Underage Marriage

Underage Marriage
Part 51


__ADS_3

Suara tangis serta isakkan terdengar memilukan di atas lapangan tepatnya di area pemakaman. Semua orang yang ada di sana membacakan doa untuk sebuah gundukkan yang masih terlihat baru dan basah.


Kembang-kembang ditaburkan di atas makam itu lalu barulah air yasin ditumpahkan di atas kuburan tersebut. Semua orang yang hadir di sana dapat menyaksikan seorang wanita yang paling rapuh.


Ia menangis tanpa suara dan bahkan tidak bisa bicara lagi dikarenakan perempuan itu seharian menangis tanpa henti. Tubuhnya setia memeluk batu nisan yang bernamakan REVAN ANGGARA PUTRA.


"Cilla sudah sayang ayo kita pulang," tegur ibundanya Cilla yang menyempatkan hadir di pemakaman menantunya.


"Nggak mau Ma. Cilla maunya sama ayah anaknya Cilla. Baby di perut Cilla kangen sama papannya." Cilla mengusap perutnya yang sedikit berisi tersebut, "Iya kan sayang? Kamu rindu kan sama papa?"


Rara yang tidak sanggup melihat Cilla seperti itu lantas sedikit menyingkir dari pemakaman itu dan mengusap air matanya seraya memeluk Gabriel yang lebih banyak terdiam. Bukannya Gabriel tidak bersedih, tetapi ia hanya masih syok dengan kejadian ini.


Ia benar-benar tak menyangka jika kemarin adalah pertengkaran terakhirnya bersama Revan. Satu hal yang tidak bisa dimaafkan oleh Gabriel sendiri yaitu ia yang telah membunuh Revan. Kenyataan tersebut begitu keras menampar dirinya.


Revan sempat dirawat tiga hari di rumah sakit sebelum akhirnya berpulang ke rahmatullah. Tidak jauh berbeda dengan Revan, Gabriel dan Rara juga turut dirawat di rumah sakit. Meski sekarang ini Gabriel masih terluka tapi ia tetap menyempatkan untuk hadir di pemakaman Revan.


"Gabriel, kasihan Cilla."


"Iya. Ini semua salah aku Ra. Aku yang sudah ngebunuh dia," kata Gabriel begitu menyesal seraya mengusap lembut punggung Rara.


"Nggak. Ini semua salah kita bukan salah kamu."


Keluarga Revan sudah pulang dan begitu pula dengan orang tua Cilla. Yang tinggal di sini hanyalah mereka bertiga.


Perlahan Cilla menjauh dari batu nisan Revan. Ia mengecup lama batu nisan itu lalu mengusapnya. "Tenang di sana ya. Semoga kamu suka dengan rumah mu yang baru."


Cilla berdiri dan memasang kacamata hitamnya. Ketika hendak pulang tak sengaja ia melihat seseorang yang berada dekat dengannya. Lantas Cilla langsung memeluk orang itu. Orang tersebut cukup terkejut melihat apa yang dilakukan Cilla padanya.


"Maafkan aku Gabriel. Ini semua salah aku yang nggak pernah mau dengarin kata-kata kamu. Maafkan aku hiks," ucap Cilla untuk meminta maaf kepada sahabatnya. Rasanya Cilla sudah lama tidak memeluk Gabriel dengan sedalam ini.


Tak kuasa mendengar pernyataan Cilla tersebut lantas Gabriel juga ikut menangis dan membalas memeluk sahabatnya. Suara tersedu-sedu keduanya begitu menggema.


"Nggak. Ini salah aku Cilla. Aku yang buat Revan seperti itu."


Cilla menggeleng dan melepaskan pelukannya dengan Gabriel. Ia menyeka air matanya seraya memaksa kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku perbuat ke kamu. Semoga kamu masih mau nerima aku jadi sahabat mu," ujar Cilla tulus.


Gabriel juga tersenyum seraya mengecup puncak kepala Cilla dengan dalam. "Hey aku selalu memaafkan kamu. Kamu itu sahabat aku jadi tidak ada alasan buat aku tidak memaafkan kamu."


"Terima kasih. Tapi apa benar kata Rara kamu pernah suka sama aku?"


Gabriel menatap Rara yang tertawa sambil menangis. Gabriel kesal dengan ekspresi Rara tersebut. Sangat memalukan bagi Gabriel untuk menjawab pertanyaan itu dari orang yang ia sukai dulu.


"Iya. Tapi sekarang sudah enggak kok."


Cilla mengangguk mengerti dan berbalik menatap pada Rara yang sedari tadi ikut menangis. Keduanya melemparkan senyum sebelum akhirnya berpelukan hangat.


"Maafkan aku Ra dengan semua dosa-dosa aku ke kamu.  Aku nggak seharusnya bersikap seperti itu ke kamu. Dan aku mewakili Revan untuk minta maaf ke kamu. Kamu sekarang nggak papa, kan?" Rara menggeleng di dalam pelukan hangatnya.


