
Rara berjalan di lorong sekolah sambil memegang kedua tali tas ranselnya. Terdapat lingkaran hitam di matanya yang menandakan jika perempuan itu kurang tidur. Rara pun tampak sangat kesusahan berjalan hingga beberapa kali ia hampir terjatuh.
Lantas keanehan yang terdapat pada Rara pun menjadi sorot perhatian banyak orang. Ada yang memandang aneh dan ada pula hanya biasa-biasa saja.
Rara memang sendirian menuju kelas dan tidak diantar seperti biasanya oleh Gabriel. Saat ia baru saja dipapah keluar mobil oleh Gabriel tiba-tiba ada seseorang menghampiri mereka, katanya Gabriel dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Rara tidak tau apa yang terjadi dengan Gabriel, namun ia hanya menanggapi itu dengan pikiran positif.
"Ishhh sakit banget dah." Rara mengeluh karena merasakan perih yang luar biasa di bagian area pribadinya.
Rara memberanikan diri menatap orang-orang yang tengah memperhatikannya. Ia menelan salivanya sendiri melihat tatapan kurang berteman itu. Entah kenapa Rara merasakan takut jika orang-orang akan beramsumsi yang sesuai ia pikirkan dan dia pun menjadi sasaran empuk sebagai bahan bullyan.
"Kenapa lo liat-liat gue? Gue tau kok gue lebih cantik dari pada kalian? Mau iri ya?" Tungkas Rara yang membuat mereka langsung bergidik geli.
Semantara Rara hanya mendengus dengan reaksi mereka, Rara memang sudah mengetahui ini akan terjadi.
"Pede lu ketinggian!!! Makanya hidup itu jangan mengkhayal," balas seorang siswi dengan nada songongnya yang memancing kemarahan Rara ke level lima.
"Idih gue nggak suka mengkhayal kali, paling situ yang suka ngekhayal. Gue tau kok lo itu benci sama gue gegara gue berhasil dapatin citanya Gabriel. Paling situ yang halu, iri bilang bos!!"
"Wah nyolot lo ya!!"
Perempuan berambut sepundak itu maju dengan emosi yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Ketika tangannya hendak menampar Rara, tiba-tiba Rara lebih dulu menahannya.
"Apa lo? Berani lo sama gue hah?!!" Ancam Rara membuat perempuan yang Rara tidak ketahui namanya itu melepaskan tangannya sendiri dari cekalan Rara.
"Asal lo tau ya gue itu sudah lama mau lenyapin lo dari dunia. Tapi sial gara-gara santet lo berhasil, Gabriel malah lindungin lo!!!"
"Woy ngomong itu di-filter dulu Gann!!"
Perempuan tersebut hanya mencibir dengan memasang wajah mengejek. Matanya memutar dengan malas. Sedangkan mulutnya berkomat-kamit tak jelas.
"Harus ya?"
"Wanjir lo, dasar anak kurang didikan. Anak siapa juga sih lo?!!"
"Wah ngajakin gue gelud ya!!"
"Lo pikir gue takut sama lo?!"
"Anj*y lu. Sok-sok an lu. Jalan aja masih pincang!!"
Rara yang sebenarnya sudah sangat geram itu pun tanpa basa-basi langsung menampar wajah kurang ajarnya si perempuan tersebut. Alhasil wanita itu langsung memegang wajahnya yang habis diberikan hadiah tamparan keras oleh Rara.
"Bangs*t cari mati lo sama gue?!" Perempuan itu menjambak rambut Rara dan dibalas oleh Rara dengan jambakan tak kalah kuatnya.
Tidak ada yang ingin memisahkan mereka, meski di sana dipadati oleh para penonton. Orang-orang hanya merekam melalui kamera ponsel pintar mereka. Biasa anak-anak yang mau cari viral dengan mengauplod ke sosial media.
Tepuk tangan antara kedua kubu memecah suasana sekolah yang semula sangat damai. Ada yang menghambur-hambur uang mereka untuk taruhan tak berguna.
Teriakan nama Rara dan Astrid saling berlawanan. Nama Astrid tak lain adalah nama perempuan yang menjadi pratner Rara mengasah kemampuannya, itung-itung olahraga pagi sebelum masuk kelas.
Ketika perempuan bernama Astrid itu hendak melayangkan pukulan di wajah Rara, tiba-tiba seseorang datang bak pahlawan. Ia menahan tangan Astrid lalu mendorong perempuan itu ke samping hingga tersungkur di lantai dan membuahkan gelak tawa penonton.
"Auuuu!!!" Pekik Astrid mengerang merasakan pantatnya yang amat sakit.
Rara tertawa melihat ekspresi lucu dari Astrid. Hujatan yang sudah ready di mulutnya siap dikeluarkan.
"Makanya jadi orang itu jangan sok-sok an. Kasihan deh lo duduk di lantai kaya kagak ada lagi tempat lain mbak?" Cerca Rara seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya.
