
Seorang wanita duduk di bangku dalam keadaan terikat dan di sekelilingnya melingkar para pria yang menunggu wanita itu tersadar dari pingsannya.
Perlahan cahaya samar menusuk mata Rara. Perempuan itu membuka matanya seraya meringis karena merasakan area tengkuknya terasa sangat sakit.
Usaha Rara membuka kedua belah matanya berujung keberhasilan. Hal yang pertama kali ditatapnya adalah para pria yang berpenampilan preman dan penuh tato. Dan di detik itu pula Rara tersadar jika dia dalam bahaya.
"Emmmm!!!!" Rara berteriak minta dilepaskan. Ia berulang kali berusaha membuka rantai di tangannya tapi tidak berhasil yang ada tangannya semakin sakit.
"Mmmm hiks, hiks, hiks." Rara terus berusaha dan air mata mengucur dari kelopak matanya.
Ia begitu lirih saat melihat orang-orang yang di depannya ini menatapnya seakan ia adalah makanan paling lezat. Rara benci akan itu apalagi seringaian evil yang mereka tunjukkan kepadanya.
"Tenang nona cantik, kami akan melepaskan mi setelah kamu memuaskan kami!!!"
Rara menggeleng sambil terisak mendengar penuturan kalimat jahanam tersebut. Puluhan laki-laki yang berada di sini dan tidak mungkin ia melakukan itu. Dengan satu orang selain Gabriel saja ia sudah muntah membayangkannya.
Satu orang dari antara mereka maju mendekati Rara. Laki-laki dengan penuh tato di wajahnya serta telinganya yang dipenuhi tindik itu meraih dagu Rara dan mendekatkan wajahnya membuat Rara ketakutan dan air mata semakin deras.
Glengan kepala kuat dari Rara adalah sebagai simbol penolakannya. Tapi isyarat yang ia berikan tersebut sepertinya tidak akan memberhentikan orang itu untuk melakukan hal keji kepadanya.
"Cantik. Pantas saja bos kami tergila-gila dengan mu."
Pria yang tidak diketahui namanya tersebut membuka lakban yang di mulut Rara dengan kasar hingga Rara pun merasakan amat sakit saat lem isolasi tersebut ditarik paksa.
"Auuu!!! Jahanam!!! Lepaskan gue bangs*t!!!! Lo mau cari mati sama gue?!!!"
Orang itu tidak merasa takut dan malah memindahkan tangannya ke bibir Rara. Orang tersebut menyentuh bibir Rara yang lembut nan kenyal.
"Pasti manis rasanya. Bagaimana jika aku menikmati ini!!!"
Habis sudah kesabaran Rara. Tanpa belas kasihan ia langsung melahap jari pria tersebut dan digigitnya kuat-kuat sampai pria itu menjerit kesakitan.
Melihat temannya diperlakukan seperti itu, yang lain turut membantu pria itu agar jari tangannya dilepaskan dari mulut Rara sebelum putus.
"Dasar perempuan sialan!!" Ia memegang jarinya yang terdapat bekas gigitan Rara dan meniup-niupnya untuk mengurangi rasa sakit di area telunjuknya tersebut.
Plakkkk
"Berani-beraninya lo gigit jari gue!!!"
"Hahaha!!" Yang lain malah menertawakan Rara yang habis mendapatkan pukulan kasar dari pria tadi.
Rara memendam rasa sakitnya dala-dalam meski rasa sakit itu tak dapat tertahankan dan malah tampak di depan mereka. Air mata yang keluar tidak dapat membohongi jika Rara tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.
Kepala Rara yang masih menoleh ke samping akibat tamparan tersebut pun kini kembali dipalingkan lagi untuk menatap ke arah pria yang sudah ditandai Rara sebagai laki-laki terkutuk.
"Gue tidak peduli apa kata bos. Laki-laki itu sekarang tidak ada di sini dan dia tidak akan tau jika gue yang bakal menikmati lo terlebih dahulu ha ha h!!!"
"Dasar Anj*ng lo!!!! Lepasin gue bodoh!!!!"
"Sepertinya mulut lo ini perlu gue sumpal dengan bibir. Tidak pantas mulut lo teriakin ke gue baik lo keluarkan suara lo bua---"
"Gue nggak akan sudi gobl*k!!! Dasar pria hitam, tatoan, dekil, bau!!!"