"Aku maafkan."


"Makasih." Cilla melepaskan pelukan keduanya menatap pada Gabriel dan Rara. "Anak Bunda laki-laki apa perempuan?"


"Alhamdulillah perempuan."


"Alhamdulillah. Selamat ya kamu sekarang punya adek lagi."


"Iya."


Rara memeluk Cilla dan diikuti Gabriel. Mereka bertiga saling berpelukan di samping kuburan Revan. Mungkin sekarang Revan sedang tersenyum melihat kedamaian yang tercipta antara persahabatan itu.


_______


Angin ribut melanda kota Jakarta. Derasnya hujan ikut menyertai keheningan malam ini. Suara ranting-ranting pohon ikut bergesekan kala diterpa kuatnya angin di malam ini.


Seorang wanita duduk di atas meja belajarnya. Goresan tinta di atas kertas putih membentuk kalimat-kalimat yang indah yang dapat memilukan hati.


Segala curhatannya dan tentang permintaan maafnya ia tulis di sana. Satu tetes air mata jatuh di atas kertas putih itu. Meski sakit menulis kalimat tersebut tapi ia berusaha tabah dan tetap melanjutkan kalimatnya tersebut.


Saat sudah selesai, Cilla meletakkan pulpen di atas kertas itu. Ia meneliti tulisannya dan kemudian menangis membaca kalimatnya sendiri.


"Maafkan Mama sayang. Mungkin ini adalah pilihan Mama," ucap Cilla sembari mengusap perutnya.


Cilla beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu di dalam laci. Ia menatap botol obat itu cukup lama sebelum akhirnya ia menghela napas dan membuka tutup obat itu.


Ia menumpahkan semua butir pel itu ke tangannya. Puluhan pel ia tatap dengan pandang sulit diartikan.


"Maafkan Cilla Papa, Mama, dan untuk semua orang. Ini semua adalah pilihan Cilla untuk terus bersama dia."

__ADS_1


Cilla menelan semua pel tersebut dan meminum air untuk pemudahan pel tersebut masuk ke dalam tubuhnya. Saat pel itu telah sampai ke dalam perutnya, yang dirasakan Cilla hanyalah sebuah kesakitan yang tidak pernah ia rasakan selama ini.  Tubuh Cilla jatuh ke lantai dalam keadaan tak berdaya.


Sakit itu benar-benar yang paling sakit seumur hidupnya. Buih-buih keluar dari dalam rongga mulut perempuan itu dan untuk terakhir kalinya ia menatap dunia dan tersenyum karena telah melihat alam yang berbeda. Secara pelan ia menutup matanya dan mengucapkan nama Tuhan untuk yang terakhir sebelum menyusul Revan.


"CILLA SAYANG AYO MAKAN NAK!!!"


Di ruang makan ibunya Cilla terus memanggil anaknya tersebut namun tidak ada satu pun sahutan dari Cilla.


"Ada apa sama anak itu."


"Sudahlah Ma. Mungkin Cilla lagi sedih dengan kematian suaminya. Kita biarkan saja dulu dan nanti kamu antar makanan buat dia ke kamar."


"Yasudah kalau gitu Pa kita makan dulu saja," tutur ibunya Cilla sambil memasukkan nasi ke dalam piring sang suami.


Waktu terus berjalan hingga acara makan Dive dan istrinya telah berakhir. Ibunya Cilla begitu cekatan memasukkan makanan ke dalam piring untuk dibawakan ke Cilla.


"Nanti kamu temani saja Cilla supaya Cilla nggak sedih-sedih terus."


"Iya Pa."


Setelah mengangguk patuh, sang ibu menaiki tangga menuju kamar Cilla yang berada di lantai atas.


Mencapai di depan pintu kamar Cilla ibunya Cilla mengetuk pintu namun sama lagi-lagi tidak ada sahutan dari dalam kamar itu.


"Cilla buka pintunya sayang!!"


"Sayang ayo makan dulu nanti kamu sakit sayang!!!!


Merasakan perasaan tidak enak lantas ia membuka pintu kamar Cilla dengan mendorongnya dan ternyata pintu tidak dikunci.


"Kemana tuh anak nggak ada di dalam kamar."


Ia memutuskan masuk ke dalam kamar dan meletakkan piring beserta air putih di atas nakas. Ketika hendak masuk ke dalam kamar mandi, ibunya Cilla tersebut tak sengaja menatap kaki yang berada dekat dengan jendela dan dilindungi ranjang. Ia yang penasaran pun lantas mendekati kaki tersebut dan membulat saat melihat sesuatu yang mengerikan.


"ASTAGFIRULLAH CILLA!!! PAPA!!!"


