Underage Marriage

Underage Marriage
Part 44


__ADS_3

Pitttt


Suara peluit dari wasit berbunyi seperti genderang perang. Semula pemain basket yang berada di lapangan yang tengah sibuk merebut bola secara tiba-tiba berhenti mengopr bola saat peluit tersebut ditiupkan. SMA yang menjadi lawan SMA Kebangsaan pun membuang bola yang berada di tangan mereka ke samping dengan kasar.


Sedangkan SMA Kebangsaan yang diketuai oleh Gabriel itu malah tersenyum bahagia. Tepuk tangan dari para sporter menggema memenuhi stadion. Kali ini pertandingan dimenangkan oleh SMA Kebangsaan.


"Wah sumpah Abang hebat bener.... baru kali ini aku bangga punya Abang seperti Abang  Gabriel. Bagas kira Abang bisa malu-maluin doang tapi ternyata juga bisa membanggakan. Keren memang.......!!!"


Ucapan dari Bagas tersebut membuat seluruh mata yang berada di dekat anak itu spontan melirik pada Bagas. Semantara Bagas sendiri tidak menyadari jika saat ini orang-orang sedang menatap ke arahnya terutama orang yang sebelumnya tidak mengenal Bagas.


Rara mendengar pujian yang diberikan Bagas terhadap suaminya yang tak lain adalah abang dari anak itu hanya menanggapinya dengan senyuman. Ia mengelus kepala Bagas sembari menatap ke arah lapangan yang mana Gabriel tengah menatap padanya.


Gabriel melambaikan tangan dan mengacungkan jempol ke Rara. Rara sumringah dan tersenyum menampakkan susunan giginya yang rapi. Ia membalas dengan  lambaian serta acungan ibu jari.


"Kalian tau tidak dari mana Gabriel mendapatkan skil tadi dan siapa yang menjadi gurunya?" Tanya Arsen pada keluarganya dan tak luput juga Dive.


Nisa dan Dive telah lebih dulu mendengus mendengar pertanyaan itu. Mereka tidak akan menjawab karena mereka berdua tau apa maksud Arsen menanyakan hal itu.


"Enggak Pa. Emang dari mana Gabriel bisa punya skil kayak itu?" Tanya Rara penasaran. Sebab skil memasukkan bola ke dalam ring yang diiringi dengan gerakan salto tadi benar-benar terlihat keren di mata Rara. Jika dia sudah melahirkan nanti Rara juga ingin  mempelajari gerakan tersebut.


Bagas juga tertarik dengan pertanyaan ayahnya. Ia menunggu ayahnya akan menjawab pertanyaan Rara. Jujur Bagas juga ingin memiliki skil yang sama dengan Gabriel agar ia tak kalah telak sama kakanya itu. Dia bangga dan bukan berarti rasa iri Bagas dapat dihapus begitu saja, tetapi ia malah semakin iri kepada kakanya.


"Tentu Papa dong yang ngajarin. Papa waktu muda jago main basket. Tidak percaya tanya aja sama Om Dive dan Bunda." Jawaban yang diberikan Arsen benar-benar menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya di depan anak-anaknya. Angkuh. 


"Beneran Bun?" Tanya Bagas melirik ibunya yang berada di samping ayahnya.


"Nggak tau."


"Benaran Om?"


"Nggak tau."


Jawaban yang sama dan juga sama-sama memiliki tingkat keketusan tingkat lima  membuat Bagas mendengus.


Sedangkan Arsen mengeluarkan  napas panjang tapi lenguhan kekesalan terdengar begitu jelas saat keduanya mengucapkan kata-kata yang  sama. Di dalam hati Arsen berkata dengan rontaan kuat, 'Apa susahnya mengatakan YA'.


"Om Dive Cilla ke mana?"


Seakan baru menyadari jika anaknya tidak ada, Dive refleks menatap ke samping tempat Cilla duduk. Benar saja anaknya itu tidak duduk di situ. Ia menatap celengak-celenguk ke penjuru ruangan memastikan anaknya tetap dalam zona aman.


"Om baru sadar Rara. Mungkin dia menemui Revan. Kamu bisa ke sana dan sekalian temui Gabriel. Om takut Cilla kenapa-napa. Entah perasaan Om saja atau bukan, Cilla akhir-alhir ini gampang kelelahan."


"Baik Om."


Saat Rara telah pergi, Arsen dan Nisa menarik napas mereka. Begitu mudahnya bagi Dive melepaskan  anak perempuan mereka begitu saja dan tanpa memperhatikan siapa temannya bermain.


Arsen yang paham harus melakukan apa itu lantas mendekati Dive dan menepuk pundaknya. Dive menatap Arsen dengan pandangan tak biasa. Ia tau jika sudah begini pasti Arsen ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Dive aku ingin bicara dengan mu."


Dive menerima tawaran dari Arsen  tersebut dan kemudian keduanya berlalu dari sana mencari tempat yang lebih tenang untuk membicarakan masalah yang kecil tapi besar dampaknya.


