasaran dari pada Reza, bego. Dasar nih anak ya? Minta dicium kek nya."


"Nggak usah bawa-bawa bego kali, gue ngerasa tersinggung jadinya. Padahal yang mengatakan sama aja pada bego. Lo mau cium gue? Gue sih mau aja tapi asalkan lo sanggup dibunuh sama Gabriel. Mau lo?"


"Idih mainnya sekarang pakai ancam ya? Gue tau kok tuh anak nggak ada tandingnya di sekolah ini."


Adhan menatap Rara mendesak namun Rara sama sekali tak mengerti dengan maksud tatapan Adhan. Adhan terpaksa tersenyum lalu meremas baju Reza yang ada di sampingnya dengan gemas.


"Woy nggak usah diremas juga kali baju gue? Entar sobek lo mau ganti?" Kesal Reza seraya menjauhkan tangan Adhan dan menghmpaskannya begitu saja hingga ia dihadiahi tatapan jengkel dari Adhan.


"Jangan salahkan gue, tapi salahkan noh teman lo yang begonya alami banget."


"Sudah dikata nggak usah seb----"


"WOY RARA BURUAN CERITAIN KENAPA LO TADI MASUK KELAS TELAT DAN MATA LO KAYA HABIS NAGIS!" Teriak Adhan dan Reza bersamaan.


Rara menutup kedua telinganya dan membukanya ketika suara kedua sahabatnya itu sudah mereda. Rara mendengus dan menghela, apa perlu ia jelaskan yang sejujurnya kepada kedua sahabatnya itu, tapi bagaimana pun juga mereka adalah salah satu pahlawan di saat Rara terpukul akan takdir saat itu.


"Revan!"


"Emang kenapa dengan Revan? Tu anak kan ada di luar negeri!" Ucap Reza menanggapi. Dan Rara mengangguk, memang iya sebelumnya Revan di luar negeri.


"Lah terus?" Tanya Adhan.


"Balik lagi dianya, dan sekolah di sini," kata Rara santai namun tak dipungkiri jika Rara juga masih trauma. 


"WHAT????"


"Serius lo Ra?"


"Aduh Ra nggak usah bercanda kale, nggak lucu tau nggak!!!"


"Tau nih anak!!!"


"Yasudah nggak percaya nggak papa juga kali. Ini saatnya gue buktikan gue itu normal nggak aneh, gue harus menghadapi Revan dengan tampang biasa-biasa saja," cerca Rara sembari bersedekap dada.


"Gila sih tu anak kemari lagi, emang dia nggak puas apa dibuat bokap lo babak belur. Dia mah masih untung nggak dipenjarain sama bokap lo."


Rara berdecak malas mendengar kenyataan itu. Ia juga sempat marah dengan papanya karena melepaskan Revan begitu saja. Tapi mau bagaimana lagi, entah apa yang keluarga Revan lakukan sampai papannya melepaskan anak itu begitu saja. Rara tidak mengerti karena saat itu dia masih kecil.


"Ya begitu lah, lo pada tau kan seperti apa baiknya bokap gue? Gue juga heran kenapa bisa begitu. Kalau gue mah itu sudah dipenjarakan seumur hidup dan kalau masih hidup, mending dipenggal kepalanya," kata Rara balk-blak an. Ia tidak akan segan mengatakan atau menyumpahi yang sadis-sadis untuk orang bernama Revan itu.


"Gabriel tau?" Rara menggeleng pelan, ia tertunduk lemah dan tersenyum kecut.


"Belum saatnya gue kasih tau." Kedua sahabatnya pun mengangguk mengerti.


"Terus apa yang bakal lo lakuin sama Revan saat ini? Lo buat dia menyesal?" Tanya Adhan seraya memandang lekat Rara.


Perempuan tersebut terkesan acuh tak acuh padahal masalahnya yang bakal ia hadapi bukanlah masalah kecil. Tapi mau bagaimana lagi, Rara memang belum mendapatkan jalan keluarnya.


