
...πππ...
Sadam langsung mengusir Vita pergi dari sana, seketika hati Vita berdenyut nyeri karena sikap Sadam. Dia sudah jauh-jauh datang kemari dan Sadam malah mengusirnya. Vita tidak terima hal itu.
Sebelum pingsan tadi, Sadam merasakan sakit kepala yang hebat. Disanalah ia kembali mendapatkan ingatannya kembali tentang masa lalunya. Sadam benci melihat Vita, dia tidak ingin wanita itu kembali mempengaruhi hidupnya.
"Sadam, kenapa kamu ngusir aku? Aku jauh-jauh kesini buat kamu Sadam, sudah satu bulan kamu menghilang. Oke, fine...aku minta maaf karena udah buat kamu marah dan kecewa sampai kamu masuk lagi ke geng black Phantom. Tapi--aku akan jelaskan semuanya sekarang dengan jujur, alasan aku menyakiti kamu!"
"Semuanya udah nggak penting lagi. Mending sekarang lo pergi dari sini, Vita!" ujar Sadam mengusir Vita dari rumah pak Asep.
"Tapi Dam, aku--"
"Lo udah punya suami Vit! Apa pantes Lo meluk cowok lain hah? Apa pantes lo nyariin cowok lain? Pergi dari sini!" usir Sadam sambil mendorong-dorong tubuh Vita ke luar rumah itu. Vita terlihat enggan, bahkan dia menunjukkan wajah memelas agar membuat Sadam iba. Sayang sekali, Sadam tidak menunjukkan rasa ibanya, ia malah jijik dengan wanita yang dulu pernah menjadi cintanya.
Disisi lain, Aisha hanya bisa diam saja menyaksikan itu. Dia tidak bisa berbuat apa dan tak tahu harus bagaimana. Ini bukan waktu dimana dia harus ikut campur diantara Vita dan Sadam. Aisha memang cenderung pendiam dan tidak suka ikut campur urusan orang.
"Oke, kalau kamu masih marah sama aku nggak apa-apa. Tapi Oma kamu, kamu harus pulang demi Oma kamu. Oma kamu sakit, Dam. Arga sama Genan juga nyari kamu, so kamu harus pulang sama aku!" Vita memberitahukan kepada Sadam tentang kondisi Omanya yang sekarang sedang sakit. Vita tahu itu semua dari Devan, suaminya.
Mendengar Omanya yang sakit, jelas membuat hati Sadam khawatir. Ia yang baru ingat semuanya, baru sadar sudah meninggalkan rumah satu bulan lamanya.
"Sadam, kamu harus pulang! Kasihan Oma kamu," ucap Vita lagi karena Sadam bergeming.
"Gue bakal balik, tapi nggak sama lo. Dan gue harus pamit dulu sama pemilik rumah ini." Cetus Sadam tegas.
Kang Hilman mau pulang? Aisha sedih saat Sadam mengatakan bahwa dia akan pulang dan berpamitan dulu dengan semua keluarganya.
"Ya udah, kamu cepat pulang ya. Setidaknya aku lega karena sekarang kamu baik-baik aja," ucap Vita seraya menatap sendu pada wajah tampan Sadam. Ia lega pria itu baik-baik saja. Vita pun memutuskan pergi lebih dulu ke tempat mobilnya berada. Dia pergi naik ojeg yang dipesankan oleh Aisha. Sepeninggal Vita, Sadam dan Aisha berada di luar rumah berdua.
Aisha terlihat canggung saat Sadam menatap wajahnya dengan tatapan aneh. Gadis itu diam saja dan membuat Sadam heran, padahal harusnya Asiah banyak bicara. Hingga akhirnya Aisha mulai bicara.
"Pacarnya kang Hilman, eh kang Sadam...cantik ya."
"Cantikan elo," sahut Sadam dan membuat Aisha mendongak.
__ADS_1
"Lagian kenapa sih lo nanyain cewek gak penting itu? Dia bukan pacar gue. Dan seharusnya lo nanyain hal lain," ucap Sadam.
"Aku harus nanya apa?"
"Lo polos, atau emang lo gak peka sih?" tanya Sadam seraya menyugar rambutnya ke belakang. Aisha sampai meneguk ludahnya saat melihat ketampanan Sadam yang berkali-kali lipat saat melihat pria itu menarik rambut ke belakang.
"Ingatan gue udah kembali dan gue bakal pulang ke Bandung Kota. Rumah gue disana," ucap Sadam yang membuat Aisha terkejut. Ada rasa tidak rela saat mendengar apa yang dikatakan oleh Sadam, pria itu akan segera kembali kepada kehidupannya.
"O-oh gitu ya. Alhamdulillah kalau ingatan akang udah balik lagi. Aku senang dengarnya Kang, itu artinya akang pasti bakal pulang ke rumah akang. Se-selamat ya kang," ucap Aisha terbata-bata. Dia menatap Sadam dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan merasa sakit seperti ini. Sadam sudah berhasil memengaruhi hidupnya.
"Lo yakin mau biarin gue pergi, Sholehah?" tanya Sadam yang seakan ingin Aisha untuk menahannya pergi.
