
Setelah kejadian yang membuat trauma Rara kambuh, kini Rara kembali melakukan rutintas yang remaja seumurannya lakukan. Ia tampak tersenyum bahagia melihat pemandangan sekolah yang sudah lima hari ini ia tidak lihat akibat paska dirawatnya ia di rumah sakit.
Rara bersama kedua sahabatnya melangkah melewati lapangan basket dengan tujuan untuk ke kantin. Tapi perhatian Rara teralihkan dengan suasana keributan yang terjadi di lapangan basket itu.
Banyak para siswa yang berkumpul dan kebanyakan diantaranya adalah kaum perempuan. Mereka bersorak sorai seraya bertepuk tangan heboh. Rara yang penasaran pun berhenti dan diikuti kedua sahabatnya itu.
"Ada apa ya? Kok rame bener? Apa orang pada tawuran atau ada artis datang?"
Pertanyaan Rara dibalas oleh kedua sahabatnya dengan mengangkat bahu tak tahu menahu. Rara menarik napas maklum sebab Reza dan Adhan tak dibiarkannya untuk kemana-mana selain bersamanya jadi kedua orang tersebut tak tau dengan dunia luar.
"Mungkin anak-anak pada main basket kali buat turnamen," ujar Reza santai seraya meletakkan tangannya di pundak Rara.
"Lo nggak ikut?!"
"Nggak. Gue lagi malas."
"Lo malas atau emang nggak diajak sama mereka?" Tanya Adhan dengan mimik wajah yang menyebalkan. Dia tersenyum evil dan dibalas dengusan oleh Reza.
"Lo tau kan gue ini salah satu pemain terhebat di sekolah ini? Apa mungkin mereka nggak ngajakin gue? Yang ada itu elu yang nggak pernah diajakin."
Adhan mengercutkan bibirnya karena apa yang dibilang oleh Reza memang 100% adalah benar. Adhan lantas melirik Rara yang acuh dengan pertengkaran mereka sebab itu memang sudah biasa.
"Ra lo pengen ke kantin apa nonton mereka?"
Rara menggeleng bertanda mereka tetap akan ke kantin. Rara sudah berjanji akan bertemu Gabriel di sana. Basket tidak penting bagi Rara karena sebenarnya ia bosan dengan permainan tersebut, sebab tanpa sepengetahuan banyak orang Rara sangat hebat dalam bermain olahraga itu.
"Padahal gue maunya nonton aja. Ya udahlah nggak papa." Reza tersenyum tak ikhlas sambil melirik ke arah lapangan yang dipenuhi dengan para penonton hingga sulit bagi Reza mengetahui tim mana dan melawan siapa yang sedang bermain basket tersebut.
"Kalau lo mau nonton yaudah nonton aja. Gue nggak neglarang, gue bisa kok ke kantin sendirian tanpa bantuan kalian. Dan lo juga Adhan kalau mau nggak papa. Gue bukan anak kecil yang harus dikawal kalian."
"Lo yakin Ra? Kalau misalnya Revan keliaran bagaimana? Gue nggak mau lo kenapa-napa lagi. Cukup hari itu kita nggak bisa jagain lo, gue nggak mau hal serupa terulang kembali."
Rara merangkul kedua sahabatnya dengan sayang. Ia tersenyum ke arah Adhan lalu memalingkan wajah ke arah Reza agar kedua sahabatnya itu yakin ia pasti akan baik-baik saja walau belum diketahui bagaimana takdir ke depannya. Tapi ia berusaha untuk meyakinkan.
"Percaya sama gue."
Keduanya mengangguk dan mengacak rambut Rara. Adhan dan Reza memang suka bermain basket tapi yang paling ahli adalah Reza. Ia menggemari permainan tersebut dari kecil. Biasanya pun ia sering mengikuti lomba dan menang, tapi kehadiran Revan di sekolah ini membuat Reza khawatir untuk meninggalkan sahabatnya.
"Dahh!! Gue pergi duluan!!"
Rara berjalan menuju ke kantin dengan masih diawasi oleh Adhan dan Reza dari belakang. Belum jauh Rara berjalan tiba-tiba sudah ada Cilla yang memeluknya dan berteriak girang.
