Underage Marriage

Underage Marriage
Part 43


__ADS_3

Gabriel memantulkan bola basket yang ada di tangannya lalu memasukkannya ke dalam ring. Ia tersenyum melihat bola basket yang ia lemparkan mendarat mulus di udara.


Tepuk tangan dari para pelatih serta teman se tim nya membuat Gabriel sedikit menyunggingkan senyum atas keberhasilan yang ia toreh. 


"Gabriel!" Suara itu adalah suara milik sang pelatih yang bernama Iyan.


"Ada apa Pak?" Tanya Gabriel pada pelatihnya itu.


"Permainan mu sudah mendekati sempurna. Semoga keberhasilan  mu ini sampai di pertandingan." Pelatih itu bukannya hanya menatap Gabriel tapi semua anggota ditatapnya serta beberapa cadangan pemain. "Karena berhubungan Andi sedang sakit maka dia akan diganti dengan Revan."


Semua orang bertepuk tangan kecuali Gabriel. Siapa yang tidak mengenali Revan yang skil dimilikinya tidak bisa diragukan.


Ia ingin protes tapi melihat semua orang menerimanya dengan baik membuatnya mengurungkan niat. Ia tidak boleh egois dan membawa masalah pribadi pada pertandingan kali ini.


Lamunan Gabriel buyar ketika seseorang yang mengenakan bandana serta anting salib memasuki lapangan, padahal laki-laki itu sendiri beragama Islam.


"Revan sudah berapa kali saya katakan jangan menggunakan anting. Kamu ini anak terpelajar bukan anak jalanan. Ini apalagi," marah sang pelatih sambil memegang anting milik Revan. "Kamu bukannya Islam? Kenapa kamu pakai beginian."


Revan menarik napas dan menatap Gabriel. Nasihat yang diberikan pelatih tersebut seakan angin lewat.


"Kenapa Bapak memilih dia? Bukannya dia ini pembangkang?" Tanya Gabriel menyalurkan perasaannya yang meledak karena tidak suka dengan Revan yang sekelompok dengannya.


"Kenapa? Lo nggak setuju?"


Gabriel memutar bola mata malas setelah mendengar suara itu. Semantara sang pelatih butuh beberapa kali menarik napas kasar agar dapat mengendalikan emosi.  


"Ini keputusan mutlak dari kepala sekolah karena Revan sangat hebat dan mempunyai skill yang langka dalam bermain basket," ujar sang pelatih sembari menangkap bola basket yang dilemparkan Gabriel.


"Saya harap kehadirannya membawa keberuntungan bukan masalah," ucap Gabriel pada pelatihnya itu sambil menatap Revan dari sudut matanya, mengintip ekspresi laki-laki itu setelah ia singgung.


Revan yang menyadari jika Gabriel menyinggungnya pun hanya menampilkan senyuman sinis. Kemudian ia pun pergi ke tengah lapangan untuk melaksanakan latihan dan bergabung dengan yang lain.


Latihan pun dilaksanakan hingga latihan basket tersebut selesai. Besok adalah acara pertandingannya yang akan digelar di SMA 1 yang mana SMA tersebut adalah bekas SMA Arsen dan Nisa.


Para murid yang tergabung dalam tim itu membentuk lingkaran dengan sang pelatih yang berada di tengah.

__ADS_1


"Besok kita akan ke sana jam satu siang setelah Dzhur. Pertandingan akan dimulai jam setengah empat setelah Asar. Dan terakhir saya ingatkan jangan sampai ada yang terlambat!!" Pelatih tersebut menatap jam di tangannya lalu menatap lagi pada siswa yang ia bimbing. "Besok kita akan melawan SMA Nusantara."


"Baik Pak!!"


"Bagus. Berhubung waktu latihan telah habis, kalian saya persilakan untuk pulang. Ingat langsung pulang ke rumah jangan keluyuran!!!"


"Siap Pak!!!"


Pelatih tersebut bergegas mengambil barangnya lalu menuju jalan keluar dari tempat latihan ini. Setelah sang pelatih tak terlihat lagi, barulah Gabriel dkk meninggalkan lapangan.


Pada saat Gabriel mengambil tas yang tergeletak di pinggir lapangan, matanya sempat bertemu dengan Revan yang juga mengambil tasnya yang ternyata berada di samping tas miliknya.


"Bagaimana nasib istri lo itu setelah dikeluarkan."


Gabriel yang semula berusaha menganggap Revan tidak ada bersamanya terpaksa menatap laki-laki itu walau enggan, tetapi dia berusaha membuang rasa ketidak sukaannya pada pria itu.


