
"Akhhh."
Gabriel mengerang sambil memegang kepala bagian belakangnya yang dihantam balok besar. Napasnya hampir berhenti, tubuhnya terhuyung ke depan membentur tembok hingga kepalanya sedikit terluka.
Kemudian ia berusaha menahan daya tahan tubuhnya agar seimbang. Gabriel memejamkan mata merasakan sakit yang menjalar. Ketika Revan hendak memukul tengkuk Gabriel kembali, Gabriel cepat menangkisnya lalu membuang balok tersebut ke samping.
"Revan," ucap Gabriel sambil terkekeh.
"Gabriel," balas Revan tak kalah mengerikan. "Bagaimana dengan hadiah dari gue? Menyenangkan?"
"Yah cukup menyenangkan. Jangan kamu pikir, gue akan meninggal, amnesia, geger otak, atau pingsan dengan hanya lo pukul dengan balok kecil itu. Lo salah besar."
Gabriel tak kalah meremehkan saat mengucapkan kalimat sombongnya. Ia menganggap halal sombong jika sedang berhadapan dengan Revan.
Semantara Revan hanya mengangguk puas dengan ucapan Gabriel. Kemudian ia memetik jarinya hingga kedua antek-antek cowok tersebut keluar. Mereka berjalan dan berdiri di samping kanan, kiri Revan.
"Lo masih berani melawan gue?"
Gabriel meludah di depan Revan, "Lo pikir gue bakal takut dengan begituan. Dasar cemen, kala lo laki nak bakal main kroyokan."
Habis sudah kesabaran Revan. Pria tersebut maju dan langsung melayangkan pukulan pada Gabriel. Gabriel terlihat biasa-biasa saja ketika Revan memukul wajahnya dan malahan ia menangkis tinjuan tersebut dengan satu tangan.
Pertarungan sengit pun terjadi di depan toilet. Gabriel dan Revan sama-sama menunjukkan kebolehannya dalam bela diri. Selama ini orang tidak tau jika Gabriel cukup terampil dalam bidang itu dan kehebatannya melebihi dari Rara istrinya sendiri yang dinobatkan sebagai atlet silat paling fenomenal di SMA Kebangsaan.
Gabriel menerjang perut Revan hingga Revan terjatuh ke lantai seraya memegangi perutnya. Darah sama-sama keluar dari mulut masing-masing. Keduanya mengeluarkan napas memburu.
Revan tidak terima dirinya di rendahkan seperti ini, lantas dia pun memerintah Vito dan Candra agar maju melawan Gabriel.
Vito dan Candra menyerang Gabriel berdua sekaligus hingga pertarungan tersebut benar-benar mengeluarkan suara hebat hingga terdengar ke lorong kelas yang dekat dengan toilet.
Gabriel memukul rahang Vito hingga menyemburkan darah ke baju putihnya lalu Gabriel pun menggunakan gerakan salto saat Candra di belakang hendak mengahantamnya hingga tendangan Gabriel mengenai dada pria itu dan Candra pun mundur dengan paksa dan punggungnya menghantam dinding.
Tanpa Gabriel sadari, Revan di belakang sudah memegangi pisau dan siap menancapkannya ke punggung cowok itu. Tapi insting Gabriel yang sangat kuat dengan cepat ia membaca gerakan Revan.
Daeah menetes dari telapak tangan Gabriel ketika pria tersebut menahan pisau itu dengan telapak tangannya lalu merebut pisau tersebut dan ingin membuangnya namun urung.
"Kenapa lo banci banget pakai pisau segala?" Tanya Gabriel sembari menatap sini pada Revan.
Revan tidak menjawab, tapi ia maju hendak memukul Gabriel namun Gabriel lebih dulu mengunci tangan Revan dan menjatuhkannya ke lantai dengan posisi Revan telungkup.
Kemudian Gabriel pun melayangkan tinjunya ke pipi kanan, kiri Revan. Candra dan Vito yang keadaannya kian membaik pun lantas membantu Revan.
