Underage Marriage

Underage Marriage
Part 26


__ADS_3

Reza dan Adhan merangkak menghampiri Rara yang baru saja jatuh pingsan. Tampak hidung Rara dipenuhi dengan cairan merah yang berbau anyir. Wajah itu pucat seperti tidak ada lagi darah yang mengalir. Matanya terpejam dan air terus saja menetes dari atas menerpa tubuh Rara yang ringkih.


Air hujan dan darah bercampur sehingga yang tampak hanyalah warna merah. Rara tak bergerak walau menggerakkan jari.


"Rara lo kenapa?" Reza bangkit dan duduk di samping Rara. Ia mengangkat Rara ke pangkuannya sambil menangis meraung melihat Rara tak merespon ucapannya.


Adhan yang baru bisa bergerak akibat bogeman keras di tubuhnya pun turut menangisi sang sahabat yang tak sadarkan diri itu. Ia mengesot menghampiri Rara.


Diraihnya satu tangan Rara dan dikecupnya tangan tersebut. Ia menangis melihat darah yang masih saja keluar dari hidung Rara dan bahkan darah juga ikut keluar dari mulut.


"Za lo cari bantuan biar gue jaga Rara di sini?!!" Teriak Adhan sekuat mungkin untuk melawan besarnya suara hujan.


"Tapi kemana bodoh?!! Di sini sunyi bangs*t!!!"


Dengan gerakan terburu-buru Adhan meraih ponselnya dan mengutak atik ponsel tersebut berniat menelepon seseorang.  Ia tersenyum sedikit lega saat melihat nomor Gabriel dan menghubunginya.


Tapi baru saja ia memencet nomor tersebut tiba-tiba pertahanan Adhan runtuh ketika mendapatkan handphone nya yang kehabisan baterai. Ia menarik napas dan menghempaskan ponsel tersebut ke tanah sekeras mungkin hingga ponsel itu jatuh dalam bentuk kepingan. Adhan berteriak kesal.


"ANJ*Y DASAR PONSEL NGGAK GUNA!!!"


Reza melihat kejadian itu hanya menarik napas dan meraih ponsel yang berada di dalam saku celananya.  Namun tangan Reza tidak ada merasakan benda sama sekali di sana. Reza tercekat dan turut mengumpat ketika baru menyadari bahwa ponsel nya tertinggal di rumah.


"Kenapa Za?!" Tanya Adhan heran melihat ekspresi Reza yang tak biasa tersebut.


"Ponsel gue ketinggal."


Adhan mendesis menanggapi ucapan Reza tersebut. Ia tertunduk melihat Rara yang tak berdaya tersebut. Air matanya jatuh saat melihat sang sahabat seperti itu.


"Lo cobak cari bantuan di sana. Cari rumah yang terdekat di daerah sini. Biar gue yang jaga Rara di sini," tutur Reza seraya melirik Rara yang kembali mengeluarkan darah dari hidungnya.


Biasanya jika Rara seperti itu ia harus meminum obat yang diberikan oleh dokter. Tetapi yang menjadi masalah sekarang adalah Rara sudah lama berhenti meminum obat itu setahun yang lalu sebab Rara sudah dipastikan sembuh dari trauma nya.


Kini penyakit yang diderita Rara kembali kambuh saat Revan mengucapkan kata-kata tersebut kepada Rara. Merasakan darah Rara semakin deras, Reza pun menglap nya dengan jaket yang digunakannya.


Reza menarik napas menahan tangis. Ia benar-benar tak menyangka bakal berada di posisi ini. Tertimpa masalah di hari malam dan sangat pas sekali hujan turut menyempurnakan situasi ini.


Merasa kondisi Rara semakin kritis, Reza pun menatap ke arah Adhan yang sudah datang dan berjalan mendekat. Namun ada yang kurang, Adhan tampak kecewa dan berjalan menunduk, di samping nya pun tak terdapat orang yang bisa membantu mereka.


"Kenapa Dhan?!!"


