
Ternyata permintaan Rara tentang ngidamnya tidak main-main. Perempuan itu terus merengek meminta janji yang diucapkan oleh Gabriel mengenai akan menuruti kemauan ngidamnya hingga Gabriel pun tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya.
Di sore ini, semua orang yang tinggal di kompleks dekat tempat tinggal mereka dikumpulkan untuk memenuhi keinginan Rara yang menginginkan jika semangka digoreng tersebut di makan oleh satu kompleks.
Agar orang mau menuruti kemauan Rara, Gabriel pun terpaksa memberikan setiap orang yang mau memakannya sejumlah uang. Gabriel rela melakukan apa pun untuk Rara agar wanita itu merasa senang selama hamil.
"Gabriel kamu kan masih sekolah kenapa sudah menikah?" Tanya salah satu warga kampung.
Gabriel beserta keluarganya yang mendengar pernyataan itu lantas menelan ludah mereka masing-masing. Orang kompleks tidak ada yang tau jika Gabriel sudah menikah. Selama ini mereka mengira jika Rara adalah salah satu keluarga Arsen yang menumpang.
Rara juga sama halnya ketakutan seperti Nisa. Ia dan Nisa sudah sama-sama merasakan bagaimana dihina habis-habisan karena hamil di masa muda. Rara takut jika orang akan mencacinya sama seperti teman-temannya di sekolah.
"Gabriel dan Rara memang sudah menikah sekitar dua bulan yang lalu. Mereka menikah karena wasiat almarhum William yang ingin melihat anaknya menikah sebelum dia pergi. Jadi pernikahan ini didasari oleh hal yang positif." Arsen sebagai kepala keluarga di rumah memberikan penjelasan saat menatap Gabriel yang ketakutan membuka suara.
Puluhan orang-orang yang berkumpul di lapangan pun hanya ber-oh-ria mendengar penjelasan dari Arsen. Tidak ada yang menanggapi dengan hal negatif karena mereka memang paham bagaimana jadinya jika mereka berada di posisi Rara.
Mendapat respons baik dari para warga membuat hati Nisa yang semula bergemuruh ketakutan mulai kembali tenang dan sama pula halnya dengan Rara.
Ia bahkan sudah menggenggam tangan Gabriel dengan begitu erat saat Arsen menjelaskannya.
Kemungkinan-kemungkinan buruk telah memenuhi pikiran Rara, tapi untung pikiran buruknya itu tidak terjadi.
Tanpa mereka sadari seorang manusia berpakaian jas hujan, helm dan sepatu bot tengah menatap mereka jengkel. Orang tersebut tak lain adalah pak RT kompleks sini yang mana akan menggoreng semangka nantinya.
Gabriel hampir putus asa ketika membujuk pak RT pasalnya pak RT di kampung sini cukup arogan dan sedikit pelit.
Akhirnya bujukan Gabriel berakhir dengan baik setelah menawari pak RT tersebut dengan sejumlah uang.
"Pak silakan dimasak supaya matangnya sebelum keburu malam," kali ini Gabriel memberikan sahutan kepada pak RT.
Jujur Gabriel berharap acara ini akan segera berakhir. Ia sudah sangat malu sebenarnya dengan ngidam Rara dan meminta seperti pengemis kepada seluruh kampung agar mau memakan makanan percobaan, SEMANGKA DIGORENG.
"Pak Arsen kalau sampai kami kenap-napa kalian sekeluarga yang akan bertanggung jawab."
"Iya. Saya dan keluarga saya yang akan bertanggung jawab."
Sebenarnya sebelum melakukan ini semua Arsen dan Gabriel sudah mencari tau apa bahaya memakan semangka digoreng. Setelah dikatakan aman mereka pun menurutinya.
