Underage Marriage

Underage Marriage
Part 25


__ADS_3

Tanpa sepengetahuan Gabriel, Rara keluar secara diam-diam dari rumah di saat Gabriel sedang Bimbel untuk Olimpiade Matematika di Semarang. Dirinya merasa bosan karena tidak ada melakukan kegiatan sama sekali pun di rumah.


Di rumah pun hanya ada dirinya bersama para pembantu. Nisa pergi ke pasar, Bagas pergi belajar mengaji, Dan Arsen belum pulang dari kantor. Tentu keadaan rumah yang besar tapi sunyi penghuni membuat Rara merasa jenuh. Ia berinisiatif menelepon kedua sahabatnya untuk membuat janji.


"Dimana gitar gue?" Rara mengelilingi menatap setiap inci kamar mencari gitar yang sengaja ia sembunyikan dari Gabriel.


"Itu dia." Rara menghampiri bawah meja yang tertutupi kain hingga sampai ke lantai dan gitar yang ia simpan terlindungi.


Rara berjalan menghampiri lalu mengambil gitar tersebut. Ia membersihkan gitar itu dari debu terlebih dahulu dengan cara meniup-niupnya, kemudian mengaitkan tali gitar tersebut ke tubuhnya.


Di rasa rumah telah aman, Rara pun keluar dengan cara mengendap-ngendap dan berjalan pelan agar tak mengeluarkan bunyi decitan yang bisa membuatnya kepergok oleh para penghuni rumah yang tertinggal.


Saat sampai di garasi ia pun mengeluarkan motor sport Arsen yang kebetulan kuncinya ada di sana. Rara terpaksa berjalan seperti maling sebab pakaiannya saat ini benar-benar sangat jauh dari Agama. Rara menghela napas dan melirik fashion yang ia kenakan.


Rara menggunakan baju kaos yang bergambar tengkorak, dilapisi oleh jaket kulit berwarna hitam, celana yang sobek-sobek sampai ke atas lutut, lalu sepatu bot dengan warna hitam. Rambutnya yang panjang ia kepang agar tidak berantakan saat di jalan.


Rara mendorong motor tersebut ke luar dari garasi dan melewati satpam yang sedang lengah menjaga pagar dan nasib baik pagar tersebut tidak dikunci. Rara tau jika sampai ia ketahuan berpenampilan seperti ini akan mendapatkan masalah nantinya di keluarga tempat ia tinggal.


"Dasar pak satpam, apa pentes orang begitu disebut satpam? Masa iya gue lewat sampai nggak nyadar. Huh.... gimana kalau misalnya ada maling?" Rara menggerutu sebal dengan satpam tersebut.


Ia menggelengkan kepala dan melanjutkan mendorong motor sampai posisinya agak jauhan dari rumah Arsen. Dia berhenti dan naik ke atas tubuh motor itu dan mengenakan helm.


Ia dulu sebelum menikah memang sering kabur dari rumah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Terkadang ia merasa bosan dengan pemandangan rumah yang terkesan biasa-biasa saja. Ia butuh suasana baru.


Sebelum menghidupkan mesin motornya Rara terlebih dahulu meraih ponsel yang ada di dalam saku celana dan menghubungi nomor Adhan.


"Lo dengan Reza sudah sampai?" Tanya Rara dengan nada penuh tanya.


"....."


"Lo sudah bawa barang-barangnya juga kan?" Tanya Rara seraya memutar kunci motor tersebut menjadi On.


"......."


"Gue tutup telepon lo."


Rara menghela sejenak dan mematikan sambungan teleponnya dengan Adhan yang sudah menunggunya di seberang sana. Rara memasukkan ponsel tersebut ke dalam tempat asal.


"Moga aja gue pulang orang rumah belum pada pulang."


Rara menghidupkan  mesin motornya lalu memainkan gas motor itu hingga mengeluarkan asap dari knalpot. Ketika sudah merasa cukup panas, motor tersebut dijalankan dan melaju membelah jalanan kota.


