
Silahkan baca bab sebelumnya yang udah di revisi ya kakak kakak ❤️😊 biar nyambung hehe
...****...
Aisha, Danny, Arga dan Genan melihat Sadam dan Tristan yang sedang adu jotos di luar rumah terbengkalai itu dari kejauhan. Mereka berada didekat jurang saat ini. Entah bagaimana caranya hingga mereka bisa berkelahi sampai kesana.
"Itu kang Sadam!" ujar Aisha seraya melihat ke arah Sadam dan Tristan yang sedang saling pukul dengan brutal. Wajah mereka bersimbah darah satu sama lain. Hal itu membuat Aisha dan Danny cemas.
"Ayo!" ajak Danny pada Aisha, mereka harus menghentikan Sadam dan Tristan sebelum keduanya saling melukai lebih jauh. Disisi lain, Arga dan Genan bersama beberapa anggota geng Black Phantom juga berlari menghampiri Sadam dan Tristan.
Kini terlihat Sadam dan Tristan saling cekik, keduanya sama-sama kuat, meski sudah berdarah-darah.
"Gue nggak bunuh adik Lo, sialan! Berapa kali gue harus jelasin sama Lo," ucap Sadam pada pria itu tanpa melepaskan cekikannya dari leher Tristan.
"Lo masih aja nggak mau ngaku, Lo jelas tau kenapa adik gue memilih jalan itu. Tapi emang ya, Lo nggak punya hati Sadam? Lo bahkan nggak merasa bersalah ataupun minta maaf sama adik gue, padahal Lo udah nyakitin dia! Jangan bilang kalau lo nggak tau, tentang perasaan Tania." Terlihat kesedihan mendalam di mata Tristan saat mengatakan tentang adiknya.
Seketika Sadam terdiam dan teringat masa lalu, dimana ia masih duduk di bangku SMA. 4 tahun yang lalu...
#Flashback
Sadam adalah siswa populer di sekolahnya, dia tampan, kaya dan mudah bergaul dengan orang lain. Termasuk dengan Tristan, yang dulu menjadi salah satu teman baiknya. Mereka membuat geng bernama geng Thanos, yang terinspirasi dari nama penjahat di film Avengers. Saat itu anggota geng Thanos hanya Sadam, Tristan, Genan dan Arga. Mereka sangat solid dalam setiap hal dan selalu bersama-sama.
Sadam yang dekat dengan Tristan, selalu bermain ke rumah Tristan. Disana ia juga selalu bertemu dengan adik perempuan Tristan yang kala itu masih kelas 3 SMP. Tania, dialah adik Tristan. Saat pertama kali melihat Sadam, Tania sudah jatuh hati. Apalagi Sadam menunjukkan perhatian para Tania. Perhatian itu, Tania anggap sebagai perasaan suka.
Tania bahkan sekolah di sekolah tempat Sadam dan kakaknya bersekolah. Hampir setiap hari Tania mengirimkan surat cinta, makanan dan barang-barang untuk Sadam. Tapi ternyata bukan hanya dia saja yang tergila-gila pada Sadam, melainkan siswi-siswi lainnya juga.
__ADS_1
Semua surat, makanan dan barang-barang itu ditolak oleh Sadam. Tania sangat senang karenanya.
"Kak, kakak mau kan terima ini dari aku? Please jangan tolak aku!" Tania bersikap imut didepan Sadam dan kakaknya Tristan. Sehingga Sadam sulit menolak hadiah pemberian Tania.
"Ya udah sini," ucap Sadam ramah. Ia mengambil hadiah dari Tania. Gadis itu pun tersenyum senang karenanya.
"Makasih ya kak!"
Ternyata kak Sadam suka sama aku. Woah...aku senang sekali. Ini artinya, kak Sadam udah jadi milik aku. Batin Tania sambil tersenyum.
