
...🍁🍁🍁...
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan rontgen, tanpa sengaja Tristan melihat Aisha yang digendong oleh Riki masuk ke dalam ruang UGD. Tristan mengikutinya karena ia yakin Aisha adalah gadis yang dibawanya dari kampung semalam. Dia tetap mengikuti diam-diam tanpa berani mendekati Aisha, sampai petugas medis pun membawa Aisha ke ruang rawat karena gadis itu harus diperiksa lebih lanjut.
Saat pak Asep, Arina dan Riki tidak terlihat lagi, Tristan pun masuk ke dalam ruangan Aisha. Dia melihat gadis berhijab itu masih belum sadarkan diri, dengan selang infus dan oksigen yang ada di tubuhnya.
Tristan memandangi wajah Aisha yang relatif sederhana, seperti gadis kampung lainnya. Dia tidak cantik, tapi tidak jelek, tapi Tristan mengakui bahwa Aisha menarik.
"Gila! Tristan, apa yang Lo pikirkan? Mana bisa cewek kampung ini cantik? Gue kesini mau minta maaf karena gue merasa bersalah, tapi kenapa gue malah lihat wajahnya?" gerutu Tristan yang tidak memahami kenapa dia malah melihat wajah Aisha. Tristan akui dalam hati, wajah Aisha dapat membuat kesan teduh dan adem. Walaupun tidak secantik wanita-wanita yang ia kenal.
"Gue harap lo baik-baik aja." Lirih Tristan tulus, matanya menyiratkan rasa bersalah mendalam.
Ceklet!
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Riki yang baru saja menuntaskan urusannya di dalam sana. Alangkah kagetnya Riki saat ia melihat Tristan berada didekat kakaknya. Riki tau siapa Tristan, dia adalah ketua geng yang menyerang rumahnya semalam dan menculik kakaknya.
"Mau apa kamu teh ada disini?" tanya Riki dengan suara meninggi, matanya berkilat marah melihat pria itu.
__ADS_1
Tristan terkejut melihat kejadian Riki disini. "Gue..."
"Kamu teh mau nyelakain teteh saya?" tuduh Riki seraya mendekati Tristan dengan marah.
"Enggak, Lo salah paham. Gue kesini mau--"
"Keluar! Atau saya lapor polisi!" pungkas Riki dengan marah seraya menunjuk pintu keluar dari ruangan itu. Padahal Tristan ingin menjelaskan tujuannya datang kemari, tapi sayangnya Riki terlanjur tidak percaya dan membencinya.
"Gue cuma--"
"Keluar!" teriak Riki yang tanpa sadar membuat kedua kelopak mata Aisha terbuka. Ya, gadis itu terbangun saat mendengar suara Riki dan Tristan.
"Teteh! Teteh udah bangun?" tanya Riki yang senang melihat kakaknya sudah bangun.
Aisha menoleh ke arah Tristan dengan tatapan marah, lalu memalingkan wajahnya dengan cepat. Sadar, bahwa sekarang bukan waktunya untuk bicara dengan Aisha. Tristan pun pergi dari sana.
Setelah pak Asep kembali dari kampung, Aisha di periksa oleh dokter.Tentu saja, saat itu ada Arina dan juga Ferdi yang memantau keadaan Aisha. Gadis itu mengalami gegar otak ringan. Mengetahui hal itu, pak Asep langsung membawa Aisha kembali ke kampung dan merawatnya di sana.
__ADS_1
1 Minggu berlalu...
Keadaan Sadam dan Tristan sudah pulih, mereka kompak memutuskan untuk pergi ke kampung dan menemui Aisha. Saat mereka sampai di pom bensin untuk mengisi bensin motor mereka.
"Lo? Kenapa Lo ada disini?" tanya Sadam lebih dulu dengan kening berkerut, ia terheran-heran melihat Tristan di sana.
"Gue. Isi bensin lah," celetuk Tristan menyebalkan.
"Ck! Maksud gue, Lo mau kemana? Jangan-jangan lo..." Sadam menghentikan ucapannya dan menatap lekat ke arah Tristan.
"Gue mau ke kampung, nemuin Aisha!" sahut Tristan.
"Mau ngapain Lo kesana?" ternyata apa yang Sadam pikirkan benar, Tristan ingin pergi ke kampung tempat Aisha tinggal. Mendadak dada Sadam sesak karena Tristan ingin menemui Aisha.
"Gue mau--"
"Lo nggak boleh pergi kesana!" sentak Sadam melarang Tristan untuk pergi kesana.
__ADS_1
****