Tak membutuhkan waktu lama, Rara kini sudah sampai di tempat tujuan. Ia berdiri di sebuah gubuk kecil yang tampak pondasi bangunannya hendak roboh. Rara meringis melihat kondisi gubuk tersebut, ia yakin jika saja angin kencang terjadi gubuk itu hanya dalam sekali tiupan dapat dipastikan akan roboh.


Rara menarik napas dan kembali ke alam nyata mengenyahkan segala macam hal buruk yang menimpa gubuk itu. Ia memarkirkan motor tersebut di sana dan turun berjalan mendekati gubuk tersebut.


Rara menghela tertahan karena dengan pemandangan yang saat ini ia lihat. Air matanya nyaris jatuh saat melihat orang-orang yang sedang kesulitan mencari nafkah. Ia menatap ke belakang dan tersenyum miris, di depan kota tampak sangat megah dengan segala bangunan-bangunan yang menjulang tinggi berbeda jauh dengan pemandangan belakang, tampak rumah-rumah para penduduk yang hanya beratapkan dan berdinding seadanya. Itulah wajah Indonesia.


"Assalamualaikum!!"


Rara mengetuk pintu rumah yang bentuknya reot tersebut. Lagi-lagi Rara tidak bisa menahan iba di dadanya saat melihat sekitar gubuk tersebut yang dipenuhi dengan sampah hasil memulung. Begitu susahnya zaman sekarang.


"Waallaikumsallam Kak Rara!!!" Terdengar ramai suara dari dalam gubuk tersebut dan membukakan pintu untuknya.


Di sana Rara melihat ada Reza dan Adhan yang juga ikut keluar. Di sini markas Rara bersama kedua sahabatnya, ia selalu berkumpul dengan anak-anak jalanan yang tidak memiliki rumah.


"Kak Rara kangen!!" Teriak mereka berbarengan dan memeluk Rara secara beramai-ramai. Rara tertawa melihat mereka yang berebutan ingin memeluk tubuhnya.


"Kak Rara kok lama nggak ke sini? Jeno kan kangen sama Kak Rara!"


"Iya nih Kak Rara, Lili juga kangen sama Kak Rara!" Teriak bocah perempuan yang bernama Lili. Umurnya sekitar 7 tahun.


"Kami kangen sama suaranya Kak Rara? Kita ngamen bareng yuk Kak. Kakak, kan bawa gitar!"


"Iya nih Kak ayo kita ngamen lagi. Kak Eza juga bawa gitar."


Rara menatap Reza yang tersenyum kepadanya dan mengangguk menyetujui permintaan anak-anak tersebut. Rara mengusap kepala mereka yang dekat dengannya. Jumlah anak jalanan yang tinggal di gubuk ini sekiranya ada 10 orang.


Rara juga pernah menawari mereka untuk tinggal di panti asuhan saja, namun anak-anak tersebut menolak dengan alasan yang tak diketahui Rara. Padahal hidup di jalanan dan tak sekolah seperti mereka sangatlah berbahaya. Dunia semakin canggih, semua orang menggunakan teknologi. Dan tak dapat dipungkiri jika dunia juga ikut semakin kejam.


Miris sekali dengan kehidupan sekarang, orang Indonesia sendiri bagai terasingkan di negara sendiri. Mereka hanya bekerja sebagai bawahan dan serabutan, sedangkan orang luar negeri datang ke Indonesia bekerja sebagai bos. Bagi Rara Indonesia saat ini masih dijajah namun secara halus.


"Maaf ya sebelumnya Kak Rara sudah jarang ke sini lagi! Kakak banyak urusan di luar. Tapi untuk ngamen lagi kakak setuju!" Rara memang cukup lama tak mengunjungi mereka sejak ia menikah dengan Gabriel.


"Serius Kak?" Tanya Dila dengan semangat.


"Iya lah, kan kita lama nggak ngamen bareng," ujar Rara yang diiringi suara teriakan mereka sebagai ungkapan rasa senang.

__ADS_1


Anak-anak tersebut keluar dari gubuk dan tinggallah Rara, Reza dan Adhan. Ia menatap sahabatnya itu seraya memakai topi koboi ke kepalanya agar orang yang kenal dengannya tak mengenalnya, Reza dan Adhan juga melakukan hal yang sama.


