Underage Marriage

Underage Marriage
Part 33


__ADS_3

Revan memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Cowok itu keluar dari dalam mobil lalu menutup pintu dengan cara dibanting hingga mengeluarkan suara berisik.


Emosinya meledak-ledak sepanjang jalan.


"Gabriel sialan!!!" Amuk Revan sambil menendang mobilnya sendiri. Tangannya terkepal ketika mengingat kejadian ia dikalahkan oleh Gabriel.


Padahal Revan sudah memata-matai Rara selama Gabriel masih berada di Semarang. Hal itu sengaja dia lakukan karena Revan mengetahui jika Rara dan Gabriel satu rumah, namun ia tidak tau status yang sebenarnya mereka seperti apa.


Revan berdecak sebal ketika berteriak menyalurkan rasa frustasinaaya dan mulutnya yang terkena tonjokkan terasa perih. Revan memejamkan mata kemudian menyentuh luka robek di sudut bibirnya.


"Akhh. Semuanya kacau!!"


Revan mengelap darah yang keluar dan kemudian pergi dari sana sambil membuka jaketnya yang basah. Di rumah ini hanya dihuni olehnya karena ia memang tinggal sendiri. Ia tidak suka tinggal bersama orang tua karena mereka terkesan mengatur.


Laki-laki tersebut masuk ke dalam kamar yang semuanya didominasi warna hitam. Revan bersikap acuh terhadap tetesan air di lantai yang disebabkan pakaian basahnya.


Sejenak Revan menghela napas kemudian memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Setelah itu ia pun membuka bajunya hingga menyisakan boxer di tubuh pria itu. Pakaian tersebut lantas ia masukkan ke dalam keranjang pakaian kotor.


Ia meraih handuk lalu melilitkan ke tubuhnya sebatas pinggang hingga dapat dilihat perutnya yang kotak-kotak.


Dia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan beberapa menit kemudian kembali keluar. Rambutnya basah dan tubuhnya masih  dipenuhi dengan buliran air.


"Kenapa rencana gue bisa gagal? Kenapa juga laki-laki sialan itu balik nggak sesuai prediksi?"


Ia kesal rencananya untuk menikahi Rara malam ini digagalkan. Tapi Revan tidak putus asa. Ia akan mengulangi perbuatannya itu lagi dan lagi sampai kemauannya berhasil.


"Kalian lihat saja. Aku pasti berhasil," ucapnya serta diiringi smirk licik di wajahnya.


Revan menuju lemari pakaian dan memilih pakaian santai. Ketika tubuhnya kembali terbalut dengan pakaian lengkap, ia pun berjalan menuju ranjang dan naik ke sana.


Entah apa yang diambil Revan di dalam laci nakas yang jelas sebuah bingkai foto. Ia menatap foto tersebut dengan rasa bercampur aduk. Ia sama sekali tidak merasa puas menatap wajah wanita yang tersenyum di dalam foto itu walau berjam-jam lamanya.


"Ra. Sampai kapan pun aku nggak bisa mencintai orang lain selain kamu. Ku kira jauh dari mu bertahun-tahun dapat membunuh perasaan gila ini, namun nyatanya rasa cinta ku semakin dalam sama kamu Ra. Aku sakit setiap kamu nolak aku Ra." Revan berusaha menahan tangis. Asal kalian tau Revan tidak seburuk yang kalian pikirkan. Dia tetap manusia Dia bisa menangis.


Hampir setiap kali melihat foto Rara ia selalu menangis. Sebenarnya Revan membenci dirinya yang menangis seperti anak cengeng, namun rasa alamiah selalu tidak dapat ia hindari.


Tetesan air mata pun jatuh pada akhirnya dan menerobos pertahanan Revan yang ia bangun mati-matian. Revan menghapus dengan kasar.


"Kenapa gue lema?!!!"


Revan memejamkan mata dan menjauhkan bingkai foto itu lalu meletakkannya di dalam tempat semula.


Ia mebaringkan tubuhnya di atas kasur lalu menutup matanya untuk masuk ke dalam alam mimpi. Baru saja dia hampir terlelap tiba-tiba pintu kamarnya seperti dibuka oleh seseorang. Refleks Revan kembali membuka matanya dan menatap ke arah pintu.


Di sana berdiri sosok perempuan yang membuatnya kembali tersenyum dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kamu kenapa datang malam-malam ke rumah aku sayang?" Tanya Revan seraya menepuk kasur di sampingnya. "Duduk sini."


Cilla menghampiri Revan dan duduk di samping laki-laki yang sangat disayanginya. Ia menatap Revan dengan pandangan penuh dengan ketulusan.