Ia memukul belakang Gabriel hingga Gabriel terjungkal ke depan dan pisau yang ia hendak tikam ke Revan melayang jauh. Setelahnya ia pun dipukuli dengan Candra dan Vito saat mendapati Gabriel tak berdaya.
"Brengs*k kalian. Taunya main pukul!!!" Teriakan Gabriel tersebut tidak dihiraukan keduanya dan malah asik memukul.
Sebenarnya banyak orang sudah berkumpul dan meringis prihatin pada Gabriel yang dipukuli itu. Salah satu siswa telah melapor pada guru bersangkutan.
Keadaan riuh seperti ini membuat geger satu sekolah tak terkecuali Rara yang ikut masuk dalam kerumunan tersebut. Di sampingnya ada Cilla yang juga penasaran.
"Ada apaan ya Ra?" Tanya Cilla sambil menatap ke depan namun tidak bisa karena ditutupi punggung banyak umat.
"Gue nggak tau La. Mungkin ada mayat, orang mau bunuh diri, atau para cupu yang sedang kena Bully."
"Ah ngacok kamu Ra. Inikan toilet pria ya?" Tanya Cilla sambil menatap tanda toilet.
Deg
Rara tercekat saat baru menyadarinya. Bukannya Gabriel tadi berpamitan dengannya karena ia hendak ke toilet? Rara berharap semoga kejadian tersebut tidak ada sangkut paut dengan Gabriel.
"Itu ada Pak Anas."
"Oh iya guru BK baru itu kan?"
"Katanya aku dengar-dengar begitu."
Rara minggir memberi ruang pada Pak Anas yang sedang berjalan membelah kerumunan.
"ASATGHFIRULLAH!!!" Teriakan Pak Anas bagaikan toak yang membuat semuanya terdiam.
Rara sedikit demi sedikit maju ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Walau sesak di sini ia berusaha melewati.
__ADS_1
"Ishh kasihan banget ya." Ucapan salah satu siswa membuat penasaran Rara semakin tumbuh.
"Permisi," tutur Rara pada orang agar minggir, ada yang memberi ruang dan ada pula tak menahannya agar tak masuk barisan paling depan.
"Apa-apaan kalian ini?!!! Kalian ini anak pelajar apa anak preman?!!" Teriak Pak Anas kepada Revan, Candra, Vito dan Gabriel. Mereka bersandar pada dinding.
Kondisi Gabriel paling memprihatinkan tapi dari mimik wajahnya ia tampak biasa-biasa saja.
"Bawa mereka ke UKS!!" Ucap Pak Anas pada siswa laki-laki. "Dan orang tua kalian akan Bapak panggil.
Kemudian Pak Anas pergi diikuti orang-orang yang membopong tubuh keempatnya menuju UKS. Akibat sesak-sesakkan dan saling mendesak membuat Rara kesusahan menatap wajah orang yang dibopong tersebut.
Rasa penasaran yang sudah semakin menjadi pun membuat Rara bertanya pada anak yang mengenakan kacamata dan kebetulan ia berdiri paling depan.
"Eh lu!!!"
"I-iya saya."
"Kenapa sih pada ribut-ribut? Siapa yang dibopong ke UKS tadi?"
"Orang berantem Kak. Yang di bopeng tadi Kak Gabriel, itu cuman yang saya tau Kak."
Rara menutup mulutnya dan memandang perempuan tersebut tidak percaya. Ia berusaha mencari alasan kuat yang membuktikan kalau itu bukanlah Gabriel-nya. Tapi bukannya Gabriel memang ke toilet tadi dan sampai sekarang ia belum bertemu dengan suaminya itu.
Rara merasa tidak nyaman. Rautnya yang berubah gelisah dalam kurun waktu cukup cepat membuat Cilla yang berada di samping wanita itu mengerut.
"Gabriel siapa?" Tanya Cilla pada perempuan tersebut.
