
Di tengah malam yang gelap tanpa ada bulan yang bersinar dan bintang yang bertaburan Rara terbangun dari tidurnya. Dia semakin gelisah saat perutnya yang besar tersebut terasa ditendang begitu kerasnya. Kali ini tendangan yang diberikan anaknya sangatlah kuat berbeda dengan sebelumnya.
Ia berusaha duduk dan bersandar di kepala ranjang. Rara mengusap perutnya yang bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dari tendangan itu.
"Sayang jangan nakal kasihan sama Mama. Mama nggak tahan sayang. Kamu tenang ya mama mau tidur," pinta Rara sembari mengusap perutnya dengan penuh kasih.
Alih-alih menenangkan anaknya tersebut yang ada ia semakin kesakitan saat tendangan itu kembali datang. Rara merintih dan meraba Gabriel yang tidur di sampingnya.
"Gabriel," panggil Rara dengan suara yang terdapat nada kesakitan.
"Hm," jawab Gabriel yang masih tertidur sambil memeluk gulingnya.
"Gabriel."
"Apa sayang," Gabriel masih menjawab dengan mata tertutup. Ia seperti antara sadar dan tidak sadar.
Rara yang geram pun lantas memukul tangan Gabriel sekencang mungkin dan memanggilnya begitu keras dan kemungkinan suara besarnya itu bisa membangunkan satu rumah.
Gabriel membuka matanya serta menguceknya. Ia mendongak menatap pada wajah Rara yang sedang bersandar di kepala ranjang.
"Ada apa sayang?"
"Perut aku sakit banget. Kayaknya sudah mau lahiran deh. Buruan bawa aku ke rumah sakit."
"Kan kata dokter satu minggu lagi kamu bakal lahiran," Gabriel membenarkan posisi duduknya.
Tangan pria itu mengusap perut Rara. Mendapatkan usapan lembut dari Gabriel membuat Rara sedikit merasakannya kenyamanan.
Perlahan perut Rara kembali membaik seperti semula. Namun beberapa menit kemudian anaknya di dalam perut itu menendang lagi sebanyak dua kali yang membuat erangan Rara cukup keras untuk didengar.
"Kenapa Ra?" Tanya Gabriel begitu panik melihat Rara menangis.
"Hiks, hiks, sayang perut aku sakit. Kayaknya sudah mau lahiran. Babay nya nggak sabar lagi mau lihat kita sayang. Kata aku cepat kita ke rumah sakit."
"Oke kalau gitu ke rumah sakit ya. Tenang ya, kamu pasti dapat bertahan. Aku keluar dulu buat bangunin mama."
"Buruan aku udah nggak tahan lagi ini. Lihat air ketubannya sudah keluar," kata Rara seraya menunjuk ke bawah tubuhnya.
Tatkala melihat itu membuat Gabriel semakin panik. Tanpa basa-basi lagi cowok itu segera bangkit dari ranjangnya dan keluar dari kamar.
Gabriel berteriak bak kesetanan. Seluruh penghuni di rumah ini terbangun dan menuju ke ruang tengah. Bahkan Nisa belum sempat memakai hijabnya saat keluar dari dalam kamar.
"Ada apa sayang? Kenapa kamu panik gitu?"
Belum sempat lagi Gabriel menjawab, suara kesakitan Rara dari dalam kamar sudah bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa pikir panjang lagi yang dilakukan Nisa beserta yang lainnya langsung berlari ke kamar Rara.
Tidak dengan Arsen, pria itu tidak ikut ke sana melainkan pergi ke garasi untuk menyiapkan mobil.
Rara digendong Gabriel dan berjalan sedikit terburu-buru menuju ke luar. Mendengar suara kesakitan dari Rara membuat Gabriel pilu mendengarnya.
Tanpa pria itu sadari jika air matanya telah jatuh. Air matanya sudah cukup lama tidak keluar lagi setelah kematian Cilla, kini ia kembali menangis saat melihat kondisi Rara yang berujung untuk anaknya.
"Gabriel jalannya cepetin dong sayang," nasihat Nisa yang melihat Gabriel berjalan sedikit pelan.
"Bunda, Gabriel nggak berani bawa Rara cepat-cepat. Nanti Rara kenapa-napa. Gabriel nggak mau sampai terjadi apa-apa."
__ADS_1
Rara benar-benar merasakan sakit yang tak pernah ia rasakan selama ini. Di sini dia baru menyadari bahwa melahirkan tidak semudah dibayangkan. Jika seseorang tidak bisa melewati rasa sakit ini bisa saja mereka akan berakhir di detik itu juga.
"Hiks, Gabriel sakit," rintih Rara yang berada di dalam gendongan Gabriel itu.
Baju yang dikenakan Gabriel bahkan sudah basah akibat dari air ketuban Rara. Namun ia tidak memusingkan itu karena prioritasnya sekarang adalah keselamatan Rara dan anaknya.
Gabriel memasukkan Rara ke dalam mobil. Dan duduk di sampingnya untuk memberikan ketenangan bagi Rara dan menyemangati perempuan itu.
"Bibi di rumah saja jaga Bagas sama Maryam. Kalau mereka bangun bilang aja ke Bagas kalau Rara pengen lahiran."
"Baik Tuan," ujar bibi itu lalu menyingkir dari sana. Arsen yang sebagai tukang kemudi pun melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.
"Tenang ya sebentar lagi kita akan sampai," ucap Gabriel di telinga Rara dan mengecup keningnya cukup dalam.
