
"ASTAGFIRULLAHALADZIM! KALIAN!"
"Beraninya kalian berbuat mesum di tempat terbuka begini!"
Suara-suara itu sontak saja membuat Aisha dan Sadam terkejut bukan main. Mereka menoleh ke arah orang-orang itu. Tampaknya mereka telah salah paham dengan apa yang terjadi dengan kondisi mereka saat ini.
Aisha dan Sadam buru-buru beranjak dari batu karang yang ada di sungai itu. Rok Aisha dan baju Sadam basah. Malah tubuh Sadam hampir basah semua karena tadi dia menahan Aisha yang hampir jatuh karenanya.
"Ayo ikut kami ke kantor desa!" ajak seorang wanita paruh baya seraya memegang tangan Aisha dengan kasar.
"Malu-maluin kamu teh, padahal kamu anak pak RW!" cetus seorang wanita berhijab dengan geramnya pada Aisha.
"Maaf ibu-ibu, kalian salah paham. Saya dan Aisha tidak--"
"Alah! Banyak alasan kalian! Padahal kalian bukan muhrim tapi kalian sering jalan berduaan," cetus seorang pria seraya memegang tangan Sadam.
"Kami nggak ngapa-ngapain! Sungguh pak, Bu!" ujar Sadam menyanggah. Dia melihat sorot mata tajam penuh kecurigaan semua orang pada mereka berdua. Terlihat Aisha ketakutan.
"Gak usah banyak alasan maraneh teh,hah! Ikut ayeuna ka kantor desa!" teriak ibu-ibu itu langsung menghakimi Sadam dan Aisha. Mereka tidak peduli walaupun Aisha adalah anak pak RW, atau anak presiden sekalipun.
"Ibu-ibu, kalian teh salah pah--"
Aisha baru saja akan menjelaskan apa yang terjadi kepada ibu-ibu dan bapak-bapak yang ada di sana, akan tetapi ia dan Sadam sudah diseret untuk dibawa ke kantor kepala desa Mekarmukti.
Didalam perjalanan menuju ke kantor kepala desa, Sadam melirik ke arah Aisha dan mengisyaratkan kepada gadis itu untuk tenang. Karena mereka tidak bersalah, dan mereka tidak melakukan apapun yang dituduhkan oleh semua orang. Yaitu berbuat mesum di sungai.
Beginilah kalau tinggal di desa, salah sedikit saja bisa menjadi kesalahpahaman besar. Posisi Sadam dan Aisha tadi tampak tidak menguntungkan dan mengundang salah paham. Aisha menundukkan kepalanya, saat semua orang menatap padanya. Dia seperti buronan saja. Sedangkan Sadam tampak tenang dan biasa saja.
"Ada apa ini bapak-bapak ibu-ibu?" tanya pak kepala desa yang saat ini sudah berdiri didepan warga yang menyeret Aisha dan Sadam.
"Pak kades, kami teh mau melapor bahwa ada anak muda yang ketahuan berbuat zina!"ujar seorang wanita paruh baya pada pak kades.
__ADS_1
"Iya pak kades, mereka berbuat zina di sungai. Astagfirullahaladzim." timpal seorang pria dengan berapi-api.
Suara warga begitu riuh meneriaki Sadam dan Aisha untuk segera dinikahkan. Saat ini Sadam mulai kehilangan ketenangannya karena semua orang terus saja bicara, menuduh yang bukan-bukan.
"Hey, kalian tuh, kalau--" Sadam berdiri dari tempat duduknya. Dia mulai angkat bicara karena tak tahan lagi. Namun ucapannya terhenti kala pak Asep datang menepuk bahunya.
"Tenang kang, tenang." Kata Pak Asep menenangkan. Sadam mendengus menahan marah, ia kembali duduk di bangkunya yang bersampingan dengan tempat duduk Aisha, namun diberi jarak.
"Maaf, ada masalah apa ini bapak-bapak ibu-ibu semuanya? Saya dengar anak saya dan kang Hilman berzina? Apa kalian ada bukti bicara seperti itu tentang anak saya dan kang Hilman?" tanya pak Asep yang kini sudah berdiri di depan semua orang, ditengah-tengah aula desa bersama pak kades.
"Saya ngeliat neng Aisha sama kang Hilman pelukan di sungai. Terus baju mereka juga basah," kata seorang wanita paruh baya yang tadi menarik tangan Aisha dengan kasar.
