What A Wonderful Woman

What A Wonderful Woman
Hancur kedua kalinya


__ADS_3

" Apapun yang terjadi jangan ada yang masuk ke dalam, kalian mengerti " Perintah Harun Karen dia merasa bahwa sesuatu sedang mempengaruhi nya dan dia tidak mau kalau sampai ada orang yang melihatnya terutama lawan bisnisnya karena itu akan memberi mereka celah untuk menghancurkannya


Sial..... gerutu Harun


Harun melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dia hendak mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk meredam efek obat******* yang diberikan Pak Akbar beberapa waktu yang lalu


Prakkkk......


ya ampun. Karena saking takut nya Hanin sampai menabrak sebuah meja kecil yang ada di samping keranjang pakai kotor, ternyata sedari tadi Hanin masih membereskan sprei kotor dan gorden, dia takut kalau pemilik kamar tersebut menyadari kehadirannya tentu dia akan berada dalam bahaya dengan sikap Harun yang emosional terlebih bila privasi nya diganggu Hanin bergegas melangkahkan kakinya keluar namun sayang Harun sudah muncul dihadapannya lebih dulu


Ditatapnya tubuh sixpack milik Harun yang tampak sempurna tentu saja itu karena Harun selalu rutin berolahraga dan menjaga pola makan, sungguh pemandangan yang jarang didapatkan nya namun dengan cepat Hanin tersadar dia langsung menundukkan wajahnya ke bawah Hanin sadar bahwa laki-laki yang ada di depannya ini bukanlah suaminya pula dia adalah pria terhormat dan sangat berpengaruh


" Siapa kau? " Dalam keadaan bertelanjang dada yang bagian bawah tubuhnya mulai dari pinggang hingga ke bawah lutut sedikit tertutup dengan sehelai handuk


" Maaaa.... maaf tuan saya petugas hotel yang tadi membereskan kamar anda maaf atas kelalaian saya yang tidak menyadari kehadiran anda " Hanin menatap lurus ke bawah dan jemari tangan yang menyatu mengepal erat karena takut akan dipecat atas kesalahannya yang sudah mengganggu nya


" Kalau gitu saya permisi dulu tuan " Belum juga Hanin melangkahkan kakiku Harun tiba-tiba menariknya ke dalaman pelukannya dan dikecupnya bi*** hanin yang ranum itu dengan brutal nya, Hanin mencoba berontak namun tenaganya tak cukup kuat untuk terlepas dari Harun


Harun menggiring tubuh Hanin ke atas pembaringannya tanpa melepas kecupannya tadi Hanin yang merasa tidak berdaya itupun hanya mampu meronta-ronta dan terlihat bulir bening mengalir deras dari pelupuk matanya dan terjadilah hal yang tidak seharusnya terjadi itu


Lagi dan lagi Hanin terus berusaha berontak namun semua sia-sia hingga pada akhirnya Hanin terkulai lemas tak berdaya disana dan tak berapa lama keduanya pun terlelap disana

__ADS_1


Sinar matahari bersinar menembus dinding kaca yang hanya dihalangi oleh gorden jenis scarves saja membuat sang penghuni kamar terbangun karena silaunya, Harun tampak menghalangi silaunya dengan menggunakan sebelah tangannya Harun mengerjapkan kedua bola matanya dan betapa terkejutnya dia saat mendapati seorang gadis tengah berbaring disampingnya dengan tubuh polos yang sama dengan keadaanya saat ini


Sial!!! gerutu Harun saat mengingat-ingat kejadian semalam betapa brutalnya dia terhadap gadis yang ada disampingnya itu, namun apa yang dilakukannya itu bukanlah atas keinginannya itu semua karena efek obat yang diberikan Akbar padanya semalam


Harun bangkit dari tempat tidur dan mengguyur tubuhnya dibawah air shower di dalam kamar mandi untuk menenangkan kembali pikiran nya saat cukup Harun mengenakan piyama mandinya dan keluar dari kamar mandi


Hanin terbangun dari tidurnya semua tubuhnya berasa sakit semua dan ada rasa perih dan tidak nyaman di area tertentu membuatnya meringis kesakitan saat hendak bangun dari posisinya, namun rasa sakit ditubuhnya tidak seberapa dengan apa yang dia dapati saat ini, sebuah kenyataan dimana Hanin yang kini bukanlah Hanin yang dulu semuanya telah hancur tidak ada lagi masa depan yang cerah baginya dirinya kini sudah kotor dan hina dengan sisa kekuatan yang ada Hanin meremas selimut yang kini tengah menutupi tubuh uang polosnya, deraian air mata bercucuran dengan derasnya karena baginya semuanya telah hancur tidak bersisa lagi dirinya yang sedari kecil dibu*** oleh orang tuanya sehingga Hanin harus diangkat oleh keluarga pak Jamal sebagai anak yang hidupnya selalu mendapat perlakuan yang berbeda dari ibu dan adiknya hingga kemarin dia yang diusir dari rumah karena menolak dinikahkan dengan Danu tuan tanah di kompleksnya dan sekarang dirinya yang sudah kehilangan segalanya hal yang paling dibanggakan nya yang dijaga sepenuh hati hingga saatnya tiba nanti namun kini semuanya telah hancur tak bersisa


apa salahku ya Allah hingga kau berikan aku cobaan sebegitu beratnya padaku. Batin Hanin terus menjerit dan menangisi nasibnya yang begitu malang


