
Sepulang sekolah, Gabriel dan Rara langsung meluncur ke bandara. Perkara kenapa Gabriel dipanggil ke ruangan kepala sekolah ternyata membahas tentang olimpiade Matematika di Semarang yang mana akan dilaksanakan besok.
Rela tidak rela, Rara terpaksa mengikhlaskan Gabriel pergi mendadak. Pakaian Gabriel semuanya sudah disiapkan oleh bibi di rumah dan diantarkan ke bandra.
"Gabriel tetap akan hubungin Rara kan, nanti?" Tanya Rara dengan raut sedihnya.
Gabriel juga sebenarnya tidak ikhlas jauh dari Rara walau beberapa hari saja, namun keadaan mendesaknya. Ini juga demi banyak orang terutama sekolahnya. Ia memang selalu menjadi utusan setiap olimpiade, entah apa itu baik Fisika, Biologi, Kimia, Sejarah, Biografi dan sebagainya. Tentunya jangan diragukan lagi, mendali emas selalu dibawanya pulang.
"Iya Ra, nanti malam aku akan videocall kamu."
"Beneran?" Tanya Rara menginterogasi, tatapan matanya susah ditolak selain harus mengangguk.
Rara tersenyum dan mengusap puncak kepala Gabriel walau laki-laki itu lebih tinggi darinya. Ketika suara diumumkan jika sebentar lagi pesawat akan berangkat, Rara menyempatkan untuk mencium puncak kepala Gabriel dan kedua pipinya, biasanya Gabriel yang melakukan itu, namun kali ini ia ingin melakukannya.
Gabriel terkekeh melihat wajah Rara yang memerah menahan tangis.
"Jangan nangis, tenang aja aku selalu ada di samping kamu walau tak terlihat."
Gabriel menatap ke arah Pak Ilham sebagai guru pembimbingnya selama ia berada di semarang. Kemudian tatapannya teduh kala memandang wajah Rara yang beberapa hari tidak akan ia lihat selama berada di sana.
"Jika kamu rindu kamu bisa lihat ini." Gabriel membuka kalung dengan liontin huruf G dan memasangkan di leher Rara. "Tata ini jika aku nggak bisa dihubungi. Di sana ada aku yang selalu menjadi penyemangat mu."
Rara menangis mendengar ucapan Gabriel tersebut, air matanya luruh bak hujan deras yang terus menetes ke bumi. Ia meraih liontin tersebut dan dikecupnya.
"Kita bagaikan seperti pasangan yang akan pergi jauh dan lama baru pulang," ucap Rara dan masih bisa menyunggingkan senyum padahal air matanya tetap menetes.
"Jangan sedih lagi, aku nggak bisa ninggalin kamu kalau sedih."
Rara tersenyum lebar dan antusias menghapus air matanya. Ia tidak ingin Gabriel membatalkan olimpiade tersebut karenanya.
"Rara nggak sedih lagi tapi Rara senang punya suami yang pintar kayak Gabriel."
Gabriel tersenyum dengan ucapan Rara. Ketika untuk saatnya ia masuk ke dalam pesawat, dengan terpaksa Gabriel berjalan meninggalkan bandara dan perlahan tautan tangannya terlepas dengan Rara.
Namun sebelum Gabriel untuk diperiksa oleh petugas di bandara, Rara menarik tangan Gabriel lalu mencium bibirnya dalam. Kedua tangannya di letakkan di bibir Gabriel untuk memperdalam ciuman mereka.
Gabriel yang terbuai pun juga ikut membalas ciuman tersebut tanpa menghiraukan jika banyak orang yang melihatnya dan geleng-geleng kepala.
Pemandangan yang tak pantas dilihat di tempat umum pun langsung ditegur petugas hingga Gabriel dan Rara sama-sama tersadar. Keduanya melepaskan dengan rasa tidak ikhlas.
Kemudian Rara harus merelakan Gabriel pergi dan ia hanya bisa berjongkok di tempat pembatas yang ia tidak boleh lewati. Tangisnya semakin menjadi. Beruntung ada supir dan bibi yang mengantarkan pakaian Gabriel tadi.
Ia berjongkok di samping Rara, dan mengusap punggungnya.
"Sudah Non, Aden bisa sedih liat Non begini."
Rara menatap bibi tersebut seraya memeluknya, sungguh hal yang paling sulit di hidup Rara ketika jauh dari Gabriel.
Bibi tersebut membantu Rara berdiri. Rara kembali tegap, namun matanya masih sembab. Semua orang menatap ke arahnya, namun Rara tidak peduli.
