
****
Sadam dan keluarganya terdiam saat mereka mendengar ucapan pak Asep tentang membahagiakan Aisha dan tanggungjawab. Nampaknya Ferdi dan Arina memahami ucapan pak Asep, namun tidak dengan Sadam yang masih berpikir keras.
"Apa kamu paham apa maksud saya nak Sadam?" tanya pak Asep kepada pria yang sudah berani melamar putrinya secara terang-terangan itu.
Arina menyenggol tangan Sadam, agar putranya menjawab. Arina juga berbisik untuk mengiyakannya saja.
"Iya pak."
"Kalau kamu paham, buktikan, tunjukan dan datanglah pada saya dengan keluarga kamu." kata pak Asep tegas. Lalu ia menyuruh Aisha untuk masuk ke dalam mobil, bersama Riki juga.
"Jika kamu bisa membuktikannya, saya izinkan kamu untuk melamar anak saya dan saya akan mempertimbangkannya!" seru Pak Asep pada Sadam. Pria yang berprofesi sebagai petani dan sangat menyayangi putrinya itu, tidak mau kalau sampai Aisha sampai salah memilih pasangan hidup.
__ADS_1
"Saya paham pak, saya akan membuktikan kepada bapak kalau saya bisa melakukannya!"
"Saya tidak butuh ucapan, saya butuh bukti. 3 bulan, waktu kamu...dan jika kamu tidak bisa membuktikannya dalam waktu itu. Maka saya akan menikahkan Aisha dengan pria lain," ucap pak Asep yang jelas membuat Sadam merasa tidak dengan ucapan pria itu yang seperti ancaman buatnya.
Ancaman bahwa jika Sadam tidak bisa, Aisha akan menjadi milik orang lain dan tidak akan pernah bisa menjadi miliknya.
Setelah ucapan yang mengancam itu, Pak Asep pamit kepada semua orang dan mengucapkan salam dengan sopan. Lalu pergi dari sana dan pulang ke rumah. Sadam, keluarganya dan juga teman-temannya masih berada di sana.
Mereka menyemangati Sadam bila ingin meminang Aisha, jalan yang akan ia lewati tidak mudah. Pak Asep adalah pria berprinsip dan tidak mungkin menyerahkan putrinya kepada sembarang orang.
"Banyakin doa sama usaha ya Dam." celetuk Genan seraya menepuk bahu Sadam.
"Dam, kamu harus mulai serius kalau kamu emang mau serius sama Aisha. Mama, Oma kamu, sama papa Ferdi pasti bakalan dukung kamu." kata Arina pada putranya.
__ADS_1
"Sadam serius Ma, bahkan kalung pemberian Mama...Sadam kasih ke Aisha sebagai bukti kalau Sadam serius dengan hubungan ini! Tapi--apa maksudnya tanggung jawab itu Ma?" tanya Sadam yang rupanya memang belum paham.
"Pertama, kamu harus punya pekerjaan...kamu harus belajar mandiri. Kuliah yang benar dan tentunya, kamu harus fokus dengan masa depan juga rumah tangga nantinya. Kamu harus menjadi imam yang baik untuk Aisha," jelas Bu Rianti panjang lebar. Sadam dan ketiga temannya mendengar itu, mereka langsung paham.
"Oke Pa, Ma, Oma. Dalam 3 bulan ini, aku akan berusaha untuk menjadi pria yang bertanggungjawab!" seru Sadam sambil tersenyum semangat. Tentunya semua orang mendukung Sadam.
****
2 bulan berlalu, Aisha tidak bertemu dengan Sadam sama sekali. Hingga ia pun sudah memperoleh ijazahnya dan besok ia akan segera berangkat ke Jakarta untuk kuliah di kampus impiannya.Kampus tempatnya mendapatkan beasiswa, kampus yang sama dengan kampus Sadam.
Malam itu Aisha termenung, sambil melihat kalung yang diberikan Sadam padanya. Kalung dengan bandul cincin di sana.
"Neng, lagi apa kamu teh disini?" tanya Pak Asep pada putrinya yang sedang duduk di jendela kamarnya.
__ADS_1
"Bapak?"
****