
Cilla tak berhenti berteriak kegirangan ketika sudah dapat memeluk teman kecilnya yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan ke Australia. Sumpah demi apa coba bisa ketemu teman lama, tentu rasa rindu jika dapat dilihat mungkin dunia ini penuh akan rindu mereka yang baru terlampiaskan sekarang.
"Ya ampun ini beneran kamu Iel? Tampan banget dari pada di video. Kalau gini mah aku karungin aja kamu Iel." Cilla benar-benar kehabisan akal bahkan saking tak percayanya jika itu adalah Gabriel, sampai-sampai dia meneliti dari atas sampai bawah. "Ini beneran Iel."
Rara yang dari tadi melihat wanita lain menyentuh suaminya tentu sangat marah. Napasnya memburu tak beraturan ketika melihat Gabriel malah membalas pelukan wanita itu, Siapa dia? Kenap peluk-peluk orang sembarangan?
"Eh lu siapa sih? Datang-datang main peluk aja? Dasar lu manusia! Jauh-jauh lo dari suami gue!"
Rara dengan usaha besar menjauhkan tubuh Cilla yang melekat bagaikan ada lem di tubuh mereka. Refleks Cilla yang melihat Rara berusaha menjauhkannya pun menatap Rara dengan pandangan yang susah diartikan.
"Kamu Rara ya?"
"Eh lo orang asing jangan sok-sok an kenal sama gue? Pakai 'aku kamu' lagi. Alah basi banget, cari perha----"
Rara tak melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba Cilla malah memeluk tubuhnya begitu erat. Mata Rara membulat saat Cilla berteriak kencang kegirangan ketika memeluk tubuhnya seakan mereka sudah kenal lama . Rara heran dengan orang ini, padahal dia tidak tau siapa perempuan yang tiba-tiba memeluknya dan juga mengapa Cilla bisa mengetahui namanya.
"Idihh lepasin gue." Dengan tekad penuh Rara berjuang melepaskan Cilla yang memeluk tubuhnya begitu erat hingga ia lupa bagaimana caranya bernapas.
Nisa, Gabriel, Bagas, serta Dive masih tak percaya melihat interaksi kedua perempuan muda tersebut. Sedangkan Nisa menarik napas lega ketika telah melihat pemandangan di depannya, baguslah tidak ada perang ke tiga. Gabriel masih menjadi patung. Ia benar-benar syok dengan kejadian ini, Cilla teman yang pernah singgah di hatinya kini telah berada tepat di depannya. Tolong beri tahu Gabriel apakah ini ada di dunia Novel?
"Lo siapa sih main peluk-peluk gue?"
Cilla mengercutkan bibirnya saat mendapatkan dirinya dibentak oleh Rara, namun tak berapa lama ia kembali tersenyum dan dengan jahilnya mencubit pipi Rara yang kenyal seperti jeli.
"Halus banget muka kamu?"
"Jangan cubit-cubit gue. Lagian lo siapa sih?"
Cilla menarik napas panjang dan menatap Gabriel yang berdiri di sampingnya. Gabriel tak kuasa menahan degupan jantung yang menyerangnya ketika melihat Cilla mengarahkan pandangan ke padanya.
"Jadi Gabriel nggak ceritain siapa aku?" Tanya Cilla seraya melirik sinis ke arah Gabriel.
"Enggak."
"Panets aja kamu nggak kenal sama aku. Kenalin aku Cilla teman kecilnya Gabriel. Tanya aja sama Bunda Nisa siapa aku jika kamu masih nggak percaya. Tenang jangan takut, aku bukan pelakor seperti di drama-drama Korea."
"Serius?"
"Hm."
Rara menatap ke arah Gabriel lalu menghampirinya. Diam-diam ia mencubit pinggang Gabriel tapi diiring senyuman ke semua orang.
"Gabriel kok nggak cerita ke Rara kalau punya teman kecil?" Bisik Rara sedikit berjingkit ketika berbisik di telinga cowok tersebut.
"Auu sakit Ra," keluh Gabriel seraya memegang tangan Rara yang semakin kuat mencubit pinggangnya.
"Emm sudah, sudah. Lebih baik kita duduk di sofa aja dulu, jelaskan kenapa kamu Cilla bisa ada di rumah ini. Oh iya Dive silakan duduk. Aku ke dapur dulu buatkan minuman untuk kalian."
"Terimakasih Nisa. Apa Arsen ada di rumah?"
