
Suara berisik dari para siswa memenuhi koridor SMA Kebangsaan. Di antara ramainya manusia terdapat seorang perempuan bernama Rara dan dengan senyum bahagianya ia berjalan sembari membawa bekal makanan dan dua air mineral di tangannya.
Setelah kejadian tiga hari kemarin, kini hubungan Rara dan Gabriel membaik dengan penjelasan lengkap yang diberikan oleh pria itu. Ia percaya begitu saja sebab Rara juga tau Revan memiliki dendam dengan suaminya tersebut.
Perihal tuduhan Gabriel membawa pisau kini telah dibuktikan kalau tudiangan itu salah. Dengan segala bukti dan pengakuan Revan, akhirnya pihak sekolah percaya dengan segala penjelasan Gabriel.
"Lho itu bukannya Cilla ya? Tapi tu anak ngapain duduk di sana."
Rara merasa aneh lantas menghampiri Cilla yang duduk di bangku taman. Ia membungkuk dan melambaikan tangannya di depan wajah Cilla dengan maksud menyadarkannya, namun cewek tersebut tak kunjung sadar.
"Aduh kenapa sih ni Cilla? Kesambet baru tau melamun mulu."
Pada akhirnya Rara pun memutuskan untuk mengguncang tubuh Cilla dan hal tersebut berhasil. Diam-diam Rara menarik napas penuh lega sebab Cilla kembali ke alam nyata.
"Eh kamu Rara."
"Hm. Ngapain lo melamun di situ? Kayak kagak ada kerjaan lain. Gabut lo?"
Cilla menatap Rara terus mengukir senyuman di wajahnya. Rara yang melihat senyuman manis milik perempuan tersebut langsung terperangah.
"Pantas saja Gabriel sangat mencintai Cilla dulu," ungkap Rara melalui batinnya yang membrontak iri dengan kecantikan Cilla.
"Enggak, cuman mikirin sesuatu."
"Apaan tuh?"
Cilla menarik napasnya kemudian melemparkan tatapan pada arah depan dan menatapnya kosong. Ia menggeleng memberi tahu jika Rara tidak boleh mengetahuinya.
"Ish... Cilla lo mah begitu main rahasia-rahasiaan. Nggak seru tau!" kesal Rara kepada Cilla.
"Aku lagi mikirin apa masalah Gabriel dan Revan itu berantem terus. Sampai saat ini, Revan nggak mau kasih tau aku apa masalahnya. Aku bingung Ra mau membela siapa? Revan kemarin nyuruh agar aku menjauhi kamu dan Gabriel. Terus kemarin juga Gabriel telepon aku buat jauhi Revan. Dia maksa aku sampai datang ke rumah cuman suruh aku buat jauhi Revan. Nggak cuman dia Ra, tapi dua sahabat kamu itu iya juga."
Kini Rara mulai paham. Perihal Gabriel memaksa Cilla buat putus dari Revan sudah diketahuinya. Tapi Rara merasa iba dengan Cilla yang menjadi bahan mainan Revan.
"Andai lo tau Cil kalau Revan itu brengs*k!!!" Ingin sekali Rara berkata seperti itu, tapi kalimat tersebut hanya tersampaikan di dalam hati.
"Apa ayang dikatakan Gabriel dengan teman gue itu benar La. Lo emang harus buat jauhin Revan. Dia itu nggak baik, bajing*n," ucap Rara mengundang kemarahan Cilla.
"Ra kamu kok ikut-ikutan seperti mereka sih? Aku kira kamu bakalan nggak kaya mereka, tapi ternyata kamu itu sama aja." Cilla mengucapkan kalimat kecewanya, "Oke aku bakalan jauhin Revan asalkan kamu dapat memberikan aku alasan dan bukti mengapa aku harus menjauhi Revan."
Skak mat, Rara terdiam kaku sebab tidak tau harus mengatakan seperti apa. Ia menatap wajah polos Cilla yang tidak mengetahui apa-apa. Rara merasa tidak tega jika harus memberi tahunnya.
"Kenapa diam? Nggak bisa jawab?" Rara mulai gelisah mendengar pernyataan tersebut, "FINE!! Nggak usah temui aku lagi!"
Cilla pergi meninggalkan Rara seorang diri di bangku taman. Rara berteriak berharap Cilla tidak marah kepadanya.
"Cilla!!"
"Lo nggak tau sih yang sebenarnya seperti apa!!" Teriak Rara namun tak digubris oleh Cilla.
Rara terduduk kembali di bangku taman. Ia putus asa menghadapi masalah ini. Ia berusaha menenangkan dirinya dan kemudian menatap pada bekal serta dua air mineral. Dia harus cepat ke tempat tujuannya semula.
