Underage Marriage

Underage Marriage
Part 40


__ADS_3

PERHATIANNNNNN!!! JADI PART 39 YG KEMARIN TERTUKAR DENGAN PART 40, JADI YANG BAB KEMARIN ITU PART 40, NAH PART 39 YANG SEHARUSNYA/YANG ASLINYA UDAH AKU REVISI, JADI SILAKAN BACA ULANG PART 39 ITU PART ASLINYA.


Lepas dari ruang kepala sekolah, Gabriel langsung berjalan dengan terburu-buru menuju kelas Rara. Kepalanya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa Rara di sana.


Gabriel tau betul bagaimana sikap sesungguhnya kelas IPS yang menjadi kelas Rara itu. Mulut mereka lebih pedas dari cabe rawit. Gabriel tidak mau Rara frustrasi dan kandungan istri cantiknya itu kenapa-nap.


Semua mata terarah padanya ketika ia berjalan melewati mereka. Gabriel berusaha fokus terhadap Rara dengan tidak mempedulikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan beragam.


"Ya Tuhan lindungi Rara."


Gabriel sedikit berlari untuk menghemat waktu sampai ke sana. Saat ia telah berdiri di depan kelas, dan benar saja Rara sedang dibully habis-habisan.


Para murid membentuk lingkaran dan di tengah-tengahnya adalah Rara yang sedang dilempari kertas. Berbagai makian dilontarkan hingga Rara tidak berani mengangkat kepalanya sekedar untuk mengintip.


Gabriel mengeram dengan tangan terkepal di ambang pintu menyaksikan Rara yang menjadi bahan olok-olokkan. Seketika emosi yang mulai meredam kembali dibangkitkan. Ia menghampiri para anak murid itu dan berteriak.


"APA-APAAN KALIAN!!! MINGGIR!!! SIAPA YANG BERANI MENGHINA ISTRI GUE MAKA NYAWA TARUHAN KALIAN!!!" Gabriel mengungkapkan amarah yang telah meledak-ledak sampai ke ubun-ubun.


Semua orang diam karena kebanyakan dari penghina itu adalah sekelompok perempuan yang tergila-gila dengan Gabriel. Makanya saat mendengar suara teriakan dari Gabriel mereka langsung menciut.


Gabriel menghampiri meja Rara dan kemudian memeluknya hangat menenangkan perempuan yang menangis tanpa suara itu.


"Ra, jangan nangis lagi. Aku nggak bisa Ra liat kamu begini."


Mendengar suara familiar di telinganya, Rara pun dengan sedikit keberanian mengangkat kepalanya. Matanya langsung buram melihat laki-laki yang dicintainya itu sedang tersenyum padanya.


"Gabriel hiks." Rara langsung memeluk tubuh suaminya itu dengan erat. Tubuhnya bergetar ketakutan apalagi ia tadi masih sempat melihat tatapan jijik dari teman sekelasnya.


"Kita pulang ya?" Tanya Gabriel pada Rara dan senantiasa sambil mengusap kepalanya.


"Rara kan mau sekolah, kenapa pulang." Pertanyaan lirih dari Rara mampu membuat dada Gabriel bergetar mendengarnya.


Ia tidak tega menyebutkan jika perempuan itu tidak di terima lagi di sekolah ini. Tapi Gabriel harus menyampaikannya, namun sepertinya tidak sekarang. Ia tidak mau Rara syok dan pingsan mendengar kabar ini.


"Pak Utsman memberi izin kalau kamu pulang Ra. Kamu jangan sekolah dulu ya hari ini, aku juga nggak akan sekolah kok." Rara menganggukkan kepalanya dan Gabriel barulah bisa menarik napas panjang melihat anggukan itu.


Sebelum pergi meninggalkan kelas Rara, Gabriel lebih dulu memberikan tatapan tajam kepada orang-orang yang terlibat membully Rara.


Ia pun menggendong Rara ala bridal styel dan membawanya menuju parkiran. Ketika sampai di area parkiran, Gabriel pun menghampiri mobilnya dan memasukkan Rara ke dalam mobil itu.


"Kamu tunggu di sini dulu ya. Aku mau ke kelas ngambil tas."