"Nggak ada perumahan sama sekali di sekitar sini. Mungkin kita tinggal lebih dulu aja motor Rara dan bawa Rara ke rumah sakit. Di sana kita bisa pinjam ponsel orang buat nelepon keluarganya Rara."


"Kalau itu jalan terakhirnya gue bisa apa."


"Lo setuju?!"


"Hm. Lagi pula kan hujan makin deras yang ada nantinya Rara akan semakin sakit."


Mereka pun berniat mengangkat Rara ke motor Reza. Tapi ada sebuah mobil melaju cepat membelah derasanya hujan. Reza yang melihat mobil itu pun bergegas turun ke tengah jalan untuk mencegat mobil berwarna putih tersebut.


"Woy punya mata?!! Ini hari hujan jangan main di jalan, bisa saja nanti kamu ketabrak?!"


Reza tak menghiraukan ucapan orang itu. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping pintu mobil. Diketuk nya kaca mobil itu hingga sang pengendara menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa?!" Tanya orang yang mengenakan seragam supir tersebut.


"Tolong bantuin teman saya Pak!!" Lirih Reza memohon kepada supir tersebut.


Sang supir menaikkan satu alisnya, kemudian menatap ke bangku penumpang yang terdapat anak majikannya di sana.


"Emang kenapa teman kamu?"


"Teman saya pingsan Pak di sana. Tolong antar kami ke rumah sakit."


"Biarkan saja dia." Ucap perempuan cantik dari bangku penumpang, ia melirik Reza dan tersenyum manis, "Bawa teman kamu ke sini," perintahnya yang dibalas Reza dengan lelehan air mata dan senyum mengembang.


"Terima kasih Non!!"


Reza bergegas menghampiri Adhan dan memberikan kabar bahagia tersebut kepada anak itu. Ia dan Adhan bergotong royong mengangkat Rara ke dalam mobil yang hendak menolongnya tadi.


Sang supir keluar menggunakan payung dan membukakan pintu mobil bagian belakang, juga ikut membantu Adhan dan Reza memasukkan Rara ke dalam mobil.


Perempuan yang sepertinya pemilik mobil itu tercekat dan menutup mulutnya melihat Rara yang banyak mengeluarkan darah. Tak sadar air matanya jatuh dan berteriak sekencang mungkin membuat orang-orang yang mendengarnya cukup terkejut.


"Rara!!!!"


Wanita yang tak lain adalah Cilla pun tiba-tiba mengangkat Rara ke pangkuannya tidak menghiraukan pakaiannya yang terkena darah. Saat ini ia hanya bisa menepuk kepala Rara sembari terisak.

__ADS_1


"Pak tolong cepat ke rumah sakit. Kasihan sahabat saya Pak!!" Perintah Cilla tak peduli dengan Adhan dan Reza yang masih dalam ekspresi syok.


Mobil dijalankan dan meninggalkan Reza serta Adhan di dekat tempat kejadian. Terlihat jika mereka memarkirkan motor Rara ke tempat aman, lalu mereka mengendarai motor masing-masing mengikuti mobil Cilla dari belakang.


Di dalam mobil, Cilla sibuk mencari nomor Gabriel untuk dihubungi. Sebelum ia menemukan Rara di jalan pun sebenarnya  Gabriel telah menelponya dengan suara panik dan menanyakan keberadaan Rara, sebab Rara tak ada di rumah bersama motor Sport Arsen. Orang-orang di rumah juga tidak ada yang mengetahui Rara ke mana.


Ketika panggilan tersambung, Cilla menarik napas lega dan menetralkan perasaannya sebelum menjawab suara dari Gabriel yang terkesan memburu tersebut dari seberang sana.


"Kamu tau Rara di mana?"


"Rara ada sama aku. Kondisinya tidak baik-baik saja. Kami sedang menuju ke rumah sakit terdekat di jalan xxxxx, kamu bisa ke sana."


Tut


Setelah mendapatkan kabar kurang mengenakan, Gabriel langsung memutuskan sambungan telepon nya. Cilla yang berada di dalam mobil memdekap tubuh Rara.