________


Rara masuk ke dalam ruangan khusus anak SMA Kebangsaan. Ia tersenyum kikuk karena melihat semua orang yang berada di sana adalah laki-laki dan masih mengenakan seragam basket yang penuh akan keringat.

__ADS_1


Saat matanya memindai, tetapi ia tidak menemukan wajah Gabriel serta Revan.


"Maaf Gabriel di mana?"


Orang-orang yang berada di dalam situ tidak menjawab. Mereka malah menatap Rara dengan pandangan jijik. Rumor mengenai Rara berhembus dengan sangat cepat mengalahkan hembusan angin.


Sudah pasti orang mengetahui apa yang telah menimpa dirinya. Rara tersenyum sinis kepada ia sendiri. Kenapa takdirnya menyedihkan sekali.


Melihat tidak ada yang menjawab, salah seorang dari para pemain di sana menghela napas dan Rara bisa memastikan jika laki-laki itu adalah yang tertampan dari orang-orang yang ada di sana  tapi wajah Gabriel tetap segalagalanya dan tidak ada yang akan bisa menandingi kesempurnaan wajah prianya, Gabriel.


"Gue lihat Gabriel ke toilet cewek!" Penuturan yang belum diketahui maksudnya tersebut langsung membuat Rara terkejut.


"Maksud lo? Eh lo jangan ngarang!"


"Lo juga jangan seenaknya menanggapi ucapan gue seolah-olah gue lah yang salah. Gue liat dengan mata kepala gue sendiri. Kalau nggak percaya lo bisa ke sana!"


Baiklah untuk kali ini Rara akan menceknya sendiri. Ia berharap apa yang dikatakan oleh pria tadi merupakan  lelucon untuk mengerjainya.


Langkah Rara terus menyeret pada toilet wanita. Saat telah sampai di tempat tujuannya, Rara menatap satu per satu toilet cewek yang ada di sana.


Tatapannya berhenti pada sebuah toilet yang mengeluarkan suara ribut. Penasaran akan hal itu, lantas Rara melangkah dan mendekat.


Ia menempelkan telinganya di pintu toilet dan mendengar dua suara laki-laki yang amat familiar di telinganya lalu disusul suara desahan seorang wanita yang membuat Rara membulat tak percaya.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?"


Tanpa banyak basa-basi lagi ia lantas mendorong pintu toilet tersebut hingga terbuka. Pemandangan di dalam toilet itu membuat Rara dan mereka yang ada di dalam sama-sama terkejut.


Rara menatap tajam pada Gabriel sebelum menatap Revan lalu Cilla yang terbaring di lantai. Kemudian matanya beralih pada Gabriel meminta kejelasan.


________


Ia menatap kosong pada hamparan hijau di depannya. Tangannya terkepal saat kepalanya memutar kembali kejadian tadi.


Rara yang tak mendengar jawaban Gabriel yang tertunduk pun lantas mengalihkan matanya pada pria itu dan tersenyum kecut sembari mendongakkan kepala agar air mata tidak luruh yang mana air mata itu akan membuktikan jika ia hanyalah manusia lemah.


"Kenapa tidak menjawabnya? Apakah sulit untuk mengatakannya?" Pertanyaan Rara yang membuat Gabriel semakin betah dalam keterdiamannya.


Ia tak menyangka Rara mengetahui ini dengan cepat. Tapi mendengar setiap nada sakit dari Rara sedikit membuat Gabriel tak tega.


"Kenapa Gabriel nggak mau menjawab pertanyaan Rara?"


Rara duduk di kursi roda setelah usai jatuh tak berdaya di depan toilet. Padahal ia sudah mulai bisa tidak menggunakan kursi roda, tetapi pemandangan yang ia lihat di toilet tadi membuat tenaganya seakan habis tertarik.


"Apa Rara dari tadi hanya bertanya pada patung. Wujudnya ada tapi suaranya tidak ada?" kata Rara dengan nada penuh sindiran. "Apa maksud yang Rara lihat tadi?"


Rara kembali menangis tersedu-sedu. Pemandangan yang mengerikan bagi Rara itu membuat Rara benar-benar syok bukan main. Ia sakit menyaksikannya.


"Baiklah, mungkin memang Gabriel nggak mau jelaskan. Rara akan pergi."


Baru saja Rara hendak menjalankan kursi rodanya, sebuah tangan langsung menahan kursi roda Rara. Rara berhenti dan dirinya masih menatap lurus ke depan.


Gabriel memeluk Rara dan memberikan kecupan bertubi-tubi di kepala perempuan itu. Ia mengambil tangan Rara lalu diciumnya dalam.  Mungkin ini saatnya untuk Gabriel mengatakan pada Rara.


"Maafkan aku telah membuat kamu sakit."

__ADS_1


"Bukan aku yang sakit. Tapi dia yang sakit."


"Tapi tetap saja ini salah aku yang membuat kamu nangis."