"Seneng banget lihat mereka yang bahagia seperti itu!" Kata Adhan dan menampilkan raut sedih.


Rara berdecak dan memutar bola matanya malas. Namun ia juga menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil melihat para anak-anak yang berjalan sambil menyanyi.


"Ternyata lo bisa sedih juga Dhan! Beruntung kita hidup masih ada orang tau dan kebutuhan masih dapat terpenuhi. Dan itu kita masih mengeluh?"


Tampak Reza merangkul pundak Rara dan tersenyum tipis mendengar ucapan Rara. Ia memang setuju dengan Rara akan hal itu.


"Nikmat manakah yang kau Dustakan?" Ucap Reza.


Keduanya berjalan menyusul anak-anak tersebut yang sudah berjalan lebih dulu. Ia menatap sekitar dengan lirih dan pandangan iba terhadap para penduduk yang memperhatikan pakaian bagus yang dikenakan mereka.


"Beruntung gue hidup di tengah keluarga yang ekonominya bagus. Gue nggak bisa bayangkan kalau misalnya gue hidup di antara salah satu mereka."


"Semoga Tuhan tetap menjaga kita."


"Amin."


Mereka mengejar anak-anak tersebut karena jaraknya sudah lumayan jauh. Mereka sempat bermain kejar-kejaran dengan para anak-anak dan tertawa bersama saat berjalan menuju tengah kota.


Semua anak itu tersenyum  melihat mereka sudah sampai di jalan raya dengan perjuangan melewati gang-gang sempit tapi masih bisa dilewati oleh kendaraan seperti motor. Mereka bersorak senang menatapnya, tapi ada rasa iba yang tidak terbaca dari nada mereka.


"Kak Rara jadi olang kaya itu enak nggak?" Tanya Jeno.


Rara menghampiri Jeno dan menggenggam tangan mungil Jeno yang seharusnya masih lembut namun terasa sangat kasar. Rara melirih tertahan merasakannya.


"Hidup orang kaya itu Jeno sayang bisa saja bahagia dan bisa juga tidak. Namun kebanyakan dari mereka hidup dengan harta berlimpah  kehidupannya sering terasa diancam, dan merasa tidak tenang. Hidup itu nggak perlu kaya cukup dengan sederhana dan keluarga yang bahagia." Rara menjelaskan pelan-pelan agar mereka mengerti.


"Begitu ya Kak?"


"Iya."


Setelah merasa jika mereka sudah mengerti, Rara pun mengamen dengan wilayah yang dibagi-dibagi dan dibimbing oleh mereka bertiga yang dewasa.


Rara membawa anak-anak ke dalam bus. Ia menyanyi dengan petikan jari di senar gitar dan mengeluarkan alunan musik yang diiring dengan lantunan suara Rara yang lembut.


Ketika ia usai bernyanyi maka para anak-anak tersebut memegang tempat untuk orang-orang yang ingin memberikan mereka uang setelah puas dengan suara Rara. Sebenarnya bisa saja Rara memberikan uang lebih dari hasil yang mereka dapatkan saat ini dan tak perlu mengamen, tetapi karena kegiatan tersebut menyenangkan dan membuatnya bisa lupa masalah, Rara setuju dengan permintaan anak-anak. Ia menjadikan ini sebagai hiburan.


"Ada berapa Kak?" Tanya Dani seraya memperhatikan uang recehan yang sedang dihitung Reza.


"Uangnya ada sekitar seratus tujuh puluh tiga ribu." Reza menyimpan uang tersebut agar tidak hilang.


"Kita balik lagi ya? Hari mulai sore," ujar Adhan seraya menatap matahari yang ingin tenggelam.


Semuanya pun pulang ke tempat gubuk tadi. Kepulangan mereka dihiasi dengan tawa yang menyenangkan dari antara tawa-tawa yang lebih menyenangkan. Candaan di tengah jalan menjadi hal yang lumrah bagi mereka untuk dilakukan.


