Underage Marriage

Underage Marriage
Part 23


__ADS_3

Usai membantu mengenakan dasi ke kerah seragam sekolah Gabriel, Rara tampak termenung menatap halaman rumahnya dari atas melalui jendela. Pikiran demi pikiran buruk datang menghampiri, takut masa lalu dan perjuangannya selama ini berakhir sia-sia hanya karena oleh satu nama Revan Anggara Putra. Nama tersebut yang sekarang memenuhi kepala Rara.


Sejenak Rara menarik napas dan menimalisir perasaanya yang membuncah. Ia tidak boleh berpikir ke arah negatif dahulu, mungkin Revan sekarang telah berubah tidak seperti dahulu, tapi lagi-lagi Rara merasakan opsi untuk berpikir positif  hancur dalam seketika.


Mengingat apa yang dikatakan Revan malam tadi jelas membuktikan jika pria tersebut masih sama seperti dahulu, brengsek. Satu nama itu cocok disematkan pada orang seperti Revan.


"Ra kamu kenapa? Lagi ada masalah? Cerita sama aku!"


Gabriel datang sambil menepuk pundak Rara. Rara tak bergeming, perempuan tersebut tetap lurus menatap ke arah depan. Ia tidak tau bagaimana reaksi jika Gabriel mengetahui masa lalunya yang kelam, tentunya Gabriel akan merasa jijik dengannya.


"Enggak, aku nggak papa," sangkal Rara. Padahal diam-diam dirinya sekarang benar-benar takut dan marah bercampur satu kepada seseorang.


"Kamu yakin?" Rara menoleh dan tersenyum kecil, "Tapi aku melihat mata mu sendiri yang berbicara tak yakin."


Rara menatap Gabriel dengan pandangan menegang. Kini dirinya melebarkan senyuman di bibirnya seolah dia tampak bahagia seperti orang-orang pada umumnya.


"Gabriel, Rara nggak papa kok. Lihat Rara baik-baik aja kan?" Tanya Rara seraya berdiri.


Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gabriel untuk memperjelas jika dia tidak memiliki masalah. Sebentar Gabriel menatap dalam ke manik Rara. Ia tersenyum dan mengacak rambut Rara dan memeluk tubuh perempuan tersebut.


"Bilang ke aku jika ada orang yang berani membuat mu sedih, maka orang tersebut akan hilang."


"Terima kasih kamu sudah peduli sama Rara, tapi benar Rara nggak apa-apa."


Gabriel mengecup puncak kepala Rara dan melepaskan pelukkannya. Ia menatap Rara sekali lagi karena merasa ada yang dismbunyikan Rara tapi entah apa itu, mungkin waktu yang hanya bisa menjawab.


"Sudah jangan melamun lagi. Mari kita makan dulu dan pergi sekolah. Bentar lagi bel."


Rara menghela dan menatap jam. Benar dikatakan Gabriel jika sebentar lagi mereka akan bel. Kan tidak lucu jika mereka telat? Dan parahnya itu karena ia yang terus melamun.


Rara mengambil tas ransel-nya dan mengenakan di pundaknya. Ia berjalan menyusul Gabriel yang telah dulu berjalan ke ruang makan.


Saat di tengah perjalananannya tiba-tiba saja ia dihentikan oleh sebuah dering ponsel dari kantong bajunya. Rara menarik napas lalu mengambil ponsel tersebut. Rara benar-benar kaget siapa yang meng-SMS nya.


From: 08××××××


\=>Kamu sekolah di mana?


-----


Pertanyaan yang tak penting bagi Rara. Tak ada niatan untuk membalas chat tersebut, mungkin mengabaikan itu yang lebih baik sebab memberi tahu sama saja dengan bunuh diri. Rara memblock nomor tersebut.


"Kenapa ia kembali lagi setelah sekian lama?"


Rara yang bertanya tapi ia juga tak tau jawabannya. Tidak mau mengambil pusing dengan hal tersebut, baginya belum bertemu dengan Revan poaisinya masih aman. Ia tidak mau berhubungan dengan lelaki itu lagi.


Ketika Rara telah sampai di meja makan, semua mata mengarah ke dirinya. Rara menarik satu kursi dan duduk di sana. Ia tersenyum tak enak kepada semua orang.


"Maaf Rara terlambat."


Nisa tersenyum seraya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa sayang. Ya sudah ayo kita mulai makannya."