Rara berjalan dan di sampingnya ada bibi yang mengiringinya. Ia masih menggunakan seragam sekolah yang dilapisi jaket seperti hoodie.
Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku jaket tersebut, sementara ia berjalan sambil menunduk. Saat sampai di depan mobil, Rara pun masuk ke bagian belakang dan duduk di sana.
Sedangkan bibi tadi serta sang supir duduk di bagian depan. Supir yang bernama pak Dadang itu menatap ke arah kaca yang menggantung di depan. Dia mengernyit melihat Rara yang menatap ke arah luar dengan sedih.
__ADS_1
"Non Rara kenapa?" Tanya Dadang sambil berbisik di telinga Bi Starla yang salah satu orang kepercayaan Arsen untuk bekerja di rumahnya. Strala bukannya satu-satunya pembantu yang bekerja di rumah Arsen tetapi salah satunya. Ada banyak orang yang menjadi pembantu di rumah tersebut karena tidak mungkin dengan satu orang membersihkan rumah yang besarnya sama seperti istana megah.
Starla menatap Dadang seraya menggeleng, "Nggak tau, tapi sepertinya Non lagi sedih ditinggal sama Den Iel."
Dadang pun mulai paham. Ia tidak ingin lagi bertanya takut pertanyaannya didengar oleh Rara dan perempuan itu akan marah dengannya. Maka dari itu, Dadang memutuskan untuk melajukan mobilnya menuju alamat rumah Arsen.
Di bagian belakang Rara masih menatap ke arah luar melalui jendela. Merasa puas dengan pemandangan Jakarta yang sudah sering ia lihat pun lantas membuat Rara menatap ke depan dan di detik kemudian ia meraih kalung yang diberikan Gabriel tempo menit lalu dan diusapnya sambil tersenyum.
"Semoga kamu bisa membanggakan aku dengan prestasi mu." Rara tersenyum sekaligus sedih secara bersamaan karena ia tidak bisa mengimbangi Gabriel yang jeniusnya luar biasa berbeda dengannya.
________
Hari demi hari berlalu. Tiga hari setelah Gabriel meninggalkannya. Gabriel mengabarkan kepada Rara bahwa besok ia akan pulang ke Jakarta.
Mendengar itu pun Rara tampak antusias untuk menyambutnya besok tepatnya hari Sabtu.
Demi Gabriel ia rela keluar malam dengan pakaian kasualnya dan mengendarai sepeda menuju mini market yang tak jauh dari rumah Arsen.
Setelah membeli berbagai bahan makanan kesukaan Gabriel untuk dimasaknya sendiri, Rara kembali mendayung sepedanya menuju ke arah jalan pulang.
Mulutnya bersiul dan bersenandung menikmati gelapnya malam hari. Namun tiba-tiba suara petir menggelegar mengejutkan Rara yang bersepeda.
Tarrrr
"Allahu Akbar!!!" Rara refleks berhenti mengayuh sepedanya, "Dasar petir nggak ada ahlak. Oi lo petir kalau mau nembak orang itu bilang-bilang bir gue nggak kaget!!"
Rara kesal dan kembali melanjutkan mengayuh sepeda sebelum turun hujan dan mengguyurnya.
Ia menanjak sepedanya dengan kecepatan besar biar melaju kencang dan hemat pula waktu untuk sampai ke rumah.
"Auuu," keluh Rara. "Dasar ya hujan tidak bisa diajak kompromi. Nggak liat apa gua lagi jatuh begini. Mana sakit lagi pantat gue."
Dengan segenap kekuatan yang masih tersisa, Rara bangkit dengan semangat 45. Ia membenarkan sepedanya lalu menganga melihat bahan makanan yang ia beli berserakan di tanah. Rara tidak bisa berkata apa-apa selain.
"Wow."
Antara mau kesal dan menangis semuanya menjadi satu selain terkejut di bawah hujan.
Bahan makanan itu tidak ada yang selamat.
"Ingin sekali ku berkata kasar."
Perempuan itu berusaha mengikhlaskan dan berniat mengumpulkannya kembali. Pasti ini masih dapat digunakan. Namun baru saja ia hendak meraih susu kotak stroberi yang ia beli cukup banyak tadi, tiba-tiba sebuah mobil melindasnya hingga susu kotak itu menyembur ke wajahnya.
"Lengkap sudah penderitaan gue. Dasar mobil laknat." Rara terduduk di jalan yang penuh genangan air. Kini dirinya sudah basah kuyup. Entah bagaimana nanti Rara harus menjelaskan semua ini.
