Underage Marriage

Underage Marriage
Part 34


__ADS_3

Seperti kegiatan hari-hari biasanya, Rara dan Gabriel tetap melakukan aktivitas remaja seusianya yang sering lakukan, sekolah.


Beberapa hari meninggalkan ibu kota, membuat Gabriel sedikit asing dengan sekolahnya sendiri. Namun tidak sepenuhnya ia melupakan sekolahnya. Itu terjadi karena Gabriel terus memikirkan pelajaran.


Saat Rara dan Gabriel tepat keluar dari dalam mobil dan pada saat itu pula lah tepuk tangan riuh menggema di seluruh hadapan sekolah untuk menyambut kedatangan Gabriel yang membawa pulang mendali emas.


"Asekk kita juara lagi gaes!!!" Teriak mereka dengan semangat membara. Gabriel tersenyum tipis mendengar ucapan selamat dari anak-anak SMA Kebangsaan. 


"Jelas lah, siapa dulu perwakilannya. Gabriel Wijaya Altas!!!"


"Emang dah, keluarga Wijaya Altas itu otaknya pada encer-encer semua. Gua bangga ama mereka!!!"


Suara-suara kebanggaan seperti itu terdengar di setiap sudut sekolah, tak terkecuali laki-laki yang menyadarkan tubuhnya di lorong gelap seraya menatap ke arah halaman.


Laki-laki dengan dasi di kepalanya tersebut menatap penuh bosan pada teriakan yang dianggapnya tidak memiliki mutu. Asap rokok di mulutnya menggumpal ketika dihembuskan.


"Cih begitu saja dibanggakan. Cowok sialan begitu bisa jadi populer di sekolah ini. Sekolah macam apa ini?"


Laki-laki itu membuang puntung rokoknya kemudian melindasnya dengan kakinya. Kemudian ia menatap pada teman-teman di belakangnya yang tak kalah bar-bar.


"Gue punya kerjaan buat kalian!" Seru laki-laki tersebut seraya duduk di samping temannya yang fokus menatap ke layar handphone, apalagi kalau tidak sedang bermain game.


Vito menatap Revan yang memberi perintah tersebut lalu kembali pada game yang sedang dimainkannya. Tak lama ponsel laki-laki tersebut menampilkan gambar boyah yang menandakan jika ia menang dalam game tersebut.


"Maksud lo si anak cupu Gabriel itu?" Tanya Vito seraya memasukkan ponsel ke saku celana berwarna abu-abu.


"Lo tau kan Gabriel itu anak orang berpengaruh se Indonesia. Bisa mati kalau kita ketahuan gangguin dia!" Kali ini Candra mengeluarkan unek-unek nya.


Revan geram dengan alas diberikan oleh temannya tersebut.  Gabriel mau anak siapa kek, itu bukanlah penghalang buat menghabisi laki-laki itu.


"Kalian berdua takut?"


"Bukannya takut Van. Menghabisi Gabriel bukan sesuatu yang mudah. Kita bisa saja masuk penjara."


Revan membuang ludahnya dan berdecih, "Bilang saja kalian takut sama anak sialan itu. Dasar cemen, penakut, banci lagi!!!"


Hati kedua orang tersebut cukup tersinggung kala Revan mengeluarkan umpatan kasar tersebut.  Vito dan Candra sama-sama bertahap muka lalu meminta pendapat satu sama lain.


Sesuai kesepakatan, mereka akan menuruti kemauan Revan namun dengan sebuah imbalan. Sangat sayang jika moment seperti ini tidak dimanfaatkan.


"Baik dengan satu syarat!" Tutur Cndara menghampiri Revan lalu berbisik di telinganya, "Kalau kami berhasil, lo harus kasih kami uang lima ratus juta."


Refleks Revan menatap Candra. Tatapannya begitu datar hingga sang lawan bisa merasa terintimidasi dengan hanya ditatap oleh Revan.


"Jadi kalian mau uang? Kalau soal itu gampang asal kalian berhasil menjalankan tugas."


Keduanya bertatapan. Candra dan Vito tampak puas dengan jawaban diberikan Revan. Setidaknya apa yang mereka lakukan tidak membuahkan kesia-siaan jika keduanya ketahuan.


"Gue mau lo kasih kami DP seratus juta."


Revan mengangguk setuju. Uang segitu bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Meski ia tidak bekerja, tapi ia bisa meminta kepada ayahnya. Ayahnya begitu menyayanginya hingga apa pun yang diminta oleh Revan selalu disetujui.


"Deal?" Revan mengulurkan tangannya kepada Vito dan Candra.