Semua orang menikmati sajian yang dibuat oleh Koki di rumah ini. Rara sama sekali tidak fokus dengan makanannya, Rara lebih banyak melamun. Mengingat semua masa lalu apa yang telah dilakukan oleh Revan lelaki bajing*n itu yang membuat Rara hendak berteriak saja.


Namun urung ketika sebuah suara menyadarkannya. Ia mengangkat kepala dan menatap ke arah Arsen dengan sedikit mengerut.


"Apa Pa? Bisa diulang lagi?"


Gabriel yang berada di sisi Rara menghela napas. Ia meraih tangan Rara dan menghadap perempuan tersebut. Rara juga ikut berpaling, memandang Gabriel dengan tatapan yang sama.


"Kamu kenapa deh?"


"Rara?"


"Iya kamu!"

__ADS_1


"Rara nggak kenap-napa kok," jawab Rara dengan senyuman manisnya yang membuat Gabriel menahan napas dan tak percaya.


"Bohong!"


"Hah?"


"Aku tau kamu punya masalah. Jika tidak bisa cerita sekarang bisa nanti. Aku selalu terbuka untuk kamu."


Rara mengangguk seraya meraih gelas susunya dan meminumnya. Gabriel melihat ada bekas susu yang menempel di bibir Rara pun menyekanya dan memasukkan jari yang terdapat bekas susu tersebut ke mulutnya.


Rara memerah dengan apa yang dilakukan Gabriel kepadanya. Bagaimana tidak, jelas orang tua Gabriel berada di depan mereka dan bisa-bisanya Gabriel berlaku seperti itu tanpa malu. Nisa selaku penonton saja memerah.


"Ayo kita pergi!" Ajak Gabriel sembari membantu ku berdiri. Rara mengikuti Gabriel yang mengajaknya untuk bersalaman dengan Arsen dan Nisa, juga termasuk Bagas yang akan berangkat sekolah bersama Arsen.


"Assalamualaikum."


"Wallaikumsallam. Hati-hati di jalan sayang, jangan ngebut-ngebut." Itu suara Nisa yang memberi nasihat-nya kepada Gabriel.


______


Pov Rara


Kami turun dari mobil bersamaan. Aku melihat ke sekitar tepatnya pada para siswi yang diam-diam menatap ku sinis, namun aku mengetahuinya. Aku menarik napas, aku tau orang seperti itu tidak perlu diladani agar tidak semakin melonjak.


"Kamu tenang aja ya. Mereka nggak akan berani ganggu kamu," ucap Gabriel meyakinkan ku. Aku mengangguk saja, dan membuang perasaan gugup ku ketika berjalan membelah kerumunan banyak orang.


Tangan ku dengan Gabriel saling bertautan. Dan aku sengaja berjalan angkuh di tengah-tengah mereka untuk menunjukkan ke mereka tidak ada yang boleh memiliki Gabriel selain diri ku, sebut saja aku egois sebab itu memang kenyataannya.


Tidak ada yang menarik selama perjalanan kami.  Kami berdua hanya bungkam menuju kelas yang semuanya disebabkan oleh aku yang terus melamun sepanjang jalan. Aku tau Gabriel sedang mengamati dan mulai curiga pada ku, tapi aku berharap semoga saja Gabriel tidak mengetahui masa lalu ku.


Dia tidak tau saja betapa suram masa lalu yang aku lewati. Yah semuanya hampir berhasil tapi hancur begitu saja dengan kedatangan Revan. Aku tidak tau selama ini Revan ada di mana, yang aku tahu Revan berada di luar negeri dan bahkan aku tidak tau dia berada di negara mana.


Aku sebenarnya sangat berusaha keras untuk melupakan semuanya tapi aku tidak bisa. Kenangan itu sangat menyakitkan, tapi kenapa kenangan itu kembali bersamaan dengan kembalinya Revan yang aku tak tahu apa motif laki-laki tersebut setelah berebrapa tahun lalu hampir saja dijebloskan ke dalam penjara oleh ayah ku. Apa jangan-jangan dia kembali karena Revan tau bahwa ayah ku telah tiada?


"Rara!"


Aku bisa melihat Gabriel yang menarik napas dan berusaha tersenyum. Aku memang kurang fokus sih dalam seharian ini.


"Kita sudah sampai di depan kelas mu. Gih masuk lagi." Aku menatap ke arah kelas ku dan tersenyum tak bersalah.


Saking asyik nya dengan pemikiran yang belum bisa aku pecahkan sampai-sampai aku tidak menyadari jika telah berdiri di depan kelas.


"Ra kamu kenapa? Kalau ada masalah bilang ke aku?" Aku menggeleng.


