When Bad Boy Meet Sholehah

When Bad Boy Meet Sholehah
Bab 17. Satu lawan satu (Revisi)


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Sadam begitu emosi saat ia mendengar ucapan Tristan, dia juga takut terjadi sesuatu pada Aisha yang tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini. Kedua teman dekat Sadam dapat merasakan bahwa Sadam memiliki perasaan pada wanita bernama Aisha ini, terlihat dia sangat mencemaskannya, seolah Aisha adalah hal yang berharga.


Mendengar cerita singkat Sadam tentang Aisha yang menyelamatkan temannya itu, wajar saja jika Sadam jatuh cinta kepadanya. Tidak heran!


"Dam, gue mohon Lo tenang!"


"Kita bakal bantu Lo buat meyelamatkan Aisha," ucap Arga yang juga berusaha menenangkan Sadam.


"Sorry, untuk kali ini gue nggak mau kalian ikut campur! Ini urusan gue sama Tristan dan gue gak mau dia sampe nyakitin Aisha. Biarin gue sendiri," ucap Sadam yang langsung berlari pergi dari sana tanpa mendengar ucapan kedua temannya, juga anak buahnya di black Phantom.


Akan tetapi, mereka tetap mengikuti Sadam, karena takut terjadi sesuatu pada Sadam. Tristan bisa saja berbuat nekat untuk mencelakai Sadam.


Sementara itu disisi lain, Pak Asep dan Riki sedang dalam perjalanan ke Bandung kota untuk pergi ke rumah Sadam. Mereka harus menyelamatkan Aisha, bahkan sekarang mereka juga membawa polisi.


Mereka berharap Aisha baik-baik saja, tidak kekurangan sesuatu apapun. Didalam perjalanan, Pak Asep terus mengatakan bila terjadi sesuatu pada Aisha karena Sadam. Ia akan menjauhkan Aisha dari Sadam. Riki juga setuju akan hal itu.


****


Tidak butuh waktu 2 jam, untuk Sadam sampai ke tempat dimana Tristan menyekap Aisha. Itu karena Sadam mendapatkan informasi dari salah satu anak buah Tristan, lebih tepatnya Danny. Danny mengatakan semua itu karena khawatir dengan Aisha.


Sadam akhirnya sampai di rumah tengah hutan dengan penuh perjuangan, sebab anak buah Tristan ternyata sudah berjaga-jaga disana untuk menghajarnya.


"Dimana dia?" tanya Sadam dengan nafas yang terengah-engah dan wajah lebam-lebam.


"Ternyata lo masih hidup ya, walaupun Lo terlihat luka parah kayak gitu!" bukannya menjawab, Tristan malah berkomentar tentang luka-luka di wajah dan tangan Sadam. Bahkan ada luka sayatan disana dan masih mengeluarkan Sadam.


"Dimana dia, gue tanya BEGO!" sentak Sadam yang mulai emosi dengan sikap Tristan yang bermain-main dengannya.


Tristan malah tertawa tawa dengan sinis. Lalu dia duduk di atas kursi tua dengan tenangnya. Tak hanya itu, Tristan bahkan menyesap rokok dengan santai.


Sadam sudah habis kesabarannya, berlari mendekati Tristan yang duduk di kursi tua itu. Lalu ia menindih tubuh Tristan dan mengancamnya dengan belati. Sadam menodongkan belati itu ke leher Tristan.


"Gue nggak mau main-main sama Lo, Tristan! Kita selesaikan urusan kita berdua disini, tanpa gadis itu. Dia nggak ada hubungannya dengan masalah kita, Tristan!" serka Sadam dengan tegas.


"Ha ha ha...Lo salah Sadam, cewek itu udah terlibat sama Lo. Artinya dia jadi urusan gue juga."


"TRISTAN!" Sadam menarik baju Tristan, hingga wajah mereka saling berdekatan. Terlihat wajah Sadam yang memerah karena marah.


"Cewek Lo...gue udah suruh orang perk*sa dia!" sentak Tristan dengan tawa iblisnya.


"BAJINGAN! ANJ*NG LO!"

__ADS_1


Pria itu tidak dapat mengendalikan emosinya lagi. Lalu ia pun memukuli wajah Tristan habis-habisan. Sebagian anak buah Tristan ada disana, mereka ingin membantu Tristan. Tapi Tristan mengatakan dia ingin satu lawan satu dengan Sadam.


"Kalau lo berhasil buat gue lumpuh selama 3 menit, gue bakal biarin cewek itu kabur!" ujar Tristan seraya menantang Sadam yang saat ini sedang murka padanya.


"BRENGSEK!"


BUGH!


BUGH!


Untuk kesekian kalinya, Sadam menghantam wajah Tristan dengan bogem mentah. Padahal saat ini tangan kanan Sadam tengah terluka, tapi dia tetap tidak peduli dan terus menghajar Tristan.


Sementara pria itu, sengaja belum melawan serangan dari Sadam dan malah terkesan sengaja tidak melawannya. Tristan tertawa-tawa, meski sekarang bibirnya sudah berdarah karena ulah Sadam.


"Lawan gue bacot!" sentak Sadam kepada pria yang duduk di lantai kotor itu.


"Ha ha ha..."


"Kenapa Lo malah ketawa brengsek?!" Sadam kembali menarik tubuh Tristan, hingga saat ini mereka sama-sama berdiri.


****


Di ruangan lain di rumah itu, beberapa anak buah Tristan tengah mendekati Aisha yang terlihat panik. Sebab pria-pria itu membuka bajunya dan menatap dirinya dengan tatapan lapar.