Astrid kehilangan wajah saat menatap orang-orang tengah menertawakannya. Ia mengambil tas ranselnya yang dipegang oleh teman-temannya sambil berdiri kesal. Kemudian perempuan itu pun pergi dari sana.
"Pergi lo dari sini dasar BIT*H!!!"
Rara tersenyum puas melihat Astrid yang sudah kehilangan wajahnya di depan orang banyak. Ia menatap sosok yang membantunya tadi berniat mengucapkan terima kasih. Alih-alih merasa senang, yang ada membuat Rara langsung memasng wajah datarnya ketika mengetahui siapa dia.
"Lo nggak ngucapin terima kasih ke gue?" Tanya Revan dengan wajah menyebalkan menurut Rara.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Rara dengan tak ikhlas.
Kemudian Rara pergi begitu saja meninggalkan Revan yang terkekeh. Entah kenapa mendengar suara tawa Revan bulu kuduk Rara langsung berdiri tegak.
"Seram banget dah tu orang."
Rara mengira jika Revan tak mengikutinya lagi, namun ada seseorang menepuk pundaknya membuat Rara geram. Rara berbalik niat memukul orang tersebut. Tapi belum sampai kepalan tangannya menyentuh wajah orang itu ia langsung menurunkan tangannya.
"Eh Cilla!!"
"Kamu nggak papa kan Ra?" Tanya Cilla lengkap dengan nada khawatirnya.
"Nggak papa kok Cil!" Rara tertawa hambar sambil melirik Revan di sebelah Cilla.
"Biar aku sama Revan yang antar kamu ke kelas. Nanti kalau kamu sendiri bisa bahaya lagi kayak tadi."
Sebenarnya Rara ingin menolak tapi melihat wajah antusias Cilla begitu tulus ingin melindunginya membuat Rara harus berpikir ulang.
Sebentar Rara menatap mata Revan hingga netra keduanya bertemu. Revan tersenyum kepadanya sedangkan Rara hanya menatap Revan dengan pandang yang sukar diterjemahkan.
"Gimana Ra? Entar kamu dibully lagi sama mereka. Aku nggak mau Ra, kamu kan sahabat aku."
Rara menghela napas, "Iya gue mau."
Lantas Revan dan Cilla berjalan di samping Rara dan Rara berada di tengah-tengah. Rara sangat tidak ingin berada di posisi ini, bagaimana pun juga posisi tersebut sangat bahaya jika orang di sampingnya adalah titisan Dajal.
Tanpa sepengetahuan Cilla, Revan beberapa kali melancarkan aksinya. Ia meraih tangan Rara namun cepat ditepis oleh perempuan itu. Rara sengaja tidak berteriak atau bereaksi seheboh mungkin ketika Revan melakukan itu, bagaimana pun di sampingnya ada Cilla. Rara tidak ingin Cilla merasa sakit dengan mengetahuinya.
Tanpa terasa kini Rara sudah sampai di depan pintu kelasnya. Ia tersenyum tapi hanya ditujukan pada Cilla.
"Makasih ya!"
Setelah Cilla pergi, Revan yang terlambat pun sempat membisikkan sesuatu membuat Rara memaku di tempat.
"Gue tau Ra, lo nggak hanya sekedar teman dengan Gabriel. Dan gue juga tau lo serumah dengan cowok itu."
______
Jujur Rara tidak bisa bebas jika kedua temannya itu terus membuntutinya seperti anak itik. Ketika di pertengah jalan, tanpa disangka ada yang membekap mulut Rara.
Rara tidak tau siapa, namun orang itu langsung memanggulnya di punggung laki-laki tersebut seperti karung beras.
"Woy lepasin gue!!"
Orang itu tak menjawab tapi Rara merasa ada yang aneh, ia seperti kenal dengan orang ini. Tapi dia tidak bisa menebak siapa, sebab sulit buat Rara untuk mengetahui wajah laki-laki itu. Yang Rara tau jika dia adalah laki-laki melalui celana yang dikenakan serta tubuh kekar yang mengapitnya.
"Ishhh lepasin gue bodoh!!".
Rara menatap sekitar, ia bisa melihat sedikit jika orang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan takjub. Tentu itu menjadi keanehan terbesar bagi Rara.
"Kenapa orang pandangin gue begitu? Emang ada yang aneh? Atau orang yang manggul gue ini ganteng banget?" Berbagai macam pertanyaan diucapkan Rara di dalam hati.
Meski pikirannya sedang bergelut dan panas, tapi Rara masih sadar dan tetap memukuli punggung laki-laki misterius yang memanggulnya.
Rara semakin takut saat orang itu ternyata membawanya ke atas rooftop. Rara tau tempat ini disebut-sebut sangat angker dan rawan. Setahu sejarah yang Rara pernah dengar dari gosip-gosip temannya jika di area rooftop ini pernah ditemukan sosok mahasiswi yang bunuh diri.
