
Kebetulan hari ini adalah hari Minggu, jadi Rara dan Gabriel bisa menyiapkan barang-barang Rara yang tertinggal di rumah ini untuk dibawa ke rumah Arsen. Cukup berat bagi Rara meninggalkan rumahnya. Rumah yang penuh dengan kenangan bersama dengan sosok ayah. Tapi Rara harus meninggalkan rumah ini, dia harus melupakan William. Ia selalu tak dapat menahan air matanya ketika tinggal di rumah ini.
Hati Rara juga bagai teriris ribuan pedang ketika setiap malam ia tak sengaja mendengar isakan tangisan sang ibu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rara mengakui jika William meninggal karenanya. Takdir memang sangat menyakitkan, harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Rara meraih bingkai foto yang ada di kamarnya. Mengamati foto tersebut sambil tersenyum miris. Melihat senyuman sang ayah bagaikan luka di dada yang selalu ternganga. Hilang semua kenangan manis itu, rumah yang dulu penuh dengan teriakan, canda tawa, hilang dalam sekejap.
"Semuanya berubah semenjak kisah ku dimulai," gumam Rara kecil. Ia mengusap foto bingkai itu.
Rara mencium terlebih dahulu bingkai foto tersebut sebelum meletakkannya ke tempat asal. Sejenak ia melirik kamarnya dulu, tatapan mata Rara teralihkan oleh sebuah koper besar. Pemandangan itu menyadarkan Rara jika dia akan pergi dari rumah ini sebentar lagi.
"Semuanya terasa aneh dan benar-benar aneh. Takdir ku susah ditebak namun membawa kebaikan sekaligus membawa luka yang amat mendalam."
Rara menahan air mata di bola matanya agar tak jatuh bagaikan titik air hujan. Rara meraih kalung pemberian Gabriel di malam ulang tahun-nya. Ibunya juga sudah memberikan hadiah ulang tahun untuk Rara berupa sebuah rekaman yang diabadikan dalam bentuk kaset. Rekaman itu berupa ia bersama orang tuanya sedang bercanda dan membuat lelucon.
Rara tak mau mengingat semua itu untuk saat ini. Ia berjalan ke luar dari dalam kamarnya. Tangga dan setiap anak tangga ia turuni hingga sampailah Rara ke dapur. Ia mencium bau masakan yang sangat gurih dan membuat nafsunya semakin melonjak untuk makan sekarang juga.
Ia mengernyit ketika mengetahui aroma masakan itu berasal dari arah dapur. Aroma makanan tersebut pun sangat langka di rumah ini, Rara yakin pasti itu bukan mamanya yang memasak. Lantas siapa orang yang tengah mengobrak-abrik dapur-nya sekarang? Tidak mungkinkan ada pocong di siang bolong kan? Dan pembantunya juga sedang libur.
"Apa mungkin Gabriel? Emang dia bisa masak?"
Tidak mau berpikiran yang tidak-tidak sebelum membuktikan, Rara pun berjalan menuju ke dapur. Betapa terkejutnya Rara saat melihat siapa yang tengah berada di depan kompor dengan celemek melekat di tubuhnya. Dia Gabriel.
Rara tersenyum melihat Gabriel yang begitu lincah memotong bawang. Rara baru tau jika Gabriel bisa memasak. Dia pun menghampiri cowok itu dan memeluknya dari belakang.
"Rara."
Gabriel terkejut ketika mendapatkan pelukan dari belakangnya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum senang ketika mengetahui siapa yang memeluknya itu.
"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Gabriel seraya mengencangkan tangan Rara untuk memeluknya.
Gabriel berjalan menjuah pun Rara tetap mengikuti dengan masih memeluk tubuh pria itu di belakang. Sama sekali tidak ada kemarahan di raut Gabriel ketika Rara melakukan itu. Ia tampak biasa saja seperti sudah terbiasa dengan perlakuan itu.
"Rara kan rindu sama Gabriel."
"Padahal kita kan baru aja ketemu hm. Masa sudah rindu."
"Jadi Rara nggak boleh nih rindu sama suami sendiri?"
Gabriel membalikkan badannya hingga wajah Rara dan Gabriel saling bertemu. Posisi Rara masih memeluk Gabriel, ia mendongak ke atas menatap wajah lelaki itu dengan senyuman lebar. Entah kenapa setiap melihat wajah Gabriel sebentar saja Rara baru bisa merasa tenang, Gabriel bagaikan nikotin bagi Rara, selalu membuatnya kecanduan.