______
Langkah kaki Rara begitu semangat ketika menuju tempat latihan Gabriel di lapangan basket untuk berlatih basket yang mana turnamen akan dilakukan beberapa hari lagi.
Saat sampai di lapangan, kepalanya celengak-celenguk ke sana kemari mencari keberadaan orang yang selalu mengisi hari-harinya.
Senyum Rara terbentuk saat melihat Gabriel yang baru saja selesai latihan melambaikan tangan padanya. Dengan cekatan Rara menghampiri dengan sedikit berlari.
__ADS_1
Namun saking senangnya Rara sampai-sampai ia tidak menyadari jika di depannya ada genangan air bekas hujan lebat tadi malam, alhasil dia pun terpeleset.
"Aaaaa!!!"
Tapi Rara sigap ditangkap oleh Gabriel. Beruntung bekal masih dapat ia pegang, namun sayang kedua air mineral terjatuh ke area lapangan.
Mata keduanya saling bertemu. Posisi Rara berada di pelukan Gabriel. Tatapan mata mereka terputus setelah sekian lama dalam posisi tersebut dan mereka menjadi perhatian orang banyak.
"Untung ada aku sayang, kalau misalnya aku nggak ada gimana? Mungkin kamu sudah jatuh dan ditertawakan. Lain kali hati-hati sayang," nasihat Gabriel seraya membuka lingkaran tangannya pada tubuh Rara. Kemudian ia mengusap kepala Rara.
"Maafin Rara."
"Iya kali ini aku maafin, tapi lain kali jangan ceroboh lagi. Aku nggak mau kamu kenapa-napa."
Rara memerah akibat malu berlebihan. Gabriel selalu membuat hatinya meleleh seperti lilin, beruntung jantungnya masih kuat, jika tidak bisa saja Rara sudah lama masuk rumah sakit karena jantungan setelah digombali suami sendiri.
"Serius Gabriel nggak mau lihat Rara kenapa-napa?" Rara mengangkat satu alisnya menunggu jawaban pria tersebut.
"Yaiyalah aku serius. Aku sayang banget sama kamu Ra!"
Timbul niat nakal di kepala Rara. Mungkin cara ini bisa membuat Gabriel percaya dengan prank nya. Tiba-tiba Rara memegang kepalanya.
"Akhh!!!"
"Kamu kenapa Ra?" Tanya Gabriel begitu panik melihat Rara yang seperti tengah kesakitan.
Rara mencengkeram kepalanya, erangan kesakitan begitu semakin menjadi setiap detiknya hingga orang-orang yang melihat itu lekas menghampiri Rara.
Gabriel tak kunjung mendapat jawaban itu pun lantas menggendong Rara. Merasa prank nya telah berhasil, Rara memukuli dada Gabriel agar ia diturunkan.
"Gabriel turunin Rara!!! Rara nggak papa kok!" Teriak Rara membuat orang-orang yang tadinya panik kemudian menghela napas seraya menggelengkan kepala.
Gabriel yang kesal pun menurunkan Rara dari gendongannya. Wajahnya datar ketika menatap wajah Rara.
"Hm. Ngapain kamu ke sini?" Tanya Gabriel sedikit lembut walau ketus di awal.
Dia tidak bisa berlama-lama marah dengan Rara sebab dirinya sendiri nanti yang akan tersiksa batinnya. Sebut saja Gabriel bucin karena itu memang benar adanya.
Gabriel mengakui jika ia sudah masuk ke dalam perangkap Rara. Dulu saja ia selalu menolak perempuan tersebut, tapi sekarang ia kini hampir gila jika Rara tak bersamanya.
"Rara cuman mau kasih bekal ini buat Gabriel. Tadi subuh Rara diam-diam masak di dapur. Semoga Gabriel suka, tapi nasi gorengnya ada yang gosong. Nggak papa, kan?"
Soal itu Gabriel tidak masalah. Ia malah senang jika Rara membuatkan makanan untuknya, tidak peduli apa betuknya di akhir.
"Nggak papa kok. Aku senang kamu buatin bekal."
Rara tersenyum saat mendengar dari mulut Gabriel sendiri jika pria itu tak menolak makanan yang dibuatnya dengan bumbu penuh cinta. Meski akhirnya tidak maksimal.
"Tapi gimana airnya jatuh. Rara nggak ada bawa air lagi. Bentar ya Rara ke kantin dulu buat beli minuman!"
Gabriel menahan tangan Rara ketika perempuan itu berbalik. Rara mengernyit tapi Gabriel bersikap biasa-biasa saja. Dan dengan santainya ia memungut kedua botol air mineral yang isinya masih utuh.
"Jangan beli yang baru. Ini masih bagus kok. Kita nggak boleh boros. Cuman lecet sedikit kok botolnya, masih higenis buat diminum."