"Kebetulan Arsen sedang di kantor. Oh iya sekalian juga aku akan teleponkan dia kalau kamu ada di sini." Dive mengangguk menyetujui ucapan Nisa. Ketika Nisa telah pergi ke dapur, Dive duduk di sofa di samping anaknya Cilla yang sedang berbincang dengan Rara, tampak jika mereka terlihat sudah akrab.
Lirikan mata Dive berganti ke arah Gabriel dan Bagas. Ia tersenyum kepada kedua kaka beradik itu. Gabriel membalas senyum Dive dengan ramah. Tapi tidak dengan Bagas, ia terlihat sedang berpikir karena wajah Dive sangat asing di pandangannya.
"Om siapa ya?" Tanya Bagas berbasa-basi.
"Kamu pasti Bagas?" Bagas mengangguk. "Om teman papa mu."
"Om pasti Om Dive itu kan? Wah berarti yang ngobrol sama Kak Rara itu Kak Cilla dong?" Tanya Bagas balk-blakan yang membuat Gabriel menghela napas melihatnya. Berbeda dengan Dive yang mengangguk membuat mata Bagas membulat lalu setelahnya melirik Gabriel dengan seringaian yang kentra di wajahnya.
Gabriel memplototi Bagas agar tak berbicara yang macam-macam kepada Dive. Sudah jadi rahasia umum di rumah ini jika Gabriel sangat mencintai Cilla. Bila hal tersebut sampai dikatakan Bagas saat ini juga bisa hancur semua. Selain ia tidak ingin mengetahui perasaannya ke Cilla dari perempuan itu dan juga Gabriel tak mau melihat Rara cemburu. Hati Gabriel saat ini benar-benar hanya untuk Rara, bahkan ia tak menyadari sejak kapan dia memiliki obsesi dengan Rara, meski masih sedikit terbesit rasa di hati Gabriel terhadap Cilla.
Gabriel berusaha tenang untuk saat ini meski hati dan keinginannya berbanding terbalik. Sejenak ia menatap ke arah Rara dan Cilla yang tengah tertawa bersama. Ia memejamkan mata dan meraba jantungnya yang terasa aneh saat melihat Rara dan Cilla bersama. Gabriel tidak mungkin egois untuk menuruti kata hatinya yang tiba-tiba menginginkan keduanya.
"Gabriel kamu kenapa?" Tanya Dive yang merasakan kegelisahan Gabriel.
__ADS_1
"Mungkin lagi banyak pikiran Om!"
Ucapan Bagas tersebut menjadi bahan geraman Gabriel. Bisakah Bagas diam dan tak banyak berceloteh tentang apa pun. Rasanya ingin sekali Gabriel melempar Bagas ke tengah-tengah samudra Fasifik.
"Nggak papa kok Om. Gabriel baik-baik aja kok. Dan Om jangan pernah dengarin omongan Kancil ini ya? Oh iya Om kenapa tiba-tiba bisa ada di Indonesia?"
Belum sempat Dive menjawab, Cilla yang kebetulan mendengar pertanyaan Gabriel pun cepat mencela.
"Kamu masih ingatkan pacar aku yang pernah aku ceritakan kemarin? Hah dia itu sekolahnya dipindahkan orang tau-nya ke Indonesia. Karena aku nggak sanggup LDR-an sama dia makanya aku bujuk papa buat sekolahin aku di tempat yang sama dengan dia."
Gabriel menatap Cilla tidak percaya, sebegitu cintanya kah Cilla dengan pacarnya? Untung saja perasaannya sedikit berkurang dengan perempuan tersebut, meski pun masih ada cemburu ketika mendengar cerita Cilla.
"Serius kamu Cilla sampai begitu banget sama pacar kamu? Terus kenapa Om bisa wujudkan kemauan gila ini?" Rara bertanya dengan Dive meski masih terdapat nada canggung karena ia tak tau siapa nama orang yang ia lontarkan pertanyaan itu.
Dive menoleh ke arah Rara dan tersenyum seraya mengangguk. Tapi dia sedikit mengernyit saat melihat ada sesuatu yang aneh pada Rara, ada bagian wajah Rara yang pernah ia lihat sebelumnya. Dive menerawang ke masa lalu, kemudian ia mengamati Rara memastikan apakah dugaanya benar.
"Apakah kamu anak dari William dan Selvi?"
"Iya Om."