Rara menarik napas sejenak dan sejurus kemudian ia memandang Gabriel. "Sudahlah, di sini tidak ada yang salah. Tapi Rara pengen mendengar penjelasan Gabriel bukan permintaan maaf."


"Ini semua terjadi begitu saja. Aku juga nggak mau semua ini terjadi. Semuanya berlalu begitu saja, aku juga menyesal telah melakukannya. Aku nggak bisa nahan Ra."


"Seenggaknya kamu buang nafsu kamu jauh-jauh. Aku benci sama kamu tau nggak. Hiks, hiks, hiks."


Gabriel kalang kabut melihat Rara yang menangis. Ia mendekap Rara dalam pelukannya dan terus meminta agar Rara tidak menangis lagi.


"Aku nggak bisa Ra lihat kamu meneteskan air mata. Aku benci air mata mu Ra. Jangan keluarkan lagi," pinta Gabriel pada Rara dan mencium kedua mata istrinya itu.


"Tapi penyebab Rara mengeluarkan air mata adalah Gabriel. Jadi seharusnya jangan salahkan mata ku yang mengeluarkan air tapi salahkan Gabriel yang membuatnya terus keluar."


"Yah aku salah Ra aku minta maaf." Kata Gabriel lirih, "Aku bakal jelasin ini asalkan kamu nggak cerita ke yang lain."


"Apa maksud Gabriel nggak ceritakan ke orang lain? Di mana letak kepintaran kamu? Bagaimana bisa Rara mau menyimpan semua ini? Gabriel apa kamu nggak liat Cilla pucat, darah banyak keluar dari ************ nya. Bagaimana aku bisa tenang dan nggak sakit melihat sahabat perempuan satu-satunya Rara dalam keadaan seperti itu?" Kata Rara berapi-api melupakan ketidak sukanya dengan permintaan Gabriel barusan, "Apa kamu nggak mau jelasin semua ini? Sudahlah Gabriel nggak akan mungkin mengatakannya karena kamu dan Revan kan yang membuat semua ini hingga Cilla kesakitan dan mengeluarkan darah."


"Yah semuanya memang salah aku Ra. Aku yang nggak bisa nahan nafsu ketika mendengar Revan meminta Cilla menggugurkan kandungannya dan membuat ku berkelahi dengan si brengs*k itu dan tidak sengaja membuat Cilla yang memisahkan kami terdorong ke lantai hingga pendarahan!!!! Apa salah Ra aku nggak terima melihat sahabat terbaik ku diperlakukan seperti itu?!!!"


Rara menangis seraya menggeleng. Kepalanya kembali pusing tapi ia berusaha menahan semuanya. Tidak! Ini semua pasti salah. Apa kandungan? Jadi Cilla hamil?"


"Cilla hamil? Dan itu semua karena Revan!!"


"Hm..."


"BAJING*N EMANG TUH COWOK KEK ANJ!!!" umpat Rara dengan tangan terkepal.


Gabriel berlutut di depan Rara lalu memeluk paha Rara. Sedangkan Rara menangis tak kunjung berhenti. Ia membiarkan Gabriel yang juga ikut menangis sambil memeluk pahanya. Mereka saat ini sedang berada di taman rumah sakit.


Entah bagaimana dengan Cilla sekarang apakah semua kebusukan Revan sudah terbongkar? Tentu tidak karena Cilla sudah digelapkan dengan rasa cintanya kepada Revan hingga tidak bisa melihat bagaimana sebenarnya orang yang dicintainya itu.


Tapi Rara berharap setelah mendapatkan anaknya hamil, Dive akan mengurusi Revan dengan benar.


"Apa Om Dive akan memukul Revan nanti?" Tanya Rara seraya mengusap kepala suaminya yang sedang mengusap perutnya.


"Aku rasa tidak Ra. Mungkin aku yang akan dipuklunya karena penyebab Cilla pendarahan adalah karena aku yang tidak bisa menahan untuk tidak memukul Revan."


"Jangan sedih, Om Dive tidak mungkin melakukan itu ke Gabriel. Apa Om Dive selalu menuruti kemamuan Cilla?"


"Mungkin, termasuk tidak akan memukuli Revan. Dia tau jika memukul Revan sama saja dengan memukul anaknya sendiri."


"Dunia memang kejam."


"Emang itu lah dunia. Semuanya sangatlah kejam dan tidak adil. Aku tidak tega melihat Cilla seperti itu, tapi aku juga tidak bisa membuat Cilla sadar. Aku memang tidak berguna sebagi sahabat Ra!!!"


Gabriel mendongak menatap Rara dengan linangan air mata. Rara yang menyelam di manik Gabriel dan bisa melihat kesedihan Gabriel di sana. Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Gabriel lalu ******* bibir itu hingga Gabriel pun membalas ciuman liar itu.


_______


Tbc


MOHON MAAF NGGAK BISA UPDATE KARENA BANYAK URUSAN!!!

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE.


__ADS_2