"Aku kangen kamu?"


"Papa kamu tau kamu ke sini?"


Perempuan tersebut menatap ke depan dengan pandangan sedihnya. Revan melihat itu pun mengernyit.


"Kenapa?" Tanya Revan sembari mengusap rambut selembut madu Cilla.


"Papa sama Mama pergi lagi ke luar negeri tadi sore."


"Oh."


Cilla menoleh ke arah Revan dan menatap cowok itu. Namun ia sangat terkejut ketika mendapatkan sebuah luka lebam yang menghiasi wajah Revan. Cilla pun baru menyadari jika ada luka itu. Ia mencoba mengingat apa saja yang dilakukannya tadi sore bersama Revan hingga  cowok tersebut sampai memiliki luka lebam di wajahnya.


"Kamu kenapa Van? Muka kamu kok luka begini?" Tanya Cilla dengan nada khawatir dan cepat bergegas menghampiri nakas mencari obat yang bisa mengobati Revan.

__ADS_1


"Nggak papa Cil. Luka dikit doang, nggak usah khawatir aku cuman jatuh dari motor?"


"Luka kecil? Cuman? Apanya cuman Van, muka kamu begitu. Gimana aku mau tenang."


Membalikkan badan dan kembali mencari obat merah diseluruh inci kamar Revan. Tidak peduli dengan Revan yang menyuruhnya untuk berhenti.


Dengan penerangan minim, Cilla berusaha mencari obat. Tak sengaja ia membuka nakas lalu merabanya. Detik selanjutnya ia langsung mengerutkan kening saat merasakan sesuatu seperti bingkai foto.


Wajah Revan sudah menegang. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Cilla melihat foto itu.


"Cil nggak ada di sana. Kalau nggak salah obat merahnya ada di meja sana deh."


Cilla menatap Revan dan menghembuskan napas. Ia kembali menutup laci nakas lalu menghampiri meja dimaksud Revan.


"Hampir saja," gumam Revan penuh kelegaan.


Ia menatap nakas yang menyimpan foto Rara. Kemudian memandang ke arah Cilla yang berjalan ke arahnya sembari membawa kotak P3K.


"Sini wajah kamu aku obati."


________


Gabriel mengetuk pintu dengan amat kencang dari luar rumah hingga semua penghuni rumah berbondong-bondong menghampiri pintu utama.


Arsen sebagai kepala rumah tangga membuka pintu tersebut. Dan semua orang langsung terpaku dengan kedatangan Gabriel serta yang digendongnya.


"Astagfirullah Rara kenapa?" Kaget Nisa dan menatap Rara dengan pandangan ibanya.


"Nanti aja Bun Gabriel jelaskan. Rara harus kita bawa cepat."


"Ayo-ayo cepat bawa masuk," ujar Arsen seraya membantu Gabriel yang kesusahan membawa Rara.


Entah sejak kapan air mata Nisa telah menetes menatap kondisi memprihatinkan Rara. Namun ia sebagai seorang ibu tentu sangat sedih dengan keadaan Rara seperti itu.


"Akhh." Nisa merasakan perutnya seperti dicabik-cabik.


"Bunda nggak papa kok sayang, Bunda ku--- Akhh." Nisa tak bisa meneruskan ucapannya saat rasa membelit itu kembali menggerogotinya.


"Tuh kan Bunda. Ayo ikut Bagas biar Bagas pijat."


"Tapi Kak Rara..."


"Sudah Bun. Ada Abang kok."


Nisa menghela napas dan menuruti ucapan Bagas. Dirinya memang sangat membutuhkan untuk berbaring saat ini.


Kebetulan kamar Nisa tak jauh dari ruang tamu. Memang Arsen sangat melarang jika kamar mereka berada di lantai atas. Ia takut Nisa yang sedang mengandung anaknya itu akan kenapa-napa.


Di dalam kamar, Rara dibaringkan di tempat tidur tidak peduli dengan tubuh Rara yang basah kuyup dan sama sepertinya.


"Sudah Pa. Papa keluar aja. Tadi Bunda, Gabriel lihat sedang kesakitan perutnya. Papa jagain Bunda aja. Rara bisa kok Gabriel yang urus."


"Yakin kamu bisa?"


"Iya Pa."


Arsen menarik napas kemudian mengangguk. Ia pun meninggalkan kamar Gabriel. Sepeninggalan Arsen, Gabriel pun menutup pintu kamarnya.


Tatapan matanya tertuju pada Rara yang memejamkan mata. Sejenak Gabriel menghela napasnya lalu mencari ponsel untuk menghubungi dokter kenalannya.


