
Hari berganti dan waktu pun berjalan cukup cepat bagi kehidupan Hanin yang kini terasa sunyi sepi meskipun kehangatan alam dari sang pencipta menyinari dan menghangatkan alam semesta namun hal itu tak mampu menyentuh Hanin yang mulai membeku kini bukan hanya bongkahan es saja yang menyelimuti hatinya namun jiwa dan raganya seolah berada di kedalaman laut Antartika
Hari yang tenang namun bukan berarti damai justru ketenangan inilah yang memicu bumerang bagi rumah tangga Hanin dan Harun yang mulai goyah atau bisa dibilang sudah diambang kehancuran masalah hanyalah menunggu waktu saja
" Nyonya muda.... sarapan anda? " salah seorang pembantu rumah tangga yang merasa iba akan keadaan Hanin dan Harun pasalnya semenjak mereka mengumandangkan perang dingin tak satupun dari keduanya yang bisa beraktivitas normal Hanin yang menyiksa diri sendiri itupun tak jarang melupakan waktu makannya
" Nyonya muda? " tegur nya lagi ketika Hanin berlalu melewati ruang makan begitu saja
" Ada apa? " Tegur Rio saat Hanin tengah duduk di teras samping
" Hanin sampai kapan kamu akan bersikap demikian, kamu tau ini bukan kamu banget tau nggak sih.... muka lecek bibir manyun dan apa ini tubuh kurus dan lesu wajah yang tanpa ekspresi ini apa kamu makhluk hidup?!! " Rio yang sudah tak tahan pun mengoceh tak henti hentinya namun hanya senyum sinis yang ia dapatkan
" heh.... makhluk hidup?!! yah siapa yang tau kedepannya aku akan hidup ataupun mati. Lagi pula nggak akan ada yang peduli kalau pun besok akan ada bunga Krisan di rumah ini " Hanin mengatakan nya dengan lantang dan tanpa ekspresi sedikit pun namun berbeda dengan Rio
...*( Di beberapa negara Eropa, seperti Spanyol, Prancis dan Italia, krisan adalah simbol kematian dan hanya digunakan untuk pemakaman atau di kuburan )...
" Aku nggak akan pernah biarin hal itu terjadi " Rio refleks mendekap tubuh Hanin yang semakin kurus itu
Hanin masih bersikap dingin dan berdiri yang secara otomatis melepaskan pelukan Rio lalu melangkah kakinya untuk kembali ke kamar nya
Di sisi lain
__ADS_1
MH group kini sedang berlangsung rapat namun suasana tampak begitu tegang
" Bagaimana dengan Gw ( salah satu anak perusahaan di bawah naungan MH group )? " Tanya Harun membuka rapat kuartal bulan ini
" I....ini... masa.......lahnya.... " Manager umum tak mampu menatap tatapan matanya yang tajam itu terus menundukkan kepalanya dan terbata-bata menanggapi dan CEO yang sedang berada di level puncaknya
~Swusss...~
Sebuah map yang berisi detail GW itupun terbang bebas menuju sang general manager
~Bruk...~
" Apakah kualifikasi perusahaan begitu rendah hingga menjadikannya seorang general manager!!!! "
" Jadi??? "
" Ini... sebenarnya cukup sulit bagi GW untuk bangkit kembali " Jawab sang general manager
" GW butuh solusi bukan hanya opini yang tidak berdasar seperti ini!!! " Emosi Harun semakin meluap
" Saya akan usahakan " Dengan ragu sang general manager mencoba untuk meyakinkan
__ADS_1
" Aku butuh bukti nyata bukan hanya janji kosong, Satu bulan.... aku berikan kalian waktu satu bulan dan bawa GW keluar dari zona merah jika tidak maka kalian akan hancur bersama GW, MENGERTI!!!! " Bentak harun
" Mengerti tuan "
" Oke... sampai ketemu di rapat bulan depan dan ingat bukti nyata nya!!!! " Harun bangkit dan meninggalkan ruang rapat
Aishhh ada apa dengan tuan Harun emosinya itu benar benar bikin orang jantungan
Bukan hanya itu apa kalian ngerasa cuacanya cukup panas tapi serasa di kutub Utara saja
Entahlah siapa yang berani menyinggung beliau
Hustt hentikan ocehan kalian kalau beliau dengar kalian nggak akan sanggup menerima konsekuensi nya
iya...iya benar
sudah kita kembali kerja saja
........... BLA BLA BLA
Setiap karyawan memiliki asumsi nya masing-masing mengenai sikap CEO nya yang sedang di dalam level puncaknya
__ADS_1
Dari hari ke hari akan ada seseorang yang menjadi sasaran atas kekesalan yang sedang di rasakan nya, namun sesampainya di rumah Harun akan kembali diam seribu bahasa
Meskipun demikian masih ada satu hal yang patut di syukuri, meskipun perang dingin berlangsung namun tak satupun dari mereka yang melangkahkan kakinya keluar dari kamar dengan kata lain tidak pisah ranjang