Kebaikan Sadam disalahartikan oleh Tania sebagai perasaan cinta. Padahal Sadam hanya ingin menghargai Tania sebagai adik Tristan. Tania pun bertindak diluar batas, saat ia melihat perempuan yang mendekati Sadam. Tania mencelakai wanita-wanita itu dengan cara yang ekstrim. Dia bahkan pernah membuat seorang perempuan yang menyukai Sadam, koma di rumah sakit. Dan itu adalah puncaknya saat Sadam mendapatkan banyak masalah karena Tania.
"Tania,apa benar kamu yang mencelakai Nana?" tanya Sadam seraya menatap tajam pada Tania. Tatapan Sadam membuat Tania ketakutan.
"Jawab aku Tania!"
"Jadi benar kamu? Tania...kenapa kamu ngelakuin semua ini?" tanya Sadam marah dan kecewa. Tania berani berbuat kriminal pada orang lain.
"Jelas aku marah, gimana bisa kak Sadam mau direbut dia dari aku?" tanya Tania sambil menangis.
"Apa kamu bilang? Rebut kamu dari aku? Kamu pikir aku milik kamu?" Sadam meninggikan suaranya.
"Kak Sadam selalu baik sama aku, bahkan kak Sadam nerima hadiah dan surat cinta dari aku! Itu artinya kak Sadam milik aku," ucap Tania tegas. Sadam pun tersenyum sinis, dia tidak habis pikir kenapa Tania bisa berpikiran begitu.
"Tania...tampaknya kamu salah paham. Aku tidak pernah menjadi milik kamu, aku sama sekali nggak suka kamu. Selama ini aku cuma menganggap kamu sebagai adik aku sendiri."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Sadam langsung meninggalkan Tania seorang diri di dalam kelas kosong.
Tania menangis sejadinya dan marah, dia berkata bahwa Sadam adalah miliknya selamanya. Dan setelah itu, hubungan Sadam juga Tristan menjadi merenggang. Sadam tidak bisa menerima cinta Tania.
"Dam, please...adik gue sakit...dia benar-benar butuh Lo. Please, dia pengen jadi pacar lo...Lo iyain aja!" pinta Tristan.
"Maaf Tan, gue gak bisa mainin hati adik Lo. Kalau gue pacaran sama dia, tapi nggak ada hati sama dia. Gue gak bisa," ucap Sadam tegas.
Tristan tidak bisa memaksa Sadam kala itu, akhirnya ia pulang ke rumahnya dalam keadaan marah dan kecewa. Tak lama kemudian seorang pembantu rumah tangga di rumahnya, menghampiri Tristan dengan wajah panik dan tangan yang berdarah-darah.
"Bi, kenapa bibi berdarah?"
"Den...nona muda, nona muda...hiks..." pembantu rumah tangga itu menangis. Lalu Tristan berlari menuju ke kamar adiknya yang terbuka, padahal biasanya terkunci. Alangkah kagetnya Tristan saat ia melihat adiknya terbaring lemah tak berdaya dan bersimbah darah diatas bathub.
"TANIA!" Tristan memeluk tubuh Tania, hatinya perih melihat keadaan adiknya yang mengiris nadinya sendiri. Bahkan dia menulis surat-surat cinta untuk Sadam. Surat-surat itu berlumuran darah. Sejak saat itu Tristan dan Sadam jadi bermusuhan. Bahkan Sadam tidak pernah terlihat merasa bersalah di mata Tristan, pria itu malah pindah ke luar negeri.
Genan dan Arga juga tidak membenci Sadam sama seperti Tristan. Sejak saat itu Tristan memutuskan pertemanan dengan Genan, Sadam dan Arga.
#Endflashback
"Maaf...walaupun terlambat gue minta maaf Tan." ucap Sadam lirih.
"Gue nggak bisa maafin Lo!" Tristan menatap tajam pada Sadam dan mengayunkan pisau ke tubuh Sadam.
Jleb!
__ADS_1
"GENAN!" teriak semua orang panik saat melihat sesuatu yang tidak terduga disana.
****