
Harun masih terpaku menatap genangan da*** yang mulai mengering itu dia karena tidak ada seorang pun yang berani membersihkan ruangan tersebut tanpa seizin pemiliknya hingga dering ponsel yang menyadarkannya kembali
" Katakan " Harun yang terlihat malas mengangkat telepon kerena dia berpikir bahwa itu adalah bawahannya yang mengurus masalah di kantor
" Tuan nona sudah melewati masa kritisnya dan akan segera sadar " Bayu mengabarkan kondisi Hanin gadis yang berniat bu*** diri tadi
Tanpa berpikir panjang Harun langsung bangkit dari posisinya dan dan menyusuri area hotel menuju tempat parkir bawah tanah dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan keselamatan nya sendiri
" Bereskan semua kekacauan yang ada jangan sampai terlewatkan "
" Dan mengenai gadis itu jangan sentuh dia, dia tanggung jawabku " Sambungnya lagi memerintahkan orang bawahannya untuk mengatasi berita-berita yang akan timbul atas insiden di hotel nya itu
Di rumah sakit
Hanin tampak mulai mengerakkan jarinya lalu mulai menggerakkan kelompok matanya perlahan-lahan hingga tampak cahaya yang begitu teras menusuk bola matanya hingga dia harus mengerjapkan kedua matanya untuk menyeimbangkan pandangan nya
" Dimana ini " Tanyanya kepada seseorang yang tampak menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi yang terletak disampingnya
Perlahan dipandang sosok laki-laki yang sedang tertidur, laki-laki yang tampak tidak asing lagi baginya namun dia tidak tau siapakah dirinya, hingga seorang suster menghampirinya
" Mbaknya udah sadar, saya cek tensinya dulu ya " Dengan menggunakan stigmomanometer atau tensimeter
" 120/80 ( mmHg ) sudah normal ya, tapi mbak harus lebih banyak beristirahat dan juga perbanyak makan sayur, buah dan juga ikan ya mbak biar cepat sehat " Hanin tampak mendengarkan dengan seksama hingga tatapannya beralih kepada sosok laki-laki yang tengah tertidur di kursi sebelahnya
" Mas ini orang yang udah membawa mbak ke rumah sakit dan beliau juga yang sudah mendonorkan darah " Perawat menjelaskan tampak Hanin mulai menyunggingkan senyuman menatap sosok penolongnya yang sedang terlelap
" Kalau ada apa-apa mbak pencet saja tombol ini " Sambil menunjukkan sebuah tombol berwarna merah yang terletak di samping kepala nya
__ADS_1
Saat perawatan tersebut melangkahkan kakinya menuju pintu disanalah tampak sosok laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya dia berdiri mematung didepan pintu ruang rawat
Harun melangkahkan kakinya berlawanan dengan arah perawat tersebut yang tampak menundukkan sedikit kepalanya, namun harus menatap lurus ke arah Hanin yang sedang beristirahat di atas ranjang pasien dengan selang infus yang menempel di kanan tangannya, Harun menatap sayu namun berbeda dengan Hanin dia tampak melototkan kedua matanya dengan pandangan jijik dan benci
" Pergi ! " Hanin berteriak dengan lantangnya sehingga membuat Bayu yang tertidur pun kaget
" Nona tenanglah " Bayu mencoba menenangkan nya namun sayang itu tidak berhasil, melihat Harun yang berada semakin dekat itu membuat Hanin mengingat kembali setiap perbuatan dan kata-katanya semalam yang membuat Hanin menarik paksa infusnya hingga dar**nya pun bercucuran kembali
Bayu dan Harun tampak terkejut dengan reaksi Hanin, hingga Bayu terpaksa harus meminta Harun untuk keluar terlebih dahulu
" Maaf tuan sebaiknya anda tunggu saja diluar, nanti saya akan menjelaskan semuanya " kata Bayu sambil meraih tombol darurat yang ada di samping Hanin
