Underage Marriage

Underage Marriage
part 41


__ADS_3

Rara sibuk mencari seragam sekolahnya di dalam lemari pakaian. Namun sebuah tepukan di pundaknya membuat kegiatan Rata tersebut terhentikan. Lantas dia pun berbalik dengan kernyitan dalam.


Di liatnya Gabriel yang sedang memandang dirinya dengan pandangan tak dimengerti olehnya. Rara tau jika Gabriel menatap dirinya dengan sedih, tapi Rara tidak tau kenapa Gabriel menatapnya seperti itu.


"Ada apa?" Tanya Rara. Tapi bukan jawaban yang ia dapatkan tapi hanyalah senyum masam yang mewas-waskan perasaan Rara.


Gabriel meraih tubuh Rara yang sedikit lebih besar akhir-akhir ini. Ia mengusap pundak Rara dengan lembut. Rara tidak mengerti dengan sikap yang diberikan Gabriel untuknya ini. Ingin bertanya tapi dia segan, terpaksa Rara hanya mengikuti permainan laki-laki itu.


"Kenapa? Kenapa Gabriel gini? Rara kan mau cari pakaian sekolah, nanti Rara telat lagi."


"Kamu jangan sekolah ya!" Pintanya pada Rara dan Rara tercengang mendengar itu.


"Lho Rara pengen sekolah. Rara kan sudah lima hari nggak masuk. Rara nggak mau absen terus."


Gabriel menarik napas dalam-dalam. Ia benar-benar bingung harus mengatakannya seperti apa. Alasan yang ia berikan setiap Rara hendak bersekolah ia selalu melarang Rara dengan alasan yang sama.


Mungkin kali ini jika dia mengatakan alasan tersebut lagi Rara tidak akan percaya padanya. Gabriel benar-benar merasa sangat bersalah dengan Rara. Ia yang salah karena melanggar larangan bahwa tidak boleh berhubungan sebelum lulus. Ternyata ini akibatnya.


"Gabriel Rara ini sudah sembuh. Lagian Rara juga sudah terbiasa kok dikata-katai mereka. Mereka itu hanya suara kicau-kicauan burung yang menyemangati hari-hari Rara."


Gabriel melepaskan pelukannya pada Rara lalu meletakkan tangannya di kedua pundak Rara. Matanya menyorot tajam pada perempuan itu. Senyuman terpaksa terukir di bibirnya.


"Nggak bisa Ra." Pernyataan singkat, padat itu membuat Rara benar-benar merasa curiga.


"Kenapa nggak bisa? Bukannya Gabriel pemgen Rara pintar? Kalau begitu Biarkan Rara sekolah."


"Pokoknya nggak bisa. Kamu sekolah di rumah aja ya sama Buk Puspa. Aku sudah sewa dia untuk mengajarkan mu."


Rara menggeleng tanda ia menolak penawaran tersebut. Ia tidak ingin sekolah di rumah. Di rumah tidak terlalu ramai yang membuat tingkat bosan Rara semakin naik.


"Maksudnya homeschooling?"


"Hm."


"RARA NGGAK MAU," tegas Rara untuk penolakannya.


"Tapi Ra. Kamu nggak bisa lagi sekolah di sana."


Rara menangis dan memukul dada Gabriel dengan kencang. Kejadian brutal itu berlangsung cukup lama dengan iringan suara Rara yang menangis tersedu-sedu. Dirinya memang dalam keadaan sensitif.


"Jelaskan ke Rara kenapa Rara nggak boleh sekolah." Gabriel diam. "JELASKAN GABRIEL WIJAYA ALTAS!!!!" Teriak Rara histeris yang membuat Gabriel juga ikut-ikutan menangis.


Ia hendak memeluk tubuh Rara dan memeberikan ketenangan pada istrinya itu. Kendati menerima, Rara terang-terangan menolak pelukan Gabriel.


"Jangan peluk Rara sebelum Gabriel jelaskan!!" Rara mundur ketika Gabriel terus melangkah maju untuk merangkuh tubuhnya dan menenangkan dalam pelukannya.