"Gue nggak tau!"


"Kalau misalnya dia bakal berbuat seperti itu lagi gimana?"


"Lo nanya gue bakal ngapain? Yang jelas gue bakal gebukin, cambuk, kuliti, terus penggal, jual ginjalnya, jual jantungnya, jual matanya, jual hatinya. Kan lumayan gue dapat uang jajan tambahan."


"Idih sadis bener nih cewek. Kok gue jadi takut ya deket-deket sama lo. Lo mah kaya pisikopat aja!" Ujar Reza seraya menyilangkan kedua tangannya di dada kala Rara melayangkan tatapan tajam ke arahnya.


"Eh kampret emang gue pisikopat apa? Nggak gitu juga kali, gue bakal lakuin itu kalau misalnya dia negalkuin itu lagi ke gue. Dasar lo ya!!!" Rara melemparkan pena yang ia gigit ke arah Reza.

__ADS_1


Adhan yang melihat temannya menjadi korban kekerasan dari Rara hanya tertawa di atas penderitaan sahabat sendiri. Bahkan saking gelaknya ia tertawa cowok tersebut memegang perutnya yang terasa sakit.


"Ha ha ha ha em....." tiba-tiba Reza menyumpal mulut Adhan menggunakan plastik makanan yang penuh di lacinya.


"Makan tu sampah biar entar lo BAB yang keluar emas.."


Adhan mendengus dan menelurkan sampah tersebut dari mulutnya. Ia melemparkan sampah tersebut ke arah Reza dengan kesal.


"Dasar titisan Dajal lo, saudaranya Firaun, sepupunya Abu Lahab, Anaknya  Ib---"


"Eh istighfar lo! Enak banget lo ngatain orang seenak jidat lo!" Sargah Reza menghentikan Adhan yang mengeluarkan segala macam umpatan yang tak bermutu.


"Diam lo pada. Berisik tau nggak!!! Mending gue cari Ayang Beb aja. Entar keburu bel lagi!!!"


"Dasar bucin!!!" Teriak Adhan kesal melihat Rara yang pergi meninggalkan mereka yang masih di tempat.


"Bilang aja lo pada hiri kan? Dasar golongan Jomblo!!!"


_______


Mata Rara berbinar saat melihat Gabriel yang mengenakan baju olahraga berjalan dari arah lapangan menuju dirinya. Rara tidak dapat berkata apa lagi selain menggigit jari. Sumpah demi apa Gabriel terlihat sangat maskulin. Rambut cowok tersebut sedikit basah dengan keringat, wajahnya yang penuh dengan peluh, bajunya yang basah menampakkan bentuk tubuh Gabriel.


Gabriel tersenyum melihat Rara yang terkagum dengan penampilannya. Ia mendekat dan secara tiba-tiba mencium pipi Rara.


"Kenapa nih bengong? Entar kesambet tau!"


Masih sama Rara hanya diam dan tak menggubris perkataan Gabriel. Matanya tertuju pada bagian perut Gabriel yang tercetak jelas satu roti sobek di sana. Gila tu tubuh, kapan Gabriel olahraganya sih?


"Ra aku tau aku tubuh aku itu sempurna tapi nggak gitu juga kali sampai mata juga ikutan merah."


"Eh..." Rara sadar dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi malu karena ketahuan sudah terang-terangan memperhatikan Gabriel.


Gabriel merangkul Rara menggunakan tangan yang terdapat air mineral. Ia mengecup rambut Rara dan mencubit wajah perempuan tersebut gemas.


"Kenapa sih?"


"Seharusnya Rara yang tanya Gabriel. Kenapa Gabriel ganteng banget sih?" Tanya Rara dan mengambil air mineral dari tangan pria tersebut dan meminumnya walaupun air tersebut bekas Gabriel.


Gabriel mengusap kepala Rara dan tersenyum mengemaskan di depan Rara.


"Perlu dijawab?"


"Iya dong biar Rara nggak penasaran lagi."


