
Pagi yang cerah karena sinar matahari bersinar dengan terangnya menyinari alam semesta ini, namun lain halnya dengan Harun dia justru bermuram durja mengingat tragedi asinan yang masih terbayang di benaknya mungkin setelah ini Harun akan mem***** makan tersebut
" Bie kamu Kenapa..... kamu lagi sakit bie? " Hanin khawatir, disentuhnya kening Harun menggunakan punggung tangannya lalu menempelkan punggungnya tangannya tadi ke keningnya sendiri
" Kamu nggak demam kok bie " setelah memastikan suhu tubuh Harun Hanin berniat mengajak Harun untuk turun agar mereka dapat deh menyantap sarapan bersama
" Bie..... " Hanin merasa heran dengan sikap Harun yang kembali bersikap dingin
" Kenapa? " Hanin masih bingung apa mungkin tanpa dia sadari sebenarnya Hanin telah menyinggung perasaan Harun saat itu
" Lupakan aku masih harus meeting jadi aku berangkat dulu " Harun menghindar
" Bie seenggaknya sarapan dulu biar kamu nggak sakit nantinya " Hanin mengingatkan
" Aku nggak laper, kamu aja yang sarapan " Harun kembali cuek
Harun bergegas turun dan pergi berangkat kerja bahkan Hanin belum sempat mencium punggung tangan suaminya itu
Di ruang makan
" Bik bisa temenin aku sarapan nggak " Suara Hanin terdengar lesu
" Maaf non tapi bibik masih banyak kerjaan dan itu juga dilarang di rumah ini " Jawabnya jujur
Hanin baru saja akan menyantap sarapannya namaun saat dia mengambil segelas susu putih tiba-tiba saja Hanin merasa perutnya kembali bereaksi
Hukkkkkkk Hanin tampak sedang menahan sara mual yang kembali ia rasakan, Hanin berlari kecil ke kamar mandi yang ada di bawah namun tiba-tiba saja
Srettttttt
" Aghhhh " Hanin spontan berteriak saat tiba-tiba kakinya tergelincir tepat didepan pintu
Duggg
Bukan hanya terpeleset kepala Hanin bahkan terbentur dinding hingga membuatnya tidak sadarkan diri
Teriakan Hanin yang terdengar lantang barusan membuat seisi rumah tampak panik dan berlari mencari sumber suara, hingga mereka menemukan Hanin yang tergeletak tak berdaya disana
" Nona sadarlah " Bik Marni cemas akan keadaan istri tuannya yang tak sadarkan diri
" Kalian cepat panggil penjaga didepan dan suruh mereka untuk siapkan mobil dan juga hubungi tuan muda " Bik Marni menyuruh beberapa pelayan yang ada untuk melakukan sesuai dengan perintahnya
Tak berapa lama tampak seorang pengawal yang sigap berniat untuk membantu namun tiba-tiba
" Eh...... tunggu!!! biar kami saja " Pinta bik Marni karena dia yakin bahwa tuannya itu tidak akan mengijinkan seorang laki-laki manapun untuk menyentuh istrinya
Setelah bersusah payah akhirnya Hanin berhasil dibawa ke dalam mobil dan dilarikan ke rumah sakit
__ADS_1
WRH group
Harun tampak masih sibuk memimpin metting kali ini sedangkan Bayu masih sigap berada di samping nya, hingga ponselnya bergetar
Drettttt......... drettttt........
Siaga 1. Itu adalah ID untuk kediaman rumah Harun bosnya
" Maaf tuan..... sepertinya terjadi sesuatu den....." Bayu belum menyelesaikan perkataannya karena Harun terlalu fokus dengan prestasi tersebut hingga membuatnya tidak ingin diganggu dengan panggilan yang mungkin tidak penting
" Nanti saja..... tanggung " Sikap Harun masih dingin
" Baiklah " Bayu patuh
Drettttt........
Lagi ponselnya kembali bergetar dan itu adalah sebuah pesan dari kepala pengawal dari kediaman Harun
Sialllll. Batin Bayu kesal saat mengetahui bahwa pesan tersebut berisi pemberitahuan bahwa Hanin dilarikan ke rumah sakit pribadi milik keluarga Harun
" Tuan, nona dilarikan ke rumah sakit " Bayu sedikit berbisik. Dan raut wajah Harun kini berubah dari yang semula fokus akan presentasi saat itu kini berubah merah padam dengan jemari tangan yang mulai mengepal dengan keras itu
Brakkkk.....