"Ra pliss jangan minta aku jelaskan semuanya karena aku nggak akan bisa Ra. Aku nggak bisa lihat kamu nangis dan kecewa Ra!!"


"Kalau gitu Gabriel harus menjelaskan semuanya kalau nggak mau lihat Rara begini!!!"


Ada mulut pun terjadi cukup nyaring hingga suara pertengkaran tersebut terdengar sampai keluar. Nisa dan Arsen yang berada di ruang tamu pun juga mendengar suara itu. Tapi mereka hanya berdiam diri tidak ingin menambah masalah lagi.


Kembali pada Rara dan Gabriel yang sama-sama mempertahankan ego masing-masing. Gabriel mengusap wajahnya dengan kasar lalu menjambak rambutnya. Rara yang melihat itu tahu betul jika Gabriel frustrasi saat ini.


"Kamu dikeluarkan dari sekolah Ra." Pernyataan itu membuat bumerang bagi Rara.


Rara setengah melotot tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya dengan jelas. Apa katanya dia dikeluarkan dari sekolah? Kenapa bisa? Itulah yang sedang dipertanyakan di dalam benak Rara sambil memperhatikan sekitar dengan pandangan lirih. 


"Hiks-hiks kenapa bisa?" Tanya Rara dengan histeris menuntut jawaban dari Gabriel.


Ditariknya kerah seragam lelaki itu lalu memukuli dadanya yang bidang. Sekeras apa pun Rara melakukan dirinya dengan brutal, Gabriel tetap diam dan membiarkan.


Ia merasa bersalah dengan apa yang barusan saja ia ucapkan. Entah kenapa mulutnya keceplosan begitu saja. Melihat kehisterisan Rara saat ini membuat Gabriel diam dan tak berkutik. Dia tau ini tidak baik dengan Rara tapi ia juga tidak tau harus berbuat apalagi.


"Kenapa Gabriel diam? Kenapa!!" Teriak Rara dengan nada membentuknya.

__ADS_1


Kecewa? Tentu rasa itu tengah menggerogoti Rara. Bagaimana tidak ia merasa kecewa, satu orang pun tidak ada mengatakan jika dia dikeluarkan dari sekolah hingga membuat angan-angan Rara yang untuk memperbaiki prestasinya pun lebur begitu saja.


Dirinya merosot dan mulai paham mengapa ia mendapatkan perlakuan itu dari sekolah. Jelas posisinya sekarang memang tidak memungkinkan terus melanjutkan pendidikan.


"DUNIA MEMANG KEJAM!!! RARA MAU MATI AJA!!!" Teriakan Rara tadi menjadi teriakan terakhir wanita cantik itu sebelum perempuan berbadan dua tersebut jatuh pingsan ke lantai. Tapi belum sempat kepalanya membentur lantai, Gabriel lebih dulu menyambut tubuh Rara dan meletakkannya dia atas kasur.


Di ambang pintu kamar, Nisa yang sedang hamil besar cepat menghampiri Rara. Dia memang sengaja ke kamar Rara dan Gabriel dengan maksud melerai pertengkaran.


"Bun, tolong jaga Rara ya. Gabriel sudah telat ke sekolah."


"Iya. Nggak papa pergi saja."


Gabriel memberikan senyuman pada Nisa lalu mencium puncak kepala ibunya dan disusul dengan puncak kepala Rara.


"Cepat sadar. Aku sayang kamu." Kini Gabriel memberikan kecupan pada bibir Rara.


________


Gabriel mengusap keringat yang meleleh di seluruh tubuhnya menggunakan handuk kecil yang menggantung di leher. Ramai tepuk sorak kegembiraan dari para penonton dan penggemarnya yang melihat latihan basket mereka.


Gabriel sama seperti hari-hari biasanya tidak mempedulikan para perempuan yang menghampirinya dan meminta tanda tangannya.