Seketika Rara membeku ketika mendapatkan pikiran tiba-tibanya. Apa jangan-jangan orang ini ingin membunuhnya.
"Woy turunin gue!!! Lo itu budek apa tuli sih?!! Maka nggak dengar ucapan gue dari tadi?!!"
Orang itu pun menurut dan menurunkan Rara. Rara merasa sangat lega dan berbalik penasaran dengan siapa orang yang telah membawanya ke sini.
Percaya atau tidak jika saat ini tidak ada siapa pun di belakangnya. Ia hanya melihat pintu roof top yang terbuka. Suasana di sini sunyi dan menambah kehororan.
Rara berjalan menghampiri orang tersebut yang berada di pembatas sedang menatap suasana dari ketinggian. Punggung tegapanya membuat Rara penasaran dan berniat menghampiri laki-laki itu.
"Lo siapa?" Tanya Rara sedikit gugup.
__ADS_1
Orang tersebut berbalik dan kini dadanya kian berdetak laju ketika tau siapa orang itu.
"Gabriel!!"
Rara memeluk Gabriel dengan penuh rasa lega. Dan Gabriel membalasnya sambil mengusap punggung Rara.
"Gabriel kenapa bawa Rara ke sini?"
Gabriel menunjuk pada rantang yang terdapat di tangannya. Rara pun terkejut melihat itu.
"Buat apa?"
"Kita makan bareng."
"Kenapa mesti di sini sih? Kan di sini kot---" ucapan Rara mendadak berhenti kala baru menyadari jika di rooftop sangatlah bersih dan malah terdapat meja dengan dua bangku. "Kok bisa?"
"Apa yang nggak bisa dilakukan oleh Gabriel Wijaya Altas," ucapnya membanggakan diri.
"Sombong banget. Sudah ah, mending kita makan aja."
Gabriel dan Rara pun duduk di bangku masing-masing. Setelahnya Gabriel membuka rantang tersebut dengan berbagai macam lauk pauk di sana.
"Gabriel di mana dapat makanan begini? Kan, pagi tadi kita nggak bawa bekal?"
"Aku suruh bibi buat ngantarin bekal."
Rara mengangguk dan mengambil sendok. Mereka berdua mulai memakan bekal tersebut. Keduanya pun sangat menikmati acara makan mereka.
Aksi kejahilan sering dilakukan keduanya dan berujung dengan tertawa. Seperti saat ini, Rara dengan kejahilan yang mendarah daging dan dengan sengaja ia hendak menyuapi Gabriel, namun ketika Gabriel hendak memakannya, malah sendok tersebut langsung masuk ke dalam mulutnya sendiri.
Selesai sudah acara makan mereka. Makan berdua tanpa ada keributan sungguh sangat nikmat dan romantis, apalagi angin bertiup kuat di atas rooftop ini. Gabriel pun membereskan bekas mereka makan.
Setelah memastikan semuanya telah beres, kini keduanya berjalan ke pinggiran yang pembatasannya tidak terlalu tinggi. Rara bergidik penuh takut menatap ke bawah, namun tiba-tiba seseorang menutup matanya.
"Jangan tatap ke bawah, cukup pandang ke depan."
Rara menurut, ia menatap ke depan tepatnya pada bangunan-bangunan tinggi yang berjejeran.
"Masih sakit nggak?"
Rara menoleh dan mengangguk. Gabriel menghela napas merasa bersalah kepada Rara. Melihat rambut yang menutupi wajah indah Rara pun, lantas membuat Gabriel bergerak cepat menyingkirkannya dan menyelipkan ke samping.
"Rambut kamu ganggu banget. Kamu ada bawa kunciran nggak sih?"
"Bentar dulu deh kayaknya ada." Rara meraba kantong bajunya dan menemukan karet lalu diberikan pada Gabriel.
Gabriel mengambil kunciran terbuat dari karet itu lalu mengumpulkan rambut Rara. Kemudian ia pun mengikatnya.
"Kamu cantik jika dikuncir." Gabriel mendekap tubuh Rara.
"Gabriel semalam keluarinnya di dalam."
Gabriel menatap Rara sambil mengusap puncak kepala wanita itu. "Nggak papa bentar juga kita tamat."
"Emang nggak papa ya?"
"Hm."
Gabriel kembali fokus pada bangunan di depannya. Ia menatap salah satu gedung yang menurutnya paling indah.
"Nanti jika aku sudah sukses, aku akan belikan gedung seperti itu untuk kamu dan untuk anak kita kelak."
Rara menoleh tak percaya. "Kamu benaran?"
"Ha'em. Janji." Keduanya pun saling menautkan jari kelingking. Ketika usai membuat janji, pun Gabriel langsung mendekap Rara seraya menikmati keindahan ibu kota.
_____
__ADS_1
Tbc
Jangan lupa like, komentar, dan vote.