"Kenapa gitu hidup gue harus sial? Gue tau gue itu orang nggak bener, tapi nggak seharusnya dapat azab begini juga kali Ya Allah. Gue harus gimana ini?" Rara mengeluh kepada sang pencipta.
Rara menarik napas dan tetap memungut bahan-bahan makanan tersebut serta susu kotak yang sudah tidak berbentuk lagi dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Rara terpaksa harus membeli lagi, tapi ketika mengambil uangnya ia malah disuguhkan uang berwarna merah dua lembar terpotong dua.
"Gini amat ya jadi manusia?"
Rara menatap uang tersebut dengan pandangan sedih. Uang tersebut tidak bisa digunakan lagi selain menyusul nasib malang nya seperti susu stroberi nya. ia menarik napas dan berusaha tegar walau matanya susah tahan membendung air yang akan keluar.
__ADS_1
Jalanan ini tampak sunyi, hanya ada beberapa kendaraan yang lalu sebelum nya hingga pada akhirnya tiada satu pun lagi kendaraan melintas di sana.
Hujan deras malam ini membuat ia basah kuyup, ia mengeratkan kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya yang ringkih tersebut. Dengan melakukan hal itu Rara berharap tubuhnya dapat terhangat kan, tapi nyatanya tidak.
Ia tidak sanggup lagi, isakan tangis yang ia tahan sedari tadi luruh secara alamiah yang bercampur dengan air hujan. Ia berjongkok di bawah terjangan hujan dan menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya.
Ia menangis sejadi-jadinya akibat rasa takutnya, bukan tanpa alasan ia seperti ini, dirinya belum sembuh total setelah beberapa hari lalu, ia bisa bela diri, namun tampaknya untuk saat ini ilmu yang ia bangga-banggakan tidak akan berguna.
"Rara takut," tangisnya dan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sepedanya, meski gelap bisa ia lihat rantai sepedanya putus.
"Huaaaaa..... Rara takut!!! Gabriel, Bunda.... Huaa.." Ia berteriak seperti anak kecil. Dan kembali menenggelamkan kepalanya di kedua kakinya. Isak tangisnya cukup membuat orang yang mendengarnya akan ketakutan.
"Kira gua siapa yang nangis kek kuntilanak di jalan," ujar Revan acuh seraya keluar dari mobilnya.
Rara mengangkat kepalanya lalu menggeleng, ia beregisut mundur kala Revan menghampirinya.
"Mau apa lo?" tanya Rara dengan waspada.
"Lo mau ikut gua apa mau tetap di sini sampai besok? Jawab pertanyaan gua "
"Apa sih, Gak lah anjirt."
"Yakin Lo?"
"Banget," sinis Rara.
Revan mulai kehabisan kesabaran, napasnya memburu. Laki-laki itu menyingsing lengan bajunya lalu mendekati Rara secara tiba-tiba dan mencium bibir perempuan itu.
Rara kaget setengah mati, matanya membulat lalu menampar pria itu.
"Goblok Lo Anjengg!!!" Cerca Rara.
Revan memegang sebentar pipinya yg lebam bekas tamparan Rara tersebut lalu tersenyum sinis.
"Ra kira-kira kalau kita nikah gimana yah? Lo setuju gak?"
"Babi Loo... sana goblok," usir Rara. Perempuan itu berdiri lalu hendak memberikan Bogeman mentahnya ke Revan, namun pria itu lebih dulu menahan tangannya.
Revan kembali berulah lagi hendak mencium bibir ranum milik sang wanita, namun sebuah tinjauan besar menghentikan nya. Sejenak keduanya sama-sama terkejut lalu mengalihkan objek pandang pada orang tersebut.
"Gabriel," ungkap Rara bahagia dan menghambur ke dalam pelukan pria itu sambil menangis. Dekapannya pada laki-laki itu sangat erat.
"Rara takut Gabriel."
"Tenang jangan takut ada aku," lirih Gabriel dengan mata menatap tajam Revan, dia juga mencium kening Rara.
"Hm... udah mesra-mesraan nya?" sinis Revan. Pria itu cukup terkejut dengan kepulangan Revan yang tidak sesuai prediksi nya.
Tak lama setelahnya terjadilah cek cok antara Gabriel dan Revan. Perkelahian tersebut pun berlalu begitu saja, dan dengan berakhir dimenangkan oleh Gabriela, tapi tak dipungkiri keduanya pun sama lebamnya.
Tbc.
______
Ntahlah😌🤙
__ADS_1