Dalam hati Gabriel tersenyum mengejek pada mereka sebab mereka adalah salah satu demonstran yang berdiri paling depan untuk memboikot Rara dari sekolah ini.


Tapi ketika usaha mereka telah lancar dengan jalan mulus kini perempuan itu mendekati dirinya seperti tidak memiliki salah.


"Minggir," sentak Gabriel dingin pada sekelompok perempuan yang sedang menghalangi jalannya.


"Gabriel jahat banget sih sama kami. Kami semua kan cuman mau minta tanda tangan lo."


"Gue nggak mau."


"Seharusnya elo tu bersyukur punya banyak fans. Banyak para laki-laki yang ingin berada di posisi lo."


"Gue nggak peduli dan gue nggak akan pernah bersyukur mempunyai fans seperti kalian." Gabriel pergi dari sana dengan mendorong kasar tubuh mereka yang menghalangi jalannya.


Gabriel terus berjalan menuju loker untuk mengambil bajunya yang berada di sana. Tatapan lapar dari banyak perempuan menjadi iring-iringan perjalanannya. Dan tak sedikit pula ia mendapatkan tatapan iri dari banyak laki-laki.


Selama perjalanan menuju loker, Gabriel benar-benar merasa kesepian. Biasanya ada seorang perempuan di sampingnya yang terus berceloteh dan marah kepadanya karena banyak para perempuan yang menatap tubuhnya.


Tapi kini suara perempuan itu raib begitu saja. Tidak ada orang yang bergelenyut manja di tangannya dan tidak ada lagi perempuan bawel yang selalu datang tepat waktu untuk mengajaknya makan.


"Semua gara-gara Revan sialan!!" Maki Gabriel pelan agar orang-orang di sekitar tak mendengarnya.


Gabriel berusaha membuang bayang-bayang Rara yang terus melintas di kepalanya dan mengingatkan ia kembali dengan kebersamaannya di sekolah ini bersama Rara.


Gabriel menarik napas dalam lalu membuangnya kembali. Dia berharap agar mulai terbiasa dengan ketidak hadirin Rara di sekolah ini.


Sampai di depan loker, Gabriel memencet beberapa angka rahasia di dekat tombol loker tersebut hingga pintu loker itu terbuka.


Diambilnya tas serta baju seragamnya di sana. Dia pun kini mengunci lokernya kembali. Gabriel berjalan menuju toilet untuk berganti pakaian.


Semenjak masalah itu menimpa Rara, Gabriel berubah menjadi laki-laki dingin dan sedikit misterius. Banyak orang berusaha mendekatinya namun berakhir sia-sia.


Teman basketnya pun jarang bergaul dengan Gabriel karena memang laki-laki itu sendiri yang berusaha memberikan dinding es pada mereka.


"Eh Gabriel," sapa seorang anak laki-laki berkacamata yang Gabriel tau namanya adalah Rudi.


"Hm."


Rudi agak canggung mendapatkan respons singkat dari Gabriel. Dia menggaruk kepalanya.


"Aku duluan ya."


"Iya." Lagi-lagi Rudi mendapatkan balasan yang begitu singkat. Dia juga anak cupu dan pintar yang kepintarannya setara dengan Gabriel, tapi Gabriel masih tetap unggul dari pria itu.

__ADS_1


Dengan perasaan yang tidak dimengerti oleh Rudi sendiri, cepat-cepat ia pergi dari hadapan Gabriel. Seolah ada tanda bahaya jika ia terus berada di sana.


Gabriel menarik napas kembali lalu masuk ke dalam toilet. Cukup lama ia berpakaian di dalam situ hingga berapa menit kemudian dirinya keluar dengan balutan yang berbeda dengan tadi.


Kini dirinya terlihat lebih segar memang dia sudah membasuh mukanya. Tas ransel ia letakkan di pundak dan keluar dari ruangan toilet.


Saat hendak keluar dari ruangan toilet khusus pria, Gabriel tidak sengaja melihat Cilla yang berlari cepat ke dalam toilet wanita yang berada di samping ruangan toilet pria.