"Ra kamu kenapa begini sih?" Tanya Cilla seraya mengusap darah dengan tisu.


_______


Gabriel lari terpincang-pincang akibat kakinya tak sengaja menabrak sesuatu yang keras di jalan. Ia tidak peduli bagaimana kondisi kakinya saat ini, di pikiran Gabriel hanya satu yaitu melihat wajah Rara.


Gabriel hampir setengah mati mendapatkan rumah tanpa Rara dan sama sekali orang yang berada di rumah tidak mengetahui ke mana perempuan itu pergi. Hal tersebut langsung membuat panik anak laki-laki itu pasalnya handphone Rara tidak dapat dihubungi, ia takut Rara kenapa-napa, tapi apa yang ditakutkan Gabriel benar terjadi, Rara-nya ada di rumah sakit.


Gabriel berlari menerobos ramainya orang-orang di rumah sakit tersebut. Segala sumpah serapah yang dilontarkan dibalas dengan permintaan maaf sekilas. Gabriel tidak bisa berfikir karena kepalanya memang telah dipenuhi dengan Rara.


Saat sampai di depan ruang rawat Rara, ia berhenti berlari dan menarik napas dalam-dalam untuk menimalisir perasaannya. Ia menatap satu per satu orang yang juga sedang menunggui Rara.


Tatapan Gabriel jatuh pada Reza dan Adhan yang dalam kondisi basah plus wajah yang tak berbentuk. Ia menghampiri keduanya dan meninjunya secara bergantian, menambah luka di wajah mereka.


Apa yang dilakukan Gabriel sukses menyita perhatian banyak orang di sana.


"Woy lo apaain Rara?!!!" Gabriel berteriak meminta penjelasan kepada kedua sahabat Rara itu.


Bukanya menjawab, mereka malah terdiam dan menunduk. Baik Adhan dan Reza sama-sama bungkam, tidak mungkin mereka menceritakan sebenarnya, sebab Rara melarang untuk mengatakan itu kepada Gabriel.


"Lo punya telinga nggak sih?! Nggak dengar apa yang gue bilang hah?!" Gabriel kesal dengan keterdiaman mereka. Kedua lelaki itu seakan mulutnya telah dikunci rapat.


Merasa sudah jauh tersulut emosi, Gabriel pun mengangkat tangannya berniat untuk memberikan pukulan lagi kepada mereka, namun tangannya cepat ditangkap oleh Cilla. Sejenak Gabriel melirik ke arah Cilla lalu menarik napas dalam.


Ia pun mengurungkan niatnya tersebut dan menghempaskan tangan Cilla kasar. Gabriel menjambak rambutnya sendiri. Ia frustrasi melihat Rara yang seperti itu, Gabriel tidak bisa melihat wanitanya dalam kondisi lemah.


"Tenang lah. Rara pasti baik-baik saja."


Gabriel menatap Cilla sebentar lalu tersenyum kecut. Wajahnya kembali dipalingkan ke depan dan menatap lurus dengan ekspresi muram.


"Kamu tahu Rara kenapa?!"


Cilla menggeleng dan kemudian Gabriel tampak menarik napasnya panjang. Ia menatap kedua sahabat Rara yang tengah larut dalam lamunan masing-masing.


"Kenapa Rara?!" Tanya Gabriel dingin.


Reza sadar dari lamunannya saat suara dingin itu terdengar. Ia sontak menatap Gabriel dengan tatapan tak terbaca kemudian hanya tersenyum tipis.


"Rara jatuh dari motor!" Ujarnya berbohong.


Meski Gabriel tak menyangkal lagi jawaban Reza, tapi Gabriel tau jika Reza berbohong. Seperti ada ditutupi oleh mereka bersama Rara. Ia tidak tau apa itu tapi Gabriel merasakan itu belakangan ini.


Ketika suara decit pintu terdengar dari ruangan Rara, sigap Gabriel menatapnya dan menghampiri sang pembuka. Ia berdiri di depan seorang dokter muda.


"Bagaimana keadaan pasien Dok?"


