Underage Marriage

Underage Marriage
Part 48


__ADS_3

Gabriel keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di lingkaran pinggangnya. Rambutnya yang basah menetes ke area pundaknya serta pinggiran keningnya.


Pria tersebut tersenyum melihat Rara yang sedang melamun di tepi jendela sembari menatap ke arah langit yang dipenuhi dengan bintang malam.


Tepukan tangan besar di pundaknya membuat Rara sadar dari lamunan yang sedang menggelisahkan pikirannya. Kontan Rara berbalik dan menatap kembali ke depan setelah melihat siapa pelaku yang menepuk pundaknya.


"Ada apa kamu melamun?"


"Nggak papa."


"Ra!" Gabriel menyeru Rara dengan nada lirihnya.


Rara jengah jika Gabriel sudah memanggilnya dengan nada tersebut. Perempuan itu lantas memandang Gabriel dan berdiri dari tempat duduknya dan mengambil pakaian Gabriel yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur.


"Pakai baju Gabriel dulu."


Gabriel menarik napas dalam dan meraih pakaian yang diberikan perempuan itu. Semantara Rara membelakangi Gabriel saat suaminya hendak berpakaian.


"Sudah," intruksi Gabriel dan Rara berbalik. "Sekarang duduk dan jelaskan kepada ku ada apa?"


Menghela lalu duduk di samping Gabriel yang duduk si pinggir ranjang.


"Kamu yakin mau nemui Revan?"


"Emang kenapa kalau aku mau nemuin dia? Ini cuman masalah pertandingan besok dan Pak Iyan juga sudah mengkompirmasi jika yang diucapkan Revan benar."


"Kalau gitu Rara ikut."


Gabriel langsung mencegah tatkala Rara hendak meninggalkan suaminya untuk berganti pakaian.


"Ra kamu nggak usah ikut. Nanti kamu kenapa-napa lagi."


Rara menghentikan langkahnya. Menarik napas dan kemudian memalingkan tubuhnya memandang suaminya yang mencekal tangannya.


"Rara nggak papa kok. Justru Rara khawatir kalau Gabriel pergi sendirian. Rara nggak mau terjadi apa-apa sama Gabriel."


"Enggak Ra, kamu itu lagi hamil. Kamu bisa saja dilukai Revan di sana."


Rara memeluk Gabriel dalam dan penuh akan kasih sayang. Sedangkan suaminya senantiasa mengusap rambut Rara yang mengeluarkan wangi jeruk.


"Gabriel, Rara nggak bakal kenapa-napa kok. Kalau memang benar Gabriel dan Revan hanya membahas tentang pertandingan besok seharusnya Gabriel nggak usah khawatir Rara Rara ikut ke sana. Lagian kan Rara cuman mau sama Gabriel aja terus."


"Oke. Kamu boleh ikut. Gih siap-siap dan jangan lama."


Rara menatap wajah Gabriel dengan pandangan kegembiraan di matanya. Senyum manis terukir di wajah Rara dan sedetik kemudian perempuan itu mengecup pipi Gabriel seraya berlari cepat ke kamar mandi.


Tangan laki-laki itu terangkat dan menyentuh bekas ciuman istrinya. Walau satu kecupan, hal itu mampu membuat jantung Gabriel tak berdetak semestinya.

__ADS_1


Diusapnya bekas ciuman Rara dan tak sengaja pada saat berjalan ke luar kamar Gabriel melewati kaca. Di sana ia melihat pipi yang bekas dicum tersebut ada tanda merah yang Gabriel yakini adalah jejak lipstik Rara yang tertinggal di pipinya.


"Dasar istri nakal."


Gabriel mengambil tisu dan menglap bekas lipstik Rara dengan tisu. Setelah tidak ada lagi lipstik di wajahnya, barulah Gabriel keluar dari kamar.


Di dalam kamar itu sendiri hanya ada suara percikan air yang mana sumbernya berasal dari dalam kamar mandi.


__________


"Bagus juga ya Cafe nya. Rara nggak pernah lho ke sini. Kapan-kapan kita ke sini lagi ya?" Tutur Rara sembari melingkarkan tangannya di tangan Gabriel.


Sorot matanya memandang ke seluruh penjuru sudut dan begitu memuji tema yang diberikan oleh Cafe ini untuk menarik pelanggan. Rara juga bisa melihat begitu ramai pengunjung yang datang ke Cafe ini.


Rara  mengenakan gaun selutut dan tangan baju sesiku lalu warna gaun yang ia kenakan adalah berwarna hitam. Tampilan Rara begitu cantik dan di tambah senyuman yang mengembang di wajahnya. Tapi senyuman itu lenyap seketika setelah melihat sebuah mobil yang amat ia kenali.


Gabriel yang menyadari ada sesuatu pun lantas merangkul pundak istrinya.


"Kamu nggak usah takut. Kamu sendiri kan yang mau ikut? Aku kan sudah mengatakan jika Revan juga ada di sini."