Ia berusaha mengabaikan Cilla tersebut. Tapi sebuah suara membuatnya harus berpikir lagi untuk tak mengabaikan Cilla.


Hoek hoek hoek


Suara muntahan dan semburan carian membuat rasa ingin tahu Gabriel lebih tinggi. Dengan perasaan ragu anatara ingin mengintip Cilla dan melanjutkan jalannya saling beradu.


"Kenapa dengan Cilla? Apa dia sakit lagi?" Tanya Gabriel pada dirinya sendiri. "Apa aku harus ke sana?"


Gabriel berpikir keras hingga suara muntahan itu kembali terdengar dan kali ini suaranya lebih dahsyat dari sebelumnya. Gabriel tidak bisa berpikir panjang lagi dan langsung masuk ke dalam toilet yang diyakininya jika Cilla berada di dam toilet itu.


"Ci-Cilla!" Lidah Gabriel seakan kelu memandang Cilla yang berada di dalam ruangan tersebut dalam keadaan lemah.


Matanya sembab dan hidungnya merah. Dia yakin jika Cilla habis menangis. Di dekatinya Cilla lalu dipeluknya tubuh perempuan itu. 


"Ci-Cilla ka-kam-u kenapa bisa begini?" Tanya Gabriel dengan nada tak teganya.


Cilla yang merasa nyaman dengan pelukan Gabriel pun membiarkan posisi itu berlangsung lama hingga sampai Gabriel melepaskan pelukannya.


"Hey kenapa nangis? Kamu jangan nangis. Cerita ke aku kamu kenapa?" Gabriel dengan perhatian menghapus air mata di wajah Cilla.


Cilla tetap bergeming dan tak pula menjawab. Ia hanya menikmati setiap perlakuan sayang dari Gabriel yang akhir-akhir ini tak pernah didapatkannya dari Revan.


"Kenapa diam La? Kamu masih marah dengan aku?" Gabriel menatap Cilla dengan sedih.


"Ya. Aku marah sama kamu."


"Kenapa La?"


"Karena Om Arsen Revan terluka."


"Maksud kamu?" Gabriel benar-benar tidak paham dengan situasi ini. 


"Jangan pura-pura nggak ngerti deh kamu. Kemarin itu Om Arsen datang ke sekolah dan gebukin Revan. Revan salah apa? Kenapa kalian sampai setega itu nyakitin dia?"


"Kamu serius Cill?" Cilla tak menjawab membuat Gabriel mengerti. Ia mendengus kemudian menatap Cilla dalam. "Revan orang jahat La. Dia nggak benar-benar mencintai kamu La."


Cilla menatap bengis ke arah Gabriel. Kemudian ia tersenyum sinis dan berucap yang membuat Gabriel tak menyangka.


"Persahabatan kita putus. Jangan temui aku lagi!!"


Cilla pergi dari sana dan tidak peduli dengan Gabriel yang terus memohon dan meraih tangannya dan terus berkata maaf padanya. Cilla rasa semua ini telah cukup, ia tidak bisa mempercayai Gabriel jika tidak ada bukti di setiap penyampaian buruk laki-laki itu tentang Revan.


Gabriel menatap Cilla dengan penuh bersalah. Apalagi ia tadi sempat melihat Cilla menyentuh dandanya seperti kehabisan napas. Gabriel tau jika penyakit Cilla kembali kambuh.


"Semoga kamu sadar La, dan bisa melihat kebenarannya."


Gabriel hendak keluar tapi ia tak sengaja melihat handphone Cilla yang tertinggal. Lantas laki-laki itu mengambilnya dan bertepatan itu pula pesan masuk. Tak sengaja Gabriel membaca pesan itu.


Dokter Izha


Cilla, saya sore ini ada urusan jadi cek kandungan kamu diundur besok saja.


Gabriel menggeleng dan kembali menatap pada Rara yang samar-samar dipandangnya. "Cilla hamil?"


_________


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan vote.


__ADS_2