"Apaan sih Gabriel?" Kata Rara menjauhkan tangan Gabriel dan pergi dari sana.


Tapi Gabriel tidak membiarkan Rara semudah itu pergi darinya. Ia menarik Rara hingga Rara menabrak dada bidang lelaki itu lalu bertatapan cukup lama melihat atensi masing-masing dari dalam bola mata.


"Ra! Sebelum gue jawab, gue mau tanya kenapa kamu itu cantik banget?"


Deg


Rara harus menjawab dengan apa. Ia juga tidak tau mengapa dia diciptakan sempurna oleh tuhan, namun yang hanya tidak sempurna itu adalah takdirnya.


Rara menatap mata Gabriel yang melihatnya seperti ingin menerkam. Refleks Rara mengamati sekitar, takutnya ada orang yang melihat mereka. Rara kembali lagi melihat Gabriel dirasa aman. Ia mengalungkan tangannya di leher lelaki tersebut dengan Gabriel yang memeluknya.


"Karena wajah Rara dianugerahkan untuk Gabriel makanya tuhan menciptakan dengan sempurna. Kalau Gabriel apa jawabannya?"


Gabriel mengecup bibir Rara sebentar dan menatap Rara cukup lama sebelum ia memberikan jawabannya.


"Cium dulu dong!"


"Harus banget ya?" Tanya Rara, pasalnya ia tidak terbiasa mencium seorang lelaki terlebih dahulu. "Nggak ada permintaan yang lain gitu?"


"Ada!"


"Apa?"


"Kamu harus cium aku di depan umum. Itu pilihan terakhirnya."


Rara menatap Gabriel  kesal. Ia harusnya tidak bertanya itu agar ia tak terjebak seperti situasi saat ini, laki-laki tersebut memang pandai memanfaatkan keadaan.


Rara tak ingin melakukannya namun ia juga penasaran. Di sini Rara mulai mengutuk dirinya. Kemana Rara yang liar? Agresif? Gabriel memang kelemahan Rara. Terpaksa Rara mencium pipi Gabriel.


Cupp


"Enggak di situ sayang tapi di sini," rengek Gabriel sambil menunjuk bibirnya.


Rara pun mengecup bibir Gabriel dan setelahnya ia menenggelamkan kepalanya di dalam pelukan Gabriel untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. Ia tidak tahu seperti apa wajahnya namun Rara merasa jika wajahnya sekarang tengah memanas.


"Kok wajah kamu merah sih sayang?  Kamu sakit ya?" Gabriel sengaja pura-pura tidak mengerti dengan tujuan untuk meledak Rara.


Rara memukul dada Gabriel hingga membuahkan gelak tawa dari lelaki yang menyebalkan ini. Dasar Gabrie! Entah dari jenis apa anak tersebut tercipta. Rara sendiri meragukan Gabriel berasal dari Rahim.

__ADS_1


"Gabriel ihh..."


"Kenapa yang?"


"Jawab lah pertanyaan Rara tadi."


"Yang mana?"


"Gabriel kenapa bisa ganteng sih??? Yang itu."


"Kenapa mesti ditanya sih kan jawabannya sama dengan yang kamu jawab tadi."


Rara ternganga dengan ucapan Gabriel. Ia memandang orang yang di depannya ini dengan tatapan membunuh. Dasar ia telah dikerjai sama cowok ini.


"Dasar curang. Rara benci sama Gabriel!!!" Ucap Rara membuang muka.


"Yakin?"


"Yakinlah!"


"Oh." Gabriel hanya mengamati Rara yang masih membuang muka.


Seperkian detik setelah mendengar ucapan dari Gabriel, ia langsung menatap cowok tersebut. "Oh?"


"Emang aku harus gimana? Oh aja kan selesai."


"Dasar cowok nggak peka. Dirayu kek atau digombal kalau perempuan itu ngambek," sesal Rara dan pergi dari sana.