"Iya."
_______
"Maaf di mana suami pasien?" Tanya suster yang baru saja keluar dari dalam ruang persalinan Rara.
Gabriel yang merasa dirinya terpanggil pun lantas langsung mengangkat tangan dan menghampiri suster itu dengan raut khawatir.
"Saya Dok suaminya."
C
"Anda diminta ibu Rara untuk menemani persalinan."
Gabriel menatap pada kedua orang tuanya. Anggukan dari Nisa membuat ia sedikit yakin dan percaya diri. Seumur-umur Gabriel tidak pernah berada di samping orang yang ingin melahirkan. Ini yang pertama di dalam hidupnya.
"Baik Dok."
Sebelum masuk ke dalam ruangan itu Gabriel sudah berkeringat dingin dan ditambah mendengar suara kesakitan Rara membuatnya semakin merasa gugup.
Ia sedikit senang di dalam hatinya karena sebentar lagi status dia dan Rara akan berubah menjadi orang tua. Tak pernah terbayangkan bagi Gabriel jika dia akan menjadi orang tua.
Ia duduk di samping Rara dan menggenggam tangan perempuan itu dengan begitu erat. Ia mencium puncak kepala Rara dan kemudian menciumnya di bagian tangan.
"Tenang ya sayang kamu harus kuat demi anak kita."
"Tapi Gabriel sakit, Rara nggak tahan," rintih Rara sambil terisak-isak.
"Sabar Buk. Kita baru pembukaan dua."
Gabriel menatap Rara dan memberikan senyuman terbaiknya pada istrinya itu. Walau Rara tau senyuman itu palsu tapi itu cukup membuatnya bahagia.
"Sabar ya. Kamu harus kuat percaya sama aku," ucap Gabriel sambil mengusap kepala Rara.
Rara mengangguk dan membalas senyum dari Gabriel.
4 jam kemudian
.
"Tarik napasnya Buk dalam-dalam!!!" Instruksi sang dokter.
__ADS_1
Rara yang tidak memiliki pilihan lain pun mengikuti instruksi dari dokter tersebut. Adanya Gabriel di sampingnya membuat ia sedikit lebih tenang.
Sementara Gabriel terus membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dan berdoa kepada yang maha kuasa agar orang disayanginya tersebut dapat terselamatkan beserta anak mereka.
"Buk tarik napasnya dalam-dalam terus keluarkan!!"
Rara melakukannya dan mengganjen untuk kesekian kali. Tanpa sadar ia telah menggigit tangan Gabriel hingga tangan pria itu terluka. Gabriel tidak marah karena dengan cara seperti itu ia juga dapat merasakan penderitaan Rara.
Kali ini Rara berteriak sekencang mungkin dan suaranya benar-benar sangat nyaring. Tak lama setelah teriakan Rara suara tangis bayi kembali menggema.
Gabriel menangis haru melihat anaknya yang di tangan dokter. Bayinya tersebut penuh dengan darah membuat Gabriel benar-benar prihatin.
"Dokter sakit hiks, hiks, hiks."
"Bertahan buk. Masih ada satu lagi di dalam buk."
"Apa? Maksudnya kembar Dok?"
"Iya. Yang tadi jenis kelaminnya perempuan." Usai berbicara dengan Gabriel, Dokter tersebut kembali memandang kepada Rara. "Ayo semangat Buk!!"
Tak lama suara Rara kembali nyaring lalu disusul suara tangis bayi. Tangisnya begitu kencang dan bayinya langsung dibawa oleh suster untuk dibersihkan.
Gabriel tersenyum pada Rara yang sedang memejamkan mata dan napasnya memburu. Ia mengecup puncak kepala Rara lalu turun ke bibir.
"Terima kasih telah memberikan ku anak untuk aku."
Rara hanya tersenyum simpul meski senyumnya nyaris tak terlihat.
"Sama-sama."
Tak lama datang dua suster dengan dua bayi di tangan mereka. Suster itu menyerahkan bayi itu pada Gabriel dan Rara.
"Anak ibu yang perempuan yang pertama yang laki-laki nomor dua."
Gabriel dan Rara saling tatap dan tersenyum penuh haru. Mereka benar-benar tidak menyangka jika mereka akan dikaruniai anak sepasang sekaligus.
Nisa dan Arsen masuk ke dalam ruang persalinan dan menghampiri pasangan yang tengah berbahagia kerena telah dianugerahi sepasang anak.
"Ya Allah ganteng dan cantiknya cucu Bunda," kata Nisa penuh haru. "Mas lihat cucu mu ganteng banget, kan?"
"Iya," kata Arsen yang fokus pada putra dari Gabriel dan Rara.
"Siapa namanya Nak?"
Gabriel menarik napas dan menatap seksama pada kedua anaknya. Sebelumnya mereka jauh-jauh hari telah menyiapkan dua nama laki-laki dan perempuan. Karena mereka tidak pernah memperiksa jenis kelamin bayi mereka hingga ia tidak mengetahui jika anak mereka kembar.
"Namanya Cilla Wijaya Altas dan Revan Wijaya Altas."
Nisa dan Arsen tampak terkejut. Keduanya menatap Gabriel dan Rara meminta keyakinan dan mereka hanya mengangguk yakin.
"Selamat datang kembali ke dunia Revan dan Cilla."
______
END
__ADS_1
Like, vote, dan comen.
Makasih banyak buat yg baca:)