"Gini amat ya jadi Pak RT. Dimana-mana Pak RT itu dimasakin warga bukan masakin warganya. Kalau tau begini penderitaan jadi Pak RT aku sudah turun jabatan," keluh pak RT bernama Ridwan sambil menumpahkan minyak ke dalam penggorengan.
Nisa dan Gabriel bersama-sama menatap sang pak RT dengan rasa bersalah. Sedangkan Rara malah tersenyum mendengar keluhan pak RT Itu.
"Yeleh pak senyum napa pak!! Jangan cemberut, Ridwan itu selalu tersenyum pak. Kalau cemberut terus yang ada nama bapak berubah jadi Malik," tanggap sang warga.
Pak Ridwan sempat menatap orang itu dengan pandangan tak bersahabat. Namun sedetik kemudian ia langsung membuang wajahnya. Terlalu gengsi melakukan ini di depan semua warganya.
Karena pak Ridwan yang notabenya tidak pernah memasak hingga segala kesalahan-kesalah dalam menggoreng terus ia lakukan. Misalnya dalam membuat bumbu. Ia sama sekali tidak tau bahan-bahan untuk membuat bumbu.
"Kalau bukan karena uang lima juta aku nggak bakalan lakukan pekerjaan ini....hiks,hiks,hiks."
Tanpa sadar air mata meleleh di wajah pak Ridwan saat mengiris bawang. Orang-orang yang melihatnya ingin sekali tertawa tapi mereka berusaha menutup mulut sebelum mendapatkan protes besar-besaran dari RT mereka.
__ADS_1
Merasa diperhatikan dengan wajah mengejek, cepat pak RT menatap wajah rakyatnya satu per satu. Wajah yang semula menatap RT mereka dengan pandangan geli kini berganti dengan cengiran.
"Awas ada yang tertawa aku wes tak terima lagi KK kalian!!!...."
Sebenarnya istri pak RT itu sendiri ingin tertawa melihat suaminya yang melakukan hal yang jarang dilakukan.
"Dasar bocah gendeng. Kalau tau ini ujungnya aku nggak akan kasih mereka nikah kamerin.... Ridwan, Ridwan gini amat sih punya nasib.... mana tu anak malah cengar-cengir lagi liatin penderitaan ku."
Ridwan memasukkan semangka yang telah dibumbui ke dalam kuali besar satu per satu. Saat Ridwan memasukkan satu semangka yang dibalut tepung Crispy untuk digoreng, refleks dia langsung meloncat saat minyak goreng menciprat.
"EH TUYUL MATI BERANAK!!!" Latah sang pak RT langsung memeluk sang istri yang berada tak jauh darinya.
"Apaan sih Mas. Begitu aja takut...."
"Kau tak liat penderitaan suami mu ini? Jangan dihina-hina lagi aku. Aku sudah pusing dengan masalah menggoreng jangan lagi kau buat aku tambah pusing."
Sang istri menggeleng menatap perilaku suaminya yang sangat lucu di matanya saat ketakutan kala minyak goreng meletus. Kerap kali pak RT tersebut meloncat-loncat seperti kesurupan.
Melihat itu warga makin betah menyaksikan penderitaan RT mereka. Sama hal nya Rara yang begitu terhibur melihatnya.
"Senang kamu?" Tanya Gabriel seraya mengusap kepala Rara yang menyadarkan kepala di bahunya.
"Ha'em," ucap Rara sembari menikmati dan menutup mata kala usapan lembut dirasakannya.
Masih dengan mata terpejam, Rara mengambil tangan Gabriel lalu dibawanya ke dekat perutnya yang mulai dapat dirasakan perbedaannya.
"Gabriel usap perut Rara juga. Dede bayinya nendang terus.."
Gabriel mengusap perut Rara dan tersenyum bahagia kala merasakan sebuah tendangan kecil di perut Rara seakan calon bayinya tersebut sangat senang mendapatkan usapan dari sang ayah.
"Iya Papa," jawab Rara dengan nada seperti anak-anak.
