Underage Marriage

Underage Marriage
Part 30


__ADS_3

Rara meraih kain berwarna hitam di atas nakas dan menentengnya di depan Gabriel. Senyumnya begitu lucu membuat Gabriel yang menyadari ada keanehan dengan Rara pun mengernyit tak nyaman.


"Kenapa?"


"Buat nutup mata Gabriel lah?"


Gabriel berkedip mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rara barusan. Mulutnya melebar ternganga, dan dengan rasa penasarannya pun Gabriel menuntun tangannya untuk menyentuh kening Rara.


"Nggak panas?"


"Emang Rara nggak sakit."


"Terus buat apa mata aku ditutup segala?"


Rara menghembuskan napas dengan pertanyaan Gabriel tersebut. Ia menatap Gabriel dengan tatapan memelas nya yang berhasil membuat Gabriel merasa bersalah kepada istri kecilnya itu.


Lantas Gabriel langsung meraih kain hitam tersebut dan ingin dililitkan di matanya, namun Rara cepat mengambil kain tersebut dengan senyuman.


"Katanya mata aku mau ditutup?"


"Biar Rara aja yang pasangin." Rara pun mengambil kain tersebut, dan tak sengaja ia mendengar hembusan napas Gabriel yang terkesan kasar. Hal tersebut tidak membuat Rara berhenti tetapi malah tersenyum dengan jahilnya. 


Gabriel hanya terpaksa mengiyakan ucapan Rara agar wanita itu tak menangis seperti di sore hari tadi. Sungguh repot menenangkan Rara yang menangis dan ekspresinya melebihi seorang bayi.


Di sore tadi Rara kukuh memaksanya untuk menemani perempuan itu ke salon. Gabriel tidak mau menurutinya karena malu sebab ia seumur-umur belum pernah ke salon. Ibunya pun jarang ke sana.


Penolakan yang diajukan Gabriel pun lantas menjadi topik hangat bagi Rara untuk menangis, mengamuk, dan berguling-guling di lantai, persis seperti bayi.


Namun di sore itu Gabriel juga terhibur dengan perbuatan Rara. Bagaimana ia tidak terhibur? Rara sungguh imut dan cantik jika menangis seperti itu.


"Buat apaan sih Ra? Hari sudah malam tauk! Sudah mau jam dua belas ini Ra. Kamu ini ada-ada aja," keluh Gabriel yang tak digubris oleh Rara.


Rara hanya memasang wajah menyebalkan ketika Gabriel menggerutu, tentu saja wajah Rara pun menjadi alasan Gabriel untuk mengumpat.


Ia melilit kan kain hitam tersebut ke mata laki-laki itu, hingga Gabriel sama sekali tak bisa melihat. Untuk memastikan Gabriel tak dapat menerwang, lantas Rara mengacungkan jarinya membentuk angka.


"Ini berapa?" Tanya Rara di depan Gabriel.


"Nggak tau lah Ra, aku kan nggak bisa lihat."


"Kalau gitu Gabriel nggak bisa ngintip dong," ucap Rara sumringah dan berjalan menuju punggung Gabriel. "Jalan, biar aku yang nuntun kamu."

__ADS_1


Gabriel pun hanya bisa menurut dan berjalan ke arah pintu keluar dan dibantu Rara yang menuntun jalannya dari belakang. Rara bak tukang parkir yang menertibkan kendaraan di tempat parkir, ia begitu apik membantu Gabriel berjalan.


Gabriel hanya menurut saja agar keselamatannya selama menuruni tangga tetap terjaga. Sebenarnya laki-laki itu pun merasa heran kenapa Rara membawanya ke arah halaman rumah.


Tak


Bunyi sekalar di hidupkan hingga Gabriel bisa menebak lampu yang semulanya padam kini telah terang menderang. Dikiranya akan berhenti di sini saja, tapi ternyata dugannya salah besar. Rara tetap menuntunnya menuju pintu utama di rumah ini.


"Kamu mau bawa aku ke mana sih Ra?" Tanya Gabriel heran.


"Diam aja napa? Ikutin aja Rara, tenang aja Gabriel pasti aman sama Rara."


Keyakinan yang dinyatakan  Rara membuat Gabriel sedikit lega. Walau masih saja terselip rasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh perempuan itu, namun setidaknya sebentar lagi ia akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Lama nggak sih Ra?" Gabriel tebak ia saat ini telah melewati pintu utama dan telah berdiri di depan teras.


"Sebentar lagi."


Gabriel pun hanya menarik napas ketika kembali berjalan. Ia terus melangkah melewati satu demi satu tapak tanah, hingga suara dari Rara yang menyuruhnya berhenti membuat Gabriel menghentikan jalannya.


Gabriel yang hanya mengenakan pakaian tipis itu pun meremang ketika angin malam menghembus begitu teraturnya. Rasa dingin menggerogoti Gabriel, tapi ia berusaha menahannya.