"Iya," jawab Rara lemah.


Gabriel menyunggingkan senyum kemudian mengecup puncak kepala Rara. Ia menutup pintu tersebut dan meninggalkannya setelah memastikan keadaan aman di area tersebut.


Gabriel berlari menuju kelas dengan usaha besar agar harapan untuk sampai pun segera terwujud. Ia masuk ke dalam kelasnya dengan napas terengah-engah. Kemudian menghampiri meja dan menarik tas nya cepat.


Ketika ia hendak keluar dari kelas tersebut matanya tak sengaja bertabrakan dengan mata Revan. Gabriel berusaha tak peduli dan meninggalkannya. Tapi baru setengah jalan, seseorang menghentikan jalannya.


"Bagaimana dengan hari ini menyenangkan?"


Gabriel tersenyum miring usai Revan mengeluarkan perkataannya. Ia sama sekali tak terpancing emosi kala Revan sengaja berkata sinis.


"Kenapa lo bertanya seperti itu? Apa lo tidak bisa lihat sendiri jika hari ini adalah hari kebalikan dari pertanyaan lo."


"Yah gue tau. Tapi di sini yang gue maksud apakah kamu senang dengan kejutan yang gue  berikan?"


Gabriel langsung mengepalkan tangannya ketika mengetahui siapa biang rusuh dari semua masalah ini. Ternyata dia pelakunya, dia yang membuat Rara sedih.


Bughhh


Gabriel meninju wajah Revan hingga orang yang melihat kejadian itu memekik ketakutan. Napasnya memburu dan tangannya sudah menarik kerah seragam Revan.


"Berani-beraninya lo sakiti Rara. Jadi ini semua ulah lo? Dasar manusia bajing*n!!!"


Revan menarik tangan Gabriel yang berada di kerahnya, tapi ia tak mampu melepaskan lengan kokoh milik musuhnya itu.


"Jika gue nggak bisa hidup bahagia dengan Rara, maka lo juga nggak bisa hidup bahagia dengan Rara."


"Bangs*t!!!" Gabriel sangat jarang memaki namun Revan yang berulah seperti ini membuatnya terpancing untuk memaki.


Bughhh

__ADS_1


Setelah memberikan satu tinjunya yang paling keras, Gabriel langsung pergi dari sana. Ia memakai tas ranselnya dan tidak hirau dengan Revan yang tersungkur di lantai.


Ia berusaha meredam kembali amarahnya agar saat ia berhadapan dengan Rara, Rara tidak akan ketakutan melihatnya yang sedang dilanda amarah.


Ia masuk ke dalam mobil dan menatap Rara di sampingnya. Rara dengan pandangan sendu menatap ke arah luar tepatnya pada area taman yang saat ini sepi pengunjung. Kehadiran Gabriel pun tak disadari perenang itu.


Gabriel merasa sakit setiap kali memandang Rara dengan wajah polosnya. Tangannya terangkat lalu menyeka bulir air mata yang jatuh dari mata indah itu.


Rara tersentak kaget saat merasakan seseorang menghapus air matanya. Kontan ia menatap ke samping dan bernapas tenang mengetahui siapa pemilik tangan tersebut.


"Pliss Ra jangan nangis, aku nggak bisa Ra liat kamu begitu. Kasihan anak kita, dia pasti sedih melihat Mamanya sedang menangis," tenang Gabriel sembari mengusap perut Rara dengan penuh senyuman. "Sehat-sehat di dalam ya nak. Jangan nakal kasihan mama."


Mendengar Gabriel mengajak anaknya berinteraksi membuat Rara kembali tersenyum. Hatinya damai melihat Gabriel yang memberikan kasih sayang pada anaknya.


Perutnya pun nyaman ketika diberikan usapan lembut dari suaminya. Tanpa sadar Rara mengusap rambut  Gabriel. Gabriel terhenti kala merasakan sesuatu yang lembut mengusap kepalanya. Ia menegapkan tubuhnya.


"Jangan sedih lagi. Mari kita pulang. Di rumah lebih tenang."


"Iya."


Gabriel menghidupkan mesin mobilnya lalu menancapkan gas meninggalkan sekolahnya.