"Aku nggak ada hak buat ngelarang akang pergi. Lagipula, akang akan kembali ke rumah akang suatu hari nanti. Aku senang kok,"
"Ya...sayang banget, padahal gue pengen lo bilang sama gue, kalau gue nggak boleh pergi." Kata Sadam jujur dari dalam lubuk hatinya.
"Ta-tapi..."
Aisha tak sempat melanjutkan kata-katanya sebab ayah dan adiknya sudah kembali. Mereka pun masuk ke dalam rumah. Disanalah Sadam bicara pada pak Asep dan Riki, bahwa ingatannya sudah kembali.
"Bukan pak, dia bukan siapa-siapa." kata Sadam seraya melirik Aisha yang memalingkan wajah darinya. Sadam tau Aisha sedang menyembunyikan kesedihannya. "Oh ya pak, sholehah, Riki, saya sekalian mau pamit pulang ke tempat saya tinggal," ucap Sadam dengan berat hati.
"Terimakasih atas bantuan pak Asep, Riki dan Sholehah selama ini. Saya minta maaf karena saya banyak merepotkan kalian, terutama Sholehah yang selalu saya repot kan!" kata Sadam dengan sopan. Ia tampak berbeda dengan sikap pertama kali saat berada di rumah pak Asep.
Selama satu bulan ini, sadam merasa dia memang merepotkan Aisha dan selalu mengikuti Aisha kesana kemari. Dia juga belajar mengaji dari Aisha.
"Kamu tidak usah berterimakasih seperti itu nak Sadam. Ini memang sudah kewajiban kami untuk membantu orang yang kesulitan. Kamu juga sudah banyak membantu saya dan keluarga saya," ucap Pak Asep. Ya, pria itu merasa Sadam juga banyak membantu. Sadam membantu pak Asep di sawah dan juga tugas menjemput Aisha.
"Tidak pak! Saya yang memang seharusnya berterimakasih," ucap Sadam seraya menatap Aisha sedari tadi. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun. "Maaf saya harus pergi sekarang juga karena keadaan nenek saya," ucapnya lagi dengan hati yang sedih. Pak Asep dan Riki hanya mengiyakannya saja.
Tiba-tiba saja Aisha beranjak dari tempat duduknya, ketika semua orang berada dalam pembicaraan. "A-aku permisi ke belakang dulu," kata Aisha pamit.
Melihat Aisha pergi, semua orang yang ada di ruang tengah merasa keheranan. Apalagi Riki yang tadi melihat mata kakaknya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pak Asep, jika boleh--saya ingin bicara berdua dengan Aisha. Saya tidak akan macam-macam, bapak dan Riki bisa mengawasi saya!" ujar Sadam meminta izin.
"Gak ***--"
"Silahkan!" seru pak Asep yang menginterupsi ucapan Riki.
"Tapi pak--" sela Riki seraya menatap bapaknya, ia seakan tak rela Sadam bicara dengan Aisha.
"Mungkin, ini untuk terakhir kalinya," ujar pak Asep yang sontak membuat raut wajah Sadam memucat. Tanpa berpikir panjang, Sadam menghampiri Aisha yang ada di teman belakang rumahnya.
Gadis itu terlihat duduk di ayunan dengan air mata yang menetes membasahi wajah cantiknya. Sadam menghela nafas, lalu ia pun duduk disamping Aisha.
"Eh? Kang Sadam?" sontak Aisha terperangah saat menyadari bahwa Sadam sudah duduk disebelahnya. Buru-buru gadis itu menyeka air matanya.
"Jangan nangis. Gue pasti kembali lagi kesini."
"Kang..."
Sadam tiba-tiba saja melepas kalung berbandul cincin yang ada di lehernya. Lalu ia meletakkan kalung itu pada telapak tangan Aisha.
"Lo inget kan, gue sering nanya sama lo tentang kalung bandul cincin ini. Kenapa gue selalu memakainya dan gak mau melepasnya. Sekarang gue inget semuanya, kalung ini pemberian ibu gue...saat dia ninggalin gue. Kalung ini sangat berharga, sekarang kalungnya gue kasih buat Lo!"
"Buat aku? Tapi kenapa?" tanya Aisha polos.
"Gue akan bilang saat gue balik lagi kesini, jadi jangan sedih. Gue pasti kembali, buat ngambil sesuatu yang berharga dalam hidup gue. Jadi Lo harus jaga baik-baik, sesuatu itu!"
"Aku akan jaga kalung ini baik-baik."
'Dia suruh aku jaga kalungnya. Aku pikir apaan' batin Aisha.
Sadam tiba-tiba saja memeluk Aisha dengan hangat. Aisha hendak mendorongnya, tapi Sadam memeluk Aisha semakin erat. "Kang Sadam,"
"Gue bakal kangen sama Lo, sholehah." lirih Sadam seraya merasakan aroma tubuh Aisha sambil memeluknya. Dia akan pergi setelah ini, kembali ke rumahnya untuk bertemu dengan Omanya. Juga melaporkan perbuatan geng Thanos padanya ke polisi.
__ADS_1
...****...
Jangan lupa komennya guys, author sepi π€§π€§vote, atau gift nya juga dong