"Sekarang Rara buka ya penutup matanya." Rara dengan cekatan membuka kain yang menutupi mata suaminya.


Gabriel menatap Rara dengan pandangan terkejutnya, sedangkan Rara tersenyum manis kepada suaminya itu. Tidak sampai di situ, Gabriel pun mengedarkan matanya ke samping untuk memperhatikan sekitar. Kini matanya makin membola kala melihat ada Arsen, Nisa, Cilla, dan adiknya.


"Ada acara apa?" tanya Gabriel seperti orang lemot yang rupanya belum menyadarinya.


Yang lain hanya terkikik geli mendengar pertanyaan pria tersebut dengan wajah tampak kebingungan, ia terlihat sangat imut di depan semua orang.


Rara hanya tersenyum dan berjalan ke arah bagasi tersebut seraya mengambil kueh ulang tahun yang berbentuk hati dan terukir kalimat HAPPY BIRTHDAY MY LOVE.


Rara menyuruh pria itu agar menipunya, Gabriel yang masih bengong pun menggaruk kepalanya dengan masih kebingungan. Namun sedetik kemudian ia baru menyadari hari ini hari apa. Ia tersenyum kepada semua keluarganya, yang memberikan selamat ulang tahun untuknya.


"Happy Birthday Abang." Itu adek nya yang datang mendekatinya lalu memberikan kecupan di pipinya. Ia tersenyum bahagia lalu mengusap kepala sang adik penuh kasih.


Begitu pula yang dilakukan Cilla serta kedua orang tuanya sembari memberikan kado ulang tahun untuknya.


"Gabriel, ayok tiup lilinnya," instruksi Nisa pada anak sulungnya tersebut.


Gabriel pun menghadap Rara yang tengah memegang kueh ulang tahunnya itu dan meniup lilin tersebut. Ketika api di lilin padam seketika itulah suara riuh menyeruak berupa tepukan tangan dan nyanyian.

__ADS_1


Air mata yang sedari tadi ingin meluruh kini keluar dengan seketika menambah haru suasana, ia melihat ke arah bagasi mobil yang penuh dihiasi dengan balon-balon serta ucapan selamat ulang tahun. Ini semua bagaikan mimpi. Namun ia harap ini benar-benar nyata.


Gabriel memotong kueh ulang tahunnya lalu memberikannya satu per satu ke anggota keluarganya. Terakhir ia memberikan kepada Rara.


Laki-laki tersebut tersenyum sebelum memberikan sepotong kueh ke mulut Rara. Rara memakan kueh tersebut dengan senyum yang sumringah.


Melihat Rara tersenyum pria itu pun turut mengembangkan bibirnya. Tangannya terangkat untuk membersihkan bekas kueh di sisi mulut Rara. Rara yang mendapatkan perlakuan tersebut pun tampak tersenyum malu.


"Makasih," ungkap Rara pelan.


Namun Gabriel langsung menarik tubuh kecilnya dan memeluknya. Air matanya makin menderai, dan tangannya terangkat membelai rambut halus milik Rara.


"Makasih untuk semuanya." Gabriel menyudahi pelukan mereka lalu mengecup puncak kepala wanita itu.


"Ciehhhh.. selamat hari jadi Gabriel," ucap Cilla penuh dengan senyum manisnya yang memecahkan suasana haru serta tampak romantis tersebut.


Rara dan pria di samping nya tersebut Kompak menatap Cilla lalu tersenyum malu-malu.


1 Jam kemudian


Rara dan Gabriel sudah ada di depan pintu kamar, mereka masuk berdua dengan Gabriel yang menggendong Rara di pundaknya. Sesampainya di kamar, Gabriel langsung menghempaskan Rara di kasur empuk.


"Gabriel ihhh sakit tau Rara nya." Rara mengerucutkan bibirnya yang membuat anak itu menggemaskan.


Gabriel yang tak tahan melihat pipi tembam tersebut langsung menggigitnya yang makin membuat lenguhan dari wanita itu.


"Kenapa?" tanya Pria itu cekikikan melihat wajah marah Rara, "Kamu belum kasih aku kado."


Rara yang semula memalingkan wajah pun menatap pria itu kesal, namun beberapa detik setelahnya ia tersenyum jahil dan menarik Gabriel mendekat serta duduk di pangkuan pria itu.


Gabriel yang melihat tindakan dari Rara tersebut menatap heran. Namun ia semakin dibuat kaget dengan ciuman liar dari wanita itu. Mata Gabriel tampak membulat tak percaya.


"Ra sudah Ra, aku nggak mau kelepasan."


Tapi wanita itu tetap tidak menggubrisnya dan malah menjilati telinga pria tersebut.


"Oke Ra, aku nggak akan berhenti, kamu yang memulainya duluan."


_______


TBC

__ADS_1


Ngab???


__ADS_2