Gabriel mengusap rambut Rara lalu mencubit hidung wanita tersebut hingga mengeluarkan lenguhan berupa kekesalan.
"Kamu ini sayang bisa aja. Jangan ganggu ya, aku lagi masakin nasi goreng buat kamu. Kamu kan belum makan."
Rara mengangguk membenarkan jika ia sedari pagi tadi belum makan. Perutnya pun sudah meronta minta diisi. Ketika Gabriel kembali memunggungi Rara, Rara tetap mengikuti aktivitas Gabriel sambil memeluk cowok tersebut dari belakang. Ia tidak ingin Gabriel jauh darinya.
Rara berdecak kagum ketika Gabriel mengaduk nasi goreng di dalam kuali dengan lincah. Bahkan mungkin Rara tidak bisa melakukan kegiatan tersebut, benar-benar luar biasa. Rara saja jika dekat dengan minyak selalu takut, itu menjadi salah satu Rara kurang bisa memasak. Sebab Rara dari kecil selalu bermain jauh dari arena dapur.
"Gabriel sudah sering masak begini? Gabriel hebat bisa masak. Rara aja nggak bisa."
"Makasih pujiannya."
Ketika Gabriel hendak mengambil garam yang letaknya jauh dari tempat dirinya berada lantas ia pun melangkah menuju tempat tersebut. Tentunya Rara juga mengikuti dari belakang dan sama sekali enggan melepaskan pelakunya di tubuh atletis Gabriel.
"Terima kasih untuk pagi tadi."
__ADS_1
Refleks Gabriel melirik sebentar wajah Rara lalu mengalihkan pandangannya pada kuali. Ia tersenyum mendengar ungkapan itu yang Gabriel tau pembicaraan tersebut mengarah pada kejadian di kamar mandi subuh tadi.
"Ra aku nggak bakal lakuin itu sama kamu sebelum kamu siap dan memintanya sendiri kepada ku. Aku juga belum siapa Ra akan itu. Aku masih SMA dan sangat aneh jika di umur ku yang belum beranjak tujuh belas tahun sudah memiliki anak. Aku juga pengen menikmati masa muda ku, sama seperti yang lain. Aku juga paham akan diri mu. Emang kamu pikir pagi tadi aku bakal ngelakuin itu ke kamu?"
Rara mengangguk di belakang Gabriel, "Iya. Tapi Rara sekarang ini bersyukur banget kalau Rara masih perawan. Rara juga takut kalau kita kecolongan."
Lantas Gabriel berbalik lalu mendekap tubuh Rara erat-erat. Ia mengecup rambut Rara dan disertai dengan usapan di punggung perempuan itu. Jika boleh jujur Gabriel memang tidak pernah mengharapkan akan hal itu. Ia senang hubungannya begini-begini saja dan belum melakukan hal yang jauh, karena Gabriel juga sadar dirinya belum sangat dewasa untuk itu.
Dan juga ada alasan lain mengapa Gabriel tidak mau melakukan hal tersebut ketika dia dan Rara masih SMA. Gabriel mengetahui kisah sang ibu yang harus hamil dirinya di usia yang masih belia, dan banyak sekali penderitaan yang ditanggung ibu-nya demi menjaganya.
Ia tidak mau apa yang dialami Nisa terjadi dengan Rara. Nisa harus kehilangan masa depan yang sangat diimpikannya, dan Gabriel tidak mau Rara sampai kehilangan masa depan karenanya.
Gabriel mengurangi pelukan mereka dan menatap wajah Rara dengan jarak yang dekat. Jarak ini lah yang selalu Gabriel sukai saat bersama Rara, sebab Gabriel bisa melihat betapa cantiknya ciptaan Tuhan.
Tatapan mata Gabriel turun ke bibir Rara. Ia memegang bibir tersebut kemudian menatap mata Rara dengan dalam.
"Boleh?"
"Ha'em."
Gabriel pun mencium bibir Rara dengan dalam. Sama sekali tidak ada nafsu di ciuman mereka. Gabriel menggigit bibir Rara agar perempuan itu membuka bibirnya. Ketika telah terbuka Gabriel pun memasukkan lidah-nya ke dalam sana.
