Underage Marriage

Underage Marriage
Part 29


__ADS_3

"Au au... pelan-pelan sayang."


Tampak Gabriel berusaha menahan rasa sakit di tangannya saat Rara mengobati luka yang terukir di telapak tangan laki-laki itu.


"Iya aku pelan-pelan kok sayang." Rara membalas sambil memberikan senyum hangat yang menyelimuti wajahnya.


pelan-pelan Rara mengusap kapas yang sudah ditumpahi oleh obat merah itu ke telapak tangan Gabriel yang terluka. 


"Gimana masih sakit nggak?"


"Masih, tapi nggak sepedih tadi."


Rara mengangguk dan mengambil perban di atas nakas kemudian melilitkannya pada telapak tangan Gabriel. Ia melakukan itu secara berhati-hati agar tidak menyakiti Gabriel jika ia melakukan kesalahan.


Sedangkan Gabriel memperhatikan setiap detail yang Rara lakukan untuknya. Tatapannya begitu serius hingga tak menyadari Rara mengetahui jika ia sedang memperhatikan perempuan itu.


Dan netra Gabriel bertemu dengan netra Rara. Pandangan keduanya menyiratkan makna yang berbeda. Namun kemudian Gabriel memutus tali pandangan mereka dan membuat Rara merasa kehilangan dengan bola mata biru lautan yang mentapnya sayu. 


"Rahasiakan pertengkaran kita tadi dari Papa dan Bunda."


Rara mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Gabriel. Sudah seharusnya pertengkaran yang terjadi tadi menjadi urusan pribadi mereka masing-masing. Mereka sudah dewasa dan sudah bisa mengurus masalah sendiri tanpa bantuan orang tua.


Rara tersenyum melihat tangan Gabriel yang sudah selesai ia obati. Kemudian Rara pun beranjak dari posisinya dan duduk di samping Gabriel sambil memeluk lelaki itu.


Ia juga ikut masuk ke dalam selimut karena udara sangat dingin dan hujan masih turun dengan derasnya di luar.


"Maafkan aku tadi," ujar Gabriel sambil mengelus rambut Rara dengan lembut. Sekekali ia juga menciumi rambut tersebut.


"Hm," gumam Rara pelan.


Keheningan mulai melanda kedua umat berbeda jenis itu. Keduanya merasa enggan untuk berbicara dan betah dengan kebungkaman masing-masing. Namun mereka sangat menikmati dengan posisi saat ini.


Ada rasa lega di lubuk hati Rara ketika masalah yang selalu mengganggu pikirannya terasa berkurang bebannya. Setidaknya Gabriel telah mengetahui masa lalu Rara dan Rara pun juga sudah mengetahui masa lalu Gabriel, inpas bukan?


Rara tersenyum ketika lagi-lagi ia mengingat cara Gabriel memperlakukannya setelah pertengkaran tadi. Rasa bahagia memenuhi dadanya hingga hanya ada jiwa ketenangan yang mengiringi perasaan Rara untuk saat ini.


Lantas dia pun mengeratkan peluaknnya pada dada Gabriel. Merasa sedikit bosan dengan situasi hening pun membuat Rara mendongak untuk melihat wajah tampan milik suaminya itu.


Alih-alih ingin menikmati secara diam-diam, yang ada hanya dirinya yang kedapatan mengamati wajah tersebut. Pipi Rara memerah dalam hitungan detik kala Gabriel tengah memperhatikannya lekat.


"Ra wajah kamu kenapa merah gitu? Kamu sakit ya atau kedinginan?" Goda Gabriel yang membuat rona merah semakin menjadi di pipi Rara.


Sementara Rara hanya menghembuskan  napas kesal. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa melontarkan pertanyaan konyol tersebut. Jelas yang membuatnya seperti ini adalah laki-laki itu sendiri, dasar suami tidak peka.


"Au sakit tauk," keluh Rara ketika sebuah tangan besar mencubit pipinya dan menggigitnya seolah pipi Rara adalah makanan yang paling lezat.


"Gabriel jangan digigit nanti pipi Rara luka."


"Biarin aja. Lagian akutuh gemes banget sama pipi kamu. Salah sendiri sih pipi kamu itu chuby banget, terus pakai merah lagi. Kirain aku tadi itu roti yang selainya stroberi."


Rara memukul dada Gabriel dengan perasaan gemas. Setelahnya ia semakin menelusupkan wajahnya di dada Gabriel. Diam-diam ia tersenyum saat mendengar suara gelak tawa yang dimiliki suaminya itu. Seharusnya Rara marah ketika Gabriel menertawakannya bukan malah tersenyum.


"Gabriel!"


"Hm."