Pria tersebut seketika menggeram marah mendengar cacian dan hinaan yang diucapkan Rara untuknya. Ia langsung mencengkeram dagu Rara lalu diangkatnya dengan kasar.
Rara menggeleng ketakutan kala melihat orang tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah dirinya. Rara memejamkan mata ketakutan, jika itu terjadi maka Rara akan mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa di dalam situasi ini.
"Hentikan!!" Teriak seseorang membuat pria yang hendak melecehkan Rara tersebut pun menghentikan tindakannya dan berbalik. Ia menunduk kepada orang tersebut dan begitu pula dengan anak buah yang lainnya.
"Jangan pernah lo sentuh dia sebelum gue sentuh perempuan itu, Anas!!!"
"Iya bos!" Kata pria bernama Anas seraya menjauh dari Rara.
"Ingat siapa pun yang berani menyentuh dia sebelum gue maka kalian akan tau sendiri apa efek sampingnya."
"Siap Bos!!"
Rara sedari tadi membuang muka dan mengunci telinganya rapat-rapat agar tak mendengar suara dari orang terlakn*t tersebut. Meski Revan telah menyelamatkan dirinya dari Anas, tapi sampai kapan pun Rara tidak akan berterima kasih pada cowok itu.
Revan dengan senyuman mendekati Rara. Bagi Rara itu bukanlah pertanda keramahan dari Revan melainkan tanda betapa jahatnya seorang Revan.
Kala Revan telah berdiri di depan Rara, Revan langsung membungkukan wajahnya seraya memandang manik indah Rara.
"Katakan ke gue kalau lo cinta sama gue!!!"
"...."
Revan menarik napas dan masih tersenyum. " Rara katakan." Kali ini suaranya lembut tapi mematikan.
"...."
"Katakan Rara!!! Bilang kalau lo cinta sama gue!!!"
__ADS_1
Sama sekali Rara tidak bicara. Yang dilakukan perempuan itu hanyalah menatap penuh kebencian ke Revan. Sama sekali tidak ada niat buat dirinya untuk mengatakan kalimat terarah tersebut.
"KATAKAN RARA ANDIRA!!!"
Revan dengan keras memukul meja hingga semua anak buahnya ketakutan mendengar pukulan meja yang amat nyaring tersebut dari pria tersebut.
"...."
Plakk
Plakk
Dua pipi Rara di tampar dengan keras hingga salah satu pipinya mengeluarkan darah akibat kerasnya pukulan tersebut. Wanita itu terhingal-hingal karena tak dapat lagi menarik napas akibat tangisan memilukan wanita itu.
"Dia tidak mau berbicara maka letakkan semua cacing itu di telapak kakinya."
"Revan jangan hiks!!"
Revan tidak menggubris dan anak buahnya bernama Haikal meletakkan mangkuk yang penuh cacing tanah ke bawah telapak kaki Rara.
"Tidakkkk Revan hiks, hiks!!! Lo jahat Van, lo jahat!!! Gue benci sama lo!!!"
_______
Sebuah mobil putih berhenti saat melihat ada seorang anak yang sedang menangis di pinggir jalan. Sang pengendara pun turun dari mobilnya dan menghampiri sang anak tersebut.
"Siapa nama mu?!" Tanyanya pada anak tersebut yang sedang menangis sesugukan di pinggir jalan.
Tampak bocah tersebut seperti ketakutan melihat orang itu mendekatinya. Ia berusaha kabur namun cepat dicegah oleh Aldi.
"Hey jangan takut! Kaka orang baik. Kamu kenapa di sini sendirian sambil nangis?!"
"Kak Rara.. hiks, Kak Rara diculik, hiks, hiks, hiks.. Bagas nggak bisa nyelamatin Kak Rara!"
Aldi terdiam sebentar dan melepaskan tangannya dari tubuh Bagas. Ia merokok ponselnya dan memang keberadaan mobil Rara tidak jauh berada dari sini. Untuk meyakinkan lebih lanjut, Aldi menunjukkan foto Rara.
"Apa Kakak ini?"
"Iya Kak. Ini Kak Rara, kasihan dia diculik. Bagas nggak berani lawan mereka, mereka semua seram-seram dan mukanya ditutupi."
"Tapi kenapa kamu bisa selamat dari mereka?"
"Nggak tau juga Kak, sepertinya mereka cuman mau tangkap Kak Rara."