"Deal!" Jawab Vito menjabat tangan Revan.


"Mati kau Gabriel," ujar Revan dalam hati.


______


Jam istirahat telah berbunyi. Gabriel dengan cekatan merapikan buku-buku yang berserakan di atas mejanya, dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam tas.


Semua perhatian tertuju pada Gabriel. Tidak dipungkiri jika wajah Gabriel tang berseri itu tampak lebih mempesona. Tentunya tidak baik bagi kesehatan jantung para wanita.


Ada yang menahan napas, dan bersikap manja dengan beraninya memanggil Gabriel dengan suara laknat, dan ada pula yang bersikap biasa-biasa saja agar dianggap tak murahan.


"Gue harus ke kelas Rara."

__ADS_1


Gabriel berjalan penuh semangat menghampiri kelas yang terdapat ratunya yang mengisi hati Gabriel.


Sapaan yang diberikan orang-orang hanya dibalas dengan senyuman tipis di wajahnya. Gabriel sudah terbiasa dengan ini, namun tetap saja selalu merasa risih.


Ketika sampai di depan kelas Rara, ia lebih dulu merapikan pakaiannya agar Rara tak memandangnya dengan wajah malu, malu dalam artian memiliki suami tak rapi.


Saat guru yang mengajar di kelas Rara keluar Gabriel bergegas menghampiri Rara, namun dirinya disapa oleh guru tersebut.


"Eh kamu Gabriel," sapa guru itu.


Gabriel menatap gurunya lalu tersenyum ramah kemudian mengangguk.


"Iya saya Bu."


"Mau ketemu Rara ya?"


"Benar Bu."


"Oh. Kalau begitu Ibu tinggal ya." Gabriel hanya mengangguk dan kemudian melangkah masuk ketika guru tersebut pergi.


Dilihatnya Rara sedang tertidur nyaman di atas meja. Dengkuran keras menyeruak di seluruh penjuru kelas. Semua tatapan orang-orang ter arah pada Rara dan mereka juga turut tertawa, namun melihat kedatangan Gabriel, mereka berusaha menahan tawanya.


Gabriel menghela napas. Sudah kebiasaan Rara tertidur. Perempuan itu sangat malas dan mengantuk ketika sudah membahas pelajaran. Rara bisa dikategorikan anak yang malas belajar. Gabriel sudah sering belajar bersama dengan Rara di malam hari. Bukannya mendengarkan apa yang diajarkannya, Rara malah mengorok membuat gendang telinganya sakit.


"Sabar Gabriel, itu istri sendiri lho," kata hati Gabriel.


Ia berjalan menghampiri istrinya tersebut lalu memerintahkan Reza dan Adhan yang membangunkan Rara untuk menyingkir. Tidak mau mencari masalah, kedua sahabat Rara itu pun hanya menurut saja.


"Ra bangun Ra," panggil Gabriel sambil mengguncang tubuh Rara.


Rara tidak memberi respon. Ia tertidur nyaman seolah dunia mimpi lebih mengenakkan ketimbang dunia nyata.


"Ra, sudah istirahat. Nggak baik tidur di sekolah." Menggunakan Rara haruslah dengan kesabaran penuh, sebab di sini iman kita akan diuji habis-habisan.


"Hm," balas Rara masih terpejam.


"Bangun RARA ANDIRA!!!"


"Sudah puas tidurnya tuan Putri?" Tanya Gabriel.


"Sudah pangeran."


Sedangkan Reza dan Adhan hendak muntah mendengar percakapan kedua suami istri itu. Keduanya bersiul-siul tak jelas. Lalu mengutarakan kalimat-kalimat legend untuk menyindir Gabriel dan Rara.


"Ra mending kita keluar aja. Kita ke perpustakaan."


Mata Rara membulat malas, "Nggak mau ah, Rara bosan di perpustakaan, nggak ada menarik-menariknya sama sekali. Mending kita ke kantin aja," ajak Rara memelas.


"Ra kamu ini perlu belajar. Katanya setelah ini ada ulangan Matematika. Kamu mau remedi lagi?" Tanya Gabriel yang membuat posisi Rara skak mat.


Rara menarik napas lalu menatap kedua sahabatnya meminta tolong. Tentu meminta bantuan pada Reza dan Adhan tak semudah dibayangkan Rara. Laki-laki itu tampak mengangkat tangan menyerah.


"Maaf Ra bukannya kita nggak mau bantuin lo. Cuman gue sama Reza ada urusan. Iya nggak Za?" Yang ditanya adalah Reza namun pandangannya terarah pada Gabriel yang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Iya Ra. Apa yang dikatakan Adhan benar. Gue sama nih anak ada urusan. Jadi lo selesaikan aja masalah lo sama dia," ucap Reza lalu pergi bak kilat dari hadapan Rara.