"Akhem akhem!!!! Jangan mesra-mesaraan di sini.. kamu nggak liat apa pak RT kita lagi marah-marah?" Nisa menasihati kedua insan tersebut karena pasalnya pak RT terus melirik ke arah mereka dan juga diikuti para warga.
"Ya ampun sayang paling mereka iri dengan keharmonisan Gabriel dan Rara. Sudah biarkan saja mereka namanya juga anak muda."
"Tapi kan Mas...nggak enak juga dulihatin begitu.."
Gabriel yang sadar tempat pun menghentikan kegiataanya yang mengusap perut Rara. Ia merasa risih dengan pandangan beragam dari semua warga.
1 jam kemudian.....
Gorengan telah dihidangkan di depan meja panjang. Masyarakat yang semula menolak untuk mencicipi gorengan semangka kini berlomba-lomba untuk mencicipinya setelah salah satu dari mereka berteriak keenakan.
"Sumpah ini beneran enak. Kalau gini mah kita menang banyak.... uang dikasih makanan juga enak..... Ya Allah mimpi apa aku malam tadi bisa makan makanan begini!!!"
"Iya enak banget. Nggak rugi kita makan beginian!!"
Arsen, Nisa, Gabriel, dan Bagas yang baru datang dari tempat ngaji pun saling pandang. Mereka khawatir jika semangka digoreng itu tidak cocok dimulut mereka.
Bagas yang melihat keheningan abang dan orangtuanya pun lantas berinisiatif mengambil satu semangka goreng untuk dimakannya.
__ADS_1
Teriakan keenakan dari para warga membuatnya penasaran akan rasa semangka goreng.
Perlahan potongan semangka itu masuk ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya dan meresapi rasa dari semangka goreng tersebut. Sejurus kemudian mata Bagas langsung melotot.
"PA I-INI RASANYA ENAK BANGET!!!"
Teriakan dari Bagas pun membuat gempar orang-orang yang berada di sana apalagi dengan Bagas yang melahap habis satu piring.
"Ayo Gabriel makan aja nggak papa kok," puji Rara pada suaminya itu.
Gabriel dan orang tuanya pun mencicipi gorengan semangka tersebut. Merasakan tidak ada apa-apa, ketiganya pun lantas memakannya seperti gorengan biasa.
Derttt
Ponsel Gabriel yang berada di dalam saku celananya bergetar. Gabriel menghabiskan makanannya lalu mengusap minyak yang ada di tangannya menggunakan tisu.
Setelahnya dia pun mengangkat panggilan itu. Digesernya layar hijau dan kemudian mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo."
"Gue Revan. Malam ini kita ke temu di Cafe yang dekat rumah Dendi."
"Kenapa lo ngajakin gue ketemu?"
"Sebenarnya sih gue malas hubungin lo tapi karena gue dipaksa sama pak Iyan gue akhirnya mau. Kita semua kumpul di sana buat negbahas turnamen besok."
"Hmmm.... entar gue datang. Gue nggak akan percaya sama lo, gue akan chat pak Iyan. Sampai lo bohongin gue awas lo. Liat aja besok kepala lo bakal pisah dari tubuh lo...."
"Silakan aja."
Tuttt
"Siapa?" Tanya Rara yang melihat wajah Gabriel dipenuhi dengan amarah.
"Revan."
"Mau ngapain dia?"
"Sudahlah nanti aja bahasnya."
Rara mengangguk lalu memeluk Gabriel. Semantara orang-orang yang ada di sana sedang menikmati gorengan semangka.
"Enakkan?!!" Teriak pak RT dengan bangga.
"Enak Pak.... masakan pak RT mah memang ter the best dah!!!"
"Siapa dulu dong?!!!"
"MUHAMMAD RIDWAN AL-ANSHARI!!!" teriak para warga seraya tertawa dan bertepuk tangan.
______
__ADS_1
Tbc
Like, komen, dan vote.