When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 25. Tristan tertarik pada Aisha?


__ADS_3

Sadam mendengus kesal, manakala dia mendengar niatan Tristan pergi ke kampung untuk menemui Aisha. Tentu saja Sadam melarang Tristan untuk pergi, entah kenapa dia begitu.


"Gue gak izinin Lo buat pergi ke kampung dan nemuin sholehah!" ujar Sadam tegas.


"Heh! Emangnya lo siapa? Sampai gue harus minta izin Lo buat pergi ke rumah Aisha? Lo bukan bokap nyokap gue!" decak Tristan dengan satu sudut bibir yang terangkat ke atas. Dia tidak terima Sadam melarangnya untuk pergi ke kampung.


"Emang, mau ngapain lo pergi ke rumah Aisha?" tanya Sadam seraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Atensinya tajam pada Tristan, seolah dia sedang cemburu.


"Gue mau minta maaf sama Aisha sama keluarganya," jawab Tristan jujur.


"Kalau Lo datang ke sana cuman buat minta maaf doang. Biar gue yang sampaikan sama mereka, Lo nggak usah pergi kesana." larang Sadam lagi dan membuat Tristan mengerutkan keningnya dengan perasaan curiga. Itu karena Sadam bersikeras melarangnya untuk pergi.


"Makasih buat niat baik Lo, Dam. But, permintaan maaf itu lebih baik dilakukan secara langsung. So, gue bakal kesana." Kata Tristan yang tidak mau mendengarkan larangan Sadam. Pria itu kini memakai helmnya dan mulai menaiki motor, sebab isi bensinnya sudah selesai.


Begitu Tristan tancap gas dan pergi meninggalkan pom bensin tersebut. Sontak saja Sadam merasakan adanya ancaman. Dia tidak mau Tristan sampai lebih dulu ke rumah Aisha.


"Sialan! Pasti si Tristan punya niat macam-macam tuh sama Sholehah. Nggak bisa biarin ini!" cetus Sadam.


"Cepetan isi bensinnya mas!" titah Sadam kepada bapak-bapak yang saat ini tengah mengisi bensin motornya. Sadam khawatir karena Tristan sudah pergi jauh dengan ngebut, dia tidak mau ketinggalan.


****


Sementara itu, di kampung Mekarmukti. Aisha yang keadaannya sudah membaik, tampak duduk di dekat bebatuan sungai sambil menikmati udara sejuk disana. Suara air mengalir, membuat hati Aisha berdebar karena teringat masa lalu. Dimana ia pertama kali menemukan Sadam di tempat ini.


Setelah melalui ujian nasional, kini Aisha masih bersantai di rumah dan menunggu hasil kelulusan sekitar 1 bulan lagi. Rencananya Aisha akan berkuliah di salah satu universitas kota Bandung, yaitu UIN. Dia mendapatkan jalur beasiswa disana dan akan mengambil jurusan bahasa Arab.


"Teh! Ternyata teteh teh ada disini, Iki nyari teteh dari tadi." Aisha menoleh ke arah Riki yang sudah berdiri tak jauh darinya. Lantas, ia pun berdiri dari tempat duduk batunya.

__ADS_1


"Ada apa Ki?" tanya Aisha seraya menatap adiknya yang masih memakai seragam putih abu itu.


"Bapa nyariin teteh. Katanya mau ngajak ngeliwet bareng sama kang Yusuf dan keluarganya!" ujar Riki pada kakaknya itu. Aisha terlihat malas dan enggan untuk ikut. Gadis itu menghela nafas.


"Ayo teh!" ajak Riki yang begitu antusias.


"Teteh disini aja deh," jawab Aisha menolak.


"Teh, bapa udah nungguin loh."


"Ya udah deh."


Akhirnya Aisha setuju, walau dia sebenarnya enggan makan bersama dengan Yusuf dan keluarganya. Ujung-ujungnya, pak Asep dan orang tua Yusuf malah membahas hubungannya dengan Aisha. Intinya mereka ingin menjodohkan Aisha dan Yusuf.


Kemudian Aisha dan Riki pun berjalan kaki menuju ke rumah mereka. Di dalam perjalanan, Aisha dan Riki melihat ada pemotor yang menghadang jalan mereka.