"Kalau misalnya Rara selingkuh, kamu bakal lakuin apa ke aku."


"Tentunya aku kecewa. Tapi jika laki-laki itu pilihan kamu, aku ikhlas melepaskan mu." Gabriel mengatakannya dengan jujur.


"Kenapa nggak marah sama Rara. Gabriel nggak cinta ya sama Rara?"


"Aku cinta banget sama kamu. Tapi jika melihat kamu selingkuh aku juga nggak bisa marah, sebab aku mencintai mu. Aku nggak bisa marah sama kamu Ra."


Rara tersenyum bahagia mendengar ucapan Gabriel yang membuatnya terbang melayang ke atas awan. Rara mengecup bibir Gabriel sekilas lalu membaringkan kepalanya di paha Gabriel.

__ADS_1


Sedangkan Gabriel hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan Rara yang membuatnya sangat gemas dengan perempuan itu. Tangannya diletakkan di kepala Rara dan diusapanya rambut Rara yang wangi stroberi itu.


"Kamu pakai sampo stroberi ya sayang?"


"Iya. Kan, kamu suka sama stroberi."


Tak bisa disembunyikan lagi perasan yang tengah melanda dada Gabriel. Ia sangat senang Rara tidak mempersalahkan dirinya yang menyukai buah itu dan malah membuatnya bahagia dengan setiap tingkah laku Rara.


Mulanya Gabriel sangat takut jika Rara akan membencinya setelah tau apa hal yang paling ia favoritkan selain dari wanita itu. Namun perasangaknya kepada Rara sangatlah salah besar. Rara selalu mendukung apa pun yang ia sukai.


"Oh iya Ra, kamu bilang kamu nolak Revan itu gegara kamu cintanya sama aku. Emang kamu sebelumnya pernah ketemu sama aku ya?"


Pertanyaan Gabriel membuat Rara yang hampir terlelap membuka matanya kembali. Rara menyelami netra Gabriel yang indah baginya itu.


"Iya."


"Di mana?"


Flashback on


Terlihat di taman yang dipenuhi dengan anak-anak yang sedang bermain. Salah satunya ada anak perempuan yang menggunakan rok di atas lututnya dengan rambut dikuncir dua.


Anak tersebut berusaha menunggangi sepeda yang ia geret dari rumah. Iya datang ke sini dengan tujuan untuk belajar bermain sepeda.


"Rara minta ajarin siapa ya? Papa kan kerja, nggak bisa ngajarin Rara."


Rara pun akhirnya memutuskan untuk mencari orang yang bisa membantunya belajar bersepeda, itung-itung menambah teman baru.


"Hey kamu bisa ajarin aku main sepeda nggak?" Rara bertanya pada anak yang mengenakan topi dan mendayung sepedanya.


Saat mendengar seruan dari Rara, lantas membuat anak tersebut berhenti dan menatap Rara sekilas.


"Nggak bisa. Belajar aja sendiri."


Setelahnya anak itu pergi begitu saja membuat Rara mengercutkan bibirnya. Ia menatap jengkel pada anak laki-laki tersebut yang terkesan sombong.


Rara pun akhirnya kembali menggeret sepedanya. Ia belum bisa bersepeda, jadi Rara hanya bisa mendorong sepedanya. Ia juga sangat kesal kenapa dia tidak bisa menangkap pelajaran dengan cepat. Padahal ayahnya sudah sangat sering mengajarinya, tapi Rara belum juga lincah bersepeda.


Rara menatap sekitar dengan mata bulatnya. Ia merengut kala melihat teman-teman sebayanya yang sudah bisa bersepeda sendiri tanpa bantuan.


Pun Rara menatap sepedanya dengan pandangan sedih. Akhirnya ia memutuskan untuk belajar bersepeda sendiri tanpa ada orang yang mengajarinya.


Mulanya Rara baik-baik saja dan mengayuh pedal dengan perasaan gembira. Ia berteriak bahagia dan ikut masuk dalam rombongan anak-anak yang sedang menunjukkan kehebatannya dalam bersepeda, namun saking asyiknya Rara sampai-sampai ia kehilangan keseimbangan dan oleng ke samping.


Semua anak-anak yang ada di sana, sontak langsung berhenti melihat Rara yang terjatuh. Tidak ada niat buat mereka membantu Rara, tapi mereka hanya tertawa gelak.


Sementara Rara air matanya hampir keluar mendengar segala ejekan yang diperuntukkannya.


"Hiks-hiks-hiks, kaki Rara sakit."


Tangis Rara pecah ketika melihat luka di kakinya. Sepeda masih menimpa Rara kecil, hingga menyulitkannya untuk bergerak.


