What A Wonderful Woman

What A Wonderful Woman
Tak bisa disembunyikan


__ADS_3

" Kalian??....... " Hanin ternyata menyimak perkataan Harun barusan


Deg.......


Harun kelabakan namun dia berusaha untuk terlihat tetap tenang.......


" Maksud kamu apa bie? " Selidiki Hanin


" Tentu saja kamu dan kamu sayang memang kamu pikir apa? " Canda Harun yang berharap Hanin tidak akan menaruh curiga terhadapnya


" Ohhhw " Hanin tampak mengikuti alur permainan suaminya tentu saja Hanin tidak akan sebodoh itu percaya akan kalimat Harun begitu saja


Kringgggg


Ponsel Harun bergetar


" Bie kamu angkat aja aku masalah kok " Sergah Hanin


" Aku keluar dulu ya " Harun tak ingin Hanin mendengar pembicaraannya


" Bie.... aku tau kamu bohong tapi aku nggak akan maksa kamu bie tapi maaf aku nggak akan diam saja " Entah cara apa yang akan dilakukannya agar dia bisa mendapatkan jawaban dari teka-teki yang dibuat Harun


ceklek


Harun kembali ke ruang rawat Hanin


" Sayang aku masih ada urusan penting kamu nggak masalah kan aku tinggal bentar "


" Iya bie kan masih ada dokter dan suster disini jadi kamu nggak usah khawatir ya "


Harun meninggalkan Hanin buru-buru tentu saja hal itu semakin menguatkan kecurigaan Hanin terhadapnya


Tak berapa lama suster mengunjungi Hanin untuk memeriksa kondisi nya saat ini


" Mbak Hanin gimana keadaan nya " Sapa sang suster


" Alhamdulillah sus sudah lebih baik " balasnya


" Saya cek dulu ya mbak " dengan cekatan suster tersebut meraih lengan Hanin dan mulai mengecek tensi darahnya dan mencatatnya dalam sebuah buku


" Sus bisa tolong bantu saya ke kamar mandi nggak "


" Tentu "


Sepertinya waktu sedang berpihak padanya saat Hanin berada di dalam kamar mandi tanpa sengaja seorang suster lainnya masuk ke ruang rawat Hanin


" Sus lihat tuan Harun tidak? " Tanya perawat lainnya

__ADS_1


" Tidak sus, memangnya ada apa ya? " Seorang perawat yang tadi memeriksa Hanin


" Tadi dokter mencarinya,katanya ini masalah keadaan istrinya pasca keguguran sus " Suster tersebut sepertinya lupa akan peringatan Harun beberapa waktu yang lalu bahwa hal itu tidak boleh dibicarakan lagi terlebih di depan Hanin


" Husst jaga bicaramu " Seorang perawat mengingatkan


Bruakkkkk


Hanin membanting pintu dengan kasarnya saat mengetahui mereka menyembunyikan kebenaran itu darinya, perlahan Hanin melangkahkan kakinya mendekati dua orang perawat yang tampak takut melihat tatapan tidak senang dari Hanin


" Kalian barusan bilang apa? " Hanin bertanya dengan ekspresi menakutkan nya


" Katakan " Sambugnya lagi


" I.....tu " Mereka tampak ragu namun rasa takut lebih membuat mereka gemetar saat ini


" Baiklah kalian tinggal pilih mengatakan nya dengan jujur atau.... " Hanin tidak melanjutkan kalimatnya namun tangannya mulai meraih selang infus yang menempel pada urat tangannya yang satunya


" Nona..... jangan nona saya mohon " Raut wajah mereka tampak semakin pucat


" Kalau begitu katakan " Perintah Hanin


" Tapi bila kami mengatakan nya kami takut suami nona akan menghukum kami tanpa ampun " Salah seorang perawat terbata-bata saat mengatakan nya karena dia tahu orang seperti apa harun saat sedang marah


" Aku bisa pertimbangan nasib kalian bila kalian berkata jujur tapi kalau tidak aku khawatir kalian mungkin tidak akan bisa melihat keluarga kalian lagi " Untuk pertama kalinya Hanin bersikap dingin dan menakutkan pada seseorang yang lemah. Namun Hanin tidak memiliki pilihan lain dia harus mengetahui teka-teki yang diberikan Harun dari kata Kalian beberapa waktu yang lalu


Duar....