"Akang jahat!" teriak Aisha pada Tristan.


"Eh? Kok jahat sih? Gue kesini mau ngobrol sama Lo."


"Saya teh embung bicara sama akang!" Aisha mendengus kesal, lalu memalingkan wajahnya dari Tristan.


"Embung itu apa?" tanya Tristan dengan polosnya. "Ah forget it! Mending Lo naik sini, gue anter ke rumah Lo." Tristan menepuk-nepuk jok belakang motornya, seraya meminta Aisha untuk duduk disana. Tentu saja Aisha menolak, Riki juga melarang Aisha untuk naik ke motor Tristan. Mereka tidak lupa apa yang dilakukan Tristan sebelumnya. Apalagi Aisha, dia masih marah pada pria itu yang menyakiti Sadam.


"Eh! Lo mau kemana? Aisha, adik Aisha!" teriak Tristan. "Adik Aisha namanya siapa? Aduh, gue gak tau." gumam Tristan yah melihat Aisha dan Riki sudah berjalan jauh saja dari sana. Ya, kakak adik itu memutuskan untuk mengabaikan Tristan saja. Mereka sebal pada Tristan.


Akhirnya Tristan pun menyusul Aisha dan Riki dengan turun dari motornya agar ia bisa mengimbangi jalan Aisha dan Riki. Tristan mendorong motornya, meski itu terasa berat.

__ADS_1


"Aisha, adik Aisha...gue mau bicara sama kalian berdua. Please dengerin gue dulu. Gue berniat baik!" seru Tristan seraya melihat ke arah adik dan kakak itu. Dia bahkan menurunkan egonya dan sikap dinginnya pada orang lain, untuk Aisha dan Riki. Tristan bahkan menunjukkan wajah memelas pada mereka berdua.


"Please, dengerin gue..." pinta Tristan yang tak sabar dan memegang tangan Aisha. Sontak saja gadis itu menatapnya tajam dan menepis tangan Tristan.


"Eh eh eh! Berani banget kamu teh sama teteh saya, dasar kehed!" umpat Riki geram, dia mendorong Tristan untuk menjauh dari kakaknya.


Sedangkan Tristan, otaknya masih ngelag. Apa maksud Riki dengan kata kehed? Dia bingung, karena sebenarnya Tristan bukan berasal dari Bandung melainkan anak Jakarta-Belanda. Lihat saja wajahnya blasteran seperti itu.


"Iki, jangan ngomong kasar!" sergah Aisha memperingati adiknya.


"Habisnya sebel teh!" cetus Riki dengan bibir yang mencebik.


"Akang mau bicara sama saya kan? Ya udah, mau bicara apa?" tanya Aisha to the poin, dia menatap pria bermata biru itu dengan tajam. Masih dengan kemarahan yang sama. Satu hal yang tidak bisa dia maafkan saat ini, adalah saat Tristan menyuruh anak buahnya untuk melecehkan dirinya dan juga Tristan yang ingin menusuk Sadam.


Tristan pun mengganjal motornya dengan standar, menepikan motor dipinggir jalan yang penuh dengan kebun disana. Pria bertubuh jangkung itu mendekati Aisha, lalu berdiri dihadapannya. Riki lantas waspada, bahkan kedua tangannya direntangkan ditengah-tengah dua orang itu.


"Gue nggak bakal nyakitin kakak Lo, gue janji!" Tristan berjanji.


"Saya teh teu percanten sama akang." lagi-lagi Riki menolak untuk percaya dengan Tristan. Dia tetap takut Tristan akan menyakiti Aisha, tak ada salahnya untuk waspada.


"Gue nggak tau apa yang Lo omongin, tapi gue cukup paham artinya. Tenang aja, gue cuma mau bicara dengan kakak Lo," ucap Tristan seraya melirik ke arah Riki sekilas. "Kalau gue ngapa-ngapain, Lo bisa teriak!" cetusnya lagi.


"Udah, udah! Akang teh mau ngomong apa?" tanya Aisha yang ingin cepat-cepat sampai ke rumah dan tidak mau bicara banyak dengan Tristan.


"Gue cuma mau--"


"Sholehah!" panggilan itu sontak saja menginterupsi ucapan Tristan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2