"Pantas saja wajah mu mirip mereka! Tapi di mana sekarang William?" Tanya Dive membuat Rara menunduk saat mendengar pertanyaan yang membuatnya kembali mengingat sang ayah. Berat untuk Rara mengatakan sebenarnya tapi ini adalah keharusan.
"Maaf Om papa William telah menghadap tuhan beberapa hari lalu."
Dive membulat mendengar kenyataan itu. Ia tidak mengetahui kabar tersebut, padahal mereka muda pernah dekat dahulu. Arsen sialan, mengapa lelaki berngsek itu tak memberi tahunnya?
"Maafkan aku. Kamu benar Rara? Dan Om dengar kamu juga sudah menikah dengan Gabriel. Apakah benar berita itu?"
"Ishhh Papa sudah Cilla katakan dari kemaren-kemaren kalau Gabriel beneran sudah menikah dengan Rara. Gimana sih Pa nggak percayaan banget sih sama anak sendiri." Cilla memalingkan wajahnya dari Dive.
"Kamu ini gimana sih sayang. Papa kan pengen nanyain langsung sama orang nya." Dive melemparkan kata-kata tidak mau mengalah pada sang anak.
Gabriel memutar bola mata malas mendengar pertengkaran yang tidak berbobot. Diam-diam ia merapatkan duduknya dengan Rara yang tengah asyik menyaksikan pertengkaran yang belum menemukan titik terang antar anak dan ayah.
Gabriel menggenggam tangan Rara tanpa disadari oleh perempuan tersebut. Ia tersenyum melihat Rara yang sedikit terhibur dengan pertengkaran yang ada di depannya.
Rara menoleh saat merasakan ada hembusan napas panas di telinganya. Ia menggeleng seraya ingin melepaskan tangan Gabriel yang menggenggam telapak tangannya begitu erat, tentu usaha itu sia-sia sebab Gabriel semakin mengencangkan genggamannya.
"Good gril." Gabriel tersenyum dan menyisir rambut Rara yang terurai ke belakang.
Bagas melihat Gabriel dan Rara yang malah bermesra-mesraan dan tak peduli dengan pertengkaran Cilla dan Dive pun menghela napas. Ia memiliki suatu ide berlian dan berharap Gabriel akan merasa terusik dengannya.
Ia berjalan mendekat ke arah Rara dan Gabriel lalu duduk di tengah-tengah mereka. Kelakuan Bagas sudah pasti menjadi buah cibiran Gabriel. Ia beberapa kali membisikkan agar Bagas menjauh, namun tak diindahkan.
"Kak Rara mau tau rahasia nggak?" Tanya Bagas di telinga Rara namun matanya menatap ke arah Gabriel.
Rara mengangguk dan balik berbisik ke telinga Bagas agar ucapannya tak didengar oleh Gabriel yang tengah menatap ke arah mereka dengan curiga.
"Apa?"
"Kak Rara nggak nyadar apa sebenarnya wajah Abang berbeda saat kedatangan Kak Cilla?"
"Kak Rara sadar. Tapi kenapa?"
"Tanyakan sendiri aja pada Abang."
Rara tersenyum dan mengusap puncak kepala Bagas. Rara sangat senang Bagas selalu menginformasikan hal-hal yang ia tidak ketahui tentang Gabriel dan dikit demi sedikit ia pun mulai mengetahui tentang Gabriel.
"Silakan diminum," ucap Nisa yang datang sambil meletakkan nampan yang berisikan air putih di atas meja. "Oh iya Dive, Arsen tidak bisa pulang. Tapi dia menitipkan salam dengan mu!"
"Wallaikumsallam!" Balas Dive untuk menjawab salam Arsen.
Mereka pun berbincang tentang bagaimana Cilla di Australia. Sesekali mereka tertawa yang diikuti Dive.
"Oh iya Cilla siapa nama pacar kamu?" Tanya Rara penasaran. Barangkali ia mengetahui siapa pacar Cilla sebab Rara juga banyak kenalan dari Australia.
__ADS_1
"Namanya Revan Anggara Putra. Dia asal Indonesia juga."
Deg
Rara yang tengah meminum airnya pun langsung terbatuk hebat. Tubuh Rara bagai tersengat ribuan listrik, jantungnya seakan berhenti di detik itu juga mendengar pernyataan Cilla. Nama itu, nama yang selalu ia hindari dari telinganya. Air mata Rara hendak tumpah saat mengingat semuanya.