Bagaikan tersambar petir wanita mana yang tidak akan terkejut dan syok bila mengetahui bahwa dirinya baru saja kehilangan calon anaknya buah cintanya dengan Harun, yah meskipun kejadian itu terjadi karena kecelakaan dimasa lalu namun bagaimanapun juga kini Harun telah menikahi nya dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh diantara mereka


Kenapa kamu bohongin aku bie..... Batin Hanin menangis pilu meratapi nasibnya kini. Mungkin rasa sakit ditubuhnya tidak seberapa namun sakit yang tidak mampu ditahan nya adalah sakit dari dalam hati karena kecewa bagaimana bisa Harun menyelesaikan kebenaran ini


Kakinya terasa begitu lemah hingga membuat Hanin tumbang, tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk menopang berat badannya sendiri


" Nona.....nona " Dua orang perawat tersebut tampak terkejut menyaksikan keadaan Hanin yang tergeletak di lantai


Mereka memanggil seorang pengawal yang bertugas di depan ruang rawat Hanin untuk membantu nya mengangkat tubuh Hanin untuk kembali ke atas tempat tidurnya kembali


Tak berapa lama dokter datang dan memeriksa kondisi Hanin, tentu saja kejadian ini tidak akan luput dari telinga Harun


Dikediaman Harun


" Ingat baik-baik kejadian hari ini tidak boleh keluar selangkah pun dari rumah ini jika tidak kalian tanggung sendiri akibatnya " Bayu memperingatkan para pelayan dan bodyguard yang berada dikediaman Harun


" Satu lagi jangan sampai istriku mengetahui hal ini " Harun angkat bicara dengan tatapan membunuhnya


" Baik tuan " Mereka serempak mengiyakan perkataan tuan dan asisten nya ( Bayu )

__ADS_1


Kringgggg


Ponsel Bayu bergetar, dirogohnya saku celananya tampak ID pemanggil adalah pengawal yang bertugas menjaga Hanin dirumah sakit


" Katakan " Bayu tampak serius mendengarkan hingga akhirnya dia memutuskan panggilan lebih dulu


" Tuan nona pingsan " Dengan hati-hati Bayu mengatakan nya


" Kembali ke rumah sakit " Harun tampak tegas memberikan perintah tersebut dengan raut wajah yang berubah drastis, yang awalnya penuh dengan tatapan membunuh dan kejam kini berubah menjadi lesu dan tak berdaya bila menyangkut keadaan Hanin


Harun kembali ke rumah sakit meninggalkan para pelayan yang masih berjajar di halaman belakang rumahnya, namun seorang pelayan wanita bersimpuh dengan isakan tangis yang masih bersisa entah apa penyebabnya itu masih menjadi misteri


Sesampainya di rumah sakit Harun langsung menuju ruang rawat istrinya dan menemui sang dokter


" Apa yang terjadi " Kata Harun


" Tiba-tiba nona pingsan tuan " Jawab sang dokter


Jawaban tersebut membuat Harun menatap dua orang perawat di hadapannya yang tampak ketakutan


" Kalian katakan apa yang terjadi " Pertanyaan nya terarah pada dua orang perawat tersebut


" Ka..... kami " tamatlah riwayat mu. Batin seorang perawat yang begitu ketakutan akan tindakan Harun selanjutnya


" Katakan!!! " Harun sedikit berteriak


" Aku baik-baik aja kok bie " Hanin tersadar meskipun ia belum mampu membuka lebar kedua manik matanya karena rasa lemas yang menerpa dirinya


" Sayang..... " Harun mendekap tubuh istrinya sat mendengar istrinya bersuara


" Aku baik-baik aja, tadi aku minta tolong mereka buat bantu aku ke kamar mandi trus kepala aku agak pusing jadi pingsan deh " Hanin setengah berbohong untuk menyelamatkan kedua perawat tersebut


" Aku ingin berdua dengan istriku " Harun mengusir setiap orang yang berada di dalam ruang rawat Hanin tanpa terkecuali Bayu


Selamat . Batin kedua perawat itu lega dengan pembelaan Hanin barusan yang sudah menyelamatkan nasib keduanya


" Bie.... " Hanin menatap lembut ke arah Harun berharap ia mampu menemukan alasannya menyembunyikan masalah ini


" Aku disini sayang " Harun meletakkan telapak tangan sang istri di pipinya dan mengecup nya lembut


Bie kamu nggak bisa nyembunyiinnya dariku, tapi maaf bie aku nggak akan jujur ke kamu sampai kamu mengatakan nya sendiri. Batin Hanin


Setelah kejadian hari ini maaf bie aku nggak akan bisa jujur sepenuhnya ke kamu tapi aku akan tetap mendukung mu sepenuhnya dan menjadi diriku yang kuat jadi kamu nggak akan lagi merasa cemas dan bersalah lagi. Hanin membulatkan tekadnya bahwa perlahan dia akan menjadi pribadi yang kuat dan tegar agar mampu melindungi dirinya dan Harun tanpa Harun mengetahuinya


Sampai kapan aku bisa menyembunyikan nya. Harun bergulat dengan rasa bersalah yang menghantuinya bagaimana pun kejujuran adalah pondasi kokoh dari setiap hubungan


Buat para readers tunggu next capture dari ku ya......

__ADS_1


__ADS_2