"Rara kamu sudah sekolah lagi?!!" Teriak Cilla seraya memindai seluruh tubuh Rara mencari bagian mana yang masih lecet.
"Hay Cilla lama nggak ketemu," sapa Rara ramah. "Makasih lho udah nolingin gue waktu itu. Lo emang baik sama gue."
"Iyalah. Kita kan teman," tutur Cilla spontan membuat Rara cepat memandang wanita itu dan mengernyit.
"Sejak kapan kita temenan?"
"Sejak kamu sudah jadi istri sah nya Gabriel lah."
"Tapi gue nggak setuju."
"Udah setujuin ajalah," kata Cilla menarik Rara dan menyeret ke keramaian mengajak perempuan itu untuk bergabung.
"Lo ngapain ngajakin gue kemari sih? Gue mau ke kantin ih," kesal Rara dan melepaskan tangannya. Tapi Cilla kembali menggarap tangan tersebut.
"Ikut aja napa. Lo nggak bakal nyesel liat ini."
Rara pasrah di bawah kukungan Cilla. Ia terdiam dan mengikuti dari belakang. Tiba-tiba ingatan Rara melayang pada curhatan dan foto-foto Cilla di handphoen Gabriel.
Entah kenapa Rara merasa cemburu dengan kedekatan mereka saat kecil. Tapi rasa itu ditepisnya, Rara yakin Gabriel tidak pernah melibatkan hati dalam hubungan persahabatannya dengan Cilla.
Sedangkan Cilla sibuk menyeret Rara ke bagian depan agar dapat melihat latihan basket tersebut semakin jelas. Rara mendesah mendengar umpatan orang-orang kepada mereka karena telah mengambil posisi depan seenaknya.
"Cilla gue nggak usah ikut. Lo aja, lagian gue heran sama lo, kok bisa-bisanya lo suka sama olahraga beginian. Bukannya lo itu perempuan banget."
"Sudah kamu jangan banyak bicara. Ikut saja."
Pasrah. Itulah yang tengah dilakukan Rara dan mengikuti Cilla yang membawanya ke bagian depan. Ketika sudah lepas dari kerumunan banyak orang dan menghirup udara segar, tiba-tiba Rara chok dengan pemandangan di lapangan, jangan lupakan Cilla yang mengalami hal yang sama.
"I-ini kenapa Cill? Kok begini?" Tanya Rara sedikit tak nyaman dengan suasana tegang di lapangan meski ini hanyalah latihan, setahu Rara siapa yang menang dalam uji coba di sekolah makan tim mereka lah yang di bawa ke turnamen, tapi anggota masih dapat di cahenge oleh guru.
"Aku juga nggak tau Ra, kok jadi begini sih."
Rara tak bisa jika tidak meneguk ludah sendiri ketika menyaksikan dengan mata telanjang tubuh para pemain yang atletis dan otot yang dipenuhi dengan keringat.
Tapi perhatian Rara lebih terpusat pada kedua laki-laki yang sama tampannya. Yang satu memakai bandana di keningnya dan yang satu menggunakan anting di satu telinganya. Di tangan keduanya terdapat kain yang menandakan jika mereka adalah kapten.
Keduanya berhadapan dan menatap ke netra masing-masing dengan tajam. Sedangkan di sisi mereka ada wasit dan pemain lain yang berusaha memisahkan, namun tak diherani, keduanya adalah Revan dan Gabriel.
"Ra aku takut entar mereka pada kelahi. Keduanya adalah orang yang berharga di hidup ku. Aku harus gimana Ra?" Tanya Cilla panik dan semakin panik lagi saat Gabriel memukul Revan dan terjadilah perkelahian.
__ADS_1
"Gue juga nggak tau Cill." Rara menjambak rambutnya dan satu tangannya berkacak pinggang. Ia tidak bisa membiarkan perkelahian semakin menjadi dan berakhir dengan urusan yang panjang.
Rara meringis melihat Revan yang meninju Gabriel
balik. Ia menatap ke arah Cilla yang sudah menangis dengan kejadian ini.
Tidak ada pilihan lain, Rara harus menghentikan keduanya sebelum keadaan semakin memanas.