Aisha tidak bisa berteriak, sebab mulutnya ditutup rapat oleh lakban berwarna hitam. Dia hanya bisa menggeser geser badannya dengan susah payah. Gadis itu menangis sesenggukan, tapi sayangnya suaranya tidak keluar.


"Hemphh! Hemphh!"


Aisha semakin berontak, manakala salah satu dari mereka berusaha menarik kerudung yang dikenakannya. "Tenang aja manis, kita cuma mau ngajak lo bersenang-senang aja kok!" pria itu hendak melepas kerudung Aisha, hingga membuat Aisha memberikan perlawanan. Ia menggerakkan kepalanya kesamping kiri dan kanan, meski ia ketakutan saat ini. Tapi ia harus berusaha melawan.


"Lebih baik kita lepas saja lakbannya, biar kita bisa mendengar suaranya!" saran salah seorang pria pada teman-temannya yang lain.


"Benar juga, lagipula si Sadam pasti lagi digebukin sama sama bos," ujar seorang pria lainnya.


Kang Sadam? Dia ada disini? Mendengar nama Sadam disebut. Entah kenapa hati Aisha merasa sedikit tenang.


Sret!


"Akh!" pekik Aisha sakit dan terkejut manakala salah seorang pria melepas lakban di mulut Aisha. Rasanya perih karena di lepas sekaligus.


"Ayo manis, kita main bentar yuk!" seorang pria itu hendak melepas baju Aisha, tangannya yang lain juga meraba ke bagian rok Aisha.


"Jangan! Saya mohon jangan! TOLONG!" teriak Aisha sekuat tenaga. Seandainya tangan dan kakinya tidak diikat, ia pasti akan lebih mudah untuk melawan. Namun posisinya saat ini tidak berdaya.

__ADS_1


Salah seorang dari mereka bahkan menarik kaku Aisha. Gadis itu pun berusaha menendang mereka sebisanya dan mengenai wajah pria preman itu.


BUGH!


"AW! Sialan lo!" bentak pria itu marah karena wajahnya terkena tendangan Aisha. Bahkan hidungnya sampai berdarah.


Plakk!


Pria itu menampar Aisha hingga telinga dan pipinya terasa sakit. Wajahnya terhuyung ke samping hingga kepalanya tak sengaja menyentuh tiang kayu.


"Lepasin saya! Saya mohon!" teriak Aisha kembali. Ia menahan tangisnya, rasa takutnya, berharap ada seseorang saja disana yang punya hati padanya. Bahkan Aisha tidak peduli dengan luka di wajah dan kepalanya. Ia hanya ingin selamat dari sana.


Saat keempat pria itu menyentuh nyentuh tubuh Aisha, bahkan merobek kerudungnya, sebelum mereka berbuat lebih jauh. Seorang pria datang kesana dan memukul keempat pria itu dengan balok kayu. Keempat pria itu sontak jatuh tak sadarkan diri, tak jauh dari Aisha.


Tubuh 4 orang pria itu ambruk ke lantai. Sementara Aisha masih belum berani membuka matanya. Dia terisak, air matanya masih mengalir. "Ya Allah...tolong..."


Aisha dapat merasakan ada yang melepaskan tali yang mengikat tangannya. Sontak saja Aisha membuka mata walaupun ia ragu. Aisha terkejut melihat pemandangan didepannya, keempat itu sudah jatuh tak sadarkan diri. Dan sisa seorang pria yang sedang melepas ikatan di kakinya.


"Ka-kamu kan salah satu dari mereka?" tanya Aisha ketakutan saat melihat wajah Danny. Salah seorang pria yang ia tau adalah komplotan Tristan.


"Tenang aja, gue bakal bawa Lo ke Sadam." Danny melepaskan jaketnya, setelah ia selesai melepaskan tali dari kaki dan tangan Aisha.


"Jangan takut, gue nggak akan nyakitin lo." Danny berkata begitu bukan tanpa alasan, itu karena dia melihat Aisha terlihat ketakutan. Danny memakaikan jaketnya pada Aisha.


"Akang, kenal sama kang Sadam?"


"Ya. Ayo kita pergi, kita harus hentikan Sadam dan Tristan. Sebelum mereka saling membunuh," ucap Danny seraya membantu Aisha berdiri.


"A-apa? Kang Sadam sama orang itu bakal saling bunuh?" tanya Aisha kaget.


"Itu nggak akan terjadi kalau kita menghentikannya!" Danny berujar dengan cemas. Lalu ia pun membawa Aisha pergi dari sana.


Terlihat di luar rumah itu, Sadam menyerang Tristan dengan membabi buta. Kali ini Tristan tidak tinggal diam, di melawan Sadam. Wajah mereka tampak berdarah-darah saat ini, bahkan wajah Tristan lebih ancur.


"Ayo bunuh gue! Bunuh gue sama seperti Lo bunuh Tania!" kekeh Tristan dengan tawa sinisnya.


"Gue nggak bunuh Tania, dia bunuh diri!" teriak Sadam menyanggah ucapan Tristan yang selalu mengatakan bahwa ia membunuh Tania.


"Lo bunuh dia! Lo yang bunuh adek gue!" dengan Tristan seraya menarik tubuh Sadam dengan kasar.


Detik berikutnya, Tristan mengayunkan belatinya ke arah perut Sadam.


Sret!!

__ADS_1


"TIDAK!"


****


__ADS_2