"Peduli apa lo?" Gabriel mendengus dan berlalu begitu saja melewati Revan.


Revan menggeram lalu tersenyum kembali, ia mencekal lengan pria itu dan tersenyum sinis pada pria di dekatnya itu.


"Lo liat di lapangan, Gue pastiin yang paling hebat dan banyak menciptakan skor pasti gue." Revan dengan sombongnya mengatakan hal tersebut dan menepuk bahu pria itu dan berlalu dari sana.


"Bajingan Lo Revan."


_______


Pertandingan pun akan segera dilangsungkan. Gabriel dan bersama tim nya yang lain maupun cadangan sudah siap dengan properti dan pakaian seragamnya.


Terlihat Revan yang menggenakan bandana merah di kepalanya sambil menatap lapangan dengan penuh percaya diri. Gabriel mendengus dan kemudian mengalih pandangannya pada penonton. Sejenak pipinya mengembangkan senyum terbaiknya kala bersesi tatap pada perempuan yang amat dicintainya tersebut.


Di sana tidak hanya ada Rara tapi juga ada kedua orang tuannya bersama Cilla dan ayahnya. Di situ juga terdapat adik yang bagi Gabriel adalah orang yang amat menyebalkan yang pernah ada di muka bumi ini.


Rara yang melihat sudut pandang Gabriel mengarah padanya pun langsung membalas senyuman pria itu dan memberikan gerakan tangan yang memilik makna untuk menyemangati pria nya itu.


Gabriel tersenyum melihatnya, ia gemas akan Rara. Namun rasa kagum pada perempuan yang telah diperistrinya pun harus ia relakan untuk menatapnya terus menerus kala suara dari moderator yang menyatakan pertandingan yang akan dimulai.

__ADS_1


Gabriel berserta tim nya berjalan ke arah lapangan, dan ketika telah membaca doa dengan keyakinan masing-masing mereka pun memberikan salam hormat pada lawan.


Pertandingan pun berjalan dengan amat menegangkan, ditambah sorak Sorai dari penonton.


Di awal-awal tim dari SMA nya lah paling banyak yang mencetak skor. Dan dari setengahnya yang memberikan kemenangan tersebut berasal dari Gabriel, maka dari itu sorak Sorai bersemangat meneriakkan nama pria itu.


Seketika gendang telinga Revan mendidih, ia tak suka orang memuji Gabriel. Melihat Gabriel yang jelas-jelas teman setim nya tersebut sigap ia langsung merebut bola basket dari pria itu.


Semua orang tercengang melihat Revan yang menyenggol Gabriel hingga laki-laki itu terduduk di lantai.


Gabriel mendengus dan membiarkan saja sampai pertandingan berakhir 1 babak dan dilanjutkan babak berikutnya, dan babak kedua juga pun berakhir dan dimenangkan oleh SMA Gabriel.


Pria tersebut tersenyum puas dan melihat ke arah bangku penonton yang mana Rara begitu antusias memberikan nya semangat.


Namun pandangan Gabriel langsung teralih pada Revan dan Cilla yang tampak tengah bertengkar, napasnya makin tercekat melihat Revan yang menarik Cilla kasar dari sana dan mengarah pada toilet wanita.


Ia langsung menyusul dan mengabaikan panggilan dari orang yang keheranan mengapa Gabriel berjalan terburu-buru menuju toilet wanita.


Sesampainya di depan toilet yang diyakini Gabriel Revan dan Cilla berada di sana pun langsung mendobraknya. Seketika itu juga air mata dari Cowok tersebut ingin tumpah begitu saja melihat Cilla diperlakukan kasar sembari menangis sesugukan. Melihatnya tanpa basa-basi ia langsung membogem wajah Revan.


Cilla kaget dan melerai pertengkarang yang berlangsung sengit di dalam toilet.


"Anji*g lo apain Cilla hah?"


"Apa sih anj*rt GUA CUMAN NINTA DIA BUAT GUGURIN KANDUNGAN NYA, SALAHKAN DIA YANG GAK MAU NURUTIN APA KATA GUE!!!" Revan mengarahkan telunjuknya pada Villa yang menunduk sambil meneteskan air mata.


"Baji*Ngan lu!!!"


Pertengkaran kembali berlangsung dan melihatnya Cilla tak bisa ambil diam. Ia langsung melerainya namun ia harus rela jika ia yang terkena imbas dan pukulan dari Revan.


"Akhhh!!"


"CILLA!!!!!"


____

__ADS_1


TBC


SORRY TELAT LAGI UJIAN SEKOLAH BUNDAH. DOAIN SAYA MASUK 10 BESAR


__ADS_2