Aku belum siap Gabriel mengetahui semuanya dan  dia akan membenci ku. Aku tidak ingin berpisah dengan Gabriel, aku tak bisa hidup tanpannya, sebuat saja aku alay.


"Aku masuk duluan ya!" Ujar ku seraya meninggalkan Gabriel, tapi baru satu langkah aku berjalan tiba-tiba tangan ku cepat di sergap oleh lelaki tampan yang ada di belakang ku. "Kenapa?"


"Kamu melupakan sesuatu." Aku mengernyit mendengar penuturan Gabriel. Sebentar ku ingat apa yang aku tinggalkan, tapi tidak ada. Terus apa yang dimaksud Gabriel meninggalkan sesuatu?


Mata ku membulat setelah sedetik berikutnya dengan  apa yang aku rasakan. Gabriel mencium ku. Gila ini Indonesia, melakukan hal intim di depan umum itu sungguh bukan budaya.


"Ga-Gabriel."


"Jangan lupa belajar yang pintar," ujarnya seraya mengelus kepala ku.


Aku mengerjap tak percaya. What? Apa lelaki itu gila? Ke mana otak malunya?  Dan bisa-bisanya Gabriel pergi begitu saja setelah apa yang dilakukannya kepada ku.


"Dasar semua pria sama saja, mesum," kata ku dengan diiring umpatan andalan ku ketika kesal, entahlah mengumpat apakah termasuk dengan yang namanya berdosa?


Saat aku membalikkan badan ku, tiba-tiba aku merasakan ada seseorang membekap mulut ku. Aku meronta sepanjang jalan dan sama sekali tidak bisa mendongak melihat siapa yang melakukan itu, tapi yang jelas dia cowok dan tubuhnya kekar.


Aku menatap ke semua orang yang hanya melihat kan ku disekap tanpa mau membantu. Ishhh kenapa jadi kesal begini sih?


"Le-lepasin sialan!!!" Ujar ku sedikit merintih. Aku bergidik ngeri sebab tempat ini adalah tempat sunyi dan aku tak tau siapa lelaki yang membekap mulut ku dan hampir membuat aku kehabisan napas, siapa pun itu yang pasti seorang fakeboy.

__ADS_1


"Emmmm!!!! Le-lepasin a-aku bangs*t. Anjir lo sakit mulut gue!!!" Teriak ku.


"Bisa nggak sih nggak berisik?"


Suara itu, yah suaranya. Aku menegang seketika menyadari siapa yang membekap mulut ku ini. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan tangannya.


Ia tampak berhenti di sebuah tempat sepi dan melepas kan ku. Oh tidak tepatnya ia melepaskan tapi masih mengurung ku dengan kedua tangannya yang ditempelkan pada dinding di samping kepala ku.


Aku meneguk ludah melihat matanya. Mata itu mata yang sangat aku benci. Bibirnya menyeringai yang membuat ku mendecih. Oke Rara ini bukan saatnya kamu menilai pria brengsek ini. Tapi bagaimana caranya kamu kabur dari sini. Akhh pemikiran ku mendadak berhenti. Sumpah aku tidak tau apa yang harus dilakukan.


Dan aku semakin benci dengan air mata yang terus mendesak ku untuk mengeluarkannya.


"Kenapa?" Ingin sekali aku memukul wajahnnya.


"Re-Revan kenapa lo ada di sini?" Tanya ku dengan gemetar karena aku kembali melihat tatapan tajam itu.


"Kenapa ada? Tentu setelah gue mendengar lelaki tua itu meninggal gue langsung pulang ke Indonesia. Lo tau kan kalau ada dia kehidupan gue terancam! Dan gue juga nggak bisa deketin lo."


Palkkk


"Banci lo. Mau lo apa hah? Gue berusaha ngelupain semua yang lo perbuat ke gue, dan juga gue bertahun-tahun depresi, semuanya karena lo. Lo mau apa hah? Belum puas buat hidup gue menderita?"


Revan memegang sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tamparan ku. Ia tampak syok  dengan apa yang aku lakukan padanya, mungkin dia menyangka aku masih lemah seperti dulu. Yah gara-gara Revan menjadi alasan ku mengapa aku sangat menggemari bela diri.


"Ternyata lo sudah berani?" Revan  mengangkat dagu ku dan mencengkeram-nya keras, tapi sama sekali aku tak merasa sakit sedikit pun. "Siapa laki-laki yang sudah mencium bibir mu? Berani sekali dia melakukannya."