Gabriel menaikkan tubuh Rara ke atas meja tanpa melepaskan ciuman mereka. Kedua sejoli tersebut sibuk dengan dunia mereka tak mempedulikan sekitar jika bisa saja ada yang melihatnya.
"Akhem, akhem, akhem." Selvi yang tak sengaja melihat pergulatan mereka pun segera menghentikan. Ia memutar bola matanya malas sebab Rara atau pun Gabriel seperti melupakan sesuatu.
Gabriel dan Rara cepat-cepat melepaskan ciuman mereka. Keduanya menjauh dan segera menunduk saat melihat Selvi di depan. Tentu saja wajah mereka sudah merah padam.
"Mama mau ngingetin aja kalau jaga batasan jika berduaan dan jangan lupakan dunia luar. Dan Mama juga mau bilang nasi goreng di kompor sudah hangus."
"Astagfirullah!!!"
Gabriel lekas menghampiri nasi goreng yang dimasaknya yang sudah menjadi gosong. Ini benar-benar keteledoran luar biasa.
_______
Rara dan Gabriel saat ini sudah sampai di depan perumahan Arsen yang sangat mewah. Mereka turun dari mobil seraya mengeluarkan barang-barang dari dalam bagasi.
Ketika ada supir yang sudah membereskan koper Rara, lantas mereka berdua masuk ke dalam rumah tersebut yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Saat memberi salam dan masuk ke dalam rumah tersebut, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah rumah yang penuh dengan atribut tetapi tidak ada orangnya.
Gabriel mengedarkan penglihatannya ke segala sudut di rumah ini. Entah lah kupingnya seperti menangkap sebuah suara tembak-tembakkan persis di dalam game online. Saat itu juga Gabriel langsung menyeringai melihat ada satu mahluk yang berada di bawah meja dengan tablet di tangannya. Pandangan orang tersebut sangat fokus. Gabriel tau siapa dia.
Ia pun melangkah pelan-pelan menghampiri meja tersebut agar tak mengeluarkan suara. Ia tersenyum penuh arti saat melihat Bagas yang sedang asyik bermain Game. Gabriel juga mengetahui apa alasan Bagas bermain Game online di bawah sana, pasti anak itu sedang bersembunyi supaya tidak ketahuan oleh Nisa dan Arsen.
"Hayokkkk. Lagi ngapain lo bocil? Ketahuan kan lu. Asyik bener main di bawah kolong meja. Nggak ngerasa apa pantat kamu digigitin tikus."
Bagas yang mendengar suara seperti bisikan tersebut pun langsung terhenti menembak para musuh-musuhnya. Ia menggapai pantatnya membuktikan apakah yang dikatakan oleh bisikan itu benar adanya. Perlahan ia menggerakkan tangannya di sana dan tidak peduli dengan game-nya yang sudah bertuliskan game over.
Bagas sulit bernapas saat tangannya yang sedang meraba tiba-tiba digigit oleh sesuatu yang padahal adalah Gabriel yang mencubit. Refleks ia melempar tablet nya dan keluar dari bawah meja. Ketika hendak berdiri tak sengaja kepala Bagas terbentur oleh sesuatu.
"Auuuuu. Bunda tolongin Bagas!!!! Bunda huaa Bagas lari tapi di situ-situ aja. Bunda!!! Bagas capek kenapa Bagas lari tapi masih di tempat. Huaaa!!!" Bagas terus berlari tapi badan bocah tersebut masih di tempat. Bagas belum menyadari jika Gabriel sedang menarik bajunya dari belakang.
"Astagfirullah!!!" Teriak Nisa sambil berlari seraya memegang perutnya yang buncit. Ia sungguh sangat terkejut mendengar keluhan Bagas tadi.
Namun saat sampai di ruang tamu Nisa mulai paham apa yang tengah terjadi. Ia menggelengkan kepala ketika melihat Gabriel berbuat ulah lagi dengan Bagas.
__ADS_1
"Iel lepaskan adik mu. Kasihan dia." Mendengar nama abangnya disebut kontan Bagas menatap ke belakang. Setelahnya ia merengut saat mengetahui mengapa dirinya bisa lari di tempat tadi. Ternyata musuh di dunia nyata sedang mengajak perang dengannya. Ia melepaskan tangan Gabriel di bajunya dengan paksa.