Dengan penuh air mata ibunya Cilla tersebut bersimpuh di samping anaknya yang pucat dan penuh buih di mulutnya. Belum lagi bagian bawah Cilla yang penuh darah.


"Nak kenapa kamu bisa kayak gini nak, hiks. Kenapa kamu harus lakuin ini nak," isak ibunya Cilla dengan tersedu-sedu.


"Hiks, hiks, hiks."


Saat mendekat barulah Dive melihat semuanya. Ia mematung dan tanpa sadar air matanya luruh. Dive jatuh di samping sang anak dengan wajah syok.


Ia menangis sambil memeluk anaknya dalam. Ia memeriksa nadi, napas, dan detak jantung sang anak. Kepalanya makin menggeleng kuat setelah mendapat kenyataan yang benar-benar menyakitkan.


"Dia sudah pergi."


"Hiks, hiks, hiks Cilla!!!!!"


Dive menjauh dari jasad Cilla lalu pergi ke tepi jendela. Hujan masih melanda dan makin sangat deras. Ia mengambil handphone nya dan menghubungi seseorang.


Waktu terus berlalu hingga tak disadari Rara dan Gabriel yang mendapatkan kabar Cilla bunuh diri pun kini sudah datang.


"Cilla!!!" Teriak Gabriel sembari menendang pintu kamar Cilla yang tertutup.


Melihat kondisi Cilla dan ibunya Cilla yang masih menangis meratapi jasad tanpa nyawa pun membuat Rara dan Gabriel berdiri di tempatnya dengan pandangan sulit diartikan.


Gabriel meraung melihat sahabat yang paling ia cintai dan lindungi dalam keadaan tak bernyawa. Ia melangkah pelan-pelan mendekati Cilla yang masih dalam keadaan menggenaskan. Gabriel memeluk kepala Cilla dengan penuh perasaan.


Rara yang masih di ambang pintu langsung keluar dan tidak jadi masuk sebab ia tidak sanggup melihat pemandangan mengerikan itu. Ia berlari dari kamar Cilla menuju ruang tamu sambil menahan air mata.


Gabriel berteriak kesetanan. Dunianya hancur di malam ini. Sesuatu yang berharga pergi meninggalkannya. Cilla, nama seorang sahabat yang selalu menjadi tamengnya setiap dia dibully oleh teman-temannya.


"Kenapa La? Kenapa La kamu tinggalin aku? Kenapa kamu tega La. Aku salah apa sama kamu jadi kamu pergi ninggalin aku seperti ini!!" Gabriel menarik napas dan menahan air matanya.


Ia menjauh dari jasad Cilla sembari menutup matanya dan duduk di ranjang Cilla.


"Kenapa Om nggak bawa dia ke rumah sakit?" Tanya Gabriel terlihat menggeram pada Dive.


Dive duduk di samping Gabriel sambil menepuk bahu anak itu. Pandangannya mengarah pada jendela.


"Om Nggak sempat."


"Permisi kami ingin membersihkan Non Cilla," suara dari Bik Kiran membuayarkan suasana.


Gabriel melihat pada para pembantu di rumah Cilla yang ingin membersihkan Cilla tersebut. Dive mengangkat tubuh Cilla dan membawanya keluar dari kamar.


Semantara ibunya Cilla mengikuti sang suami dari belakang. Tinggallah Gabriel sendirian di kamar Cilla. Ia mendekat pada tempat Cilla terbaring tadi. Darah bersimbah di sana yang merupakan darah dari anaknya Cilla dan Revan.

__ADS_1


Ketika Gabriel ingin menyentuh darah tersebut seseorang masuk ke dalam kamar. Pembantu di rumah Cilla tersebut mendekati Gabriel.


"Maaf Den Bibi mau bersihkan dulu darahnya."


"Iya Bi nggak papa."


Gabriel menjauh namun ia tidak keluar dari dalam kamar tersebut. Dia meneliti seluruh kamar Cilla dan memandang satu-satu foto Cilla.


"Aku nggak nayangka La kamu pergi secepat ini," ucap Gabriel dengan suara seraknya.


Pria itu berjalan mendekat pada meja belajar Cilla. Keningnya mengernyit saat melihat satu lembar kertas. Gabriel menjauhkan pulpen dari atas kertas itu dan mengambil kertas tersebut.


******


Maafkan Cilla Pa, Ma. Cilla terpaksa melakukan ini agar Cilla tetap terus bersama-sama Revan. Mama jangan sedih lihat Cilla pergi. Ini semua adalah pilihan Cilla dan kemauan Cilla.


Terima kasih buat Mama yang sudah besarkan Cilla dengan penuh kasih sayang. Cilla nggak akan pernah lupakan jasa Mama untuk Cilla. Dan untuk Papa, Cilla juga banyak-banyak terima kasih karena papa sudah mau carikan uang buat Cilla. Kalian berdua adalah orang tua Cilla yang paling baik di dunia tiada tandingnya.


