
"SAH!!!"
Teriakan kata sah tersebut membuat Revan menarik napas dalam dan tersenyum miring. Meski ia telah terikat dengan janji suci pernikahan tapi ia tetap tidak akan berhenti. Ini saatnya permainan akan dimulai yang mana jika ini berakhir maka akan menjadi puncaknya.
Usai mencium kening Cilla, Revan menyorot tajam kepada seorang gadis yang mengenakan pakaian kebaya yang terlihat berkali lipat lebih cantik dengan balutan sederhananya itu.
Entah wanita itu sadar atau tidak jika ada mata seseorang tengah mengawasinya. Namun perempuan tersebut yang mulanya fokus pada suatu objek kini fokusnya tergantikan dengan dirinya.
Mata mereka sempat beradu sebelum seringaian miring yang jelas di wajahnya membuat perempuan tersebut segera mengganti objek.
"Jangan merasa menang Ra. Inilah saat sesungguhnya. Lo nggak bakalan tau apa yang bakalan gue lakukan sama lo!!! Jika gue nggak bisa milikin lo maka orang lain juga nggak akan bisa milikin lo!!!" Revan terkikik setelah bergumam menyeramkan.
Dada Rara berdesir tak nyaman. Ia merasakan ada bahaya yang sedang menunggunya di depan tapi dia tidak tau kapan akan bertemu dengan bahaya itu. Tatapan Rara mengarah pada orang-orang yang hadir di acara ini.
Hanya beberapa yang datang karena memang pada dasarnya pernikahan ini secara mendadak dan bahkan ibunya Cilla yang di luar negeri saja tidak bisa hadir di hari sakral anaknya.
Ibunya Cilla hanya menyaksikan anaknya mengucapkan ijab kabul melalui Videocall. Wajah Cilla tampak semakin cerah saat hubungannya telah resmi dan sah di mata negara maupun agama.
"Gabriel......apa Revan akan berhenti?" Tanya Rara dengan gugup, matanya sesekali melirik ke arah Revan dan ternyata lelaki itu masih memandangnya.
"Tidak tau Ra. Aku harap dia dapat menerima takdirnya. Tapi aku ragu Ra dengan kebahagiaan Cilla. Entah perasaan ku saja atau bukan kalau Cilla akan mendapatkan penderitaan yang sebenarnya setelah ini...."
"Rara juga mengkhawatirkan hal itu juga."
Membayangkan nasib Cilla yang tidak ada apa-apanya kebanding dirinya membuat Rara ingin menangis setiap melihat wajah bahagia Cilla. Apalagi kala melihat perempuan itu mengusap perutnya, perasaan Rara benar-benar diaduk ketika melihat pemandangan itu.
"Kita salaman dulu sebelum pulang," kata Rara lalu Gabriel hanya mengangguk dan berdiri dari kursi.
Rara harus pulang cepat karena ia harus ke rumah sakit kemudian ke toko buku buat membeli buku bimbingan untuk Rara yang belajar di rumah. Semantara Gabriel setelah mengantarkannya harus cepat-cepat latihan basket untuk laga berikutnya.
Tiba saatnya Gabriel dan Rara yang akan bersalaman. Mata Cilla menatap Gabriel tidak bersahabat. Akibat perkelahian kemarin nyaris saja membuat perempuan yang sedang menjadi pengantin itu keguguran.
Lalu Cilla menatap seorang wanita cantik yang seumuran dengannya yang tak lain adalah Rara. Melihat bola mata Cilla sedang memandangnya Rara membalas dengan senyuman rindu.
Ia merindukan saat-saat bersama Cilla dan berceloteh bareng. Di momen itu lah Rara bisa merasakan betapa menyenangkan memiliki teman yang sama-sama perempuan.
"Selamat ya." Gabriel menjabat tangan Cilla lalu air matanya tak kuasa jatuh.
Sebagai seorang sahabat tentu Gabriel juga merasakan sulitnya menjadi seorang Cilla, dan apalagi Gabriel benar-benar tidak menyangka jika Cilla teman yang selalu bermain boneka bersamanya di kamar kini menikah dengan keadaan seperti ini.
"Semoga kamu akan bahagia selalu bersama dia," doa Gabriel begitu tulus dan melirik sebentar pada Revan kala mengucapkan kata terakhir.
"Terima kasih." Jawaban singkat itu sedikit membuat Gabriel tersenyum. Ia bahagia bukan main perkataannya di respon oleh Cilla.
Gabriel melepaskan tangannya dari tangan Cilla lalu telapak tangannya itu berpindah pada Revan. Mata mereka berdua beradu apalagi di dalam manik masing-masing menyimpan kebencian.
"Semuanya belum berakhir. Lihat apa yang akan terjadi suatu hari nanti."
Suara penuh dengan hawa kemisterusan itu tidak membuat Gabriel gentar akan ancaman Revan. Dengan peringatan pria itu membuatnya semakin memiliki jiwa besar untuk melindungi Rara dan Cilla, dua orang yang pernah mengisi hatinya.
__ADS_1
"Gue nggak takut."
Tangan mereka yang bersalaman itu sama-sama meremas hingga tanpa diketahui orang tangan keduanya memerah dan warna darah semakin terlihat jelas.
Setelahnya Revan menyudahi salaman mereka lalu memberikan senyum miring. Sedangkan Cilla kini sedang memandang wanita di depannya.
"Selamat atas pernikahan lo La. Semoga lo mendapatkan kebahagiaan yang lo mau."
Cilla mengulurkan tangan kepada Rara dan Rara hanya menatap sebentar sebelum spontan memeluk perempuan itu erat seraya meneteskan air mata.
"Cilla maafkan gue yang merebut kebahagiaan lo. Andai gue menerima cintanya dan tidak mengejar-ngejar lelaki yang sesungguhnya mencintai lo, lo pasti sudah bahagia bersama dia. Dia Gabriel mencintai lo bertahun-tahun."
Rara melepaskan pelukan dari Cilla setelah membisikkan sesuatu yang tidak akan bisa didengar orang lain selain dirinya dan Cilla.
Cilla membeku seperti sedang berada di musim salju usai mendengar perkataan Rara barusan. Pengakuan yang didapatnya benar-benar membuat Cilla syok dan memandang ke arah Gabriel.
"Sekali lagi maafkan gue Cilla telah merebut dia."
_________
"Gimana sekarang sudah nggak pusing-pusing lagi, kan?" Tanya Gabriel seraya memijat kepala Rara.
Mereka baru saja pulang dari rumah sakit setelah mengecek kandungan Rara. Jenis kelamin anak mereka belum bisa diketahui.
"Calon adik kamu apa? Bunda nggak pernah cerita."
"Bunda nggak mau di USG katanya suapaya kejutan. Oh iya Bunda katanya diperdiksi sekitar dua mingguan lagi bakalan melahirkan."
"Aku juga senang."
Gabriel tersenyum lalu mengusap kepala Rara. Senyumnya tidak bisa pudar setiap kali melihat wajah menggemaskan milik istrinya apalagi melihat wanita itu sedang mencemot ice cream rasa pisang.
Langkah Rara berhenti di depan pintu toko buku yang sangat mengagumkan. Rara baru pertama kali ke tempat ini. Sebelumnya toko buku adalah masalah bagi Rara.
"Banyak banget bukunya..."
"Iya. Nanti aku pilihkan kamu buku yang bagus."
Gabriel dan Rara melangkah masuk ke dalam toko buku. Mulai dari luar sampai semakin masuk ke dalam pemandangan buku yang disusun di atas rak menemui toko ini.
Rara sama sekali tidak merasa bosan melihatnya. Kumpulan cover-cover lucu membuatnya seakan bahagia. Perempuan itu secara mendadak menghentikan langkahnya saat melihat objek yang sangat menarik bagi Rara.
"Gabriel, Rara mau beli buku ini." Rara mengambil buku dengan sampul hewan-hewan yang lucu.