"Gabriel Revan sudah!!!" Teriak Rara dan semua orang termasuk Gabriel dan Revan menoleh bersamaan ke arah Rara.
Revan tersenyum menatap kehadiran Rara. Ia menepuk pundak Gabriel hingga fokus Gabriel kembali pada dirinya.
"Lo liat cewek itu!"
"Mau apa lo? Awas lo sampai melibatkan Rara dalam masalah kita," kata Gabriel dan membalas tatapan sengit dari Revan.
"Sayangnya gue nggak bisa nurutin kemauan lo, gue bakal melibatkan dia dalam masalah kita. Terserah lo setuju apa enggak."
"Jangan banyak cincong lo!!! Lo itu maunya apa sih?!"
Bughh
Gabriel kembali mehadiahi bogem mentah ke Revan. Ia melepaskan cekalan teman-temannya di tubuhnya. Beginilah Gabriel jika Rara dibawa-bawa dalam masalahnya.
Revan tak membalas pukulan Gabriel, tapi ia malah berdiri dari terhuyungnya dan mendekatkan telinganya pada telinga Gabriel dan berbisik sesuatu.
"Siapa menang kali ini, maka dia lah yang berhak bersama dia. Jika lo kalah maka lo putuskan pacar lo itu, dan Jika lo yang menang gue nggak janji buat menjauh dari dia karena gue mencintai pacar lo. Kita buktikan dalam pertandingan kali ini."
Gabriel panas mendengar bisikan yang terdapat bisa itu, lantas ia pun langsung mencekik leher Revan dan orang-orang berteriak ketakutan dan bahkan sudah ada kepala sekolah di sana untuk melerai tapi keduanya tidak menghriukan.
"Bangs*t lo. Rara itu bukan mainan!!" Desis Gabriel dan mengencangkan cekikan nya di leher Revan.
Revan tertawa sinis dan kedua tangannya berada pada tangan Gabriel yang mencekiknya.
"Rara memang bukan mainan, tapi karena lo pacaran sama dia maka dia adalah permainan yang sangat seru." Revan menyentak lengan Gabriel hingga cekikannya terlepas. "Kalau lo laki lo buktikan sekarang juga."
Gabriel menatap ke arah Rara yang hampir menangis dan terus meneriakkan namanya. Gabriel tak tega mendengar suara itu yang terdengar memilukan. Lagian jika dia kalah, dia tidak akan bisa memenuhi perjanjian itu sebab Rara adalah istrinya.
"Gue terima tantangan lo," ujar Gabriel pada akhirnya sebab ia akan membuat semua ini berakhir cepat.
"Good boy."
Revan menyeringai dan memantulkan bola basket yang ada di tangannya ke lantai.
"Pertarungan di mulai!!" Revan mendekat pada kepala sekolah yang masih terlihat marah kepada Revan. "Dan Bapak adalah saksi siapa yang menang."
Sedangkan Revan kewalahan mengambil bola dari tim Gabriel. Ia menggeram marah saat lagi-lagi Gabriel kembali menguasai bola dan Men dribling-nya kemudian melemparkan kepada temannya yang dekat dengan ring lalu orang itu pun memasukkan bola tersebut ke dalam ring.
Semua orang bersorak sorai dengan kehebatan tim Gabriel. Revan tidak ambil diam, ia merebut dengan cara mencurangi orang tersebut hingga terjatuh dan bola cepat ia kuasai.
Revan membawanya dengan cara dipantulkan dan bahkan ia tak menghiraukan teman-temannya yang meminta bola, seolah hanya dia yang bermain di lapangan itu. Bola yang dibawa Revan pun masuk ke dalam ring, dan itu terus terjadi berulang-ulang hingga skor pun menjadi sama.
Gabriel tidak bisa putus asa begitu saja, dia sudah menikah dengan Rara dan Rara bukanlah mainan jadi ia harus memenangkan pertandingan ini sebelum Rara mengetahui jika kali ini adalah permainan merebutkan wanita itu.
Ia berlari sekencang mungkin saat melihat bola yang dilempar Revan ke ringnya tidak masuk sempurna, lantas ia pun mengambil bola yang masih memantul dan menggiring kemudian mengoporkan ke teman-temannya. Gabriel berusaha mengingat-ingat pelajaran tentang bola basket yang diberikan oleh Arsen.
