
...🍁🍁🍁...
Beberapa menit sebelum Vita sampai di rumah pak Asep. Vita yang membohongi suaminya demi mencari Sadam seorang diri, kini sedang berjalan di sekitaran desa tersebut. Desa Mekarmukti, adalah desa yang berada di daerah pegunungan. Udaranya sejuk dan bersahabat untuk paru-paru. Sayangnya, jalanan ke desa tersebut tidaklah lancar dan bersahabat. Sebab ada jalan yang tidak bisa Vita lalui dengan mobilnya.
Vita terpaksa berjalan dengan heels tingginya menuju ke salah satu warung yang ada didekat jalan kecil desa tersebut. Ia membawa-bawa foto Sadam.
"Halo, permisi!" panggil Vita para beberapa siswi berseragam SMA yang sedang nongkrong di warung pinggir jalan. Mereka pun menoleh ke arah Vita. Tatapan mereka penuh kekaguman saat melihat kecantikan wanita itu. Mereka melihatnya dari atas sampai ke bawah, bahkan sampai berbisik-bisik.
"Cantik pisannya, apa dia teh artis?" bisik seorang siswi pada temannya heboh.
"Iya, si teteh ini teh cantik. Kulitnya putih bersih, badannya juga bagus. Pasti artis kan ya?" tanya seorang siswi yang juga kagum pada kecantikan Vita.
Bukan hanya para siswi yang terpesona dengan kecantikan Vita, tapi siswa laki-laki yang ada di tempat duduk lainnya. Mereka memandang Vita dengan berbinar-binar.
'Ini orang-orang kampungan kenapa sih? Norak banget!' Vita berkata dalam hati, ia kesal karena mereka tidak membalas sapaannya.
"Halo, permisi adek adek! Saya mau tanya, boleh nggak?" tanya Vita seraya menyisir rambutnya ke belakang telinga. Dia juga tersenyum manis pada semua orang.
"Boleh atuh kakak cantik! Kakak cantik teh mau tanya apa?" tanya seorang siswi ramah.
Vita segera mengeluarkan foto Sadam yang ada tas selempangnya. Kemudian dia menunjukkan foto itu pada siswi-siswi disana. "Apa mungkin adek adek tau siapa cowok ini dan dimana rumahnya?" tanya Vita to the poin.
Siswi-siswi itu mengerutkan keningnya saat melihat foto Sadam. Mereka berbisik-bisik pelan, kemudian detik berikutnya mereka dengan yakin menjawab bahwa pria itu bernama Hilman.
"Oh...ini kang Hilman, dia tinggal di rumah pak RW."
"Hilman?" Vita terkejut dengan jawaban siswi itu. Dia kan Sadam bukan Hilman. "Bisa kalian ceritakan tentang pria ini?"tanya Vita penasaran.
Siswi-siswi yang satu sekolah dengan Aisha itu menceritakan tentang Hilman alias Sadam yang ditemukan oleh Aisha, saat hanyut di sungai. Lalu Sadam hilang ingatan dan selama ini tinggal di rumah pak Asep, ketua RW 7 di desa itu. Vita tidak menyangka bahwa Sadam mengalami kejadian buruk selama satu bulan ini saat menghilang.
'Ini semua gara-gara aku. Kalau saja aku tidak menyakiti hati Sadam, Sadam tidak akan kembali ke dalam geng motor itu dan celaka seperti ini. Maafin aku Sadam, aku janji setelah aku mendapatkan apa yang aku mau dari Devan,aku akan kembali sama kamu. Selama itu harusnya kamu baik-baik saja' batin Vita merasa bersalah.
"Kalian bisa kasih tau saya dimana alamat rumah pak Asep?" tanya Vita terburu-buru.
__ADS_1
"Ayo kita tunjukin sekalian teh, rumah kita searah sama rumah pak RW!"
"Ya udah, kalian naik mobil saya ya!" ajak Vita pada 4 siswi itu.
"Maaf teh, kita nggak bisa naik mobil kesana. Jalannya kecil, harus naik motor atau sepeda teh! Kalau mau cepet sampe, kalau pake mobil bisa sih tapi harus muter." kata seorang siswi itu memberitahu.
"Ya udah yang cepet aja," jawab Vita tidak mau tidak menunggu lama untuk bertemu dengan Sadam.
****
10 menit kemudian, Vita yang naik motor seorang siswi. Akhirnya sampai didepan sebuah rumah yang memiliki satu lantai, namun luas ke samping. Disampingnya ada kebun-kebun kecil.
"Ini rumahnya dek?" tanya Vita pada siswi yang mengantarkannya kesana.
"Iya teh."