"Kita ke sini buat cari buku pelajaran bukan cari buku dongeng Ra. Lagian kamu kenapa mau beli buku untuk anak-anak sih?!"
"Ishhh....tapi Rara maunya ini." Rara mendekap buku itu erat membuat Gabriel sakit kepala melihat tingkah Rara yang seperti kekanakan.
"Kamu kenapa mau baca buku dongeng? Kamu kan paling nggak suka sama cerita fiksi seperti novel dan apalagi dongeng. Bukanya kamu sangat tidak menyukai yang namanya khayalan?"
__ADS_1
"Itu kan kemarin. Hari ini beda lagi....yang mau buku ini bukan aku lho tapi anak kamu. Katanya setiap malam sebelum bobo mau dibacain dongeng," ucap Rara dengan nada imutnya sekaligus mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.
Oke. Jika sudah menyangkut janin yang berada di dalam perut wanita dicintainya itu tandanya Gabriel tidak bisa apa-apa lagi selain pasrah mengikuti kemauan sang istri.
"Ambil semua buku yang kamu suka.... terserah mau berapa!" Putus Gabriel yang membuat Rara berbinar dan melebarkan matanya.
"Beneran?"
"Apa sih yang nggak buat kamu dan anak kita?"
"Ummm... kok aku gugup ya..?"
Rara memeluk Gabriel dengan senang dan Gabriel hanya terkekeh seraya membalas pelukan istrinya itu yang akhir-akhir ini berubah menjadi wanita manja.
"Kata Gabriel kan bakalan mau lakukan apa pun demi Rara?" Rara mengendurkan pelukannya dari sang suami. "Kalau gitu gimana kalau misalnya Rara minta pulang nanti belikan semangka terus digoreng?"
"WHAT!!!"
Mata Gabriel kedap-kedip mendengar kemauan Rara. Ia menggaruk kepalanya saking tidak percaya mendengar kalimat tersebut.
"Kamu serius Ra? Masa iya semangka digoreng? Emang apaan rasanya?"
Rara cemberut dan menekuk wajahnya. Matanya berkaca-kaca dan sebentar lagi akan mengeluarkan air mata.
"Jadi Gabriel nggak mau?"
Gabriel menarik napas dan mengangguk.
"Iya nanti pulang dari sini aku akan belikan."
"Beneran Gabriel mau?!!"
"Iya Ra!!!...kamu ngidam ya?"
"Iya. Tapi nanti yang goreng nya Pak RT terus yang makan GabrielĀ sama orang-orang sekampung. Rara liatin aja!!"
Ujaran polos tersebut membuat mata Gabriel benar-benar tidak bisa terkondisikan. Pernyataan biasa bagi Rara tapi luar biasa bagi Gabriel. Bagaimana bisa perempuan itu mengidam ingin semangka digoreng terus dimasak oleh Pak RT dan yang makan sekampung? Gabriel benar-benar tidak habis pikir kenapa anaknya itu bertingkah aneh? Belum lagi lahir tapi sudah menyusahkan orang tua apalagi nanti sudah lahir pasti dia setiap detik dan saat selalu mengucap kata istighfar melihat tingkah anaknya nanti.
"Tapi kan Ra pak RT nya kan galak? Lagian juga mana mau orang makan semangka digoreng?"
"Jadi Gabriel nolak Rara? Oke kalau gitu selama setahun Gabriel nggak bakal dikasih jatah dan juga tidurnya harus di sofa nggak boleh dekat-dekat Rara...."
Ini adalah hal yang lebih menakutkan lagi. Gabriel tidak bisa berkutik, mimpi buruk jika ia setahun tidak akan diberi jatah.
"Oke oke aku setuju. Nanti pulang aja yah kita rencana kan lagi? Sekarang kita ayo cari buku untuk kamu."
Rara mengangguk dan Gabriel menarik napas lega setelahnya. Entahlah bagaimana urusannya ke depan setelah ini? Apakah ia mampu mewujudkan ngidam istrinya itu. Gabriel benar-benar pusing sekarang.
__________________
__ADS_1
TBC
btw Jan Lupa Komen Gaes,