Namun tangis Rara berhenti ketika Rara melihat seorang anak laki-laki dengan wajah tampannya dan juga dingin menghampirinya. Anak itu menjauhkan sepeda yang menimpa Rara lalu mengulurkan tangannya.


"Terima kasih," ungkap Rara dengan senyum bahagia.


Ia sangat gemas dengan hidung mancung Gabriel hingga melupakan kakinya yang terasa pedih. Lantas Rara pun mencubit hidung Gabriel.


"Lucu," kata Rara sambil memainkan wajahnya Gabriel.


Gabriel hanya tersenyum menanggapi. Gabriel kecil pun membantu Rara untuk duduk di tempat teduh. Setelahnya ia menggeret sepeda Rara dan memarkirkannya.


"Sini lihat luka kamu."


Anak laki-laki tersebut pun lantas meniup-niup luka Rara hingga Rara yang melihatnya terperangah.

__ADS_1


"Lain kali hati-hati." Rara mengangguk dan mematuhi ucapan Gabriel tersebut.


Gabriel mengangkat kepalanya hingga mata mereka saling bertemu. Gabriel menghela napas kala melihat ada daun kering yang ada di kepala Rara. Anak itu pun mengambilnya dan otomatis wajah mereka saling mendekat.


"Cantik," puji Gabriel dengan kata-kata polosnya. "Nanti aku janji buat nikahin kamu."


Entah dorongan dari mana sehingga Gabriel bisa mengatakan kata-kata itu untuk Rara. Ucapan tersebut seakan keluar begitu saja dari mulutnya.


Rara yang mendapatkan perlakukan tersebut pun hanya bisa terdiam dan tersenyum. Ia mengangguk mengiyakan ucapan Gabriel tersebut, padahal Rara sendiri tidak tau apa arti kata menikah.


"Gabriel!!!"


Suara teriakan tersebut membuat Gabriel berhenti menganggumi sosok cantik di depannya ini. Ia berbalik dan melihat Arsen yang menjemputnya dengan mobil. Gabriel pun kembali menatap Rara dan tersenyum simpul, Gabriel refleks mencium pipi Rara dan membuat sang empu bersemu.


"Lain waktu kita ketemu lagi."


Setelah pertemuan itu, Rara selalu mengingatnya hingga sampai ia mengerti dengan nama cinta. Saat itu dada Rara berdegup kencang setiap mengingat pertemuan mereka.


Flashback of


"Aku kok nggak ingat ya?"


Rara menatap Gabriel dengan jengkel. Dengan mudahnya laki-laki itu melupakan janji yang ia buat sendiri. Tapi rasa kesal Rara luluh begitu saja. Janji Gabriel yang ia katakan dulu kini telah ditepati.


"Makanya Rara itu selalu kejar-kejar Gabriel dari dulu. Rara itu sayang sama Gabriel. Rara nggak bisa lupain pertemuan itu."


"Terima kasih sudah setia sama aku."


Gabriel lantas mengangkat kepala Rara dari pangkuannya dan di peluknya lah kepala tersebut.


_______


Di dalam kamar hotel yang megah dengan segala artitekstur bentuknya yang kalasik, terdapat dua manusia berbeda gender.


Mereka sama-sama dibalut oleh satu selimut tebal yang menjadi kain satu-satunya yang menutupi tubuh mereka. Kedua insan tersebut saling berpelukan.


"Revan," panggil perempuan itu kepada laki-laki yang tengah memeluknya.


"Hm."


"Cilla takut."


"Takut kenapa?"


Cilla menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis di dada bidang Revan yang tak ada sehelai kain pun melapisinya.


"Gimana kalau papa tau dengan apa yang kita lakukan?"


"Papa mu nggak akan tau," tenang Revan seraya mengusap punggung polos Cilla.


"Gimana kalau aku hamil? Aku nggak mau hamil Van! Aku masih mau sekolah."


Revan membuka matanya yang terpejam sedari tadi. Ia pun menatap mata Cilla yang memandangnya dengan perasaan sayu.


"Aku akan tanggung jawab jika kamu hamil."


"Revan janji?"


Revan tersenyum dan mengambil jari kelingking Cilla lalu menautkan jarinya di sana. Cilla pun menatap jari mereka yang sudah menandatangani perjanjian yang dibuat oleh laki-laki tersebut.


"Sudah tidur lagi. Di luar hujan."


Cilla memejamkan matanya dan memeluk tubuh Revan dengan erat. Sungguh Cilla sangat mencintai laki-laki ini hingga hingga ia rela memberi keperawanannya demi cintanya yang besar untuk pria bernama Revan.


_____

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, komentar, dan vote.


__ADS_2