
Tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga, kehadiran sosok pria tampan di atas panggung membuat semua orang takjub karenanya.
Pria tampan itu berdiri sambil membawa gitar dan entah dia muncul dari mana. Sekarang ia sendiri sedang berdiri di depan mikropon. Dia tidak sendiri, ada Genan, Arga dan Danny di sana memegang alat musik masing-masing.
Genan dengan keyboardnya, Danny dengan gitar basnya. Dan Arga dengan drum. Entah apa yang akan mereka lakukan di sana. Aisha sampai membeku melihatnya. Sedangkan semua siswi di sana langsung menjerit-jerit tidak karuan saat melihat ketampanan 4 pria yang berada diatas panggung itu.
Mereka terpesona melihat Sadam dan ketiga temannya di sana.Bak boyband Korea yang akan tampil dalam acara konser.
"Subhanallah...Masya Allah...meni ganteng-ganteng pisan eta si Akang!"
"Kang Sadam sama temen-temennya, kayak artis Korea. Kasepna teu katulungan!"
"Masya Allah, abdi teh jadi mau foto sama temen-temen kang Sadam."
Banyak dari siswi-siswi di sana mengambil foto Sadam dan ketiga temannya. Suasana acara wisuda itu pun semakin meriah, dengan kehadiran mereka. Bahkan saat ini di jajaran kursi para orang tua murid, ada nenek Sadam, Arina dan juga ayah tiri Sadam.
__ADS_1
"Kamu lihat itu Arina? Sadam tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi kepada seorang gadis. Sadam, sepertinya serius pada gadis itu." kata Rianti pada Arina, mantan menantunya.
"Iya Ma. Aku sih setuju kalau gadis itu Aisha, malahan aku senang karena Sadam menyukai wanita yang baik. Tapi, apakah bapak Aisha akan menerima Sadam?"
"Ya, kamu benar Arina. Pak Asep terlihat tidak menyukai Sadam. Mungkin dia akan menolak Sadam." pikir Rianti.
"Dan lagi Aisha juga baru lulus SMA, Ma. Bukankah itu bisa jadi salah satu alasan pak Asep menolak?" tanya Arina menebak-nebak.
Bukannya berpikir positif bahwa Sadam akan diterima oleh keluarga Aisha. Tapi dua wanita ini malah mengira bahwa Sadam akan ditolak lebih dulu.
"Untuk semuanya, selamat untuk kelulusan kalian. Semoga setelah ini, kalian bisa menggapai cita-cita kalian yang lebih tinggi. Mungkin ada yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, atau mungkin ada yang langsung terjun ke dunia pekerjaan. Dan mungkin ada juga yang menikah." sorot mata Sadam menajam pada Aisha yang sedang berjalan pergi dari panggung. Entah kenapa dia benar-benar malu saat ini, malu tanpa alasan.
"Hey kamu yang pake kerudung merah dan baju merah!" seru Sadam yang membuat Aisha kembali membalikkan badannya, dia menoleh ke arah Sadam. Sontak saja, atensi semua orang tertuju pada Aisha.
"A-aku?" Aisha menunjuk pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya kamu, yang pake kerudung merah dan cantiknya nggak ketolongan. Untuk beberapa menit ke depan, tolong lihat aku dan dengarkanlah aku bernyanyi!" Sadam tersenyum sambil menatap Aisha yang saat ini pipinya memerah akibat ulahnya.
Deg!
Degup jantung Aisha semakin kencang karena kata-kata Sadam yang menggetarkan hatinya. "Kang Sadam..." gumam Aisha.
"Kyaakk!!"
"Kang Sadam meni keren pisan!"
"Mau dong jadi Aisha!"
Para siswi-siswi di ruangan itu kembali menjerit kala Sadam mengucapkan kata-kata yang dirasa kata romantis itu. Mereka ingin menjadi Aisha yang dipuja pria tampan dan romantis seperti Sadam. Begitulah yang terlihat dari luar.
"Apa-apaan dia?" pak Asep berdesis, ia terlihat tidak suka Sadam mengganggu Aisha.
__ADS_1
...****...