"Nama aku Bagas Kak."
"Oh Bagas. Kalau gitu kamu masuk ke dalam mobil Kaka dan ikut Kaka."
Bagas dan Aldi masuk ke dalam mobil. Kemudian ia pun menghubungi Deko yang kebetulan pria itu menjadi pemain cadangan untuk babak ini.
"Halo?"
"Deko gue ketemu sama anak yang namanya Bagas. Spertinya dia dan Rara mau pergi ke pertandingan. Tapi ada yang lebih penting, Bagas mengatakan kalau Rara diculik sama banyak orang!!"
"What lo serius Di?"
"Iya gue serius beg* nanti kalau misalnya gue sudah ketemu lokasinya entah gue sherloc."
"Ok."
Tut
Sambungan terputus. Aldi menarik napas dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Sebelum mempertanyakan kronologi kejadian, Aldi menatap Bagas yang ketakutan cukup lama.
"Bagas jangan sedih. Kita cari sam-sama semoga ke temu. Tapi tadi dia bawa Kak Rara ke arah mana?"
"Ke dalam hutan Kak."
Aldi mengangguk paham. Tak mau banyak bicara lagi, pria itu langsung menjalankan mobilnya dan menyusui jalanan menuju ke TKP untuk mencek mobil Rara dan kemudian masuk ke dalam hutan.
_____
Rara sudah lemas. Seluruh saraf tubuhnya tidak berfungsi dengan baik lagi. Matanya terpejam dan peluh mengucur di area lehernya. Habis sudah perlawanan Rara dan semuanya berujung sia-sia.
Mungkin ini takdirnya dan Rara pun pasrah. Air mata menggenang tanpa diperintahkan. Benteng di dalam diri Rara seakan roboh. Bahakan dia tidak bisa menjauh dari Revan yang sedang menggerenyangi tubuhnya.
Isakkan menyakitkan tapi terdengar penuh keindahan bagi Revan. Pria itu menciumi area leher Rara. Bagian atas Rara hampir telanjang, dan apa yang bisa ia lakukan? Yang ia lakukan hanyalah berdoa dan semoga ada yang menolongnya.
"Ra kenapa kamu diam Ra? Kamu mau aku hukum kayak tadi."
Percuma Rara membuka suara karena itu tidak membuahkan apa-apa. Harapan kecil tersemat di dalam raga perempuan itu. Bolehkah dia meminta kebahagiaan kepada Tuhan?
Namun sepertinya kebaikan tidak berpihak kepadanya. Satu di dalam hati Rara, meski ia ternoda tapi dia tidak mau anaknya kenapa-napa.
__ADS_1
Ketika bibir Revan hendak meraup bibir Rara, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu.
"Oh shit siapa yang berani mengganggu gue?"
Ia berbalik menatap ke arah pintu dan tersenyum melihat Gabriel dengan napas memburu mengacungkan pistol kepadanya. Pria itu berpakaian lengkap dan serba hitam. Di kedua pinggangnya terdapat senjata mahal yang dipasok dari Amerika.
Dan jangan lupakan pula ada pisau dapur yang terbungkus sarung mengait di pinggangnya.
"Selamat datang Gabriel!!"
Gabriel tidak menjawab tapi ia menatap ke arah ranjang di mana istrinya terbaring dalam keadaan lemah dan tidak bisa membuka matanya.
Pistol yang berada di tangannya semakin ia genggam melihat penampilan istrinya yang hampir telanjang tersebut.
"Berani-benari nya lo Revan!!!"
Dorrr
Itu bukan suara yang berasal dari senjata Gabriel tapi melainkan berasal dari suara pistol di luar sana yang mana Aldi, Reza, dan Adhan sedang bertarung melawan anak buahnya Revan.
"Ternyata lo nggak sendiri!"
"Kenapa? Lo takut sama gue?"
"Enggak juga. Tapi gimana ya, gue sepertinya sedikit kesal karena aktivitas gue lo ganggu."
"Lo!!" Suara pelatuk telah berbunyi dari pistol Gabriel namun suara pelatuk lain juga berbunyi yang tak lain berasal dari suara pistol milik Revan yang terarahkan pada perut Rara.
"Sepertinya akan menyenangkan menembak dua orang."
Gabriel menurunkan pistolnya dan menstabilkan napasnya. Ia sakit melihat Rara seperti itu. Melihat Gabriel yang menurunkan pistolnya, Revan pun ikut menurunkan pistol yang terarah ke perut Rara.