Hanin terus meronta dan berteriak untuk membiarkan nya pergi namun tangan Bayu lebih kuat dari tubuh Hanin yang baru saja siuman. Harun pun menuruti nasehat asisten nya itu dan keluarga kari ruangan hingga dirinya berpapasan dengan seorang dokter dan suster yang berlari menuju panggilan darurat dari pasien
" Astaga, sus tolong berikan obat penenang pada pasien dan kita harus segera menghentikan pendarahan nya " Perintah sang dokter kepada mereka
" Maaf tuan sebaiknya anda tunggu saja diluar terlebih dahulu " Pinta perawat ke pada Bayu yang masih menunggu Hanin, Bayu pun mengiyakan nya dan membiarkan pada petugas medis itu untuk melakukan pekerjaannya dengan leluasa
" Gimana keadaanya " Tanya Harun khawatir
" Nona masih diperiksa oleh dokter tuan " Balas Bayu
" Dokter gimana keadaan nya? " Tanya Harun panik, dia berdiri saat melihat dokter keluar dari ruang rawat Hanin
" Apa anda keluarga pasien? "
" Bukan dok, tapi saya yang bertanggung jawab atas pasien yang ada didalam " Sambung Harun dengan penuh keyakinan, Bayu yang mendengar kalimat tuannya itupun sedikit terkejut pasalnya selama dia berkerja sebagai asisten nya baru kali ini Bayu melihat Harun begitu khawatir bahkan terkesan peduli pada gadis yang baru dikenalnya
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu anda ikuti saya ke ruangan saya, mari " Dokter tersebut pun membimbing Harun menuju ke ruangan nya dan tampak Harun mengikuti langkah dokter tersebut
Ditatapnya lorong demi lorong hingga dokter tersebut membuka sebuah pintu yang terdapat sebuah papan nama diatasnya dr.raisa Purwanti S.Psi.
" Silahkan tuan " Dokter tersebut mempersilahkan Harun untuk duduk terlebih dahulu
" Gimana keadaanya dokter? " Tanya Harun
" Begini tuan saat ini pasien sedang mengalami PTSD yaitu Post Traumatik Stres Disorder adalah kondisi dimana mental mengalami kecemasan berlebih-lebihan akibat pengalaman dimasa lalu. Kejadian traumatik sendiri biasanya karena peristiwa yang tidak menyenangkan yang dialami pasien " Jelas dokter Raisa
" Lalu dok? " Tanya Harun menyelidik
" Dari pengamatan saya sepertinya pasien mengalami syok terlebih saat..... " Dokter tampak ragu melanjutkan kalimatnya
" Katakan dok " Pinta Harun
" Terlebih disaat pasien berada di dekat seorang pria pasien akan mengalami syok dan gejala yang ditujukan pun bervariasi mulai dari depresi, pingsan, insomnia dan yang saya takutkan adalah percobaan bun** diri seperti yang dilakukan pasien sebelumnya "
" Lalu saya harus bagaimana dok? " Tanya Harun khawatir
" Saya harap untuk kedepannya tolong anda bisa membuat pasien merasa aman dan nyaman, jangan paksa pasien untu melakukan sesuatu biarkan pasien secara menenangkan diri hingga pasien siap menghadapi kenyataan " Tutur dokter Raisa Harun tampak mendengarkan dengan seksama setiap nasehat yang diberikan dokter Raisa dan Harun pun memahami kondisi yang sedang dialami Hanin
" Baiklah dok saya mengerti dan saya akan berusaha sebaik mungkin "
" Satu lagi tuan sepertinya pasien sedikit bersahabat saat berada didekat laki-laki yang tadi membawa pasien kemari, mungkin orang tersebut bisa membantu pasien untuk bangkit lagi " Sambung dokter Raisa
Ada rasa tenang dalam hati Harun namun secara bersamaan ada sesuatu yang mengganjal didalam hatinya tapi entah apakah itu mungkinkah itu adalah rasa bersalah nya atau rasa lainnya yang sulit ditafsirkan olehnya saat ini
__ADS_1
Kenapa aku bisa sebodoh ini, aghhhh. Batin Harun dia selalu mengutukki dirinya sendiri karena kebodohannya lah yang membuat Hanin hingga menjadi seperti ini
Mungkin hanya waktulah yang mampu menjelas perasaan apa yang sedang mengganjal di dalam hatinya hingga membuat dadanya sedikit sesak dan munculnya rasa gelisah dalam hatinya