Sesampainya di gubuk, mereka masuk ke dalam dan duduk di tempat-tempat yang teduh lepas dari bagian yang bocor sebab baru saja menginjak kaki ke dalam, langit sudah dipenuhi dengan kegelapan dan sebentar lagi akan menurunkan hujan.


Hujan lebat di luar sana, semuanya diam di sudut ruangan dengan keadaan hawa yang mencekam karena dingin yang amat dalam. Meringkuk karena hari semakin gelap, dan Rara kebetulan hari ini sedang berhalangan jadi ia tidak apa tak mengerjakan kewajiban.


Berbeda dengan Adhan dan Reza mereka seakan lepas tangan dengan semuanya. Rara pun mengangkat pandangannya dan mendengus.


"Adek-adek Kakak ada bawakan hadiah untuk kalian."


"Apa itu Kak?" Tanya Riko.


Reza yang dibantu oleh Adhan mengeluarkan suatu barang yang mereka bawa khusus untuk anak-anak itu. Ada alat belajar yang dilengkapi dengan buku penuntun, bahan makanan pokok, lalu juga ada pakaian buat mereka, yang telah dibelikan melalui via online sebelum kemari.


Mereka berebut mengambil barang-barang pemberian itu. Terlebih anak-anak tersebut sangat antusias dengan barang-barang untuk belajar. Mereka tidak dapat sekolah dan sangat senang belajar, oleh karena itu Rara berinisiatif untuk membelikan barang-barang tersebut.


Rara meringis melihat mereka yang tampak semangat mulai menulis dan membuka halaman-halaman buku materi tingkat SD. Bagaimana tidak Rara merasa ada yang aneh, jelas ia yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sering malas belajar.


"Ra gue merasa disinggung sama mereka!" Ujar Adhan dengan pandangan tak lepas pada Jeno yang tertawa dan bahagia dengan buku yang ada di tangannya.


"Gue juga Dhan. Kita orang kaya tapi kita nggak seantusias mereka. Gue berasa ditampar melihat pemandangan beginian."


"Makanya jadi orang itu rajin belajar biar kelak negara kita mampu bersaing dengan Amerika," sahut Reza yang mendengar tema percakapan mereka.


"Eleh kayak lo nggak malas aja," tukas Adhan kesal kepada sahabatnya yang bernama Reza itu.


"Gue masih mendingan masuk sepuluh besar. Lah kalian pada? Masuk dua puluh besar aja kagak."


"Sombong lu!!"


"Bilang aja lu iri kan sama kepintaran gue?"

__ADS_1


"Kagak tuh," jawab Rara dan mengambil jaketnya dan mengenakannya. "Kita pulang aja yo, entar gue ketahuan lagi sama orang rumah."


"Tapi kan masih hujan Ra?" Sangkal Reza dan berdiri menghampiri Rara yang hendak berpamitan dengan anak-anak.


"Kalau lo nggak mau pulang yah nggak papa juga. Gue nggak bisa nggak pulang, motor aja maling di garasi."


"Jadi itu bukan motor lo?"


"Yaiyalah. Mana dibolehkan gue bawa motor begitu."


Reza dan Adhan menghela napas dan berniat pulang bersama untuk menjaga Rara selama perjalanan pulang. Bagaimana pun hari sudah gelap, bisa sajakan ada bahaya yang mengintai di tengah hujan begini.


Usai berpamitan dengan anak-anak dan mengendarai motor sport masing-masing mereka sempat adu balap di tengah hujan di jalan sepi. Lalu tertawa bersamaan ketika mendapatkan siapa yang kalah dan mengejek nya.


Tanpa mereka sadari sebenarnya ada yang mengikuti mereka mulai dari mengamen tadi, tepatnya orang tersebut mengikuti Rara.


Ia melajukan motornya dan mencegat rombongan Rara di tempat yang sepi, hingga Rara dkk yang merasa terkejut nyaris terjatuh.


Laki-laki yang tak lain adalah Revan itu membuka helm nya dan tersenyum menyebalkan ke arah Rara, Reza dan Adhan. Lain dengan ekspresi ketiga sahabat itu, mereka menatap benci Revan dengan pandangan yang membunuh.