Dokter laki-laki itu menarik napas dan memasukkan kedua tangan pada saku jas putihnya. Tidak ada senyum di wajah dokter itu, tetapi melainkan wajah yang teramat serius membuat Gabriel semakin khawatir.


"Anda keluarganya?"


"Iya saya keluarganya."


"Kita perlu berbicara serius. Mari ikut saya ke ruangan, ada hal penting yang perlu dibicarakan."


Gabriel menurut saja dengan mengikuti dokter tersebut dari belakang mengabaikan tatapan Reza dan Adhan yang seperti menegang.


"Adhan bagaimana jika dokter tadi mengatakan kalau Rara mengalami trauma? Bisa habis kita sama Gabriel. Kita kan kasih tau ke dia Rara jatuh dari motor," tutur Reza dengan perasaan gugup.


Adhan mencengkeram rambutnya. Ia benar-benar tidak tau harus melakukan apa, pikirannya buntu, seluruh tubuhnya pun terasa ngilu. Adhan merasakan jika dirinya sebentar lagi menyusul Rara, pingsan.


"Gue nggak tau Za. Jika memang takdirnya Gabriel buat tau semuanya, kita hanya bisa pasrah aja sama Tuhan. Plis jangan bahas itu dulu, gue nggak bisa mikir kepala gue sakit. Lo tau kan tubuh gue remuk gara-gara laki-laki sial*n itu?!"

__ADS_1


Reza menatap Adhan yang kondisinya memprihatinkan juga. Ia menarik napas dalam lalu mengalihkan pandangan. Ia juga sama merasakan jika tubuhnya terasa lemah.


Sementara itu Cilla memperhatikan bingung keduanya. Ia mendengar percakapan tersebut semuanya namun otaknya lambat memproses hingga Cilla tak mengerti apa yang sedang dibincangkan oleh keduanya.


"Emang kalian kenapa sih tadi?"


Reza dan Adhan menatap ke arah Cilla yang mengeluarkan kalimat lugunya. Keduanya terpaku dengan kecantikan Cilla, namun daheman dari perempuan itu menyadarkan mereka akan sosok cantik di depannya.


"Ki-kita nggak papa kok. Tadi Rara beneran jatuh dari motor," ucap Adhan sedikit menyengir menampakkan giginya yang rapi. Tapi sedetik kemudian ia meringis saat merasakan bibirnya yang berdenyut pedih.


"Sakit ya?" Tanya Cilla pada Adhan dan lelaki tersebut mengangguk malu-malu.


Niat Cilla ingin mengobati luka di wajah Adhan dan Reza pun urung saat mendapatkan Gabriel yang sudah keluar dari ruangan dokter tersebut. Cowok itu dingin dan sempat menyorot tajam ke arah Reza dan Adhan, namun ia terus berjalan dan masuk ke ruangan Rara.


Di dalam ruang tersebut, Gabriel dapat melihat seorang wanita cantik bak tuan putri di negeri dongeng. Matanya yang terpejam dengan bibir merah merekah nan indah.


Gabriel tersenyum sekaligus sedih di waktu bersamaan. Ia berjalan menghampiri Rara di atas brankar dan menarik kursi yang terdapat di sana. Gabriel pun mendudukkan bokongnya di situ.


Ia menikmati wajah Rara yang terpejam dan kecantikannya semakin bertambah. Jika diamati Rara sangat cantik bila terpejam.


Gabriel tersenyum melihat Rara dan meraih tangan wanita tersebut untuk di genggamnya. Ia memainkan tangan Rara seraya mengecupnya dengan penuh sayang.


"Kamu kenapa Ra?! Jika ada masalah bilang ke aku. Aku pasti bisa bantu kamu Ra!"


Tidak ada suara yang menanggapi ucapan Gabriel tersebut. Yang terdengar hanyalah suara detak jantung dari arah monitor.


"Kenapa kamu nggak cerita Ra jika kamu memiliki trauma."


Gabriel mengingat kembali ucapan dokter beberapa menit lalu.