"Gabriel Wijaya Altas." Tiga kata tersebut mampu membuat Rara panik kalang kabut.
Tanpa banyak basa-basi lagi ia langsung berlari menuju UKS semantara Cilla ia tinggalkan. Cilla pun menerikaam nama Rara agar perempuan tersebut jangan terlalu panik.
Cilla juga sama paniknya, namun ia harus berterima kasih terlebih dahulu pada perempuan yang memberitahu mereka baru menyusul Rara ke UKS.
"Terima kasih ya," kata Cilla diselingi senyuman ramah lalu pergi dari sana sambil berlarian.
Rara membuka pintu UKS tanpa ada perasaan hingga orang-orang yang tengah memberikan pertolongan pertama langsung menatap ke arah pintu yang terdengar seperti didobrak seseorang.
Mata Rara langsung mengeluarkan air mata legend yang selalu menjadi temannya di kala bersedih. Kepalanya menggeleng berharap laki-laki terbaring dengan wajah tak berbentuk itu bukanlah Gabriel.
Rara menguatkan untuk berjalan walau kakinya berat untuk sekedar melangkah pelan. Ketika sampai di samping brankar Rara tiba-tiba langsung berteriak kencang.
"Huaaaa!!! Beneran Gabriel!!!! Kok bisa sih?!!" Tangis Rara sembari menatap makin jelas bentuk wajah Gabriel.
Sebenarnya Gabriel tidaklah pingsan. Ia hanya menutup matanya agar mengurangi rasa ngilu di seluruh tubuh lebamnya itu. Tapi ketika mendengar teriakan Rara membuat Gabriel membuka matanya. Ia terkejut melihat penyemangat hidupnya itu ada di sini.
"Ra," lirih Gabriel tertahan.
Rara menangis dan meraih tangan Gabriel. Dikecupnya tangan tersebut berkali-kali membuat para jones yang melihat itu langsung menelan salivanya.
"Gabriel kok bisa begini. Tadi Rara salah jawab Matematika nya, jadi Gabriel harus hukum Rara, Gabriel nggak boleh baring aja," putus Rara.
Gabriel gemas melihat Rara seperti itu apalagi Rara yang tengah menangis dan pula saat menarik ingus di hidungnya, Rara tampak semakin imut.
Dengan lemah Gabriel mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Rara, namun posisi Rara yang tinggi dan tangannya tak sampai menjangkau kepala perempuan tersebut, Gabriel harus rela mengubur keinginannya itu.
Tapi, Rara menunduk dan meraih tangan Gabriel tersebut lalu diletakkan di kepalanya. Tau jika Gabriel tak akan bertenaga untuk mengusap rambutnya, Rara pun menggerakkan tangan Gabriel yang di atasnya seperti gerakkan mengusap.
Gabriel tersenyum, "Terima kasih sayang."
"Akhem, akhem." Rara dan Gabriel menatap ke tukang batuk itu. "Maaf bukannya apa. Tapi kami harus memberikan obat secepat mungkin ke Gabriel."
Rara menarik napas dan cemberut. Terpaksa ia menjauh dari hadapan Gabriel. Semantara Gabriel hanya terkekeh pelan menanggapi itu.
"Jangan sedih. Aku tak apa."
"Janji Gabriel nggak papa?"
"Iya aku janji Ra."
Rara pun tersenyum mendengarnya, namun kemudian timbul niat jahil Rara. "Tuh apaan tuh di pintu. Kecoak besar banget!!!"
__ADS_1
Serentak orang yang berada di dalam ruangan tersebut menatap ke arah pintu. Bermacam-macam ekspresi dipasang ketika mendengar nama kecoak. Berbeda dengan Rara yang langsung mencium bibir Gabriel cepat sebelum para anak PMR menatap mereka.
"Nggak ada apa-a____" orang yang berbicara pun langsung memerah dan terdiam melihat Rara dan Gabriel yang tengah berciuman.