Rara mendengus menatap kedua sahabatnya yang tak setia kawan. Kemudian ia pun menggerutu.


"Dasar teman nggak ada ahlak."


"Sudahlah Ra. Lebih baik kamu ambil buku Matematika mu biar aku yang akan membantu mu. Aku nggak mau Ra kamu jadi orang bodoh."


"Ya ya. Terserah." Rara mengambil buku Matematika nya sekaligus buku panduan yang diberikan.


Hal yang paling dibenci Rara adalah belajar, ia tidak suka belajar. Menurutnya belajar itu hanya membuang tenaga jika pada akhirnya ilmu yang masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Gabriel berjalan di samping Rara seraya memperhatikan wajah menggemaskan milik istrinya itu. Ingin sekali ia menciumnya namun di sekitaran sini banyak orang yang beraktivitas. Tidak mungkin ia mencium perempuan tersebut di depan orang banyak, yang ada ia ditendang oleh Rara.

__ADS_1


"Kenapa liatin Rara terus? Naksir ya?" Tanya Rara menggoda.


Gabriel pun pada akhirnya tidak bisa menahan lagi hasrat yang sedang membuncah tersebut. Ia menaraik Rara ke tempat sepi lalu menghimpitnya. 


"Gabriel apa-apaan sih?"


Dengan segenap sisa tenaga, Rara berusaha mendorong dada pria tersebut dari hadapan tubuhnya. Namun bukannya melonggar yang ada tubuh Gabriel semakin menempel. 


"Gabriel."


"Kamu cantik Ra."


"Emang iya."


Gabriel pun gemas dengan tingkah Rara barusan, lantas ia pun langsung menyambar bibir perempuan tersebut dan menciumnya penuh kelembutan.


Kedua kaki Rara bagai tak berdaya lagi menopang berat tubuhnya. Rara lemas namun ia berusaha sebisa mungkin menahannya.


Lum*tan serta sesapan yang dirasakan di bibirnya berusaha ia tahan agar tubuhnya tidak roboh akibat sentuhan hangat tersebut.


Dan pada akhirnya Rara pun benar-benar merosot ke lantai lalu dengan sigap Gabriel menahan tubuh Rara.


"Rara nggak tahan."


"Maafkan aku. Mending kita ke perpustakaan."


Rara mengangguk mengiyakan dan pergi bersama suaminya itu. Ternyata apa yang keduanya lakukan dilihat oleh ketiga orang dengan pakaian bak preman sekolah.


Tangan Revan mengepal penuh kesesalan. Berikutnya dia pun menstabilkan emosional sembari menatap pada Vito dan Candra.


"Lo cemburu?" Tanya Vito sambil memperbaiki rambut acak-acakkannya.


Candra juga mempertanyakan hal sama pada Revan, bedanya ia hanya mengangkat dengan satu alis Revan sudah mengerti apa maksudnya.


"Hm."


"Bukannya lo pacaran sama Cilla. Emang lu nggak cinta sama dia?"


"Lo diam aja. Mending kita susun rencana buat bunuh tu anak. Setahu gue dia tidak mudah dikalahkan."


"Emang iya sih," kata Candra membenarkan.


Kembali pada Rara dan Gabriel, kedua pasangan tersebut sedang asyik menikmati kebersamaan mereka.


Rara duduk di atas pangkuan Gabriel sambil belajar Matematika yang digurui oleh suaminya. Ia hanya mengangguk ketika ditanya paham. Padahal nyatanya ia sama sekali tidak mengerti apa yang diajarkan Gabriel.


"Kalau yang soal begini rumusannya begini."


"Oh." Jawab Rara singkat.


"Ngerti nggak kamu?"


"Hm."


Gabriel tau sebenarnya Rara tidak mengerti, namun ia berusaha memaklumi istrinya yang memiliki kapasitas otak yang tak seluas sepertinya.


"Kalau gitu aku ke toilet dulu ya. Kamu kerjakan soal nomor lima. Kalau salah, aku hukum kamu."


"Iya."


Gabriel pergi dari dalam perpustakaan tersebut menuju ke arah toilet. Ia masuk ke dalam ruangan paling kotor itu dan kembali ke luar setelah merasakan ke legaan. Saat berjalan tiba-tiba seseorang menghantam kepalanya menggunakan  balok cukup besar.


Bukhhh


Siapa lagi pelakunya jika bukan Revan titisan Dajjal.


_______

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, komen, dan vote.


__ADS_2