
...🍀🍀🍀...
Hari sudah gelap kala itu, Aisha baru saja selesai shalat magrib. Lalu ia termenung sambil duduk di dekat jendela kamarnya. Dimana ia bisa melihat langit gelap, beserta bintang dan bulan disana. Cahaya keduanya menerangi gelapnya malam.
"Apa akang bakal balik lagi kemari?" tanya Aisha sambil melihat kalung yang kini terpasang di lehernya, namun tertutupi hijab. Kalung bandul cincin yang diberikan oleh Sadam padanya.
"Kenapa akang ngasih benda berharga ini buat aku? Apa perasaan kita teh sama kang? Apa aku nggak kepedean?" Aisha terus bertanya-tanya. Apakah dia memiliki perasaan yang sama dengan Sadam atau tidak? Apakah Sadam juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Terus saja dia membolak-balik pertanyaan yang sama, padahal intinya sama.
Aisha tersenyum dan wajahnya terlihat berseri-seri, dia masih stay duduk disana sambil menutup mata dan memikirkan Sadam. Tak bisa dipungkiri bahwa ia memiliki rasa pada Sadam, rasa tak biasa.
Tanpa Aisha sadari, adik dan ayahnya melihat Aisha dari ambang pintu. Mereka menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Kayaknya teteh kamu teh udah tau yang namanya cinta, Ki." ucapan Pak Asep sontak membuat Riki menoleh dan menatap bapaknya.
"Pak! Jangan sama kang Sadam," Riki menolak Sadam. Dia tidak mau Aisha bersama dengan Sadam nanti. Sebab di desa itu, banyak anak perempuan yang menikah muda.
"Memang kenapa kamu teh nggak mau Sadam sama teteh kamu?" tanya Pak Asep pada putranya.
"Teteh terlalu baik untuknya, terus kita juga kan nggak tau latar belakang keluarganya. Bisa aja dia mafia, orang jahat, atau anggota geng. Bapak tau sendiri kan kalau saat kita nemuin kang Sadam, banyak luka-luka ditubuhnya kayak habis berantem."
Pak Asep termenung mendengar kata-kata putranya, apa yang dikatakan oleh Riki memang tidak salah. Saat 1 bulan lalu, Sadam dibawa ke klinik desa, dalam keadaan luka parah. Tubuh Sadam, banyak memiliki bekas luka penganiayaan.
"Mungkin itu luka karena dibegal. Udah ah, kamu jangan suudzon sama orang!" ujar Pak Asep pada putranya. Pak Asep mencoba berpikir positif, mungkin Sadam memang di begal waktu itu.
'Ah, kenapa aku nggak tanya ya? Apa yang terjadi sama dia, sampai luka-luka waktu itu? Bahkan sampai hilang ingatan?' batin Pak Asep yang baru terpikirkan untuk menanyakan apa yang terjadi pada Sadam kala itu. Tapi sekarang Sadam sudah pergi ,mungkin bila pria itu kembali datang ke rumahnya. Maka ia akan menanyakannya.
BRAK!
PRANG!
Tiba saja terdengar bunyi gaduh dari arah luar rumah, bersamaan dengan bunyi motor yang keras. Suara benda jatuh dan pecah, juga terdengar kencang. Sontak saja pak Asep dan kedua anaknya lantas berjalan menuju ke luar rumah. Mereka bertanya-tanya, ada apa diluar.
__ADS_1
"SADAM! Keluar Lo! Atau gue bakal ancurin rumah ini!" teriak Tristan yang baru saja melempar batu pada kaca depan rumah pak Asep.
Rahang pak Asep mengeras, wajah Riki juga tampak marah melihat pecahan jendela dan tv di ruang tengah rusak karena batu yang dilemparkan oleh Tristan.
"Pak, siapa mereka?" tanya Aisha yang mulai ketakutan karena melihat orang-orang memakai motor itu diluar sana. Mereka tampaknya bukan orang baik dan tampang mereka menyeramkan. Apalagi mereka memanggil nama Sadam.
Pak Asep dan Riki maju ke depan lebih dulu, mereka bahkan membawa pemukul. Kalau-kalau terjadi hal buruk disana. Feeling mereka tidak enak saat ini.
"Teh! Teteh disini aja, biar Riki sama bapak yang ke depan."
"Ta-tapi..."
Belum sempat Aisha bicara, pak Asep dan Riki sudah berada di depan rumah. Tristan dan anggota geng Thanos lainnya juga sudah turun dari motor dan kini mereka saling berhadapan. Tristan dan anggota gengnya, menatap Riki dan pak Asep dengan tajam. Bahkan mereka membawa senjata tajam di belakang tubuh mereka.