Ia berbalik kembali menghindari adegan tersebut dan memerintahkan teman-temannya untuk jangan menatap jika tidak ingin gigit jari.
"Kalian nggak jadi mau ngobatin Gabriel?" Seruan tersebut barulah mereka berbalik dan bernapas lega.
"Jadi lah."
Anak PMR mulai melakukan tugas mereka dan Rara hanya menatap para anak PMR yang sedang mengobati Gabriel tersebut dari sudut ruangan. Ia ingin sekali memberontak saat para perempuan dengan lancangnya memegang kulit orang dicintainya.
"Nggak bisa apa nggak pegang-pegang? Bocil aja sudah tau mana yang matang, gimana besarnya?" Ujar Rara mengeluarkan kalimat sindirannya.
Mata Rara kian melotot ketika orang tersebut membuka baju Gabriel.
"Woy kenapa lo buka bajunya?" Tanya Rara sewot.
"Tapi kami harus mengobati luka di tubuh Gabriel," tutur seorang perempuan dengan rambut sepinggang dikucir dan tak kalah sewot nya.
"Kagak bisa. Kalian kagak boleh liat tubuh Gabriel. Sana lo, dasar modus kalian!!!"
"Tapi ini sudah tugas kami," kata perempuan berbaju ketat.
"Bodo amat. Mau itu tugas lo kek, gue nggak peduli. Intinya lo itu nggak boleh buka baju Gabriel."
Mereka mulai terpancing amarah dan siap mengeluarkan kata-kata seorang PMR katakan, namun terdiam saat mendengar Gabriel yang bersuara.
"Biarkan Rara saja yang mengobati saya. Dia juga bisa mengobati orang. Kalian keluar saja."
"Tapi kan kami harus bersikap profesional."
"Kalian keluar saja. Dan urus yang lain ke ruang sebelah."
UKS di SMA Kebangsaan memang bukan hanya satu, namun ada tiga. Kebetulan Gabriel meminta agar ia ditempatkan sendiri.
Mereka pun pergi lalu Rara mulai bernapas lega. Ia berjalan menghampiri Gabriel dan mengail salep untuk diolesi pada permukaan yang lebam.
"Dasar tu orang nggak ada ahlak. Ketahuan banget mau liat tubuh suami orang. Emang gue ikhlas apa? Kayak kagak tau gue aja." Gerutu Rara sembari membuka kancing baju Gabriel dan menaikkan singlet Gabriel sebatas dada. "Ya ampun apaan ini kok perut Gabriel sobek-sobek begini."
Gabriel tertawa melihat tingkah polos Rara. Saking gemasnya, Gabriel menarik Rara hingga tubuh Rara jatuh ke tubuhnya.
"Lho lho kok jadi begini. Gabriel kan masih sakit. Pasti sakit ya Rara jatuhin luka Gabriel?"
"Enggak!" Gabriel membuka singlet nya sendiri lalu meletakkannya ke dekat bajunya. Gabriel melakukan itu sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit. "Sini Ra, baring di samping aku."
"Kan, Rara harus obatin Gabriel."
"Luka gini doang nggak sakit Ra. Akutuh mau tidur sambil meluk kamu. Pliss ya sayang."
Rara menggigit bibirnya bingung. Ia menatap ke bagian tubuh Gabriel yang tak ada sehelai pun kain. Beruntung Gabriel masih mengenakan celana.
"Gabriel kan masih sakit."
"Aku tu sakit kalau nggak peluk kamu."
"Tapi Gabriel nggak pakai baju."
Gabriel langsung menarik tubuh Rara untuk berbaring di sampingnya tanpa diberikan izin. Kemudian, Gabriel pun memeluk Rara dan memejamkan mata.
"Gabriel."
"Iya sayang! Kamu tidur aja. Aku nggak papa."
"Tapi?"
"Diam atau aku perkosa kamu di sini?"
"Eh," Rara pun langsung memejamkan mata dan ikut membalas pelukan Gabriel.
_______
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, komentar, dan Vote.