Adhan yang memiliki kontrol emosi yang buruk pun turun dari motornya dan menarik kerah baju Revan, dan meninjunya. Revan tak membalas.


"Bangs*t lo!!! Kenapa lo ngehalangin jalan gue? Cari mati lo hah?" Kata Adhan dengan emosi yang menggebu-gebu tak mengindahkan Rara dan Reza yang memanggilnya.


"Santai dong bro!" Revan melepaskan cekalan Adhan di kerah bajunya, "Gue cuman mau nemuin Princess kita."


"Anj*rr."


Bughh


Adhan memukul Revan keras hingga wajah Revan memerah. Cowok tersebut memegang bekas pukulan Adhan lalu mendengus dan...


Bughh


Revan juga membalas memukul lebih kuat dan sekejap bibir Adhan mengeluarkan darah.


"Adhan!!!" ___Rara dan Reza.


"Sial*n, Anji*g. Mati lo!!!" Teriak Adhan dan terjadilah perkelahian antara Adhan dan Revan.


Kondisi sedang menegangkan sebab Adhan tak menguasai bela diri, sementara Revan sangat hebat dalam bidang itu. Rara menggigit bibir melihat Adhan kewalahan dan berakhir Adhan yang diterjang Revan.


Reza yang melihat temannya jatuh terkapar pun menghampiri Revan. Ia menatap Revan memburu, dan Revan membalasnya dengan mengangkat satu alis.


"Kenapa? Lo mau kaya teman lo itu hah?"


"Gue mau nanya kenapa lo kembali lagi? Lo BELUM PUAS APA DIPUKUL SAMA OM WILLIAM? BELUM JERA DENGAN PERUSAHAAN KALIAN YANG HAMPIR BANGKRUT?!!!"


"Enggak sama sekali gue menyesal.  Itu dulu bukan sekarang, laki-laki tua bangkotan itu sudah meninggal. Ha ha ha."


Rara mendengar ucapan Revan cepat menamparnya dengan sangat keras. Ia sakit mendengar ucapan Revan. Revan menyeringai menatap Rara yang air matanya keluar dan bersamaan hujan semakin deras.


"Gue benci sama lo Revan. Hiks hiks hiks," kata Rara dan berakhir berjongkok dan menangis saat tak sanggup menatap mata Revan.


Reza yang lagi-lagi melihat temannya seperti itu pun menarik napas panjang dan ingin sekali memukul Revan.


"Lo itu bajingan, sebangsa sama orang-orang kampret tau nggak??!!! Lo buat Rara depresi dengan hampir memperkosanya hanya karena Rara nolak lo, dan lo datang kembali lagi. Apa lo nggak punya malu hah? Sudah cukup penderitaan Rara, dan lo jangan temui dia lagi!!!"


"Asal lo tau ya gue akan melakukan apa pun demi mendapatkan Rara meskipun cara terakhir adalah dengan menghamilinya!!!"


Bughh


Reza geram dan memukul Revan sekuat tenaganya lalu terjadilah perkelahian itu. Masih sama Reza lah yang kalah. Revan tersenyum miring melihat tubuh Rara yang menggigil dan masih terisak. Ia tersenyum senang melihat tameng Rara sudah terbaring di tanah, yakni Reza dan Adhan.


"Ra!" Revan menduduk mensejajarkan tubuhnya dengan Rara. Tapi Rara yang melihat Revan ingin menyentuhnya cepat Rara memilas tangan Revan dan mengalahkan Revan dengan cara mengelabui nya.


"Lo pergi dari sini atau gue bunuh lo sekarang?!!!" Teriak Rara dan tak segan menendang kepala Revan dengan kuat hingga berdarah.


Revan mengaku kalah dengan Rara dan pergi, namun ia tak semudah itu menyerah mendapatkan Rara. Rara tiba-tiba langsung teringat masa kelam itu dan tak terasa hidungnya mimisan setiap mengingat hal tersebut. Dan di detik selanjutnya ia terjatuh dan pingsan di bawah derasanya hujan.


"RARA!!!" Reza/Adhan.


______


Tbc


Jangan lupa like, komentar, dan vote.

__ADS_1


__ADS_2