What A Wonderful Woman

What A Wonderful Woman
Kondisi Hanin part 1


__ADS_3

" Bie aku tunggu di bawah ya " Hanin melepas pelukanku


" Iya sayang "


Hampir setengah jam Harun bersiap-siap hingga akhirnya dia turun dengan setelan jas berwarna navy yang tampak sempurna di mata Hanin


" Sayang hari ini aku ada metting sama klien-klien penting dari luar negeri jadi mungkin aku pulang telat nanti kamu nggak papakan " Sebenarnya hari ini Harun ingin pulang cepat dari kantor namun sayangnya Bayu mengabarkan bahwa mereka harus metting hari ini atau menunggu bulan depan, tentu saja Harun akan memilih hari ini karena dia tau pasti akan sangat sulit untuk mengatur jadwal dengan mereka lagi


" Bie hari ini aku.... " Hanin belum sempat melanjutkan kalimatnya


" Selamat pagi semuanya, wah lagi pada sarapan ya? kok tante nggak nungguin tante sih " Tante Pratiwi duduk berhadapan dengan Hanin gadis bodoh apa kau pikir aku akan membiarkan mu hidup nyaman disini.


" Silahkan, Tante jangan sungkan-sungkan " Harun acuh


" Sayang aku berangkat dulu ya " Harun berdiri dan meraih tengkuk sang istri dikecupnya kening Hanin sebelum pergi


" Tunggu bie " Teriak Hanin saat Harun hendak berangkat ke kantor


" Kenapa sayang? " Harun sedikit heran namun tiba-tiba saja Hanin meraih tangan kanan suaminya dan dikecupnya punggung tangannya


" Hati-hati ya bie "


" Iya sayang, aku berangkat dulu kamu baik-baik ya dirumah" Harun merasa lega sekarang


Karena pernikahan mereka masih dirahasiakan maka tidak ada waktu cuti bagi Harun. Sebenarnya Harun ingin segera mengumumkan nya namun mengingat keberadaan orang tua kandung Hanin yang masih menjadi misteri bagi kedua nya maka pernikahan tersebut hanya dihadiri golongan tertentu dan kerabat dekat saja


" Gimana rasanya? " Tante Pratiwi mulai bersikap dingin pada Hanin saat Hanin kembali ke meja makan

__ADS_1


" Maaf? " Hanin masih bingung tentang arah pembicaraan tante suaminya


" Sudahlah, aku tau gadis seperti mu hanya mengincar status sosial saja bukan " Ucap tante Pratiwi ketus


" Maaf tante, saya tidak bermaksud demikian " Hanin berkata jujur


" Sudahlah berapa yang kau inginkan katakan saja akan ku berikan asal kau pergi jauh dari keluarga Wardhana " Ternyata memang untuk itulah dia hadir, yaitu untuk menghancurkan pernikahan Harun dengannya bahkan sebelum mereka merasakan lika-liku kehidupan rumah tangga


" Berapa seratus juta, dua ratus, atau satu milyar. katakan saja akan aku berikan tunai saat ini juga " Tante Pratiwi yakin bahwa Hanin pasti tergiur akan tawaran nya, namun sayang sepertinya tante Pratiwi tidak akan pernah mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah


" Maaf sebelumnya kalau Tante punya uang sebanyak itu sebaiknya tante gunakan untuk investasi masa depan tante nanti, karena aku dengan anak tante sudah tidak pernah mengunjungi tante lagi bukan jadi sebagai tante simpan saja uang tante tersebut karena Hanin masih mampu kalau hanya untuk simpan masa depan Hanin nantinya " Hanin beranjak begitu saja tanpa sesuap nasi pun baginya hinaan tante Pratiwi sudah cukup untuk membuat nya merasa kenyang dan tak berselera untuk makan


" Kau!!! " Tante Pratiwi merasa sangat kesal baginya ini adalah hinaan yang diterimanya untuk pertama kalinya


Hanin kembali ke kamar nya dengan perasaan campur aduk ada rasa marah, kecewa dan juga kesal namun entah mengapa Hanin juga merasa tak berdaya saat ini hingga tanpa terasa dia tertidur cukup lama di kamarnya hingga Harun pulang dari kantor


" Hanin di mana bik " Tanpa terlebih dulu membalas sapaan bik Marni Harun langsung menyakan keberadaan istrinya


" Anu.... itu tuan..... nona.... " bik Marni ragu


" Katakan " Harun merasa ada sesuatu yang terjadi setelah kepergiannya ke kantor karena tidak biasanya bik Marni ragu menjawab pertanyaannya


" Itu tuan...."


" Katakan!!! " dengan nada bicara yang semakin tinggi


" Nona dari pagi berada di kamarnya tuan " Harun merasa lega saat mendengar istrinya masih berada di rumah tapi kesenangannya tidak bertahan lama

__ADS_1


" Nona bahkan tidak sarapan tadi pagi dan langsung masuk kamar tanpa keluar sama sekali tuan " Dengan perasaan takut bok Marni berkata jujur


" Apa, kenapa gak kasih tau dari tadi sih bik dan kenapa dibiarin gitu aja " Gerutu Harun kesal dan langsung menuju kamarnya


Ceklek....


Dibukanya pintu tersebut dengan kasar terlihat Hanin masih tertidur disana dengan cahaya lampu remang-remang karena memang Hanin belum menyalakannya sejak tadi


" Sayang " Harun menghampirinya yang masih tertidur pulas atau justru sedang......


" Sayang tadi bibik bilang kamu nggak mau makan ya Kenapa? " Harun menyisipkan anak rambut Hanin yang menutupi sebagian wajahnya


" Apa kamu mau makan diluar " Sambungnya lagi


" Sayang!!!! " seru Harun saat Hanin sama sekali tidak memberikan respon padanya digoyangkan nya tubuh namun perlahan hingga semakin lama semakin brutal karena Harun merasa tubuh istrinya sangat lemah bahkan tidak ada perlawanan sama sekali


" Sayang jangan bercanda dong, sayang nggak lucu deh ayo bangun " Harun mulai cemas hingga tangannya menyentuh kulit Hanin yang terasa mulai dingin mengetahui keberadaan Hanin tidak sedang bercanda itu Harun pun akhirnya mengangkat tubuh Hanin secepatnya mungkin dan membawa ke rumah sakit


Hanin..... sayang bertahanlah sebentar aku mohon jangan tinggalkan aku saat ini. Batin Harun menangis meratapi kebodohannya yang tidak segera menyadari keadaan istri nya lebih awal dan bodohnya lagi selama seharian ini dia sama sekali tidak menghubunginya


" Bayu kita ke rumah sakit secepatnya " perintah Harun pada asisten sekaligus supir pribadi yang harus stand by dua puluh empat jam di dekat nya


" Sayang bertahanlah, ku mohon " Harun menutup tubuh istrinya menggunakan jas yang ia kenakan dia berharap agar suhu tubuh Hanin tidak semakin turun


" Lebih cepat lagi kalau sampai terjadi sesuatu padanya kau akan aku hukum!!! " Perintahnya pada Bayu yang masih fokus mengemudikan mobil


Seharian pingsan tanpa makan, semoga saja Hanin masih bisa bertahan........

__ADS_1


__ADS_2