
Di dalam kamar dengan dipenuhi warna kuning, seorang perempuan terbaring seraya mencengkeram perutnya yang teramat pedih. Sudah dari pagi tadi kondisinya seperti ini, namun sampai sekarang perutnya pun tak kunjung sembuh.
Sudah berbagai macam obat ia konsumsi untuk menghentikan sakit di perutnya itu, tapi satu obat pun tak ada membawanya ke jalan kepulihan.
Jangankan berkurang tetapi sakit itu semakin menjalar ketika ia memakan obat-obatan. Cilla terus merintih di kamarnya tanpa orang ketahui.
Ia sengaja menyimpan penderitaannya tersebut dari banyak orang. Di rumah ini hanya ada dirinya bersama bibi Kiran.
"Akhh kenapa perut ku tak berhenti sakit?" Tanya Cilla dengan lemah. Air mata mengenang di sudut matanya menahan segala sakit yang membelit di dalam perutnya.
Cilla merasakan jika isi perut nya seperti sedang diaduk-aduk. Begitu menyakitkan ketika ditambah mual yang tak beralasan, padahal Cilla sama sekali tidak ada memakan makanan yang tidak higenis.
"Nggak mungkin kalau aku salah makan."
Cilla meraih ponsel di bibir ranjang. Tangannya susah untuk bergerak ketika ia hendak menjangkau ponsel yang sedikit jauh itu. Namun dengan usaha tanpa menyerahnya, Cilla pun berhasil.
Dibukanya layar ponsel tersebut dan masuk ke dalam aplikasi Google. Ia pun mengetikkan segala keluhannya di Google pencarian untuk mengetahui sakit apa yang sedang ia alami.
Seketika mata Cilla langsung membulat saat melihat artikel paling atas. Artikel tersebut membahas tentang kehamilan. Cilla refleks menjatuhkan ponsel dari tangannya dan menangis tersedu-sedu.
"Nggak mungkin. Ini semua nggak mungkin, pasti bohong."
Tapi jika diingat-ingat Cilla memang sudah beberapa hari ini telat. Ia semakin menangis ketika menyadari itu. Dia takut apa-pun yang ia khawatirkan kemungkinan besar akan terjadi sebab bukan hanya sekali ia melakukan itu bersama Revan, tapi sering kali.
"Nggak aku nggak boleh sedih dulu. Bisa sajakan itu salah sebelum dibuktikan?"
Cilla berusaha mencari alasan agar dirinya bisa lebih tenang. Walau tetap ia terus beralasan tapi tak dipungkiri juga ia selalu terbayang-bayang dengan artikel dibacanya tadi.
Cilla harus memberitahu perihal ini pada Revan. Lantas dia langsung mencari kontak Revan di handphone nya dan menyambungkan telepon pada prianya.
"Halo ada apa sayang?" Tanya Revan di seberang sana.
Perlahan bibir Cilla tersenyum karena mendengar suara kekasih paling dicintainya itu.
"Revan kamu bisa ke rumah aku nggak?"
"Kenapa?"
"Aku sakit perut Van dan mual-mual. Aku takut kalau aku hamil. Kamu ke sini terus beli test pack nanti."
"Nggak mungkin La. Aku nggak pernah kebablasan. Mungkin kamu masuk angin."
"Van apa salahnya kalau kita cek dulu? Gimana kalau kita baru tau pas perut aku sudah besar?"
"Oke, oke aku ke sana."
"Aku tunggu."
"Hm."
Cilla menangis setelah sambungan teleponya dengan Revan terputus. Mengapa masalah datang kembali semantara masalah yang pertama belum selesai.
"Apa salah ku Tuhan?" Lirih Cilla sembari meraih bantal gulingnya dan dipeluk.
Cilla sama sekali tidak bisa bergerak baik hanya bangun dari baringnya. Sesuatu di dalam perutnya terus mendorong Cilla untuk dikeluarkan. Ia mual tapi dia tidak mungkin muntah di atas kasur.
Perlu beberapa menit Cilla menunggu kedatangan Revan. Hingga sempat ia tertidur pulas, namun kenyamanannya tertidur tersebut harus terganggu dengan sesuatu yang menusuk di dalam perutnya.
"Hiks, hiks..... sakit. Revan ke mana? Kenapa dia lama sekali?"
Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya dan tepat pada saat itu Revan datang dan membuka pintunya. Ia berjalan menghampiri Cilla yang belum sadar dengan kehadirannya.
Ia duduk di kasur hingga mengakibatkan suara bunyian yang membuat Cilla cepat sadar kalau Revan telah sampai.
"Revan."
__ADS_1
"Hm. Ini aku bawakan yang kamu minta."
Cilla menatap nanar pada alat pentes kehamilan itu. Jika benar ia hamil apakah Revan akan bertanggung jawab?
"Van aku nggak bisa bangun. Gimana caranya aku mau tes."
"Biar aku gendong."
Revan mengangkat tubuh Cilla yang ringan tersebut menuju toilet. Ia membawa masuk Cilla dan di dudukkan pada tempat pembuangan kotoran.
"Aku tunggu di luar. Kalau ada apa-apa cepat panggil aku."
Cilla menurut dengan mengangguk patuh. Ketika Revan telah keluar ia pun mulai melakukan tes tersebut.
Menunggu beberapa menit bagi Cilla bagaikan menunggu beberapa tahun. Wajahnya diliputi kecemasan yang sangat tinggi.
Saat hasilnya telah keluar, Cilla pun memberanikan dirinya untuk melihat pada alat tes kehamilan tersebut. Sontak kedua matanya langsung berair ketika melihat dua garis di sana.
"Nggak!!!! Nggak ini pasti salah. Nggak mungkin, hiks-hiks-hiks!!!"
Cilla terduduk bahkan telah terbaring di lantai toilet dengan meringkuk. Ia menangis sekencangnya menangisi nasib ini.
Revan yang mendengar jeritan Cilla pun langsung masuk ke dalam toilet. Ia kaget saat melihat Rara yang terbaring lemah. Segera ia menghampiri dan meletakkan kepala Cilla di pangkuannya.
"Cilla kamu kenapa sayang?"
"Hiks-hiks-hiks Revan ini." Cilla memberikan alat tes kehamilan tersebut pada Revan.
Revan terdiam dan tidak pula mengeluarkan relasi berlebihan. Ekspresi Revan sekarang ini sangat susah ditebak.
"Kamu senang aku mengandung anak kamu?" Tanya Cilla pada Revan yang sedari tadi hanya menatap kosong pada dua garis di test pack.
"Gugurkan!" Ujarnya ketus tak bernada lembut.
"Maksud kamu apa? Ini anak kamu Van! Kamu tega gugurkan ini?"
"Apa kamu tega membunuh anak muda sendiri Van? Kamu bilang ke aku kamu bakal tanggung jawab."
"Cilla stop aku lagi pusing kamu jangan bicara terus!!!"
"Van kamu bentak aku?" Cilla tidak menyangka dengan perubahan Revan ini.
Selama ia berpacaran dengan Revan tapi baru kali ini ia dibentak oleh laki-laki itu. Sangat menusuk jantung ketika nada tinggi itu keluar.
"Cil maafkan aku. Sebaiknya nanti saja kita membahas ini. Aku nggak tau Cil, kamu juga perlu istirahat."
Revan mengangkat tubuh Cilla tersebut lalu membawanya ke ranjang wanita itu.
_________
"Gabriel kenapa perasaan Rara nggak enak ya?"
"Lho emang kamu kenapa?" Tanya Gabriel seraya membelai pipi istrinya itu.
Rara sedang duduk di atas pangkuan suaminya. Mereka belajar untuk mempersiapkan UTS.
"Nggak tau," jawab Rara apa adanya.
Ia kembali melanjutkan menulis soal yang diberikan oleh Gabriel. Semantara pria tersebut melihatkan Rara dari belakang sambil memeluk perut istrinya.
Sesekali Gabriel menjahili Rara hingga perempuan itu gagal fokus mengisi soal yang padahal mudah namun jika Rara yang mendapatkan soal itu maka semuanya akan menjadi rumit.
Gabriel gemas dengan tingkah istrinya tersebut. Ia terus menciumi rambut Rara hingga ke tengkuk. Ia menggigit tengkuk tersebut hingga menciptakan karya berwarna merah alias Kiss mark.
"Gabriel jangan gigitan leher Rara terus. Geli tauk." Bukan Gabriel jika ia akan menuruti permintaan Rara.
