
***
Kedua pria dengan wajah blasteran itu, kini bergabung di acara liliwetan pak Asep dan keluarganya, juga keluarga Yusuf. Bahkan tanpa ragu, Riki dan Pak Asep menyuruh Sadam dan Tristan untuk membantu mereka.
"Kalian teh serius kan mau minta maaf sama teteh saya?" tanya Riki pada kedua pria yang usianya lebih tua darinya itu.
"Iya lah. Kalau nggak serius, ngapain kita disini?" tanya Tristan dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Ya udah! Kalau gitu bantuin teteh sama saya buat acara liliwetan." kata Riki.
"Liliwetan? Apa itu liliwetan?" tanya Tristan bingung. Sedangkan Sadam, ia sudah pernah ikut acara liliwetan saat ia tinggal di rumah pak Asep.
"Udah, Lo nggak bakal tau!" kata Sadam seraya menepuk bahu Tristan. Saat ini Tristan merasa Sadam sedang pamer dan wajahnya terlihat sombong.
"Cih! Kasih tau gue dong," cetus Tristan dengan wajah cemberutnya. Namun Sadam menolak untuk memberitahu Tristan.
"Udah akang akang! Mending akang bantu saya masak dibelakang," ujar Riki yang menghentikan perdebatan Tristan dan Sadam.
__ADS_1
Selagi Aisha berada di kamar mandi, Riki, Tristan dan Sadam berada di dapur. Mereka sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak. Sementara Pak Asep sedang pergi bersama pak Entis ke sawah untuk mengecek sesuatu.
"Heh--lo bisa masak?"tanya Tristan sambil menatap kagum pada Riki yang bisa memotong-motong bahan masakan seperti seorang chef yang pro.
"Iya dong. Semua keluarga saya bisa masak, nggak peduli mau cewek atau cowok," ucap Riki dengan bangganya.
"Btw nama Lo siapa?" tanya Tristan.
"Riki."
"Ok. Gue Tristan," jawab Tristan ramah memperkenalkan dirinya pada Riki. Hingga Sadam berdecak kesal, ia tau Tristan orangnya dingin dan sulit bersosialisasi. Tapi apa ini? Tristan jadi sksd alias sok kenal sok dekat dengan Riki. Apa maksudnya? Apa tujuannya adalah Aisha? Seketika Sadam merasakan sinyal bahaya.
"Aduh akang! Itu uyahnya kebanyakan kang! Ini mah pasti keasinan." keluh Riki yang pusing dengan kelakuan Tristan dan Sadam. Bukannya membantu malah mengacau.
"Gak bakal keasinan kalau ditambah gula, ya kan?" Sadam dengan polosnya menambahkan gula ke dalam masakan yang ada diatas wajan.
"Astagfirullahaladzim akang! Itu gula banyak banget, nanti rasanya jadi nggak jelas..." gerutu Riki kesal.
__ADS_1
"Ki, masaknya udah beres belum? Aa bantuin ya?" tawar Yusuf yang tiba-tiba sudah berada di belakang Riki. Mendengar suara Yusuf, Riki menjadi tenang dan damai.
"Belum A, ini nih... gara-gara kang Sadam sama kang Tristan yang sok tau. Jadi masakannya ancur, nggak jadi-jadi dari tadi."
"Ya udah, AA bantu ya." Yusuf tersenyum ramah. Pria itu juga mempunyai kelebihan yaitu bisa masak. Tristan dan Sadam jadi insecure melihatnya.
Akhirnya Tristan dan Sadam menunggu diruang tengah saja karena Riki yang menyuruh mereka begitu.
"Heh, siapa sih si Yusuf itu? Lo kenal dia nggak, waktu tinggal disini?" tanya Tristan yang kepo pada Yusuf.
"Dia tuh cowok yang satu sekolah sama sholehah, sekelas juga. Dan, dia suka sama Sholehah."
"Jir! Lo serius?" pekik Tristan kaget.
"Heh! Kok Lo kaget gitu sih? Jangan bilang kalau Lo..." Sadam menajamkan pandangannya pada Tristan seolah pria itu adalah bahaya. Pikirannya mulai negatif, jangan-jangan Tristan ada rasa pada Aisha.
"Jawab gue! Malah senyum-senyum gitu," decak Sadam kesal karena Tristan cuma senyum-senyum sendiri bukannya menjawab pertanyaannya. 'Saingan nambah, sialan!'
__ADS_1
...****...