Aku menjadi semakin gugup saat Revan menatap ke arah bibir ku. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir ku, tapi aku cepat menutupnya dengan kedua tangan agar Revan tidak bisa mencium bibir ku.


Bisa aku lihat Revan geram dengan perbuatan yang ku lakukan itu. Ia menarik tangan ku agar tidak menjadi penghalang untuk dia mencium bibir ku. Namun aku memelintir tangannya itu ke belakang lelaki tersebut dan menendang kakinya hingga ia tersungkur.


"Gue nggak akan pernah memaafkan apa yang telah lo perbuat di masa lalu dan juga untuk yang sekarang. Lo laki-laki yang menjadi alasan gue buat belajar bela diri menandingi bela diri yang lo punya. Jadi salah jika lo masih menganggap gue lemah seperti dulu. Satu lagi sampai kapan pun gue nggak akan pernah maafkan lo. Dosa lo terlalu banyak sama gue."


Tanpa sadar air mata ku jatuh setelah mengucapkan kalimat yang sangat panjang. Aku menghela napas dan tiba-tiba saja dia membuka tangan ku yang mengunci tangannya. Dia berbalik dan menghadap ku.


Aku pun sudah siap dengan ancang-ancang ku. Jika sewaktu-waktu dia mengeluarkan ilmu bela dirinya. Dan benar saja ia hendak meninju wajah ku dan cepat aku menangkisnya dan mencari celah untuk berbalik memukul wajah yang membuat ku selalu ingin membunuh.


Aku memukul wajahnya dan ia tampak menyeringai sambil memegang wajahnya tersebut.


"Hebat juga lo!" Ujarnya seraya berjalan mendekat dan aku tidak tau apa yang akan dilakukannya. Ia menyergap tangan ku dan menguncinya ke belakang, dan keadaan menjadi terbalik, akulah yang berada di bawah kekuasaannya. "Tapi lo masih sama bodoh seperti dulu. Mudah dikecoh oleh lawan."


Ia menguatkan cengkeramannya pada tangan ku hingga terdengar retakan tulang yang berasal dari tulang tangan ku itu. Sialan Revan yang ada tangan ku pasti bengkak nanti.


"Sakit? Gue bakal lepasin lo kalau lo jawab siapa laki-laki yang mencium lo tadi?"


Tidak ada pilihan lain, aku terpaksa mengatakannya. Tangan ku benar-benar sakit dan bergerak saja tidak bisa. Tapi aku berusaha kembali melawan dengan cara menendang tulang keringnya ke belakang. Dan berhasil, tapi dugaan ku salah ia malah mengunci tangan ku ke belakang, dan satu tangannya melingkar di leher ku dengan kuat hingga aku tidak bisa bernapas saking sesaknya.


"Rev-Revan lepaskan. Uhuk...uhuk uhuk."


"JAWAB PERTANYAAN GUE!!!"


"DIA PACAR GUE!!! PUAS LO!!!" Ujar ku kuat, aku sudah sangat gila akan ini.


"Apa lo bilang pacar lo?!!!"


Aku tidak menjawab melainkan menangis dan merintih kesakitan. Revan. Aku benci dengan nama tersebut. Kenapa aku masih belum bisa mengalahkan dia? Apa aku sebodoh itu? Aku tidak mau kejadian kelam tersebut kembali terjadi.


Tiba-tiba terdengar seperti ada botol yang jatuh. Kami bersamaan menatap ke arah sana.  Di sana aku melihat Dimas yang mengenakan kacamata itu sedang gemetaran menatap kami. Aku merasa ini adalah kesempatan emas dan cepat membuka kunci di tubuhku di saat pria itu lengah. Sebelum lari aku menyempatkan untuk menendang aset berharganya sehingga membuat ia terkejut sekaligus memegang anu-nya.


Aku berlari dari sana sambil terisak. "Hiks-hiks-hiks Ya Allah selamat kan aku."


"AKHHH SIALAN LO!!!" Aku masih bisa melihat Revan menyeret Dimas dan memukulinya habis-habisan. Maaf kan aku Dimas tidak bisa membantu mu.


________


Tbc

__ADS_1


Update ku tidak teratur. Aku juga butuh seperti kalian untuk membaca, dan menambah wawasan untuk menulis. Pada penasaran kan ada apa sebenarnya dengan masa lalu Rara bersama Revan? Mantan? Masalah hutang? Musuh lama? Atau Rara pernah punya masalah dengan Revan?


Jangan lupa like, komen, dan vote. Terima kasih.


__ADS_2