Underage Marriage

Underage Marriage
Part 36


__ADS_3

Cilla menangis di sudut ruangan sekolah. Rambutnya terlihat acak-acakkan akibat dirinya sendiri yang terus-terusan menjambak. Ia terduduk di sana, suara raungannya begitu keras hingga memecahkan keheningan.


"Kenapa? Kenapa Revan harus berantem lagi dengan Gabriel? Aku bingung harus membela siapa ya Allah? Keduanya adalah orang yang aku sayangi."


Cilla memeluk lututnya sendiri seraya menangis histeris. Beruntung di sudut ruangan ini hanya ada dirinya. Ia tidak berani masuk ke dalam ruangan Revan karena ia tidak sanggup melihat orang dicintainya tersebut dalam keadaan menggenaskan dan begitu pula dengan Gabriel.


"Hiks, hiks, hiks." Suara tangisan Cilla mengundang rasa takut dan ngeri orang-orang yang tak sengaja mendengarnya. 


"Apa sebenarnya penyebab Gabriel dan Revan itu musuhan?"


Pertanyaan itu sudah muncul semenjak dia pertama kali melihat Revan dan Gabriel terjadi adu mulut di lapangan basket, namun ketika ia tanyakan apa masalahnya Revan sama sekali tidak menjawab.


"Apa ada rahasia di antara mereka makanya aku nggak dikasih tau? Rara tau nggak ya masalah ini?"


Cilla hanya bisa bertanya dalam diamnya. Bibirnya kelu setiap hendak mempertanyakan itu pada Gabriel. Entahlah apa yang membuatnya selalu begitu. Ia meresa Gabriel seperti sengaja menghindar darinya akhir-akhir ini. Ia tidak tau apa penyebabnya.


"Gabriel jarang menghubungi ku semenjak menikah dengan Rara. Kenapa bisa begini? Apa Gabriel sengaja menghindari ku karena Rara yang menyuruhnya? Atau Gabriel sengaja memberi jarak karena dia merasa tidak enak dengan Rara."


Cilla tak pernah kesampaian berpikir jika hidupnya seperti ini. Ia berharap tidak ada masalah yang rumit setelah ini. Ia sangat mencintai Revan dan apa pun permintaan Revan selalu dipenuhinya.


Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya hingga Cilla mengangkat kepalanya menatap rupa orang tersebut.


Cilla seperti mengenali wajah tersebut. Ia seakan pernah bertemu, tapi di mana?


"Lo lupa sama gue?" Tanya Reza seraya mengulurkan tangannya dengan maksud mengajak Cilla kembali bangkit. Cilla tak bergeming, tapi tatapan matanya begitu intens ke uluran tangan Reza. "Nggak usah takut, gue orang baik kok."


Tangan Cilla terangkat ragu-ragu, kemudian menyambut uluran tangan Reza. Digenggamnya tangan tersebut walau jemarinya bergetar.


Perlahan ia mengangkat berat badannya. Sungguh berat terasa sebab Cilla masih trauma dengan kejadian di luar dugaanya. Namun Reza tak sanggup melihat Cilla yang lemah seperti itu lantas membantunya berdiri.


Ketika tegap, Reza pun membenarkan rambut Cilla yang acak-acakkan tersebut dan disisirnya menggunakan jari tangan.


"Lo kenapa di sini sendirian? Lo itu yang nolong Rara kemarin, kan?" Tanya Reza.


Kini Cilla mengerti mengapa ia merasa pernah melihat Reza. Ternyata Reza adalah salah satu sahabat Rara waktu itu.


"Ya aku ingat."


"Bagus deh kalau lo ingat. Tapi kenapa lo nangis sendirian di sini. Sumpah seram, kira gue kuntilanak tadi."


Cilla terkekeh pelan mendengar lelucon Reza menganiaya. Semantara Reza menatap takjub pada Rara yang tertawa hingga menampakkan giginya yang putih.


"Aku sedih aja, Revan sama Gabriel berantem."


"Emang kenapa lo sedih?"

__ADS_1


"Revan itu pacar aku sedangkan Gabriel sahabat aku dari kecil. Aku nggak bisa di situasi ini."


Reza tercengang ketika mendapatkan kejutan baru di siang bolong. Jadi Revan si laki-laki  Brengs*k itu pacaranya Cilla, sedangkan Gabriel adalah sahabatnya. Wow sungguh menakjubkan.


Cilla menatap heran pada Reza yang terdiam setelah mendengar penjelasan darinya. Kemudian, Cilla pun menghela napas dan melambaikan tangannya di depan Reza, menyadarkan cowok itu.


"Jadi lo pacaran sama Revan?" Tanya Reza to the point.


Cilla mengangguk dan Reza menarik napas gusar. Ia menepuk kepalanya seraya menggeleng. Kenapa bisa Cilla wanita secantik ini masuk dalam perangkap Revan.


"Mending lo jauhi Revan."


"Lho kenapa? Emang kenapa dengan Revan? Dan kenapa juga aku harus jauhi dia. Aku cinta sama Revan. Jangan ngasal bicara kamu buat jauhi Revan." Cilla benar-benar marah mendengar itu. Bagaimana mungkin orang yang baru dikenalnya tiba-tiba menyuruhnya untuk menjauhi pacaranya sendiri?