"Kalian benar-benar tidak sopan! Mau apa kalian kemari dan tiba-tiba saja kalian menghancurkan jendela rumah dan barang-barang di rumah saya? Apa maksudnya ini?" pak Asep mencecar Tristan dan anak buahnya dengan pertanyaan, seakan menumpahkan rasa kesalnya.
Tristan mengabaikan pertanyaan dari Pak Asep, matanya menelisik sekitar rumah itu. Dan dengan tidak sopannya, Tristan masuk ke rumah itu tanpa seizin pemiliknya.
"Geledah! Temuin si Sadam! Gue yakin dia lagi sembunyi," cetus Tristan yang merupakan sebuah perintah bagi anak buahnya. Mereka yang berjumlah 5 orang pun masuk ke dalam rumah Pak Asep.
"Apa kalian mencari kang Sadam?" tanya Riki yang sontak membuat Tristan, akhirnya memberi atensi pada anak remaja itu.
"Iya, gue cari Sadam!"
"Kang Sadam nggak ada disini, dia udah pergi," jawab Riki jujur.
"Bacot Lo!" Tristan hendak mendorong Riki, namun Aisha muncul dan menghalanginya.
"Jangan sentuh adik saya!"ujar Aisha dengan nafas yang naik turun karena melihat Tristan.
Tristan menatap Aisha dengan tajam, dia mengapit pipi Aisha dengan satu tangannya. Sontak, Pak Asep dan Riki pun bergerak dengan perasaan marah. Namun sayang, pergerakan mereka harus terbatas karena anak buah Tristan memegang tubuh mereka dengan erat.
__ADS_1
"Jangan sentuh teteh! Lepasin teteh!" teriak Riki.
"Lepaskan anak saya! Kalian benar-benar kurang ajar!" teriak Pak Asep geram. Anehnya saat ini tidak ada warga desa yang berada diluar. Rumah pak Asep berada di ujung dan cukup jauh dari rumah lainnya, hingga keributan di rumahnya tidak terdengar. Atau mungkin yang lain sedang berada di mesjid pada jam seperti ini.
Tristan dan anak buahnya mengabaikan pak Asep dan Riki yang terus berteriak memakai Tristan dan orang-orang yang menghancurkan rumahnya.
"Tan, gue nemu ini!" seru Hugo, teman baik Tristan sambil menyerahkan selembar foto pada Tristan. Foto Aisha dan Sadam yang sedang ada di sawah. Foto itu diambil salah satu teman Aisha dan Aisha iseng mencetaknya.
"Si Sadam kelihatan bahagia banget ya disini, ckckck...gue jadi gak senang lihat dia kayak gini," komentar Tristan saat melihat gambar Sadam yang tersenyum bahagia di foto itu bersama dengan Aisha. Tristan marah, bagaimana bisa Sadam bahagia setelah membuat adiknya meninggal.
"Bos, si Sadam gak ada! Kayaknya dia melarikan diri," ujar salah seorang anak buahnya.
"SIALAN!" umpat Tristan yang masih memegangi pipi Aisha dengan kasar. Tangan Aisha berusaha berontak, tapi anak buah Tristan memegang tangannya. Malah memelintirnya.
"Sakit! Lepasin!" teriak Aisha memekik kesakitan.
"Lepasin anak saya!"teriak Pak Asep murka.
Lalu Tristan tiba-tiba memukul kepala Aisha dengan besi, hingga gadis itu tak sadarkan diri. Tubuhnya ambruk dalam dekapan tubuh Tristan.
BUGH!
"Keterlaluan kalian, beraninya kalian menyakiti ANAK SAYA HAH?" pak Asep benar-benar geram, tapi ia tak bisa melawan. Lantaran pergerakannya terkunci karena anak buah Tristan mengikat tubuhnya dan juga tubuh Riki pada kursi.
Tristan menggendong Aisha yang tidak sadarkan diri ala karung beras. Gadis itu terkulai lemah di tubuh tingginya.
"Kalau kalian mau dia selamat, hubungi Sadam. Suruh dia temuin gue!" kata Tristan yang kemudian pergi dari sana membawa Aisha bersama temen-temannya.
Setelah kepergian Tristan yang membawa Aisha bersama geng nya. Tak lama kemudian, beberapa warga yang baru saja dari tahlilan melihat rumah Pak Asep dari luar, tampak kacau.
"Eh...ada apa tuh?"
__ADS_1
"TOLONG!" teriak Riki dari dalam rumah dan akhirnya warga berdatangan menolong mereka berdua.
...****...