
Sebelum Tristan bicara lebih jauh, Sadam sudah datang dan menghampiri Aisha dengan buru-buru. Tak lupa dengan motor sportnya yang berwarna merah itu dan selalu dibawanya. Hatinya panas melihat Tristan dekat-dekat dengan Aisha, meski dari kejauhan. Sadam menangkap ketertarikan Tristan terhadap Aisha.
Begitu melihat kehadiran Sadam, raut wajah Aisha berubah menjadi berseri-seri. Matanya berbinar-binar menatap pria yang selama 1 Minggu ini mengisi pikirannya. Dilihat dari luar, sepertinya Sadam sudah baikan.
Alhamdulillah, kayaknya kang Sadam teh usah sembuh. Tangannya udah nggak di perban lagi. Ucap Aisha merasa lega dalam hatinya.
"Assalamualaikum Sholehahku!" sapa Sadam pada gadis itu seraya menunjukkan senyum manisnya. Dia memperhatikan wajah cantik Aisha dan senyumnya yang manis.
Kelihatan sholehah udah baik-baik saja. Alhamdulillah. Sadam lega melihat Aisha sudah terlihat baik-baik saja dari luar.
'Apa-apaan si akang? Sholehahku? Apa dia udah gelo?' batin Riki geram dengan panggilan Sadam pada kakaknya.
"Oh ya, assalamualaikum juga Iki!" Tatapan Sadam beralih pada Riki.
"Waalaikumsalam," jawab Riki dan Aisha bersaman.
"Ngapain Lo ada disini, hah? Mending Lo balik, Tan." tanpa basa-basi, Sadam mengusir Tristan untuk segera pergi dari sana.
"Oh! Tidak semudah itu Ferguson! Gue nggak bisa balik sekarang. Urusan gue sama Aisha belum selesai," ucap Tristan menolak mentah-mentah pengusiran dari Sadam. Pria itu menyunggingkan senyum sinisnya.
"Kalau masalahnya minta maaf, gue bisa sampein langsung." Kata Sadam.
"Maaf Dam. Tapi bukankah alangkah lebih baiknya permintaan maaf itu dilakukan secara langsung oleh orangnya dan juga harus dipraktekkan ketulusannya!" celetuk Tristan yang membuat Sadam terkekeh.
"Jiealah...jangan sok bijak deh Lo. Mending Lo balik sono," usir Sadam lagi pada pria itu.
"Lo aja yang balik," tukas Tristan mengusir balik Sadam.
"Lo aja!"
"Elo!"
Kedua pria itu malah jadi berdebat dipinggir jalan. Sedangkan Aisha dan Riki jadi bingung sampai garuk-garuk kepala. Mereka bertengkar karena apa?
__ADS_1
Tit...tit...
Suara klakson motor terdengar dari arah belakang motor Tristan dan motor Sadam yang ternyata menghalangi jalan. Jalan di dekat kebun itu hanya cukup untuk jalan motor saja, karena jalan yang dilalui Aisha saat ini adalah jalan pintas.Bukan jalan umum yang bisa masuk mobil.
"Punten kasisikeun eta motorna jang! Abah bade ngalangkung. Enggal!" ujar seorang pria paruh baya pada Tristan dan Sadam.
"Eh? Si bapak ngomong apaan? Gue kagak ngerti." Tristan mengerutkan keningnya, ia tidak paham bahasa Sunda.
"Itu artinya kita disuruh minggirin motor, si Abah mau lewat." celetuk Sadam yang mulai paham bahasa Sunda sejak tinggal di rumah pak Asep. Ya, dia belajar sedikit demi sedikit.
'Sial! Si Sadam bisa bahasa Sunda' batin Tristan.
"Kang Sadam, akang jahat, mending kalian jalanin aja motornya ke rumah saya. Nanti bisa macet kalau motornya gak maju. Kalau akang mau bicara sama teteh dan bapa saya. Mending di rumah aja," putus Riki yang akhirnya membuat kedua pria tampan itu tersenyum lebar. Seolah mendapatkan green light, alias undangan untuk ke rumah pak Asep.
"Oke! Tancap gas!" sahut Sadam dan Tristan kompak. Lantas beberapa detik kemudian, mereka saling menatap dengan sinis.
"Oh ya, Aisha naik motor gue yuk?" tawar Tristan.