"Makasih banyak udah nganterin saya!" seru Vita seraya tersenyum. "Oh ya.. Ini buat kamu, sedikit." Vita mengambil uang didalam dompetnya.
"Nggak usah teteh, saya ikhlas kok! Saya pergi dulu ya teh, assalamualaikum." Siswi itu melajukan kembali motornya setelah mengucapkan salam. Ia menolak uang yang ditawarkan oleh Vita dengan sopan.
Tanpa berlama-lama, Vita mengetuk pintu itu dan mengucapkan selamat sore. Sebab hari itu memang sudah sore.
"Eh, maaf? Mbak cari siapa?" tanya Riki sopan.
"Sadam!" Wanita itu langsung melenggang masuk ke dalam rumah, tanpa menjawab pertanyaan Riki terlebih dahulu. Dia bahkan memeluk Sadam yang tengah berdiri memandangnya dengan tatapan bingung.
"Sadam! Syukurlah kamu masih hidup!" ujar Vita sambil memeluk Sadam semakin erat.
Aisha yang melihatnya tampak bingung dan hatinya tiba-tiba sakit. Rasa sakit itu tidak dapat dia jelaskan dengan kata-kata. Saat Sadam berpelukan dengan wanita lain, dada gadis itu berdenyut nyeri.
Siapa wanita ini? Kenapa dia memeluk kang Hilman?
Tak lama setelah itu, Sadam tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri. Tepat setelah ia mengingat potongan-potongan kecil masa lalu di dalam ingatannya.
__ADS_1
"Kang Hilman!" pekik Riki dan Aisha kaget melihat Sadam tidak sadarkan diri di pelukan Vita.
"Sadam? Sadam kamu kenapa?" tanya Vita seraya menepuk-nepuk pipi Sadam. "Hey kalian! Tolongin gue dong!" Vita meminta tolong kepada Riki dan Aisha untuk membawa tubuh Sadam.
Akhirnya Sadam dibaringkan ke atas sofa yang ada di ruang tengah. Disampingnya ada Vita yang selalu mengenggam tangan Sadam. Dia terlihat sangat mencemaskan Sadam, hingga Aisha dan Riki berpikir bahwa Sadam dan Vita memiliki hubungan khusus.
"Sadam, kamu kenapa? Ini aku Dam," lirih Vita dengan mata berkaca-kaca.
Terlihat Aisha yang membawa minyak kayu putih untuk mencoba membangunkan Sadam dengan wewangian kuat dari minyak itu.
"Biar gue aja! Siniin minyak kayu putihnya," ketus Vita sambil menadahkan tangannya pada Aisha.
"Ini teh," gadis itu membalas dengan sopan, dia memberikan minyak kayu putih itu kepada Vita.
Lalu Vita pun mengoleskan sedikit minyak kayu putih kepada kening Sadam dan juga bawah hidung Sadam.
"Astagfirullah, eta cewek udah pake baju kurang bahan. Meni gak sopan pisan, gak ada adab!" celetuk Riki yang sontak saja mendapatkan tatapan tajam dari Aisha.
"Ki, teu kengeng kitu!" ujar Aisha tegas. Riki pun terdiam beberapa saat. Lalu ia pamit pergi pada kakaknya karena akan menjemput bapaknya di sawah, juga memberitahu bahwa ada tamu di rumahnya.
'Apa benar mbak cantik ini adalah pacarnya kang Hilman? Dia cantik banget' batin Aisha yang sedari tadi sulit mengalihkan pandangan dari Vita yang cantik.
Tak lama kemudian Sadam pun mulai siuman, dia melihat ada dua wanita didepannya. Kedua wanita itu sama-sama terlihat lega saat melihatnya siuman.
"Sadam, kamu udah bangun? Sadam, aku disini buat jemput kamu!" kata Vita terburu-buru, dia hendak memeluk Sadam tapi pria itu menepis tangannya. Sadam malah menghampiri Aisha yang berdiri di dekat sofa lainnya.
"Kang Hilman, eh maksudnya Kang Sadam. Kang Sadam teh nggak apa-apa?" tanya Aisha gugup, ditatap seperti itu oleh Sadam. "A-apa kepala akang sakit lagi? Aku panggil dokter ya!"
"Gue baik-baik aja. Maaf udah buat Lo cemas, Sholehah," lirih Sadam lembut seraya tersenyum pada gadis itu.
Vita memegang tangan Sadam dan menatap cowok itu dengan kesal.
"Sadam, ini aku! Kenapa kamu mengabaikanku sih?" protes Vita tak terima diabaikan oleh Sadam.
__ADS_1
"NGAPAIN Lo kesini Vita?" tanya Sadam sinis. Hingga Vita merasa sakit hati dengan sikap Sadam yang seperti ini padanya.
...****...