"Kalau lo laki mari kita kelahi dengan tangan kosong."
"Siapa takut."
Revan membuang semua senjatanya dan begitu pula dengan Gabriel. Pria itu membuka bajunya serta singlet pria itu hingga menampakkan otot-otot perutnya.
Begitu pula dengan Revan. Pria itu membuka bajunya hingga menampakkan perutnya yang tak kalah indah dari perut Gabriel.
Keduanya maju dan saling menyerang. Pertarungan begitu sengit dan suara retakan tulang sama-sama berbunyi. Gabriel menendang wajah Revan sedangkan Revan sendiri menendang tulang kering Gabriel cukup keras hingga keduanya terjatuh.
Darah keluar dari bibirnya, dan pria itu menghapusnya lalu memandang ke arah Gabriel yang tengah menahan sakit di kakinya.
"Ternyata lo kuat juga!"
Tanpa aba-aba Revan bangkit dan cepat menendang dada Gabriel yang sedang tersungkur hingga pria itu termundur dan membentur dinding di belakangnya.
Karena rumah ini merupakan gedung rusak sehingga kayu lapuk jatuh dari atas Gabriel karena kuatnya benturan tubuh Gabriel pada dinding hingga mebenyababkan runtuhnya bangunan tua. Tapi Gabriel dengan cepat mengelaknya walaupun kakinya sempat terjatuhi kayu yang patah.
"Auuu!!!" Gabriel menjerit penuh kesakitan karena kakinya yang ditendang tadi terkena reruntuhan.
Melihat peluan besar untuk menghabisi Gabriel, Revan mengambil pisau yang dibawa Gabriel tadi dan melepaskan sarungnya dan kemudian menancapkannya ke tubuh Gabriel.
Namun Gabriel cepat berguling ke samping dan yang terkena pisau hanyalah lantai. Gabriel megambil pistolnya karena Revan telah memakai senjata.
"Lo!!! Mati lo bajing*n dan siap-siap gue antar lo ke neraka jahanam!!!"
Dorr
"Aaa!!!" Gabriel menjerit, ternyata ada seseorang yang menembak perutnya terlebih dahulu yang tak lain Anas.
"Anas cepat lo bawa Rara dari sini!!" Teriak Revan memerintah Anas.
Niat Anas yang ingin membawa Rara segera dihentikan dengan satu timah panas di kakinya. Aldi yang melihat Rara dengan tangan terikat ke ranjang pun segera memutuskannya dengan kapak tali tersebut dan seraya mengambil baju Gabriel yang telah dilepas dan dibungkus ke tubuh Rara.
Ia membawa Rara keluar dari sana. Melihat itu Gabriel bernapas lega walau sepertinya ia kehabisan darah karena satu peluru masih bersarang di perutnya.
Melihat peluang kembali hadir, Revan pun mengambil pistol dengan perlahan lalu ingin menembakkanya pada Gabriel, tetapi sirene mobil polisi telah berbunyi membuatnya sedikit lengah dan Gabriel mendekat lalu merebut pistol tersebut.
Revan yang hendak menembakkan pistolnya ke arah Gabriel langsung direbut pria itu hingga terjadilah rebutan. Tangan Revan telah berada di pelatuk namun ia tidak bisa mengarahkan pistol itu ke Gabriel karena laki-laki itu menghalanginya hingga Revan tak sengaja menembakkanya ke arah kayu lapuk hingga kayu yang cukup besar itu runtuh.
Polisi telah berada di sana dan tidak cerana mendekat karena melihat kayu yang cukup besar hendak jatuh tepat ke arah mereka berdua. Gabriel yang menyadari itu langsung mendorong tubuh Revan hingga Revan terjatuh dan ia pun juga ditimpa kayu yang cukup besar itu.
"REVAN!!!" Cilla/Gabriel/ polisi/ Dive/ dkk.
Kebetulan Cilla juga berada di sini. Ia ngotot kepada ayahnya mendengar nama Revan ikut terlibat terhadap penyekapan Rara. Namun ia langsung terduduk melihat suaminya dalam keadaan tidak sadarkan diri dan kepalanya penuh darah merah dan putih yang berasal dari otaknya. Seketika itu pula Cilla langsung pingsan.
_______
Tbc
Like, komen, dan vote.
__ADS_1