Sungguh keterlaluan Reza. Ia sampai kapan pun tidak akan pernah memutuskan hubungan dengan Revan apa pun yang terjadi. Cilla menangis membayangkan dirinya hidup tanpa Revan, semantara hal paling berharga ia serahkan pada Revan secara cuma-cuma.


"Sekali lagi kamu ngomong begitu, aku bakal benci sama kamu."


"Tapi Cilla lo itu cuman dijadikan mainan sama Revan. Revan nggak sebaik lo pikiran. Dia itu jahat, licik. Lo jangan mau sama dia," tegas Reza kepada Cilla.


Cilla menggeleng, air matanya terus merembes membuat permukaan wajahnya dipenuhi dengan air mata yang lengket.


"Jangan asal ngomong kamu tentang Revan. Revan itu orang baik. Seharusnya aku itu curiga sama kamu. Kamu orang baru di hidup aku dan tiba-tiba menyuruh aku menjauhi Revan. Dasar nggak tau malu kamu."


Cilla pergi setelah mengucapkan kata-kata tersebut. Sedangkan Reza terpaku menatap kepergian Cilla. Cilla benar-benar membencinya. Ternyata benar kata pepatah, kalau sudah cinta apa pun dibutakan.


______


Langkahnya yang tegap mengundang takut bagi setiap orang dilewatinya. Semantara Nisa, ia menatap takut ke arah suaminya yang dalam kondisi seperti itu.


"Mas sabar. Mungkin ada alasan mengapa Gabriel jadi berantem." Itulah yang dikatakan Nisa terus menerus berharap Arsen dapat mengontrol emosinya.


"Nisa tapi ini masalahnya Gabriel membawa pisau dan ingin menikam Revan. Bagaimana aku mau tenang sayang."


Nisa akhirnya mengambil tindakan menyerah. Percuma saja melawan suaminya yang keras kepala itu, sampai air liur menetes pun Arsen tidak akan mendengarkannya.


Setibanya di depan ruang UKS, Arsen berdiam sejenak untuk mempersiapkan kata-kata ceramah guna menasihati anakanya tersebut.


Ia menarik napas lalu meraih gagang pintu, kemudian mendorong pintu tersebut hingga tampaklah pemandangan dari dalam. Seketika mata Arsen membulat dan cepat menutup pintu tersebut kembali.


"Ada apa?" Tanya Nisa penasaran dengan reaksi suaminya itu.


Wajah Arsen memerah padam ketika melihat pemandangan di dalam yang begitu membuatnya langsung membatu di tempat.


"Kenapa sih?"

__ADS_1


"Itu anak mu di dalam...."


"Kenapa dengan Gabriel?" Rasa was-was yang sudah menyelimuti Nisa pun lantas membuat ia langsung membuka pintu tersebut.


Sedetik kemudian ia sama terkejutnya dengan suaminya. Refleks Nisa langsung menutup pintu kamar itu hingga membuahkan suara kencang.


Gabriel yang di atas Rara pun segera menjauh dari sana. Ia duduk di samping dengan wajah tak kalah memerah. Mereka tadi sedang berciuman panas.


"Cepat pakai baju kamu. Gabriel sih, kan Rara jadi malu," sewot Rasa seraya membenarkan kancing bajunya yang terbuka di bagian atas.


Semantara Gabriel lekas menyambar singlet serta seragamnya, kemudian dikenakan pada tubuh polosnya.


"Siapa yang buka pintu tadi?" Tanya Gabriel sembari mengancingi bajunya.


"Rara nggak tau."


Gabriel hendak menarik napas lega, namun mendengar suara dari balik pintu membuatnya langsung tercekat. Ia mengenali suara tersebut.


"Kalian sudah selesai belum?!!" Teriak Nisa.


Gabriel dan Rara saling pandang, lalu keduanya sama-sama memerah.


"Bunda," lirih Gabriel. "SUDAH BUN!!!"


Nisa dan Arsen yang sudah mendapat lampu hijau itu pun cepat menbuka pintu ruang UKS tersebut dan menghampiri brankar dengan tatapan tajam.


"Apa yang kalian lakukan tadi?" Tanya Nisa menginterogasi.


"Nggak lakuin apa-apa kok Bun."


"Apanya nggak lakuin apa-apa. Papa jelas-jelas melihat kalian ingin melakukan itu. Kalian ini kalau mau begitu sadar tempat."


Gabriel hanya mengangguk pasrah. Lebih baik ia mengakui kesalahannya dari pada mendengar ocehan papannya.


"Lain kali jangan diulangi, badan masih lemah begitu. Untung tadi Bunda sama Papa yang masuk, kalau orang lain bagaimana?" pungkas Arsen kepada kedua pasangan baru tersebut.


"Iya-iya Gabriel salah Pa."


"Bagus kalau kamu mengakui. Oh iya, kenapa kamu bisa berantem dengan pacarnya Cilla? Kamu masih mencintai Cilla?"


Seketika Rara langsung mengangkat dagunya dan menatap Gabriel dengan pandangan penuh tanya.


"Benar itu?" tanya Rara membuat Gabriel langsung memandang perempuan itu.


_______

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, komentar, dan vote.


__ADS_2