Tapi Rara menggeleng, pasti bukan hanya dia saja yang memiliki nama itu, banyak lelaki yang bernama Revan Anggar Putra, bukan hanya dia saja kan?
"Kenapa Ra?" Tanya Gabriel yang menyadari tubuh Rara memucat.
"Nggak papa."
"Ya Allah semoga bukan dia." Batin Rara berbicara.
______
Rara melihat Gabriel dari ranjang yang masih berkutik dengan laptop dan buku-bukunya pun membuat Rara menghela napas. Ia berjalan mendekati Gabriel dan memeluknya dari belakang.
"Sayang ini sudah malam lho, udah ya belajarnya kita tidur lagi. Entar mata kamu pagi besok hitam lagi."
Gabriel menghentikan mengerjakan PR dan berbalik menghadap Rara. Ia mengecup kepala Rara lalu tersenyum.
"Kalau kamu lelah kamu tidur duluan aja Ra!"
"Tapi Rara tidurnya mau sama Gabriel. Gimana dong?" Tanya Rara yang tampak memaksa Gabriel untuk tidur dengannya.
Gabriel menghela napas dan melihat ke arah bukunya. Ia belum merasa puas dengan rumus baru yang ia temukan. Pasti ada rumus yang lebih mudah dimengerti lagi, Gabriel ingin menemukan rumus tersebut. Seakan tidak rela ia meninggalkan semua itu.
Rara yang kesal pun duduk di pangkuan Gabriel menghadap ke cowok itu. Ia tersenyum ke arah Gabriel dan mengecup bibir lelaki itu seraya melingkar kan tangannya di leher Gabriel.
"Kalau gitu Rara juga nggak mau tidur," tutur Rara seraya memeluk Gabriel.
"Jangan sayang kamu tidur aja ya! Aku sudah biasa begadang, kamu kan enggak?"
"Kata Rara tidurnya mau sama Gabriel." Rara meletakkan dagunya di pundak Gabriel dan memejamkan matanya. Padahal dia memang sangat mengantuk sekali. "Rara tidur di sini aja. Rara mau peluk Gabriel."
"Yaudah kalau itu mau kamu."
Rara tertidur di dalam pelukan Gabriel. Gabriel yang menyadari Rara sudah terlelap pun hanya tersenyum dan mengecup kepala Rara. Ia lanjut mengerjakan PR Fisika yang mana soal-soal tersebut ia jawab dengan rumus yang dibuat para murid masing-masing. Siapa yang jawabannya benar dan rumus nya unik maka dialah pemenangnya. Dan Gabriel ingin membuktikan kalau ia bisa menemukan rumus tersebut.
Sama sekali Gabriel tak terganggu dengan Rara yang berada di pangkuannya yang tengah tertidur. Kedekatan-nya dengan Rara membuatnya lebih luas berpikir lagi.
Gabriel tersenyum puas dengan rumus yang ia temukan sekarang. Dia rasa ini sudah cukup dan matanya juga sudah mengantuk. Gabriel memutuskan untuk berhenti dan mengeluarkan laptop ke menu utama. Ia terdiam melihat foto wallpaper laptop-nya masih foto Cilla. Ia menarik napas dan mengganti foto tersebut dengan foto dirinya bersama Rara.
"Kenapa aku tidak merasakan perasaan itu ke Cilla lagi? Apa ini karena wanita yang berada di dalam pelukan ku ini ya Allah?"
Gabriel tersenyum dan menggendong Rara ke ranjang. Ia merebahkan perempuan tersebut di atas kasur yang sangat empuk dan menyelimutinya.
Gabriel pun berbaring di samping Rara dan masuk ke dalam selimut yang sama. Ia mengecup bibir Rara terlebih dahulu dan memejamkan matanya. Tak lama setelah Gabriel tertidur suara dering ponsel Rara berbunyi dari atas nakas. Rara yang merasa terganggu dengan suara tersebut pun membuka matanya. Ia menguceknya lalu mengambil handphoen tersebut dan mengangkat telepon itu.
"Hallo! Siapa sih telepon malam-malam. Nggak tau orang lagi tidur apa?"
"Ternyata lo sudah tidur."
Rara benar-benar membuka matanya dan terbelalak kaget mendengar suara itu. Dadanya berdetak kencang.
"Re-Revan!"
"Yeah baby."
_______
TBC
Gimana gayes penasaran apa hubungan Rara dengan Revan?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote jika berkenan.