Ia sudah dikerjai oleh Gabriel dan lelaki tersebut sama sekali tidak merasa bersalah. Menyebalkan memang, kenapa ia bisa mencintai laki-laki seperti Gabriel itu sih? Memang aneh dirinya.


Gabriel mengejar Rara yang tak peduli dengan panggilannya. Ia merangkul pundak Rara dari samping dan mengucapkan kata-kata maaf untuk Rara. Tapi Rara yah tetap Rara, perempuan keras kepala dan tidak sama sekali memaafkan Gabriel, hingga perjalanan mereka sudah sampai di depan kantin.


"Ra maafin aku dong! Kamu kok gitu? Aku nyesel Ra!"


"....."


"Rara yang cantik, yang manis, yang anggun, yang segalanya. Maafin Gabriel dong!" Kata Gabriel yang terpaksa mengeluarkan senjata andalannya meski ia merasa ingin muntah saja. Gabriel menatap orang-orang di sekitar kantin yang tengah menatap ke arahnya dan Rara sambil berbisi-bisik. Gabriel mendengus melihat itu.


"Ra maafin aku," pinta Gabriel tapi Rara tidak menggubris. Ia masih sibuk mencari kursi kosong yang tersisa di kantin.


Tak disangka-sangka dengan sedetik kemudian yang dilakukan oleh Gabriel. Pria tersebut menarik tubuh Rara agar menghadapnya dan mencium Rara amat dalam di depan seluruh orang yang ada di kantin itu.


Rara terbelalak dan berusaha melepaskan Gabriel. Ia malu dan benar-benar sangat malu dengan apa yang dilakukan Gabriel kepadanya. Ia mendorong Gabriel menjauh hingga ciuman mereka terlepas.


"Iya Rara maafin!!" Kata Rara akhirnya.


"Nah gitu dong. Mari ikut aku ke seseorang."


Rara tidak melawan sebab dirinya masih malu dengan apa yang dilakukan Gabriel hingga orang-orang masih menatap ke arahnya, Gabriel memang gila. Rara mengernyit saat melihat ada seseorang yang tak asing di depan matanya. Cilla.


"Cilla!!" Kata Rara dan berpelukan dengan Cilla teramat dalam, yah mereka mulai bersahabat.


Cilla melepaskan dekapannya dengan Rara. "Ciehh romantis banget sih. Gue jadi iri nih."


"Apaan sih lo Cilla. BTW lo sekolah di sini? Revan pacar lo itu mana? Pasti dia sekolah sini juga kan?"


Cilla menangguk dan menatap ke arah seseorang dan menunjuknya, "Ini Revan pacar aku."


Rara mengikuti arah pandang Cilla dan terhenyak seketika saat melihat orang tersebut. Benar dugaannya, entahlah apa yang harus Rara lakukan ternyata Revan yang ia maksud benar pacar Cilla.


"Kenalin ini Revan. Dan Revan ini Rara!" Kata Cilla mengenalkan.


Mata mereka bertemu lalu beradu pandang. Revan menyinggungkan senyum mengerikan di wajahnya.


"Oh dia. Oh iya Cilla kenapa tampangnya rada menyebalkan gitu ya?"


Gabriel menyikut tangan Rara agar tak berkata yang macam-macam supaya Cilla tak tersinggung. Tidak sesuai prediksi, Cilla malah tertawa mendengarnya seraya mengangguk.


"Kamu ngomong memang suka bener," kata Cilla. "Oh iya mending kita makan bareng. Biar aku yang pesan ya?"


"Nggak usah, aku aja La."


Gabriel pergi memesan makanan setelah satu per satu mengatakan apa yang mereka pesan. Ketiga orang tersebut duduk dan Rara pas berhadapan dengan Revan. Ia menatap Revan yang tengah menyeringai sedangkan dia menanggapi dengan santai.


'Dasar lelaki jahanam,' batin Rara mengumpat.


_____


TBC


selamat Lebaran mohon maaf lahir dan batin semua


Jangan lupa Vote, like, komen.

__ADS_1


__ADS_2