"Pasien tidak memiliki penyakit yang serius. Tapi hanya saja saya lihat pasien sepertinya memiliki trauma dengan kejadian kelam di masa lalu pasien. Dan saya amati pasien akan mengalami mimisan jika mengingat masa-masa kelamnya. Jika nanti kondisi pasien masih berlanjut seperti ini saya harap Anda membawa pasien ke psikiater untuk diobati lebih lanjut."


"Tra-trauma Dok?"


"Iya."


Sekilas percakapan itu kembali terngiang di benak Gabriel. Gabriel baru mengetahui jika Rara pernah melewati masa kelam, ia tersenyum lirih sebab ia merasa gagal dengan tidak mengetahui masa lalu Rara.


"Ra kamu seriusan nggak mau cerita ke aku? Apa kamu belum mempercayai aku Ra?"


Ia mengamati tangan Rara di dalam genggamnya. Di bawanya tangan tersebut ke wajahnya dan Gabriel bisa merasakan sesuatu yang dingin di sana.


Gabriel pun menjauhkan tangan Rara dan meletakkannya di samping tubuh Rara. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup puncak kepala Rara, mata, hidung, dan terakhir bibir. Gabriel tidak sekedar mengecup, tetapi melum*tnya lalu melepaskannya.


Dia mengusp bekas slivanya yang terdapat di bibir ranum itu lalu merebahkan kepala di samping Rara. Satu tangannya menggenggam tangan wanita tersebut.


Tidak lama setelah itu Gabriel tertidur di sisi Rara menemani perempuan itu di kala sulit. Rara terlihat membuka matanya dan membiasakan cahaya lampu yang membias matanya.


Rara menatap lurus ke atas yang penuh dengan warna putih kemudian mengedarkan ke seluruh sudut dan berakhir memandang  ke arah Gabriel yang tidur dengan mengenggam tangannya.


Rara menatap lama wajah Gabriel dan kemudian tersenyum tertahan. Ia mengusap kepala Gabriel yang rambutnya tampak acak-acakkan. Rara merasa telah mengkhianati ucapannya sendiri untuk kuat saat berhadapan dengan Revan,  tapi ternyata itu hanyalah sebuah kata dan tak sesuai dengan apa yang telah dialaminya. Ia kembali mengingat itu dan kembali takut.


"Apa hidup ku terus seperti ini selamanya? Apakah aku bakal selamanya merahasiakan ini dari Gabriel dan hidup dibayang-bayangi dengan masa lalu."


Rara menarik napas panjang dan kemudian memejamkan mata merasakan nyamannya tangan Gabriel menggenggam tangannya.


Namun suara dering ponsel membuat Rara membuka mata kembali. Ia menatap ke arah nakas, ternyata handphone Gabriel lah yang berbunyi.


Rara meraih ponsel tersebut lalu berniat mengangkatnya tetapi tiba-tiba saja panggilan itu berhenti. Nomor yang menelpon Gabriel pun tidak dikenal.


"Siapa sih orang ini?"


Tak mau ambil pusing, Rara pun melampiaskan pikiran buruknya akan masa depan dengan mengutak atik ponsel Gabriel, tetapi Rara tak sengaja membuka aplikasi Memo.


Rara mengernyit saat mendapatkan sebuah kata-kata manis seperti kumpulan curhatan Gabriel. Rara membacanya dan kernyitan semakin dalam di dahi wanita itu.


Ia terdiam tak percaya saat mengetahui kata-kata manis dan segala keluh kesah yang ditulis Gabriel di sana teruntuk siapa. Kata cinta yang belum pernah Rara dapatkan sama sekali dari lelaki itu.


"Ci-Cilla?! Apa maksudnya ini? Apa mungkin Gabriel menyukai Cilla?"


Hati Rara semakin bergejolak saat melihat sebuah foto yang membuatnya ternganga. Foto Gabriel kecil yang mencium Cilla kecil. Di bawah foto tersebut terdapat caption romantis.


"Ada apa dengan semua ini?"


______


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan Vote, Terima kasih.


__ADS_2