"Hey!! Manusia harimau nggak diterima di rumah ini. Pulang, pulang sana. Siapa juga ini datang ke rumah Bagas. Bagas sudah enak kok jadi anak satu-satunya di sini, harimau pula datang menghancurkan semuanya. Dasar harimau jenis jalangkung, datang nggak diundan pulang nggak kasih tau."
"Hedeh lu bocah. Sok ketinggian bahasa lu, makan aja masih disuapin sok-sokan jadi jagoan. Lu pahlawan jenis apa sih?" Kata Gabriel seraya menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Cowok tersebut merenggangkan otot-otot tubuhnya. Setelahnya ia menatap Bagas dengan seringaian yang tercetak jelas, lalu memandang ke arah Nisa. "Bunda tadi ada orang di bawah kolong meja. Dia sengaja sembunyi supaya nggak ketahuan sedang main game."
Nisa menatap ke arah Bagas yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa saat mendengar ucapan Gabriel. Ia menoleh ke arah Nisa dan menyengir menampakkan seluruh giginya ada yang terdapat ompong.
Nisa menarik napas dan melarikan pandangannya pada tablet yang tergeletak di lantai dengan layar yang menyala. Nisa semakin dibuat emosi ketika layar itu masih menampilkan tulisan 'game over'. Nisa mengambil tablet tersebut dan menyitanya.
"Mulai saat ini Bagas nggak boleh main tablet lagi. Bagas pokoknya harus belajar seharian, dan jangan pegang tablet lagi. Bunda kira kamu minta tablet untuk belajar."
"Bunda pliss lah jangan. Bunda nggak kasihan lihat Bagas?"
"Bunda tu nggak akan kasihan sama lu. Yang ada Bunda makin muak liat lu keliaran di rumah ini."
Bagas menatap Gabriel tak suka, dia memplotiti Gabriel tanpa ada rasa takut sama sekali. Lantas bocah tersebut langsung naik ke atas pangkuan Gabriel dan menggulati Gabriel habis-habisan.
Nisa yang jengah dengan kelakuan anaknya pun hanya menggeleng sabar. Ia mengusap anak yang ada di dalam perutnya berharap anak tersebut tidak sama seperti abang-abangnya. Ia tidak mau stres lagi dengan kelakuan anaknya yang terdahulu.
"Benar-benar anak ku."
Nisa menoleh ke arah Rara yang masih berdiri di depan pintu. Ia baru menyadari jika ada Rara di sana. Lantas Nisa menghampiri Rara yang pandangannya terpusat pada kelahian Bagas dan Gabriel yang belum mendapatkan pemenangnya.
"Sayang gimana kabar kamu?" Tanya Nisa seraya memeluk tubuh Rara.
"Eh Bunda, bik kok Nda."
Nisa melepaskan pelukannya dari Rara. Ia mengusap kepala Rara seolah sedang menyemangati anak itu lagi agar bisa tinggalkan rasa duka yang sedang merenggutnya.
"Mama kamu gimana sayang?"
"Mama baik-baik aja. Walau Mama juga berat Rara ninggalin dia."
"Semangat ya sayang. Masih banyak orang yang mencintai kamu disekitar sini."
Rara mengangguk. Tak lama Gabriel menghampiri mereka dan langsung memeluk Rara dari samping, acuh dengan Nisa yang sedang melihat perbuatannya.
"Bunda jangan lam-lama bicaranya sama Rara. Gabriel cemburu Nda."
"Dasar anak ini."
Ketika Nisa hendak meninggalkan mereka, tiba-tiba ada terdengar suara dari arah luar dan orang tersebut masuk ke dalam rumah mereka. Semua orang yang berada di dalam sana spontan menoleh ke arah sumber suara. Baik Nisa mau pun Gabriel tersentak melihat siapa yang datang.
"Bunda!!!!! Iel!!!!!!"
Perempuan yang berpakaian modis tersebut langsung memeluk Gabriel hingga Rara yang berada di samping Gabriel sedikit tersenggol oleh wanita itu. Gabriel tak membalas pelukan perempuan tersebut karena ia benar-benar tak percaya dengan orang yang ada di pelukannya ini. Ia menatap ke arah luar, di sana ada ayah dari perempuan itu.
"Ci-Cilla." Gabriel mengangkat tangannya yang gemetar dan membalas sedikit demi sedikit pelukan Cilla di tubuhnya.
_______
TBC
Hmmm, kira-kira apa ya peran Cilla di PDBU?
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, dan vote jika berkenan.