Tapi satu pun panggilan Gabriel tak direspon. Cowok tersebut kesal lalu menghempaskan ponselnya hingga hancur berkeping-keping.


"Kenapa bisa begini sih?!!!" Kenapa satu pun nomor nggak ada yang nyambung????"


Gabriel mengusap wajahnya lalu memandang Rara. Hatinya yang semula diliputi dengan kecemasan melunak dalam hitungan detik dengan hanya melihat wajah teduh istri kecilnya itu.

__ADS_1


Ia duduk di pinggir ranjang lalu mengusap kepala Rara penuh sayang.


"Kenapa kamu bisa keluar malam begini sih Ra?"


Tidak ada jawaban. Itu membuat Gabriel berusaha menahan senyum masamnya. Gabriel berharap bius yang disuntikkan Revan ke tubuh Rara segera hilang.


Cukup lama Gabriel berada di posisi menunggu, tiba-tiba tak lama doanya terkabul. Rara sadar dari pingsannya dan bius yang ada di tubuhnya pun sudah menghilang.


"Ra, kamu sadar Ra." Gabriel sungguh tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang tengah diarasakannya.


Rara menatap tubuhnya dan menyadari pakaian yang ia kenakan berbeda dengan yang tadi.


"Siapa yang ganti pakaian Rara?" Tanya Rara langsung menyambar.


"Aku Ra," aku Gabriel dengan jujur. Pakaiannya pun sudah berganti. Sebelum Rara sadar ia sempat menggantikan perempuan itu pakaian lalu membersihkan tetesan air dan mengganti seprei yang basah.


Rara tiba-tiba langsung melayangkan guling ke kepala Gabriel dan memukulinya. Semantara Gabriel tak tau apa-apa pun hanya bisa menghindari pukulan bertubi-tubi dari Rara.


"Ra kamu kenapa?!" Tanya Gabriel tidak tau menahu apa kesalahannya hingga dipukuli begitu.


"Gabriel kok ganti pakaian Rara sih? Dosa tau lihat tubuh perempuan. Rara malu."


Gabriel  pun bisa menarik napas. Ternyata hanya itu. Namun kemudian Gabriel menyeringai.


"Lagian aku sudah pernah kok lihat tubuh kamu. Gitu aja malu."


"Malu lah." Rara megercut, "Gabriel kok bisa ada di sini. Padahal tadi Rara keluar buat beli bahan makanan kesukaan Gabriel."


"Dan ketemu Revan? Terus dicium? Diajak nikah?"


Gabriel langsung menyambar bibir Rara, menyesapnya seperti minuman. Setelah puas dengan bibir Rara, Gabriel pun melepaskan tautan bibir mereka.


"Gabriel kok gitu?"


"Aku mau bersihkan bekas bibir laki-laki ba*ingan itu. Aku tidak sudi punya ku disentuh orang lain."


Rara mendengus mendengarnya. Dan membuang muka untuk menghindari wajahnya yang memerah.


"Kenapa? Kamu nggak suka?"


Spontan Rara menatap Gabriel kemudian menggeleng cepat. "Rara suka kok."


"Masih sakit?"


"Enggak," jawab Rara.


Gabriel mengangguk dan merebahkan tubuhnya di samping Rara. Kemudian memeluk wanita tersebut dengan sangat kencang hingga Rara kehabisan oksigen.


"Jangan kencang-kencang ih."


"Aku tu kangen sama kamu Ra. Makanya aku pulang cepat nggak sabar buat ketemu kamu. Tapi aku malah mendapatkan kejutan setelah sampai ke Jakarta. Kamu jangan lagi keluar malam dan berusaha buat ngehindar dari iblis itu."


Gabriel menciumi seluruh pipi Rara dan memebelainya.


"Rara akan berusaha. Tapi Rara khawatir sama Cilla. Gimana kalau misalnya Cilla disakiti terus tau kalau Revan itu suka sama Rara. Rara nggak mau dibenci Cilla, cuman Cilla teman perempuan Rara. Gabriel bantuin Rara ya buat Cilla sadar kalau misalnya Revan bukan orang baik."


Gabriel menatap manik Rara dengan senyum hangatnya. Itu sudah pasti menjadi kewajiban Gabriel sebagai sahabat untuk menyadarkan Cilla.


"Itu pasti sayang. Sudah tidur lagi."


Rara memejamkan mata. Tak lama terdengar suara dengkuran dari perempuan tersebut. Gabriel mendekatkan bibirnya pada kening Rara, mengecupnya. Kemudian ia pun ikut menyusul Rara ke alam mimpi.


_______


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan Vote.


__ADS_2