"Hente! Enggak bisa. Teteh jalan sama saya aja," ucap Riki yang membantu Aisha menjawab ucapan si dua cowok itu. 'Ini si akang jahat sama si akang Sadam kayaknya teh naksir sama teteh' Pikir Riki dalam hatinya.
"Iya, aku sama Riki aja. Akang hati-hati," ucap Aisha yang hanya tertuju pada Sadam seorang. Tidak dengan Tristan. Ya, mungkin Aisha masih marah pada Tristan atas yang dilakukannya seminggu yang lalu. Memang tidak mudah memaafkan kesalahan Tristan yang hampir membuatnya kehilangan kesucian. Wajar bila Aisha marah bukan?
****
Siang itu di rumah Devan dan Vita.
Terdengar suara gaduh didalam rumah, ya pasangan suami-istri Devan dan Vita sedang bertengkar saat ini karena foto-foto Vita dan Sadam dulu, ditemukan oleh Devan.
"Jadi kamu punya hubungan sama Sadam sebelumnya? Sepupu aku?" tanya Devan kecewa, ia memandangi foto-foto Sadam dan Vita yang tampak mesra diatas meja.
"Iya, dulu aku emang punya hubungan sama Sadam. Tapi mas, sekarang aku udah nggak punya hubungan apa-apa lagi sama dia!" jelas Vita seraya memegang tangan suaminya, namun Devan menepis tangan Vita dengan kasar.
"Sekarang, kamu nggak punya hubungan kamu bilang? Sedangkan 1 minggu yang lalu, kamu nyusulin Sadam ke kampung dan nolongin dia. Apa maksudnya kamu nggak punya hubungan apa-apa lagi sama dia?" ucapan Devan membuat Vita tercengang. Pasalnya ia tak habis pikir, bagaimana suaminya bisa tau tentang hal ini?
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kaget?Kamu pikir aku nggak tau? Kamu pikir aku bodoh, karena nggak tau istri aku berbohong!" sentak Devan emosi. Vita terperangah dengan sentakan suaminya. Dia tidak menyangka bahwa suaminya yang penyabar bisa menjadi pemarah.
"Maafin aku mas...tapi sumpah demi tuhan, aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Sadam!" cetus Vita dengan mata yang berkaca-kaca.
"Fine, kamu bisa bilang kalau kamu nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Sadam. Lalu bagaimana dengan perasaan kamu? Apa kamu masih cinta sama dia?" tanya Devan dengan sorot mata tajam mengarah pada istrinya. Vita bergeming dalam keheningannya, bibirnya mendadak Kelu bungkam.
Jika dibilang masih cinta, mungkin iya. Tapi dia juga tidak mungkin berani bicara se-frontal itu.
"Jawab VITA!" teriak Devan marah.
"Mas..." lirih Vita dengan suara yang gemetar.
"Oke... kamu nggak usah jawab, karena aku sudah tahu apa jawabannya." Devan menarik nafas dalam-dalam.Wajahnya memperlihatkan kesedihan dan kekecewaan terhadap istrinya.
"Kita cerai saja!" ucap Devan yang tanpa sadar, sudah mentalak Vita.
Sontak saja Vita tercengang dengan kata-kata suaminya. Cerai? Tidak! Vita tidak pernah membayangkan hal ini. Dia tidak mau kehilangan Devan yang sangat baik padanya, meski ia sendiri tidak ada rasa pada Devan.
"Mas! Aku tidak bisa bercerai, aku tidak mau!" ujar Vita seraya memohon pada suaminya. Namun Devan hanya tersenyum tipis, dia pun meninggalkan Vita di rumahnya begitu saja dalam keadaan marah.
"MAS DEVAN! Mas!" panggil Vita pada suaminya yang sudah pergi menaiki mobil. Dia menangis melihat suaminya pergi begitu saja.
****
Di rumah pak Asep, Aisha, Sadam, Riki dan Tristan sudah sampai didepan rumah. Mereka melihat pak Asep, Yusuf dan ayahnya Yusuf yang bernama Entis, tengah berada didepan rumah. Mereka sedang mempersiapkan makan liwet dengan daun pisang sebagai alasnya.
"Neng, kamu sudah pulang. Eh, kenapa kamu sama mereka?" tanya Pak Asep yang tatapannya berubah tajam saat melihat Sadam dan Tristan disana.
Sadam lantas meraih tangan Pak Asep dan mengucapkan salam dengan sopan. "Assalamualaikum pak, apa kabar?"
'Sial! Gue keduluan'
****
__ADS_1