Dan kini ia tersenyum bahagia saat melihat bola masuk ke dalam ring, setelah itu tak lama terdengar peluit bertanda babak kedua ini telah berakhir dengan dimenangkan oleh tim Gabriel.
Dilihatnya Revan yang mengumpat lalu mendekati lelaki itu seraya menepuk pundaknya. Ia tersenyum miring lalu Revan yang jengah melepaskan tangan Gabriel dari pundaknya.
"Sesuai perjanjian lo jauhin Rara. Lagian lo kenapa sih? Lo ngehiantain Cilla? Ingat Cilla itu cinta mati sama lo, kalau lo sampai nyakitin dia maka lo yang akan gue habisin."
"Bro asal lo tau Cilla itu adalah mainan gue, dan Rara adalah cnita gue."
"Bajing*n lo!!" Gabriel hendak melayangkan pukulan ke wajah Revan tapi lelaki itu menangkapnya.
"Jika lo katakan pada Cilla semua ini, maka jangan salahkan gue jika nanti bisa saja Cilla terkena masalah, yang bisa membuatnya bunuh diri."
Gabriel mengepalkan tangannya sekencang mungkin lalu menghempaskannya. Ia pergi dari hadapan Revan yang memuakkan. Ia sudah jauh hari sebenarnya curiga dengan Revan.
Dan benar sekali jika Revan adalah salah satu anak fuckboy yang bisanya hanya bermain-main saja. Ia harus mencari cara agar Cilla menjauhi orang yang sejenis Revan.
Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Gabriel saat ini, ia heran apa hubungan Revan pada Rara. Gabriel sudah merasakan firasat yang aneh semenjak melihat pertemuan Revan dan Rara yang dihiasi rahasia.
Gabriel tersenyum lebar melihat Rara yang berlari menghampirinya dan memeluk tubuhnya. Ia mengusap suarai perempuan itu seraya menatap ke arah Revan yang kedapatan sedang menatap intens ke arahnya.
"Gabriel nggak papa kan?" Tanya Rara sambil menatap seluruh tubuh Gabriel takut-takut jika ada luka yang tak terlihat.
"Aku nggak papa Ra!"
"Beneran?"
"Kamu nggak usah khawatir Ra, tenang aja."
__ADS_1
Tampak Rara bernapas lega dan menatap ke arah Revan yang sedang diomeli Cilla habis-habisan. Apa yang dilakukan Rara itu tak luput dari amatan Gabriel. Gabriel menaikkan satu alisnya dan merangkul Rara.
"Jangan lihatin mereka."
Gabriel membawa tubuh Rara menjauh dari lapangan dan mengabaikan para wanita yang berteriak di sisi lapangan. Gabriel terus merangkul pundak Rara untuk dibawa ke kantin.
Sesampainya di kantin, Gabriel memilih salah satu kursi yang ada di sana. Sejenak memperhatikan Rara yang sedang melamun, Gabriel tidak tau apa yang sedang ada di pikiran Rara.
"Ra kamu kenapa melamun?"
"Eh."
Rara pun menatap ke arahnya dengan senyum palsu. Ia menggeleng seraya menarik napas dalam.
"Gabriel tadi kenapa bisa kelahi sama pacarnya Cilla sih?" Tanya Rara meminta penjelasan kepada cowok itu.
"Dia yang mulai. Dia yang bermain curang, dan untuk kamu Ra jauhi Revan. Dia laki-laki tidak baik," tungkas Gabriel yang diangguki Rara.
"Lain kali jangan kelahi lagi."
"Siap nyonya!"
"Ihh apaan sih," Rara mencemberutkan wajahnya berpura-pura marah.
"Jangan marah dong sayang."
"Makanya Gabriel itu jangan kaya gitu, banyak orang yang lihatin kita tauk," Rara menatap ke sekeliling dengan malu dan memerah saat diperhatikan banyak orang.
"Oh iya Gabriel kok ikut lomba Basket juga? Kan, Gabriel pengen olimpiade ke Semarang?"
"Nggak papa kali gue ikut keduanya, lagian tanggal lombanya nggak juga barengan," Rara mengangguk mendengar ucapan Gabriel.