Rara mengakhiri niatnya. Lantas dia pun mengikuti Gabriel yang menariknya ke tempat lebih teduh di bawah pohon yang biasa digunakan para siswa untuk bersantai di tengah padatnya materi pelajaran.
Ketika mereka sampai di tempat tersebut banyak yang memperhatikan kedatangan keduanya. Rara dan Gabriel memang sudah dinobatkan di sekolah ini sebagai pasangan teromantis.
Salah satu menjadi objek banyak siswi adalah Gabriel yang mengenakan pakaian seragam basket yang tidak berlengan hingga menampakkan otot bisep milik pria itu dan ketiak nya yang tidak ada sama sekali ditumbuhi bulu.
__ADS_1
Tubuh Gabriel yang penuh keringat membuat pakaian yang dikenakan pria itu basah dan tercetaklah dada bidang milik laki-laki itu.
Rara mengetahui ke mana tatapan mata para siswi pun mendengus. Ia tidak suka orang-orang menatap Gabriel seperti itu.
"Gabriel kita duduk di sana ya?" ajak Rara menuju meja yang terbuat dari kayu yang letaknya paling di sudut dan akses untuk diperhatikan pun sangat sulit sebab ada pohon besar yang melindungi.
Ia sengaja memilih tempat itu agar mata keranjang para ciwi-ciwi itu tidak terus menatap suaminya. Gabriel pun paham dengan maksud mengapa Rara mengajaknya ke tempat itu.
Keduanya duduk di sana. Rara sebagai ibu rumah tangga pun menghidangkan makanan yang dibuatnya untuk disantap oleh Gabriel.
"GabrielĀ makan sendiri aja ya!"
"Kamu nggak makan?" Tanya Gabriel pada Rara.
"Enggak itu kan Rara bikin buat Gabriel bukan untuk Rara."
Gabriel tidak membantah. Ia mencoba memakamkan nasi goreng tersebut satu sendok. Dikunyahnya makanan itu dan Rara dengan was-was memperhatikan dari samping.
"Enak nggak?" tanya Rara.
"Enak banget Ra." Gabriel kembali memakan satu sendok, tapi kali ini isi di sendoknya begitu banyak.
Ia memasukkan sendok berisi nasi itu ke dalam mulutnya kemudian secara tiba-tiba ia menarik dagu Rara dan menciumnya. Ia memasukkan separuh makanan di dalam mulutnya ke dalam mulut Rara.
"Telan," ucapnya di sela ciuman mereka.
Tidak ada yang melihat hingga Gabriel sedikit leluasa bersama Rara. Setelah makanan keduanya masuk ke dalam perut untuk dicerna, Gabriel pun menyudahi ciuman itu.
"Sekarang mau aku suapin ala aku, atau kamu makan sendiri?" tanya Gabriel dengan seringaian di bibirnya.
Spontan Rara menggeleng, ia tidak ingin disuapi dengan cara seperti tadi.
"Oke oke Rara makan sendiri aja."
Rara memakan basi goreng dengan tempat yang sama dengan Gabriel. Keduanya bercengkerama asyik membincangkan sesuatu yang konyol.
"Oh iya tadi Rara ketemu Cilla."
Gabriel menghentikan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia menatap Rara dengan pandangan tak biasa.
"Kasihan dia, ternyata Revan ngelarang dia buat ketemu kita lagi."
"Revan emang bajing*n. Biasa-bisanya dia menyuruh Cilla buat jauhin aku. Aku ini sahabatnya dan lebih tau Cilla dari pada dia."
Rara menarik napas murung, "Tadi Rara nasehatin dia buat jauhi Revan. Tapi dia malah marah ke Rara. Rara bingung harus lakuin apa? Apa kita kasih tau aja sifat asil Revan?"
Gabriel menggeleng tidak setuju,"Nggak. Aku nggak setuju. Cilla nggak boleh tau gimana Revan untuk sekarang ini. Aku takut Cilla kenapa-napa, Cilla itu punya riwayat penyakit jantung juga seperti papa mu."
Rara terkejut mendengar penjelasan Gabriel tersebut. Pantas saja Cilla sedikit pucat berbeda dengan yang lain.
"Jadi Cilla punya penyakit jantung?"
"Iya. Dia memang punya penyakit jantung dari lahir. Dia lahir dalam keadaan tidak normal dan hampir saja tidak bisa diselamatkan. Dia terkadang juga bisa sesak napas. Kata Tante Sindi Cilla itu di dalam kandungan waktu ingin lahir dia sempat lemas karena banyak terminum air ketuban hingga jantungnya bermasalah."
Rara mengangguk mengerti. Ia merasa kasihan dengan nasib Cilla yang seperti itu. Cilla sekarang benar-benar berada dalam kondisi yang salah.
"Jadi kita simpan rahasia semua ini dari Cilla."
_______
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE.