Underage Marriage

Underage Marriage
Part 42


__ADS_3

Tangan kurus tapi berisi itu bergetar setelah membaca pesan masuk tersebut. Dia berharap apa yang ia lihat adalah sesuatu yang salah. Tapi harapan itu hilang ketika dia membaca pesan itu berkali-kali tapi hasilnya tetap menunjukkan kalimat yang sama.


"Nggak mungkin Cilla hamil." Gabriel meremas ponsel tersebut. Wajahnya memerah seperti bara api. Satu nama yang hendak ia temui saat ini dan memberikannya pelajaran yang berbeda dengan guru lain berikan. REVAN. "Pasti ini ulah Revan."


Gabriel mencoba menimalisir perasaannya lalu memijat kepalanya yang berdenyut. Tarikan napas beberapa kali terdengar memenuhi ruangan toilet.


Ia memasukkan handphone Cilla itu ke dalam saku bajunya dan pergi dari sana secepatnya sebelum ada orang yang melihat dirinya di dalam toilet wanita.


Langkahnya menuju pada gudang yang biasa menjadi tempat nongkrong Revan. Tidak peduli jika di sana terdapat banyak teman-teman pria itu yang tak kalah brengsek.


Namun keberuntungan membawa Gabriel. Tanpa ia harus jauh-jauh berjalan ke gudang, tetapi orang yang hendak ia temui kini berada di depannya.


Revan yang berhadapan dengan Gabriel pun mengangkat satu alisnya. Asing bagi Revan ketika Gabriel mendatanginya sebab lelaki itu jarang sekali dengan sengaja menemuinya.


"Tumben lo cari gue!"


"Siapa yang buat Cilla hamil? Lo kan?"


Revan menarik napas dan sedetik kemudian ia terkekeh lalu tak lama tawa rendahnya tersebut terhenti dan digantikan dengan senyum menyeringai.


"Emang apa urusan lo? Cilla itu pacar gue jadi gue bebas mau ngapain sama dia. Seperti lo dengan Rara lo bebas mau ngapain sama dia."


Sedikit terpancing emosi, tapi Gabriel berusaha menenangkan emosinya itu dan menatap Revan dengan pandangan tenang.


"Lo hamili Cilla tapi lo masih suka sama Rara. Gue akan maafkan perbuatan lo yang sebenarnya tidak bisa termaafkan asalkan lo jauhi Rara dan tanggung jawab dengan kehamilan Cilla," ucap Gabriel pada Revan.


Revan menarik napas dan mengusap rambutnya yang sedikit disemer pirang lalu bersedekap dada memandang Gabriel.


"Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Gue nggak butuh maaf lo dan gue hidup bahagia dengan kemauan gue sendiri. Lo nggak usah jadi mandor di hidup gue," katanya sembari memukul pundak Gabriel beberapa kali.


Gabriel melirik ke tangan Revan yang memukul pundaknya kemudian ia pun menjauhkan tangan Revan dari sana dengan gaya kasar.


"Dasar laki-laki brengs*k."


"Sebenarnya siapa yang lebih brengs*k lo atau gue. Gue nggak pernah sama sekali bawa-bawa orang tua ke masalah kita. Tapi lo? Lo seperti anak kecil yang mengadu dengan orang tuanya lalu mereka akan memarahi orang yang membuat anaknya menangis. Cemen."


Tangan Gabriel terkepal ketika penghinaan itu dilemparkan ke wajahnya. Ia menatap Revan dengan pandangan emosi tapi ia berusaha tahan. Namun ucapan-ucapan yang terus mengalir dari mulut Revan membuat batas kesabarannya memudar.


"Jaga omongan lo!!" Gabriel melayangkan pukulannya yang keras ke rahang Revan.


Revan juga tidak mau kalah, ia turut membalas pukulan yang ia dapatkan di rahangnya. Hingga pertengkaran pun kembali terjadi. Kali ini mereka begitu apik memilih tempat hingga tiada satu orang pun mengetahuinya.


Perkelahian yang melibatkan dua kubu tersebut terhenti dengan dimenangkan oleh Gabriel. Gabriel laki-laki berwajah tampan itu berjongkok di samping tubuh Revan lalu mengulurkan ponsel Cilla yang ditemukannya di kamar mandi.


"Serahkan ponsel ini pada Cilla. Dan gue harap lo dapat menerima anak lo. Jangan lo bunuh dia, bayangkan yang di dalam kandungan itu elo. Bagaimana perasaan lo ketika ayah lo sendiri ingin membunuh lo!"


Gabriel menjauh dari Revan yang terbaring tak berdaya. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana lalu melenggang dengan gaya angkuhnya dan membuat Revan yang melihat itu menggeram.


______


Di dalam kamar yang kebanyakan dipenuhi dengan nuansa pink serta biru, terdapat sesosok manusia yang duduk di kursi roda dengan pandangan kosong mengarah ke balkon.


Di sampingnya terdapat pula sang pembantu yang menemani. Di kedua tangan pembantu itu terdapat air putih dan mangkuk berisi bubur. Air putihnya dia letakkan ke atas meja sedangkan bubur ia sendok lalu memaksa sang perempuan untuk memakannya.


"Non ayo makan. Kasihan bayi di dalam perut Non kelaparan. Dari tadi non nggak ada makan." Pembantu itu mengarahkan sendoknya pada mulut sang perempuan dan perempuan itu memalingkan wajahnya.


"Nggak mau bi. Bibi aja yang makan buburnya," tolaknya sambil mendorong sendok itu menjauh dari mulutnya.

__ADS_1


"Tapi Non, Non harus makan. Kalau nggak makan Non bisa makin sakit," ujar pembantu itu membujuk Rara namun bujukan itu sama sekali tidak mempan bagi wanita keras kepala tersebut.


Rara kembali menggeleng. Pandangannya syahdu menatap tumbuhan  hijau dari atas balkon. Senyumnya merekah melihat dua tupai yang saling melompat di atas ranting pohon. Dari gaya mereka Rara bisa menyimpulkan jika kedua tupai itu saling beradu kecepatan melompat.


Ia hendak melihatnya lebih dekat dan mendorong kursi rodanya sendiri ke arah pagar balkon. Sang pembantu melihat majikannya hendak ke pagar balkon pun cepat membantunya.


"Hati-hati Non."


"Hm," tanggap Rara begitu singkat.


Sang pembantu juga mengikuti ke mana pandangan Rara. Seketika pembantu itu tertular senyuman manis Rara melihat begitu imutnya kedua tupai itu.


"Lucukan Bi?" Tanya Rara yang tidak bisa mengalihkan pandangannya pada pemandangan itu.


"Iya Non lucu. Tapi Non harus makan ya!"


Spontan Rara menatap sang pembantu. Tatapan nya  datar membuat sang pembantu terintimidasi dan menelan ludahnya, kemudian pembantu tersebut menundukkan kepala.


"Rara nggak mau Bi. Bibi aja yang makan!!" Seruyan sedikit kesal pasalnya dari tadi ia terus dipaksa memakan makanan menggelikan itu.


"Maaf Non tapi Non Bibi hanya menjalankan perintah."


"Bilang aja ke mereka kalau Rara sudah makan."


"Baik Non." Sang pembantu menatap ke arah bubur yang sama sekali tidak tersentuh. "Tapi Non, Bibi minta Non sesendok aja makan buburnya."


Rara menarik napas dalam lalu meninggikan suaranya untuk menjawab kali ini. "SAYA SUDAH KATAKAN SAYA NGGAK MAU MAKAN!!!"


Usai melantangkan ucapannya yang membuat pembantu menemani Rara itu syok, tiba-tiba Rara merasakan rasa perih menyerang kepalanya bertubi-tubi.


"Akhhh."


"Bibi pergi aja. Biar Gabriel yang tangani Rara." Gabriel datang secara tiba-tiba.


Pembantu itu berbalik lalu mengangguk. Ia ingin pergi membawa makanan serta air putih yang belum dicicipi Rara tersebut, tapi Gabriel memanggilnya.


"Biarkan bubur dan air putih ditinggal."


"Baik Den."


Gabriel mengalihkan indera penglihatannya pada Rara. Ia sedikit merunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Rara.


Tangannya yang sedikit basah oleh keringat memijit kepala Rara agar pusing di kepala Rara tersebut perlahan menghilang.


"Masih sakit?" Tanya Gabriel pada Rara dan tangannya masih bekerja dengan kegiatannya.


Rara mengangguk lemah. Dia sengaja duduk di kursi roda karena Rara akan pusing jika berdiri. Merasakan pijitan halus di keningnya membuat beban Rara terasa ringan.


"Makan ya!"


"Enggak mau. Rara nggak mau makan Gabriel," tolak Rara memelas.


"Tapi kamu harus makan Ra. Supaya bayi kita nggak kenapa-napa."


Ketika satu sendok bubur hendak melesat ke dalam mulut perempuan itu, cepat Rara membuang wajahnya ke samping. Sudah berapa kali ia katakan jika dia tidak ingin makan makanan lembek itu.


