When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 20. Sikap cuek Sadam


__ADS_3

Arina sungguh tidak nyaman dengan penolakan dari Pak Asep. Pasalnya ia merasa bersalah juga atas apa yang menimpa Aisha karena putranya Sadam. Ini sudah tengah malam dan Arina tidak tega membiarkan Pak Asep juga kedua anaknya langsung pergi ke kampung. Setidaknya mereka harus beristirahat lebih dulu, maka dari itu Arina menawarkan tempat tinggal setidaknya untuk malam ini. Namun pak Asep menolaknya dengan tegas. Dia tidak mau Aisha terlibat lagi dengan Sadam.


Arina berusaha kembali untuk membujuk Pak Asep agar tetap tinggal. "Tapi pak--"


"Pak, saya mohon...tinggallah di rumah kami untuk malam ini saja. Kedua anak bapak terlihat sangat lelah, setelah beristirahat--kalian bisa pulang besok." Kali ini Bu Rianti yang bicara. Wanita tua yang satu ini, sepertinya akan sulit untuk ditolak oleh pak Asep. Apalagi dia tengah duduk di kursi roda.


"Pak, kita tinggal dulu aja untuk malam ini. Kasihan teteh kalau kita pulang sekarang, teteh kelihatan capek." Saran Riki pada bapaknya, ia merasa kasihan melihat kondisi Aisha yang saat ini masih lelah dan syok.


Pak Asep menghela nafas, kemudian ia pun menganggukkan kepalanya. "Baik Bu, untuk malam ini saya dan anak-anak saya, akan tinggal di rumah ibu."

__ADS_1


Arina dan Bu Rianti tersenyum manakala Pak Asep menyetujui untuk tetap tinggal di rumah mereka malam ini. Akhirnya Aisha, Pak Asep, Riki dan Bu Rianti pulang lebih dulu ke rumah. Sedangkan Arina, masih berada di rumah sakit menemani Sadam yang belum sadarkan diri.


Luka-luka Sadam sudah diobati dokter, dokter mengatakan Sadam baik-baik saja dan hanya mengalami luka luar. Tristan dan Genan juga sama. Mereka baik-baik saja. Arina benar-benar merasa lega karena putranya baik-baik saja.


"Maafkan mama nak, selama ini mama sudah gagal menjadi ibu yang baik buat kamu. Mama...malah mengabaikanmu, maafin mama Sadam. Mulai sekarang, mama tidak akan jauh-jauh dari kamu." Arina berucap seraya mengusap kening Sadam perlahan. Dengan rasa sangat bersalah, Arina menangis melihat putranya. Ia juga menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada Sadam. Semua ini salahnya. Kalau saja ia memberikan kasih sayang pada Sadam, anaknya tak akan terlibat geng motor dan terluka seperti ini. Mulai sekarang Arina dan suaminya Ferdi, akan merawat Sadam.


****


"Mama? Kenapa mama ada disini?" tanya Sadam dengan kening berkerut.

__ADS_1


Pergerakan dari tangan Sadam yang ingin menghindar dari Arina, membuat wanita paruh baya itu akhirnya terbangun dari tidurnya. Ia lantas melihat Sadam yang sudah siuman. Terpatri senyum penuh rasa syukur dibibirnya.


"Kamu sudah siuman nak? Alhamdulillah...mama panggil dokter dulu ya!" ujar Arina dengan perasaan bahagianya. Ia pun pergi dari sana dan memanggil dokter. Tak lama kemudian, Arina datang bersama seorang dokter yang akan memeriksa Sadam.


Dokter itu memeriksa Sadam dan mengatakan bahwa Sadam sudah boleh pulang karena hanya mengalami luka luar saja. Arina sangar senang akan hal itu.


"Nak, Alhamdulillah kamu baik-baik saja...mama sangat mencem--" Saat Arina akan memeluk Sadam, pria itu malah menghindar dan membuat hati Arina terluka.


"Dimana Aisha?" Sadam malah mengatakan Aisha, dan sikapnya masih cuek pada Arina.

__ADS_1


...****...


__ADS_2