Tapi Rara cukup berbangga juga pada Gabriel yang selalu mengikuti pertandingan apa-pun karena Gabriel memang memiliki kemampuan jenius.
"Gabriel Rara ke toilet bentar ya!" Ucap Rara seraya berlalu cepat dari sana meski belum mendapatkan izin dari Gabriel.
Rara benar-benar tak bisa menahan air yang ada di ***********. Ia sedikit berlari agar cepat sampai ke toilet. Ia mendorong pintu toilet keras dan masuk ke dalam.
Di dalam ia mengeluarkan segala macam yang membuatnya tidak nyaman. Beberapa saat kemudian ia keluar dari dalam toilet tersebut.
Ia berjalan menunduk ke arah luar hingga tidak menyadari jika ada seseorang di depannya. Orang tersebut menarik tangan Rara keras lalu membawa Rara ke dalam toilet tersebut.
Rara memekik dengan kejadian itu, tapi lelaki tersebut tak peduli. Dia malah mengunci Rara di dalam toilet itu.
"Lo apa-apaan sih Van?!!" Teriak Rara kesal melihat Revan dengan tampang fuckboy dan anting perempuan di telinganya, jangan lupakan sedikit semer di rambutnya yang kontras dengan tubuhnya yang putih.
"Putusin Gabriel."
Tentu Rara tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Revan yang aneh itu, ia tidak mungkin melakukan itu sebab sampai kapan-pun ia tidak bisa jauh dari Gabriel.
"Aneh lu tau nggak. Lo itu siapa sih yang permintaannya harus diturutin? Lagian lo ngapain ada di toilet cewek?"
Revan yang kesal pun memukul dinding yang berada di belakang Rara hingga perempuan tersebut terkejut dan terpekik kencang.
"Kata gue putusin ya putusin bangs*t!!! Marah Revan seraya mencengkeram dagu Rara dan mengangkatnya.
Rara pun tidak tinggal diam diperlakukan seperti itu, ia mengambil tangan Revan kemudian menjauhkan dari dagunya yang terasa berdenyut.
"Lo itu bukan siapa-siapa gue jadi nggak ada hak buat lo larang-larang gue. Ngerti lo!!"
Rara hendak pergi dan membuka pintu toilet tersebut, tapi Revan meraih tangan Rara dan menghempaskannya ke dinding.
"Apa lagi sih? Sakit tauk belakang gue lo gituin!!"
"Kenapa gue lo tolak sedangkan dia lo terima? Apa kurangnya gue Ra!! Lo taukan Ra, apa pun kemauan gue harus terwujudkan."
Rara menarik napas panjang lalu menatap Revan dengan kesal, tangannya disedekapkan di dada.
"Lo nanya kenapa? Asal lo tau dia adalah alasan gue nolak lo gobl*k. Gue sudah bertemu dia jauh sebelum kenal dengan lo dan jadi sahabat lo, gue mau hanya dia yang berada di sisi gue dan tidak berpacaran dengan orang lain."
"Jadi begitu? Jadi karena dia lo nolak gue? Siapa sih namanya Ga-Gabriel? Oh anak itu bakal jadi target gue," ucap Revan ringan dan Rara hanya menyeringai, tak tau saja Revan jika Gabriel seperti apa.
"Sudah lah terserah lo mau ngapain lo di sini, gue mau keluar, minggir lo!!" Hardik Rara seraya mendorong tubuh Revan yang menghalangi pintu WC.
Revan menggeram tertahan dan menarik Rara. Lalu berusaha menciumnya, Rara yan sadar dengan tanda bahaya itu pun berusaha melepaskan dirinya dari Revan.
Saat bibir Revan hendak menempel di bibirnya, cepat Rara memalingkan wajahnya ke samping hingga Revan hanya mencium pipi Rara. Namun tak lama ada suara pintu terbuka kencang terdengar dari arah pintu dan setelahnya hanya ada suara seseorang yang menggema.
"Apa-apaan kalian!!"
"Ga-Gabriel." Rara menatap posisinya yang intim bersama Revan.
_____
__ADS_1
TBC
Jangan lupa like, komen, dan vote yang banyak.