"Ra ayo buka mulutnya!"

__ADS_1


"Nggak mau. Rara itu maunya sekolah lagi sama Gabriel."


Gabriel terdiam dan ekspresinya datar. Dia tidak bisa mendengar suara serak penuh kesedihan istrinya tersebut yang menyinggung masalah sekolah.


Dadanya nyeri setiap kali mendengar permintaan Rara yang ingin sekolah lagi. Dia akui nilai Rara belakangan ini lumayan baik.


"Nggak bisa Ra. Kamu juga nggak bisa pindah sekolah karena sebentar lagi akan ujian. Jadi kamu belajar di rumah aja ya. Kalau nggak mau diajari sama ibu Guru Puspa,  aku aja yang ngajarin kamu."


Mata Rara menatap mata Gabriel meminta keterangan dengan ucapan yang dilontarkan barusan itu.


"Beneran Gabriel yang ajari Rara?" Tanya Rara kepada suaminya itu.


"Iya," katanya dengan senyuman lembut yang selalu menemani. "Makan ya!" Pinta Gabriel lalu Rara mengangguk menerima permintaan suaminya.


Gabriel menyuapkan satu sendok bubur tersebut dan Rara menyambutnya dengan lumayan baik meski ekspresi jijik ia tunjukkan  ketika makan lembek tersebut masuk ke dalam mulutnya.


Rara terus menerima suapan dari Gabriel hingga tidak ia sadari bubur di dalam mangkuk tersebut sudah habis. Melihat Rara yang kesulitan meneguk suapan terakhir, Gabriel pun meraih air putih dan meminumkannya ke Rara.


"Gimana kenyang nggak?" Tanya Gabriel pada Rara.


"Iya."


Gabriel tersenyum mendapatkan jawaban itu dari Rara. Diletakkannya mangkuk kotor serta gelas dia atas meja. Ia berdiri dan mendorong kursi roda Rara menuju ranjang.


Dengan tenaga besar Gabriel mengangkat tubuh Rara yang berat tersebut ke atas ranjang.


"Berat," keluhnya yang mendapatkan hadiah dari Rara sebuah pukulan di dada.


"Jadi Rara gendut?"


"Aku suka perempuan gendut Ra. Jadi kamu jangan marah ke aku. Kamu berat juga bukan berarti gendut, tapi karena ada anak kita di dalam perut kamu."


Gabriel yang duduk di samping Rara mengusap perut buncit Rara. Perhatian kecil diberikan Gabriel pun membuat Rara tersentuh. Gabriel yang menyadari perubahan Rara pun menatap iris perempuan itu.


Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Rara lalu mencium bibir terbuka Rara dengan lembut dan memberikan  ******n-******* halus. Ia menggit bibir bawah Rara hingga Rara membuka bibirnya dan membalas ciuman tersebut.


Setelah berlangsung cukup lama, Gabriel dan Rara melepaskan ciuman mereka. Disejajarkan hidungnya dengan hidung Rara. Kedua dahinya saling menempel lalu tangannya terangkat mengusap bibir Rara yang basah akibat salivanya. Sebelum bangkit, Gabriel mencium singkat bibir Rara.


Ia berbaring dengan kepala berada di perut Rara dan melingkarkan tangannya di perut perempuan itu. Semanatara tangan Rara menguap rambut suaminya.


Gabriel menyingkap pakaian Rara sebatas dada lalu menciumi perut istrinya dan sesekali menggigitnya.


"Yang tenang di sana ya nak. Ini papa," ucapnya kecil dan membenamkan kepalanya pada perut Rara.


"Sayang elus ya kepala aku biar cepat tidur."


"Kenapa tidur, Gabriel kan baru aja datang?"


"Kamu mau aku batal puasa dan melakukan itu dengan kondisi mu seperti ini? Kamu kayak nggak tau aja Ra aku selalu nggak bisa Nahan setiap lihat kamu apalagi kamu sedang hamil."


Rara terkekeh mendengar keluhan Gabriel. Wajah muram Gabriel cukup lucu menjadi bahan ejekkannya.


"Iya aku elusin. Tapi kamu juga elusin perut aku." Ucapan Rara sukses diberikan  tatapan tajam dari Gabriel. "Kan, bayinya juga mau tidur jadi minta dielusin sama papannya," ucap Rara dengan suara khas anak-anak.


"Hm." Jawab Gabriel dingin. Jika begini sama saja semakin menambah nafsunya.


______

__ADS_1


Tbc


Like, komen, dan vote.


__ADS_2