______


Semua orang melingkar sembari menatap Rara yang terbaring di ranjang. Pasalnya Rara pingsan di tengah jalan. Satu dokter laki-laki muda tengah memeriksa kondisi Rara.


"Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Selvi langsung kepada dokter tersebut.


"Anak ibu baik-baik saja. Dia hanya kelelahan dan sedikit stres. Jangan biarkan dia untuk banyak berpikir karena itu memengaruhi janin yang sedang dikandung anak Ibu."


Selvi mengangguk dan diikuti orang-orang yang berada di sana. Tangannya membelai kepala Rara agar anaknya merasa nyaman. Sampai sekarang pun Rara belum bangun dari pingsannya.


"Berikan obat ini ketika dia telah bangun." Nisa mengambil obat tersebut dan menyimpannya.


"Terima kasih Dok."


"Kalau begitu saya undur diri terlebih dahulu."


Arsen yang duduk di sofa bersama Gabriel pun berdiri dan menghampiri Dokter tersebut.


"Sama-sama Pak Arsen."


Ketika Dokter tersebut telah pergi, Arsen berjalan menghampiri Gabriel di sofa. Ia membisikkan sesuatu di telinga anaknya tersebut dan Gabriel pun menarik napas dan mengangguk.


Arsen keluar dari kamar Rara lalu diikuti Gabriel yang berada di belakang. Semantara Nisa dan Selvi bertugas menjaga Rara.


Ia berhenti tepat di depan kolam renang dan berdiri dengan tatapan sulit diartikan, dan kedua tangannya ia letakkan seperti saat sikap istirahat di dalam PBB.


"Ada apa Pa?" Tanya Gabriel pada ayahnya itu.


"Apa ada masalah?"


"Rara dikeluarkan dari sekolah!"


Spontan Arsen berbalik dan menatap anaknya dengan kernyitan di dahinya yang mulai menampakkan garis tua. 


"Maksud mu nak? Bagaimana bisa?" Tanya Arsen tidak mengerti. "Bukan kah kepala sekolah telah menyetujui tidak mengeluarkan Rara atau pun kamu?"


Gabriel menarik napas dan menatap ke depan dengan senyuman sinis. "Semua orang tau jika Gabriel dan Rara menikah. Mereka juga mengetahui jika Rara juga sedang mengandung."


"Kenapa bisa mereka sampai mengetahuinya?" Tanya Arsen penasaran.


"Revan menempelkan foto Gabriel dan Rara di rumah sakit."


Arsen pun mulai serius. Masalah saat ini tidak bisa disepelekan karena masalah yang sedang dihadapi sekarang benar-benar menyangkut masa depan.


"Siapa Revan?"


"Revan pacarnya Rara."


"Hah? Kenapa dia melakukan itu?"


Gabriel sebenarnya tidak mau menceritakan ini kepada siap-siapa. Tapi ia juga tidak bisa memendam selamanya.

__ADS_1


"Revan mencintai Rara."


Arsen sudah mulai paham. Ia tidak mau bertanya lebih lanjut, ia tidak mau ikut campur masalah anaknya selama Gabriel bisa mengatasi sendiri.


"Papa akan ke sekolah mu untuk membicarakan ini dengan Utsman."


"Terima kasih Pa."


"Hm." Arsen menjawab singkat sebelum pergi menuju kamarnya untuk mengenakan jas formal.


Ia menelepon Utsman untuk membuat janji dengan kepala sekolah anaknya itu. Utsman setuju dan Arsen pun langsung menuju alamat dengan mengendarai mobil sedan nya.


__________


"Maaf Pak, saya tidak bisa melakukan ini. Ini adalah sekolah negeri bukan swasta jadi kami tidak bisa berbuat banyak."


Perkataan Utsman membuat Arsen menarik napas. Utsman susah sekali untuk diajak kerja sama, tapi ia memaklumkan itu karena Utsman memang harus bersikap profesional.


"Terima kasih waktunya Pak," ucap Arsen seraya berdiri dari kursusnya.