" Kau sudah bangun rupanya " Harun yang tengah berdiri diambang pintu ruang ganti yang sudah berpakaian rapi dengan setelan jas berwarna nabinya yang dipadukan dengan kemeja putih dan dasi bergaris putih yang senada dengan warna jas dan celananya dan sepatu pantofel berwarna hitam tampak begitu sempurna, Harun menatap kearah Hanin berada saat ini


" Ini, anggap saja sebagai kompensasi, isilah sesukamu dan pergilah sejauh mungkin jangan sampai membuat ku berurusan dengan mu lagi " Harun melemparkan selembar cek kosong yang sudah ditangani nya


Hanin menangis sejadi-jadinya matanya menatap tajam ke selembar cek kosong yang disodorkan nya tadi, tentu saja jika Hanin mau dia bahkan bisa membeli hotel milik Harun dengan cek tersebut namun bagi Hanin harga dirinya itu tidak sebanding dengan cek tersebut. Hanin melangkahkan kakinya turun dari ranjang dan dipungutnya satu-persatu pakai nya kembali dan mengenakannya kembali ditatapnya cek kosong yang ada ditangannya dan memasukkan nya ke dalam kantong plastik yang ditemukannya di laci kamar Hanin melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan dibukanya terlihat seseorang dengan pakaian rapi serba hitam berdiri disana


" Nona tuan memerintahkan saya untuk mengantar anda pulang "


Namun Hanin hanya menampakkan separuh bagian kanan tubuhnya kebawah entah apa yang sedang disembunyikan lalu Hanin menyerahkan kantong plastik tersebut kepadanya " Tidak perlu saya bisa pergi sendiri, dan tolong bisakah anda berikan ini kepadanya secara langsung dan pastikan dia melihatnya " Pinta Hanin sambil menyodorkan kantong plastik kepadanya, untuk selembar cek seharusnya Hanin tidak perlu memasukkan nya kedalam kantong plastik segala namun ternyata Hanin menitipkan sebuah pesan yang mungkin diluar akal sehat manusia pada umumnya kantong plastik itu tampak menggembung


" Tapi nona " Pengawal tersebut ragu untuk melaksanakan perintah Hanin

__ADS_1


" Saya mohon, tolong.... setidaknya ini untuk yang terakhir kalinya " Hanin memohon dengan raut wajah yang semakin pucat, sejujurnya tubuhnya sudah tidak mampu menahannya berat tubuhnya sendiri saat ini. Pengawal tersebut akhirnya menyetujui permintaan Hanin dan berjalan menuju ke tempat Harun berada


" Tuan " Pengawal yang dimintai tolong Hanin akhirnya berada dihadapan Harun dan memberi hormat dengan menunjukkan sedikit kepalanya


" Apa dia sudah pergi " Namun pengawal tersebut ragu untuk mengatakannya


Harun yang menatap pengawalnya itupun tampak mengerutkan keningnya dengan tatapan tajam kearah pengawalnya


" Katakan " Sambungnya lagi


" Nona mengatakan bahwa nona bisa pergi sendiri dan nona pasti akan memenuhi permintaan anda tuan dan.... " Pengawal tersebut tampak ragu namun melihat tatapan mata tuannya itu akhirnya memberanikan diri untuk menyerahkannya


" Nona juga menitipkan ini tuan " Disodorkannya kantong plastik yang tadi dititipkan Hanin kepada tuannya


Namun Harun tampak bingung dia mengerutkan keningnya dan menatap tajam kearah kantong plastik yang ditujukan padanya itu, tentu saja untuk apa seorang Harun harus menerima kantong plastik yang tidak berguna itu, lalu Harun menatap asistennya yang berdiri di samping nya itu untuk mengambil kantong plastik tersebut dan pengawal tersebut pun paham atas tatapan yang diberikan oleh Harun dan mengambil kantong tersebut awalnya dia hendak membuang kantong tersebut namun dia mencium bau aneh yang berasal dari kantong tersebut


Pengawal tersebut tampak heran dan menatap kembali kearah Harun dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan


" Tuan ini....." Pengawal tersebut tidak melanjutkan kalimatnya dengan penuh kecurigaan pengawal tersebut akhirnya membuka nya


Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui apa isi dari kantong plastik yang terisi seperempat dari batas maksimal nya itu pengawal tersebut terlihat bergetar bahkan terlihat jelas oleh Harun dan beberapa pengawal lainnya. Mereka semua tampak terheran-heran menatap reaksi asisten dari Harun yang tampak begitu gemetar dengan wajah pucat pasi sesuatu yang tidak terduga baginya

__ADS_1


Harun tak kalah herannya saat menatap reaksi dari Bayu asisten pribadi Harun yang menurutnya tampak mencurigakan


Sebenarnya apa yang ada di dalamnya.....


__ADS_2