
Setelah mendapatkan pencerahan dan ceramah dari ustad Sadam abal-abal. Pak Asep mendengus menahan kesal, dia menatap Sadam yang saat ini sedang senyum-senyum seperti orang yang menang. Didalam hati, Tristan memuji Sadam diam-diam karena sudah berhasil membuat pak Asep tidak bisa menolak kehadiran mereka untuk datang kemari.
'Kang Sadam bisa aja ngomong sama bapak.Itu kan yang pernah aku bilang ke dia. Dasar' Batin Aisha menahan tawanya sedari tadi.
"Jadi intinya nggak boleh kan Dam, kalau memutus silaturahmi?" tanya Tristan yang semakin mengompori Pak Asep untuk tetap mengizinkan mereka datang kemari.
"Ya, nggak boleh dong dosa. Nanti pintu rezekinya tertutup, iya kan pak Asep? Pak Asep juga pasti tau." celetuk Sadam lagaknya seperti orang benar saja. Padahal dia lagi cosplay jadi ustad abal-abal.
'Lagaknya si Sadam kayak orang benar aja' Tristan berkata dalam hatinya.
Pak Asep menghela nafas berat dan panjang berkali-kali. Sebenarnya dia tidak mau Sadam dan Tristan datang lagi kemari, Pak Asep merasa bahwa kedua pria ini adalah sumber pengaruh buruk untuk Aisha ke depannya. Apalagi pak Asep berencana menjodohkan Aisha dan Yusuf. Dan dia merasa kedua cowok ini ada rasa pada putrinya. Tidak, tidak ada dari mereka yang bisa mendekati Aisha.
"Ya sudah, kalian masih boleh datang kemari. Tapi jangan sering-sering." tukas pak Asep dengan suara dinginnya. Sadam dan Tristan sedikit lega saat mendengarnya. Setidaknya mereka tidak dilarang untuk datang kesana.
__ADS_1
"Nah gitu dong pak. Silaturahmi itu harus tetap berjalan pak!" seru Sadam sambil tersenyum.
Setelah itu Sadam dan Tristan jadi sering mengunjungi Aisha di rumah pak Asep. Padahal pak Asep sudah mengingatkan mereka berdua untuk tidak sering datang kerumahnya. Tapi Sadam dan Tristan seperti kuman dan noda yang membandel, terus menempel pada Aisha. Meski red light sudah pak Asep kibarkan dengan sikapnya yang dingin terhadap Tristan Sadam.
Tak terasa waktu pun berlalu, hari ini adalah yang penting untuk Aisha yaitu hari wisuda kelulusan SMA-nya. Pagi itu Aisha dan kedua temannya kedatangan seorang wanita yang mengaku sebagai penata rias dan ingin bertemu dengan Aisha. Bahkan si penata rias itu membawakan gaun wisuda untuk Aisha.
"Maaf, tapi saya teh nggak pesan jas rias atau kebaya wisuda. Saya sudah ada baju juga," ucap Aisha bingung.
"Ehm...saya tau mbak. Tapi bos saya menyuruh saya untuk datang kemari. Dan kalau saya tidak melakukan tugas saya dengan baik, saya bisa dipecat mbak. Tolong ya mbak, izinkan saya merias mbak!" kata seorang wanita berusia 25 tahunan itu memohon pada Aisha.
"Udah kali Ai, terima aja. Kasihan dia kalau sampe di pecat." bisik Lilis, salah seorang teman Aisha yang saat ini menginap di rumah Lilis karena akan berangkat ke sekolah bersama-sama.
"Ya udah, teteh teh boleh masuk!"
__ADS_1
"Ai, abdi oge hoyong dirias atuh." celetuk Ima sambil tersenyum, dia adalah salah satu teman dekat Aisha.
"Mbak, apa boleh..." Aisha melihat ke arah si penata rias itu. Dia akan bertanya tentang temannya Ima.
"Boleh kok. Ya udah, saya rias ya!" seru penata rias itu sambil tersenyum. 'Dam, kakak nggak nyangka kamu bakal sebucin ini sama ni cewek. Ya, jauh dia lebih baik dari Vita. Kelihatannya wanita ini baik. Cocok jadi istri, walau usianya masih muda' kata wanita itu dalam hatinya. Ia menilai Aisha sebagai pribadi yang tidak ribet, simple dan sederhana. Padahal dulu Sadam menyukai Evita yang heboh dan selalu bersolek. Sekarang selera Sadam berubah, menjadi gadis sederhana dan berhijab.
Wanita itu merias Aisha dan kedua temannya. Aisha terlihat lebih dewasa saat memakai make up. Jujur saja dia merasa gatal saat memakai make up, namun berhubung ini hari besarnya. Mau tak mau, Aisha harus mau sedikit ribet.
"Tanpa riasan pun kamu udah cantik, pake make up...juga masih cantik. Sadam memang tidak salah cari calon istri," ucap wanita perias itu yang membuat Aisha dan kedua temannya tercengang.
"Hah? CALON ISTRI?" Lilis dan Ima tergelak mendengarnya.
'Duh keceplosan deh' batin wanita si perias itu.
__ADS_1
***