Tangannya menjabat tangan Utsman lalu memberikan senyuman kepada kepala sekolah itu. Kedatangannya di sekolah ini untuk meminta agar Rara tetap bisa bersekolah, namun sayang peraturan yang ditetapkan tidak bisa diubah.


Arsen berbalik lalu berjalan ke arah pintu. Didorongnya pintu tersebut lalu berjalan angkuh melewati para siswa yang menatapnya memuja.


Meski kini dirinya telah memasuki kepala empat, tetap saja  Aset masih terlihat sangat menarik dan mempesona di kalangan para wanita.


Langkah kakinya terhenti sesaat kala tak sengaja menatap sosok yang cukup dikenal oleh Arsen walau sebenarnya ia tidak terlalu kenal dengan orang itu.


Niatnya untuk pulang diurungkan lalu mengikuti orang tersebut secara diam-diam dari belakang. Saat sampai di tempat sepi, Arsen langsung memukul leher orang tersebut hingga orang itu terjatuh.


Ia mendongak menatap siapa orang yang telah menyerangnya secara tiba-tiba dari belakang. Namun matanya langsung membulat melihat Arsen yang berdiri menjulang di depannya.


Arsen dengan senyuman mengejek berjongkok dan menarik kerah laki-laki tersebut.


"Berani sekali kamu melakukan itu kepada menantu saya!"


"Kenapa? Anda tidak suka. Padahal hadiah yang saya berikan kepadanya tidak seberapa. Ini salah dia sendiri yang telah menolak saya."


"Cih!! Anak ingusan seperti mu tahu apa? Dan kenapa pula kamu memfitnah Rara hamil di luar nikah?"


"Menurut saya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Bukannya Anda dulu juga menghamili seorang perempuan? Dan kemungkinan besar  anak Anda itu bisa melakukan hal yang sama kepada Rara."


Arsen telah kehabisan kesabaran. Berbicara lebih banyak dengan Revan membawa amarah buruk baginya. Ia memukul Revan membabi buta hingga Revan tidak bisa bernapas dan darah keluar dari hidungnya.


Pisau lipat yang berada di dalam sakunya dikeluarkan oleh Arsen. Kebiasaannya membawa pisau lipat memang tidak berhenti sampai sekarang.


"Karena kau yang telah mengajak ku bermain, maka aku juga tidak akan keberatan bermain dengan mu. Pisau ini cukup tajam dan kemungkinan jika menyentuh kulit mu bisa saja memberikan efek luka yang cukup dalam." Arsen terkekeh dengan seringaian menakutkan, "Bagian mana dulu yang akan aku ukir anak kecil?"


Revan tercekat melihat mata pisau lipat tersebut. Ia bangkit dan berusaha kabur dari Arsen. Tapi Arsen yang merupakan laki-laki cerdik dengan mudah menahan kepergian Revan.


"Kenapa lari? Takut?"


"Lepaskan saya!! Atau Anda akan saya laporkan ke ayah saya."


"Kamu pikir saya takut dengan ayah mu?"


Tangan Arsen sudah gatal untuk menggoreskan ujung pisau  tersebut ke tubuh Gabriel, cukup lama ia tidak melakukan ini. Maka tidak berlama-lama lagi ia menancapkan pisau tersebut ke tangan Revan.


Suara jeritan Revan memekakkan telinga hingga orang-orang berdatangan ke sana. Cilla terkejut bukan main melihat Arsen tangan melukai tangan Revan.


"Om hentikan!!!"


Cilla  menarik Revan dan menatap tajam Arsen. Ia benar-benar terkejut melihat  Revan diperlakukan tak manusiawi.


"Kenapa Om lakukan ini? Hiks hiks Om jahat dengan Cilla."


"Maafkan Om. Tapi Om rasa dia memang pantas mendapatkan itu."


Arsen pergi dengan wajah tak bersalahnya setelah apa yang dia lakukan kepada Revan. Semantara Cilla hanya melongo menatap Om yang ia sayangi telah menyakiti orang dicintainya.


Arsen sengaja tidak mengatakan alasan sebenarnya kepada Cilla kenapa ia melukai Revan karena dia juga mengetahui riwayat penyakit yang diderita Cilla.


______

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE.


__ADS_2