Sontak saja pak Asep menoleh ke arah Aisha dan Sadam bergantian. Pria paruh baya itu menelisik keduanya.
"Itu nggak benar pak, kami tidak berpelukan!" ujar Sadam tegas dan dia sudah sangat emosi dengan mereka semua.
"Diam kamu!" sentak seorang pria pada Sadam.
"Bagaimana posisi mereka saat itu?" tanya pak kades yang bertugas sebagai penengah disana.
"Neng Aisha lagi duduk diatas kang Hilman, terus tangannya megang pundak kang Hilman. Mereka juga ciuman," celetuk seorang ibu-ibu hingga membuat Sadam kesal.
"Apa Lo bilang? Kapan gue ciuman sama Sholehah?!" sentak Sadam yang akhirnya kehilangan ketenangannya.
"Hilman, tenang!"
Sadam benar-benar berang, dia tidak tahan lagi dengan sifat orang-orang di desa ini yang main hakim sendiri. Pak kades dan pak Asep pun berusaha menenangkan Sadam, juga menengahi suasana.
Setelah keadaan lumayan kondusif, barulah pak kades menanyakan kejadiannya pada Aisha dan Sadam. Tentu saja pak kades tidak akan mendengarkan cerita dari sepihak saja.
Sadam dan Aisha menceritakan semua yang terakhir di sungai, tentu saja dengan jujur dan cerita yang sama. Bahwa mereka tidak seperti yang dituduhkan. Bahkan Aisha menunjukkan brossnya yang tak sengaja menggantung di rambut Sadam. Mereka juga tidak terlihat seperti habis melakukan hal itu.
__ADS_1
Lalu ada satu saksi yang juga melihat Aisha dan Sadam sampai akhir. Dia mengatakan bahwa Aisha dan Sadam berkata benar, dia bahkan mendengar percakapan yang terjadi antara Sadam dan Aisha.
"Jadi--bapak dan ibu sudah dengar kan semuanya? Kejadiannya seperti itu. Tidak ada yang namanya mesum maupun perzinahan! Kalian hanya salah paham!" seru Pak kades tegas.
Para warga tadi pun manggut-manggut setelah tau kejadian yang sebenarnya. Mereka pun meminta maaf pada Sadam dan Aisha karena sudah diseret ke kantor kepala desa.
"Enak aja kalian minta maaf! Apa kalian nggak lihat--" Sadam yang emosi langsung terdiam saat Pak Asep memegang tangannya.
"Kita pulang sekarang ya kang," ucap Pak Asep tegas namun penuh penekanan. Hingga Sadam tidak bicara lagi.
"Sekali lagi maafkan kami ya," ucap seorang wanita paruh baya itu pada Sadam dan Aisha.
"Iya nggak apa-apa Bu," sahut Aisha sambil tersenyum.
Setelah masalah di kantor desa selesai, Aisha, Sadam dan Asep pulang ke rumah. Aisha naik motor bersama dengan Asep, sementara Sadam naik sepeda yang tadi dibawanya.
Sesampainya di rumah, Pak Asep langsung mengingatkan Aisha dan Sadam untuk tidak terlalu dekat. Mereka berdua paham dan langsung pergi ke kamar masing-masing. Mereka belum sempat membersihkan diri.
"Maaf buat yang tadi, kang." Kata Aisha setelah keluar dari kamarnya dan membersihkan diri.
"Ini bukan salah Lo," tukas Sadam. Lalu berjalan melewati Aisha dan melangkah pergi ke ruang tengah.
"Sadam? Siapa Sadam? Disini nggak ada yang namanya Sadam," suara Riki terdengar oleh Aisha dan Sadam.
Mereka pun kompak melangkah keluar untuk melihat siapa tamu yang mencari Sadam. Tak lama setelah itu, pandangan Sadam terkunci pada seorang wanita berambut pendek yang sedang berdiri didepan pintu. Disana ada Riki juga.
"Eh, kang Hilman? Teteh?"
"Sadam!" teriak wanita itu, kemudian dia pun masuk ke dalam rumah dengan berlari dan memeluk Sadam. Aisha dan Riki terkejut saat wanita itu tiba-tiba memeluk Sadam.
"Sadam! Syukurlah kamu masih hidup," kata Vita senang, ia memeluk Sadam semakin erat. Dalam sekejap, terlintas sesuatu seperti kaset yang diputar berulang di kepala Sadam.
__ADS_1
...***...