Mungkin sikap yang Cilla ambil sekarang membuat hati kalian sakit. Tapi Cilla nggak ada pilihan lain pa, ma. Cilla nggak bisa hidup tanpa dia. Dia adalah kehidupan Cilla. Cilla sengaja membawa anak kami pergi agar Cilla bisa kumpul dengan anak Cilla dan dia.


Sekali lagi Cilla minta maaf dan selamat tinggal buat kalian. I LOVE YOU PAPA&MAMA.


Cilla Anak Tersayang Papa&Mama.


******


________


Pagi-pagi hari sekitar jam 8:00 WIB jenazah Cilla di bawa ke pemakaman. Makam Cilla berada di samping makam Revan.


Jenazah tersebut dimasukkan ke dalam tanah lalu ditimbun pula dengan tanah. Ibunya Cilla berteriak histeris melihat jasad sang anak tidak terlihat lagi.


Gabriel dan Rara saling berpelukan untuk menyalurkan perasaan masing-masing. Nisa yang baru saja melahirkan juga rela ikut ke pemakaman Cilla ditemani Arsen.


Ayat-ayat yasin dibacakan untuk menghantarkan Cilla bertemu dengan malaikat nanti. Ibunya Cilla yang pingsan dibawa pulang setelah usai pembacaan yasin.


"Nak ikhlaskan lah hati kamu untuk memaafkan Cilla dan Revan agar mereka tenang di alam sana," ucap Nisa dan kemudian memeluk Gabriel.


"Iya Nda."


"Gabriel, Rara, Papa dan Bunda pulang dulu. Kasihan Maryam adik kamu ditinggal sendirian. Bunda kamu juga belum sehat betul."


"Iya Pa," ucap Gabriel mengizinkan.


"Jangan lama-lama pulangnya."


Rara dan Gabriel mengangguk. Mereka memandang Nisa dan Arsen yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan keduanya.  Kemudian mereka menatap pada dua makam yang sama-sama basah.


"Cilla gue doakan lo tenang di sana bersama Revan. Gue nggak tau La apa lo sudah mencapai impian lo atau belum. Tapi gue berharap Allah mengampuni dosa-dosa lo dan juga Revan," tutur Rara sambil mengeluarkan air mata.


Ia menaburkan kembang lalu menguap batu nisan Cilla. Rara menatap pada kuburan Revan lalu tersenyum penuh haru.


"Kemarin kita bertiga di sini dan sekarang gue cuman berdua di sini bersama Gabriel. Hiks, hiks, hiks. Semoga Tuhan mengampuni dosa lo La."


Gabriel memeluk tubuh Rara dari samping. Ia mengecup puncak kepala Rara dan bersamaan itu pula air matanya jatuh. Rara berdiri dibantu Gabriel dan berjalan ke kuburan Revan.


"Revan aku titip Cilla sama kamu. Jaga dia baik-baik. Dan semoga kalian bahagia bersama anak kalian," ucap Rara sembari mengusap batu nisan Revan.


"Maafkan aku yang sudah buat kamu begini," kata Gabriel.


"Assalamualaikum semoga kalian bahagia bersama keluarga kalian. Selamat tinggal Revan dan Cilla."


Gabriel dan Rara pergi dari pemakaman tersebut dan masuk ke dalam mobil. Perlahan keduanya tidak terlihat lagi dari pemakaman dan hanya tinggal dua kuburan yang masih terlihat baru.


Inilah kisah mereka yang penuh dengan perjuangan liku-liku yang mana cerita ini diawali dengan kehidupan Nisa yang penuh dengan cobaan begitu berat. Namun Nisa begitu sabar menghadapinya hingga kesabaran itu dibayar dengan kebahagiaan.


Begitu pula dengan kisah Rara dan Gabriel. Dua remaja yang akhirnya bersatu dan menciptakan masalah baru. Sama dengan Nisa meski begitu banyak rintangan tapi mereka berusaha buat selalu sabar.


Intinya hidup ini adalah dimana kita akan diuji kesabaran. Kita hidup di dunia pasti ada alasan tertentu. Jika ada ujian dalam hidup itu adalah hal yang biasa. Tapi untuk mencapai kebahagiaan adalah kesabaran, dan janganlah mengeluh pada tuhan jika kita tertimpa masalah karena masih banyak di luar sana yang masalahnya lebih berat ketimbang kita.


Inilah akhir cerita dari perjalanan cerita ini yang cukup panjang. Gabriel dan Rara akan membuka lembaran baru bersama anaknya kelak yang masih di dalam kandungan.


_________


TAMAT


Tenang ada Bonus Part nanti.


Jangan lupa like, komentar, dan vote.

__ADS_1


__ADS_2