__ADS_1
Justru laki-laki tersebut makin gencar menyentuh tubuh Rara terutama di bagian-bagian paling sensitif. Rara melenguh namun ia berusaha menahan serangan Gabriel.
Pokoknya ia tidak boleh salah mengisi soal sebab jika ia salah maka ia akan mendapatkan hukuman harus melayani laki-laki mesum itu semalaman.
Rara menggigit bibirnya ketika melupakan rumus fisika yang ia pelajari untuk soal terakhir ini. Jika satu pun salah maka ia akan tetap mendapat hukuman.
"Kenapa diam?" tanya Gabriel sembari meletakkan dagunya di pundak Rara.
"Nggak papa kok. Rara cuman lupa rumusnya. Kasih tau dong apa rumusnya. Gabriel kan baik sama Rara?" Rara merayu Gabriel dengan menarik turunkan alisnya.
Gabriel menyeringai melihat derita Rara. Sampai kiamat pun dia tidak akan membantu Rara karena jika Rara tidak bisa maka akan membawa keberuntungan untuknya.
"Nggak akan baby. Nggak mungkin aku membantu mu dan membuang kesempatan emas."
"Dasar suami lakn*t!"
"Apa kamu bilang sayang?" tanya Gabriel serius dan membalik paksa Rara.
Rara bergeming dan membuang wajahnya. Namun Gabriel memutar wajah Rara hingga Rara bertatapan langsung dengan Gabriel dengan jarak yang sangat dekat.
"Kamu mau aku cium sampai kamu nggak bisa napas?"
Rara lekas menggeleng dan memberikan tatapan memohonnya pada pria tersebut agar ucapan yang dikatakan tadi dapat dimaafkan.
Ternyata Gabriel lebih kejam dari yang dia bayangkan. Gabriel menampakkan sikap biasanya dengan mencium dan ******* bibir perempuan itu hingga Rara benar-benar tak bisa bernapas.
Ia meronta namun Gabriel hanya memberikan beberapa detik saja untuk Rara mengambil napas dan kemudian menyerang bibir Rara dan mendorong tubuh perempuan itu hingga terbaring di atas kasur.
Ketika Rara hendak mendorong dada laki-laki itu, sigap Gabriel mencekal kedua tangan wanita itu. Rara terlihat pasrah dan Gabriel terus menciumi leher Rara. Dan tangannya pun terus menjelajahi seluruh tubuh Rara.
Namun Rara merasakan perutnya sangat sakit seperti dililit dengan tali tambang yang besar.
"Ga-Gabriel henti....hentikan. Akhh."
Gabriel mendengar nada kesakitan Rara pun lantas menghentikan perbuatannya.
"Kamu kenapa Ra?"
"Nggak tau. Tapi perut Rara sakit banget hiks."
Rara mendorong tubuh Gabriel yang menindih tubuhnya lalu berlari cepat ke toilet. Di sana ia memuntahkan isi perutnya.
"Hoek hoek hoek!!"
Rara terus mengeluarkan carian putih dari mulutnya. Gabriel yang di belakang terus memijat tengkuk Rara.
"Kamu kenapa sih Ra?"
"Nggak tau. Tapi Rara merasa perut Rata seperti dicabik-cabik terus kepala Rara juga pusing."
Gabriel curiga dengan yang disebutkan Rara. Entah kenapa ia langsung teringat mamanya yang hamil kemarin.
"Jangan-jangan kamu hamil sayang?"
"Nggak mungkinlah. Ngacok kamu!" Rara kembali membelikan tubuhnya untuk memuntahkan carian kental dan putih.
"Bisa aja, kan kita hampir tiap malam lakuin itu?"
Rara kembali berbalik menatap Gabriel. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca menahan tangis.
"Huaaaa Gabriel sih terus maksa Rara tiap malam!! Kan, jadi begini. Rara nggak mau jadi mama muda!!! Huaaa hiks."
"Yah maaf. Tenang duluan deh, belum tentu benar. Besok kita ke rumah sakit."
Rara memeluk Gabriel dengan manja dan menangis di dada bidang laki-laki itu. Semantara Gabriel mengusap surai Rara hingga perempuan itu tertidur di dalam peluakknnya, mungkin akibat kelelahan.
__ADS_1
_______
Tbc