Harun menggebrak meja dan membuat seisi ruangan terkejut, kiranya apakah mereka melakukan kesalahan hingga membuat bosnya itu tiba-tiba marah
" Reschedule meeting hari ini dan kalian revisi ulang semuanya " Harun tampak sangat marah dan kecewa dia bahkan tak menatap seorang pun yang berada di ruangan tersebut
" Mereka belum mengkonfirmasi keadaan nona saat ini tuan " sama halnya dengan Harun Bayu pun merasakan kecemasan yang sama
Apa mungkin kambuh. Batin Harun yang masih dilanda kecemasan
Tiga puluh menit kemudian Harun telah sampai di rumah sakit milik keluarga
" Bagaimana keadaannya " Seru Harun tiba-tiba hingga membuat dokter tersebut sedikit terkejut dibuatnya
" Tuan " Sapa dokter Ayu
" Lupakan formalitas katakan apa yang terjadi dengannya " Sergah Harun
" Apakah istriku baik-baik saja " Sambungnya lagi
Deg.....
Dokter Ayu tampak terkejut dengan pernyataan Harun barusan pasalnya pernikahan mereka hanya dihadiri oleh beberapa anggota keluarganya dan juga beberapa karyawan khusus yang bekerja untuk nya
" Nona baik-baik saja tuan tapi........ " dokter Ayu tampak ragu
__ADS_1
" Katakan!!! " Harun semakin cemas
" Nona baik-baik saja tuan tapi maaf kami tidak bisa mempertahankan janin yang sedang dikandungnya karena benturan yang begitu keras mengakibatkan janin yang dikandungnya tidak mampu bertahan " Dokter Ayu bersungguh-sungguh
Jeduarrrrrt......
Sebuah kenyataan telak bagi Harun bagaimana tidak janin buah cintanya dengan Hanin hilang begitu saja bahkan sebelum keduanya sempat mengetahui kehadirannya di rahim sang istri
" Jaaa.....Ini tidak mungkin bagaimana bisa? " Harun masih tak percaya akan hal yang baru saja didengarnya
" Tuan.... " Bayu merasa prihatin akan kejadian naas yang menimpanya
" Kau.... periksa apa yang terjadi bagaimana bisa aku kehilangan nya!!!! " Harun berteriak penuh dengan emosi
" Selidiki masalah ini sampai tuntas, ingat nyawa harus dibayar dengan nyawa " Harun kembali bersikap dingin dan penuh dengan aura memb**** itu tak mampu menyembunyikan kekecewaannya sekaligus kebodohan yang tak mampu menjaga istri dan calon anaknya bahkan hal tersebut terjadi di rumah nya
" Baik tuan " Bayu mengerti maksud dari bosnya itupun meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah pribadi Harun guna melakukan penyelidikan
" Tutup semua akses keluar " batu tampak menghubungi seseorang ditengah perjalanan nya pulang
Sementara itu Harun yang masih dirumah sakit itupun meminta agar dokter Ayu merahasiakan kondisi Hanin saat ini, karena Harun tidak ingin kalau sampai Hanin harus kembali depresi seperti sebelumnya bila dia mengetahui perihal keadaan nya yang sebenarnya
" Kau tutup semua kejadian ini jangan sampai seorangpun mengetahuinya " Perintah Harun pada dokter Ayu
" Baik tuan " Dokter Ayu paham betul dengan sikap Harun bila sudah sedingin ini, maka pilihan terbaik adalah menyetujui setiap ucapannya tanpa mempertanyakan sebabnya
Harun melangkahkan kakinya yang tampak berat iti menuju ruangan tempat Hanin dirawat
" Bie... " Sapa Hanin dengan wajahnya yang terlihat masih pucat namun dia berusaha untuk tetap tersenyum didepan suaminya
" Sayang.... " Harun duduk di samping Hanin, diraihnya tangan Hanin yang masih lemas itu dan ditempelkan nya pada pipinya
" Maaf " Satu kalimat yang hanya bisa diucapkannya untuk segala kebodohannya karena telah membiarkan Hanin untuk terus dilarikan ke rumah sakit
" Bie ini bukan salah kamu aku aja yang ceroboh " Hanin mencobanya untuk menenangkan Harun yang mulai terisak dihadapannya kini
" Maaf..... " Harun merasa bersalah
" Maafkan semua ketidak mampuan ku untuk melindungi kalian " Harun tidak sadar bahwa dia tanpa sengaja mengatakan kalian yang artinya bukan hanya untuk Hanin tapi entahlah apakah Hanin menyadari hal tersebut atau tidak......
" Kalian??....... " Hanin ternyata menyimak perkataan Harun barusan
Deg.......
Harun kelabakan namun dia berusaha untuk terlihat tetap tenang.......
Buat para reader maaf ya kalau banyak kalimat yang salah pengetikan nya🙏🙏🙏
__ADS_1
dan makasih untuk kalian yang sudah like dan dukungan nya❤️❤️❤️
jangan lupa buat like dan votenya ya🤗🤗🤗