"Lagian tuh anak ngapain ikut ke tim kamu. Kayak nggak ada orang lain aja." Setiap kali mendengar nama Revan pasti Rara mengalami hal yang sensitif.


"Revan kan juga hebat main basketnya."


"Iya, iya, Revan memang hebat dan dia memang pantas ikut bertanding. Lama-lama nih telinga meledak juga dengar nama tuh anak."


Gabriel mencubit pipi gembul Rara yang sedang cemberut. Rara jauh terlihat lebih imut dengan wajahnya yang merengut serta warna merah bekas cubitan dari Gabriel.


Kekesalan Rara kian menjadi usai Gabriel menyelesaikan ucapannya tersebut. Ia menghentikan langkahnya lalu membisikkan suatu kalimat di telinga pria tersebut.


"Mahal banget sih neng satu ciuman 80 juta?"


"Aok ah. Gabriel mah bisa gitu."


Rara berjalan lebih dulu menuju ke tempat meja yang mana di sana telah berkumpul teman se tim Gabriel. Gabriel yang ditinggalkan di belakang hanya terkekeh maklum.


Gabriel menarik napas dan kembali memasang topeng yang selalu dipasangnya di tempat umum. Wajah yang semula penuh dengan tawa kini telah kembali datar seperti tembok rumah.


Ia berjalan menyusul Rara dan menarik lengan istrinya yang memang sengaja menunggunya di dekat meja yang tak jauh berada dengan tempat tim Gabriel berkumpul.


"Kenapa nggak langsung ke sana aja tadi?" Tanya Gabriel pada Rara.


"Takut."


Gabriel duduk di tempat duduk yang berseberangan dengan Revan dan Rara yang duduk di samping dirinya.


"Tumben lo bawa dia?"

__ADS_1


Gabriel paham jika 'dia' yang dimaksud Revan adalah Rara. Gabriel tidak menjawab dan tidak pula menghiraukan pertanyaan Revan.


"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Gabriel lalu menyerahkan buku menu ke Rara.


"Yang ini aja."


"Mbak pesan soto dua porsi dan minumnya air putih aja dan juga dua porsi."


Pelayan tersebut mencatat segala apa yang dipesan oleh orang-orang yang berada di meja itu. Saat sang pelayan pergi, Rara sempat menatap ke arah Revan yang juga menatapnya dengan air muka yang merah padam.


Tali pandang mereka putus saat Gabriel langsung menarik Rara ke dalam pelukannya. Teman-teman yang lain tidak berani menegur Gabriel karena melihat tatapan dingin dari pria itu saja membuat mereka langsung menciut.


"Deko siapa lagi yang belum datang?"


"Kita lagi nunggu Pak Iyan sama Putra."


"Oh."


Sembari menunggu kedatangan sang pelatih, mereka menyibukkan diri terlebih dahulu ke dalam dunia maya.


Makanan yang dipesan telah dihidangkan di atas meja. Rara yang memang perutnya sedari tadi telah membunyikan alarm untuk diisi pun lantas langsung melahapnya dengan rakus.


"Pelan-pelan Ra," nasihat Gabriel yang menatap istrinya itu yang makan seperti orang yang tak makan berhari-hari.


"Gabriel, Rara kan lapar. Lagian ini juga buat anak kamu,"  ujar Rara yang masih melanjutkan melahap soto ayam.


Gabriel menghentikan paksa Rara lalu meraih wajah Rara dan diputarnya menghadap dirinya. Ia mengambil tisu di meja dan menglap kan ke sisi bibir Rara yang belepotan.


"Lain kali jangan kaya gini."


"Iya Gabriel-nya tersayang. Mending Gabriel makan soto di mangkuk itu aja entar keburu dingin lagi."


Revan yang sedari tadi menatap interaksi hangat Rara dan Gabriel mengepal kan tangannya di bawah sana. Sudah dari tadi dadanya membara dan hendak menghentikan kemesraan mereka.


"Lo kenapa Van? Lo cemburu liat mereka?"


"Sorry gue juga punya pacar. Nggak level gue cemburu dengan mereka Gus."


Padahal di dalam hati Revan dia benar-benar sangat cemburu melihat interaksi kedua pasangan tersebut tapi dia gengsi untuk mengakui itu.


Waktu terus berjalan hingga sang pelatih serta Putra kini telah hadir. Semuanya membahas dengan begitu serius ketika menjelaskan strategi saat di perempatan final nanti.


Rara bosan mendengarkan ucapan mereka pun tak menyadari jika perlahan matanya menutup dan kepalanya jatuh ke pundak Gabriel. Gabriel yang sibuk menjelaskan idenya pun terkejut.


Ia menatap sekilas lalu mengusap rambut Rara dan mencium kening perempuan itu sebelum lanjut menjelaskan. Saat yang lain tengah fokus kepada penjelasan ide dari Gabriel namun berebeda dengan Revan yang fokusnya pada Rara yang tertidur di pundak Gabriel.


"Nikmati saja waktu kalian sebelum aku menghancurkannya."

__ADS_1


_______


Tbc


__ADS_2